
Birmingham, Inggris.
Setelah selesai registrasi kampus dan lain sebagainya, Nestya mengajak Hyuna makan di sebuah restauran yang cukup terkenal tak jauh dari kampus itu. Nama restaurannya, Haute Dolci.
Restauran dengan dekorasi kelas atas serta penyajian makanan yang indah, membedakan tempat itu dari restauran lainnya. Namun jangan salah! Meskipun terlihat mewah, harga menu di restauran itu masih dalam harga yang wajar. Karena terletak di kompleks hiburan Star City, tak heran jika restauran itu jarang sepi pengunjung.
Nestya memarkirkan mobilnya di sebuah lahan yang cukup luas, lahan itu sengaja digunakan untuk para wisatawan yang ingin berjalan kaki di sepanjang jalan Star City.
"Ma, di sini memang selalu ramai ya?" tanya Hyuna seraya membuka sabuk pengamannya.
"Iya. Tapi paling bagus sih ketika Sabtu malam. Biasanya para anak muda seusia kamu gini yang memadati sepanjaang jalan ini," jawab Nestya yang juga baru saja melepas kunci mobil. "Ayok turun!" ajaknya kemudian.
"Dimana restaurannya Ma?" tanya Hyuna lagi tanpa membawa apapun. Tas ranselnya sengaja ia simpan di mobil.
"Itu di depan sana." Nestya menunjuk dengan jari telunjuk tangan kananny, dan Hyuna pun mengkuti arah yang di maksud olehnya.
Hyuna membulatkan mulutnya setelah paham letak restauran yang akan mereka kunjungi. Keduanya pun berjalan santai.
"Mama sama Papa sering ke jalan ini?" tanya Hyuna.
"Tidak sering juga, hanya pernah sesekali saja. Saat kamu pergi ke Jerman, Mama jadi kurang suka di rumah. Tidak ada teman. Ya ... Walaupun kamu juga kadang jarang di rumah, setidaknya setiap malam kamu ada di depan mata Mama."
"Uh, so sweet-nya Mama ku ini," kelakar Hyuna lalu terkekeh sambil memeluk Nestya sangat erat.
"Kenapa waktu aku kecil, Mama tidak memberiku adik? Jadi saat aku dewasa dan pergi dengan pilihanku, Mama tidak merasa kesepian." Pertanyaan Hyuna membuat Nestya seketika mengalihkan pandangannya ke arah anak bungsunya itu sambil mengerutkan alis.
"Gini, bagi Mama ataupun papa selalu punya second opinion dalam setiap perjalanan rumah tangga kami," jawab Nestya sambil berpikir.
__ADS_1
"Second opinion? Contohnya?"
"Pertama, poses persalinan Mama sewaktu melahirkan kamu mengalami pendarahan yang cukup hebat. Jika ingin memiliki anak lagi, maka besar kemungkinan akan seperti itu juga. Karena kami lebih sayang nyawa ketimbang menambah anak dan merugikan nyawa, lebih baik. Oke, stop. Dan Mama di steril hingga sekarang."
"Lalu second opinionnya?" Hyuna berusaha mencerna.
"Setelah kejadian itu, Mama sama papa belajar untuk membuka pikiran. Bahwasanya, sebanyak apapun anak yang mungkin akan kita miliki, pada hakekatnya setelah dewasa nanti akan memilih jalannya sendiri-sendiri. Sedangkan kami sebagai orang tua hanya tinggal berdua. Kalau bukan kami sendiri yang saling support satu sama lain siapa lagi? ... Sampai disini paham?"
Hyuna masih terdiam. Namun seketika ia terkesiap seolah ada sekelebat cahaya melintas di depan matanya.
"Oh iya! Aku paham Ma. Intinya kalau disuruh pilih antara pasangan atau anak. Ya pilih pasangan. Tetapi ... " Tiba-tiba Hyuna menghentikan ucapannya. Raut wajahnya pun sedih serta tampak murung menatap Nestya. Dengan cepat Nestya meraih tangan Hyuna dan mengelusnya pelan. "Tergantung pasangannya seperti apa. Kalau baik, memang pantas dipilih." Hyuna menghela napasnya. "Kalau tidak baik, untuk apa dipilih." Emosinya tiba-tiba mencuat.
"Iya. Mama paham." Nestya mengenggam tangan Hyuna memberi kode supaya tidak melanjutkannya lagi. "Nah kita sudah sampai, ayok masuk ke dalam!" serunya sangat antusias. Hyuna yang sudah merasa lapar pun mengangguk cepat, bersemangat.
"Selamat datang, mau makan di sini atau dibawa pulang?" sapa seorang pelayan ketika mereka baru saja masuk ke dalam.
"Makan di sini," jawab Nestya terdengar sangat yakin.
"Ma, di sana saja!" seru Hyuna menunjuk ke arah kursi yang menjorok ke dinding. Dengan design ala Maroko.
"Wah. Boleh juga!" seru Nestya saat menangkap arah pandang yang Hyuna maksud. Lalu ia menatap ke pelayan tadi. "Di sana ya," katanya. Pelayan itu pun mengangguk seraya tersenyum.
Berhubung cukup ramai, kursi itu hanya tersisa satu untuk mereka. Karena kebetulan memang saat itu sudah memasuki waktu makan siang .
Pelayan itu mulai menjelaskan menu apa saja yang favorite di restauran itu. Ternyata restauran yang sedang mereka kunjungi sangat terkenal dengan hidangan pencuci mulutnya.
Sudah sejak lama Hyuna tidak memakan makanan manis berupa ice cream dan kawan-kawannya. Disaat aji mumpung seperti itu, Nestya mengabulkan permintaan Hyuna untuk memakan apapun yang anaknya suka.
__ADS_1
...----------------...
Setengah jam sudah ibu dan anak itu berada di restauran itu. Namun karena masih ada urusan lain, Nestya segera membayar tagihannya lalu mengajak Hyuna pergi dari sana.
"Ma, habis ini kita mau kemana?" tanya Hyuna ketika mereka telah masuk ke dalam mobil.
Nestya menyalakan mobilnya terlebih dahulu. "Tadi Mama ngobrol sama papa via telepon sewaktu kamu di ruang administrasi. Sepertinya kamu harus melakukan medical check up sekarang. Bukan apa-apa sih, kamu bilang kan terakhir kamu melakukan tes kesehatan itu hampir satu bulan yang lalu. Kami rasa sekarang waktu yang pas," jelasnya.
"Memangnya Mama sama papa ada uangnya? Bukankah tes kesehatan lengkap di negara ini cukup mahal, Ma? Hyuna tidak mau membebani kalian. Makan di tempat tadi saja, Hyuna rasa Mama sudah mengeluarkan hampir seratus pound sterling," timpal Hyuna merasa tidak enak hati.
"Tidak usah kamu pikirkan itu. Kami masih punya tabungan. Lagi pula, papa-mu itu hampir dua bulan yang lalu sudah naik jabatan. Otomatis gajinya pun juga naik," jawab Nestya sambil terkekeh. Sedangkan Hyuna malah cengengesan.
"Oh gitu ya, Ma." Hyuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa canggung sebenarnya.
"Mama juga sudah mendaftarkan kamu di rumah sakit dekat sini. Ayok kita ke sana sekarang!" seru Nestya sambil melajukan mobilnya ke rumah sakit yang ia maksud.
Tidak sampai sepuluh menit, mereka pun tiba. Nestya mencari tempat parkir terlebih dahulu. Setelah ketemu, keduanya pun turun dan masuk ke dalam.
Hyuna mengekori Mama-nya dari belakang. Lalu menunggu Nestya di kursi tunggu ketika sedang mengurus administrasi. Lalu mengajak Hyuna ke bagian laboratorium.
"Hyuna kamu tinggal di panggil saja ya. Um ... Mama tinggal service mobil sebentar tidak apa-apa kan?" Nestya masih memiliki satu urusan lagi.
"Kira-kira hasilnya lama tidak Ma?" tanya Hyuna yang sebenarnya merasa tidak nyaman berada di rumah sakit.
"Setelah selesai di ambil darah serta urine, hasilnya akan keluar sekitar kurang lebih satu jam," jelas Nestya lalu mengeluarkan beberapa puluh pound sterling dari dalam dompetnya. Kemudian tangannnya menarik tangan Hyuna dan menaruh uang itu di atasnya. "Ini uangnya kamu pegang. Kalau kamu lapar, pergi saja ke kantin rumah sakit. Ingat, jangan kemana-mana ya sebelum Mama kembali," lanjutnya seolah berbicara dengan anak bungsunya yang masih berusia sepuluh tahun.
"Oke, Ma." Hyuna akhirnya menyetujui. Nestya tersenyum lalu menepuk pelan bahu Hyuna dan pergi.
Beberapa menit setelah Nestya pergi, Hyuna mulai melakukan serangkaian tes kesehatan. Tenyata bukan hanya diambil darah dan juga urine, melainkam ada serangkaiam tes lain berupa USG, CT Scan dan juga refleksi.
__ADS_1
Walau begitu, Hyuna tetap enjoy menjalaninya. Sebab ia merasa tubuhnya sudah lebih sehat ketimbang kemarin.
Bersambung ....