Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Bab 26. Izinkan Aku


__ADS_3

"Hai." Kemudian tangan kanannya terangkat dan melambaikan tangan sambil tersenyum. "Selamat bertemu lagi Tuan."


Suara yang lembut, gesture tubuh begitu anggun, raut wajah penuh kebahagiaan, serta tatapannya mampu membuat pria yang ada di hadapannya itu 'meleleh' hatinya.


Deo pun membulatkan matanya, merasa tidak percaya. Kalau Hyuna memang benar-benar sudah pulih. "Sejak kapan kamu seperti ini?" tanya pria itu sambil mengangkat alisnya sebelah.


Hyuna hanya terkekeh geli saat melihat raut wajah Deo seperti melihat 'hantu', atau mungkin sedang menaiki roller coaster. Sungguh ia ingin sekali tertawa saat itu. Akan tetapi di sisi lain, ia masih sadar akan image-nya di depan Deo dan semua orang di sana.


"Sebelum aku menjawab, bisakah kita bicara di ruang kerjamu?" pinta Hyuna yang tidak ingin ada orang lain yang mendengar. Terlebih dirinya pun tidak bisa bicara dengan leluasa. Apalagi orang-orang yang ada di kantornya itu tahu, istrinya Deo hanya Leika.


Deo tampak kikuk, lalu mengusap tengkuk lehernya sambil mengangguk. "Baiklah, silahkan."


Hyuna menunduk hormat dan berjalan lebih dulu. Setelah itu, Deo pun mengikuti. Meski pada akhirnya mereka berjalan saling beriringan.


Pria itu membawa Hyuna masuk ke dalam lift pribadi yang bisa langsung masuk ke dalam ruang kerjanya. Lift tersebut hanya Deo yang mengetahui aksesnya. Namun tidak sengaja, mata Hyuna melihat semua yang dilakukan Deo ketika mengoperasikan tombol pada lift tersebut.


Saat keduanya sudah masuk, sesaat kemudian pintu otomatis tertutup. Dalam lift itu, suasana mendadak canggung. Apalagi detak jantjng Hyuna, tidak usah ditanya lagi. Bahkan dirinya pun bisa mendengarnya.


Itulah pertama kalinya Hyuna merasa perasaannya semakin bermekaran layaknya bunga di musim semi. Indah dan sulit diartikan dengan kata-kata.


Karena lift tersebut dikelilingi oleh kaca, maka Hyuna pun sebenarnya tidak luput dari pandangan Deo yang sejak tadi tanpa sadar memperhatikannya. Meski diam, tapi lirikan mata pria itu tidak bisa seolah-olah 'buta'.


"Ehem." Hyuna melonggarkan tenggorokannya. Ia semakin tidak nyaman kalau terus diam seperti itu. "Deo, bagaimana hubunganmu dengan Leika? Kalian baik-baik saja bukan?" tanyanya membuka pembicaraan.


Deo mengangkat kedua bahunya seraya menarik napas dalam. "Entah ... Aku juga tidak tahu," jawabnya membuat Hyuna sulit menyimpulkannya.


"Tidak tahu? Maksudnya?" Rasa penasaran yang dirasakan oleh Hyuna pun mengugah hatinya ingin bertanya lebih lanjut lagi.


"Ada hal yang belum bisa aku sharing kepada siapapun." Deo menunduk seolah ada sesuatu di sepatunya.

__ADS_1


"Termasuk aku?" tanya Hyuna lagi yang ingin memastikan.


Deo mengangguk sambil mengangkat kepalanya kembali dan menatap Hyuna lalu tersenyum simpul. Ah! Deo ... andai kamu tahu, wanita yang ada disampingmu itu ingin sekali bersorak kesenangan mendapati senyummu seperti itu. Namun masih Hyuna tahan.


Usia sembilan belas tahun, mungkin dalam hal berumah tangga Hyuna sendiri masih tabu. Ia bahkan masih ingin menikmati masa remaja di dunia yang luas dan tidak berdiam diri di rumah, karena memang ia tidak bisa seperti itu.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggumu sampai kamu mau bercerita padaku," ucap Hyuna. Terdengar sangat percaya diri memang, tapi kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.


Deo pun mendes ah pelan. "Aku bukan tipe pria yang bisa terbuka. Termasuk pada orang yang terdekat sekalipun denganku. Aku punya batasan-batasan tertentu yang sebisa mungkin aku jaga," ucapnya seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Oh .... " Hyuna seketika mengangkat kedua alisnya, merasa terkejut dengan pengakuan Deo sendiri. Pantas saja selama ini dibalik sikapnya yang dingin, ternyata pria itu bukan pria yang bisa mengungkapkan perasaannya secara gamblang.


Tak lama berselang, pintu pun terbuka otomatis karena mereka telah sampai pada tujuannya. Deo mempersilahkan Hyuna keluar lebih dulu dan ia pun mengikuti.


"Silahkan duduk, biar aku ambilkan minum terlebih dahulu," kata Deo sambil mengulurkan tangannya ke arah sofa.


Sementara Deo berjalan ke arah kulkas yang terletak di sudut ruangan dan mengambil dua kaleng coca cola dari dalam sana. Setelah di dapat, ia pun membawanya.


"Ini, ambillah," kata Deo seraya memberikan sekaleng coca cola itu kepada Hyuna.


"Terima kasih," ucap wanita itu menerima pemberian Deo.


"Sama-sama." Deo ikut duduk di sofa dengan posisi saling berhadapan dan hanya di pisahkan oleh meja yang ada di tengah mereka. "Jadi apa jawabanmu atas pertanyaanku tadi?" tanya pria itu.


"Sebenarnya, terakhir kita bertemu ingatanku sudah mulai pulih." Deo membulatkan matanya serta napasnya seketika tertahan. Melihat raut wajah Deo seperti itu, Hyuna melanjutkan ucapannya lagi. "Kemudian dua minggu terakhir, aku berusaha keras supaya segera bisa berjalan normal kembali. Dokter Gabriel dan suster Bora selalu memberiku support yang besar. Aku pun termotivasi."


Namun belum ada jawaban apapun dari pria itu. Dia hanya terdiam sambil bersilang dada dan menyandarkan punggungnya di sofa.


"Dan kamu tahu? sekarang aku sangat merindukan kedua orang tuaku dan ... " Hyuna menghela napas sambil menyatukan alisnya, merasa sedih. "Aku pulang kepada mereka," pungkasnya.

__ADS_1


Sementara Deo langsung tersenyum pongah. "Memangnya kamu sudah benar-benar ingat dimana keberadaan kedua orang tuamu itu?" tanya pria itu, tatapannya seolah meremehkan wanita yang ada dihadapannya.


"Iya, aku tahu!" jawab Hyuna dengan yakin sambil mengangkat dagunya. Terlihat sombong memang, tapi itu semua sebagai tanda perlawanannya atas respon Deo barusan.


Pria itu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak yakin kamu akan sampai ke alamat yang benar."


Hyuna hanya terdiam. Ia merasa kesal. "Sial! Kenapa dia meremehkanku? Ya sudahlah aku tidak perduli. Dia izinkan atau tidak, aku akan tetap pergi ke Inggris," katanya dalam hati.


Deo beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kursi kebesarannya. "Aku tidak akan mengizinkanmu pergi ke sana!" tegasnya.


Seketika Hyuna membulatkan matanya, karena tidak terima dan semakin marah. "Tidak bisa seperti itu! Aku yakin selama ini mereka menunggu kabar dariku. Please, izinkan aku ...."


"Aku bilang tidak, ya tidak!" Suara Deo meninggi. Sontak Hyuna pun terkejut bukan main. Hatinya seketika rapuh. Matanya pun mulai berkaca-kaca.


Sekuatnya wanita, titik kelemahannya yaitu di telinga. Perasaannya seakan terhubung kuat dengan orang tubuh yang satu itu. Jika mendapat pujian, ia akan bahagia. Namun jika mendapat bentakan ataupun cacian, ia akan sedih. Itu sudah merupakan hukum alam. Nalurinya berpusat pada hatinya.


"Sejujurnya dari awal aku selalu menganggapmu pria yang baik. Terutama karena kamu telah menyelamatkanku ... " Hyuna berdiri lalu berjalan ke arah Deo. "Aku tak apa jika kamu hanya memiliki rasa belas kasihan padaku dan tidak dianggap sebagai seorang istri. Dan untuk kali ini ... " Hyuna berhenti tepat di samping Deo. Namun pria itu memalingkan wajahnya, menatap ke arah lain. "Aku ingin bertemu dengan mereka."


Hyuna terisak karena terlalu merasa sedih. Hal yang paling dibenci oleh Deo. Akan tetapi, pria itu hanya terdiam.


Setelah cukup dengan tangisannya, Hyuna berbalik badan dan hendak melangkahkan kaki. Namun tiba-tiba ...


"Tunggu!"


Bersambung ....


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2