
Hyuna membuka matanya, melihat pantulan dirinya sendiri pada cermin yang ada di depannya. Tampak berbeda dan jauh lebih cantik.
Polesan make up di wajahnya, tidak mengurangi karakter wajah asli yang dia miliki. Ditambah dress model mermaid, memiliki bagian bahu yang terbuka dan juga terdapat belahan pada bagian bawah mulai dari pangkal paha hingga kaki menjadi pilihan terbaiknya saat di butik rekomendasi dari Deo tersebut.
Tentunya pakaian yang dikenakannya itu, menambah kesan anggun dan seksi. Namun sayang, kedua kakinya masih belum kuat menopang tubuhnya sendiri ketika dalam keadaan berdiri. Apalagi kalau sampai berdirinya cukup lama.
Meski demikian, Hyuna yakin. Suatu hari nanti, dia akan berdiri tegak sambil tersenyum di depan suaminya.
"Sudah selesai Nyonya," ucap pegawai salon yang baru saja me-make over wajah Hyuna.
"Terima kasih," sahut wanita itu melihat pegawai tersebut dari cermin.
"Sama-sama. Bagaimana apa kamu suka?" tanya pegawai salon itu kemudian.
Hyuna mengangguk cepat sambil tersenyum sumringah. "Iya. Sangat suka. Kamu memang sangat berbakat!" pujinya tulus.
"Nyonya bisa saja. Syukurlah kalau Anda suka, itu artinya hasil kerja saya sangat berguna," seloroh pegawai itu lalu keduanya pun terkekeh.
Hyuna merasa bahagia ketika memandangi wajahnya dari pantulan cermin. "Aku cantik. Aku yakin malam ini Deo akan terpesona melihatku," katanya bermonolog dalam hati.
Bora kemudian datang mendorong kursi roda. "Mari Nyonya, kita harus pergi sekarang," ajaknya.
"Apa ini tidak terlalu awal jika kita berangkat sekarang Sus?" tanya Hyuna merasa ragu.
"Ku rasa tidak. Sebab jarak dari sini menuju restauran yang dipesan oleh Tuan cukup jauh. Kalau kita tidak berangkat sekarang, nanti telat sampai sana," jelas Bora, sambil memperkirakan waktu dengan melihat petunjuk waktu yang melingkar di tangan kirinya.
"Oh seperti itu, baiklah kita berangkat sekarang," kata Hyuna, menyetujui.
Wanita itu kemudian dibantu berdiri oleh Bora dan juga pegawai salon yang meriasnya tadi untuk naik ke atas kursi roda. Setelah berhasil dipindahkan, Bora dan juga Hyuna bergegas pergi dari salon tersebut.
Dalam perjalanan, ada sebuah rasa bahagia dalam hati Hyuna. Sebentar lagi, dia akan menemui suaminya.
"Sus, kira-kira tempatnya bagus tidak?" tanya Hyuna, malu-malu.
"Setahu aku sih bagus Nyonya. Tempatnya itu masih dalam satu ruang lingkup hotel mewah," jawab Bora seingatnya.
__ADS_1
"Berarti nanti masuk ke dalam hotel, Sus?" tukas Hyuna dengan kedua mata berbinar.
Ah! Sayangnya harapan wanita itu terlalu berlebihan. Hyuna tidak akan diajak ataupun diberi kejutan ke dalam salah satu kamar hotel tersebut.
Ingat Hyuna, kamu hanya makan malam bersama Deo. Tidak lebih.
Namun karena pikirannya positif, Hyuna terus tersenyum tipis sepanjang perjalanan sambil melihat ke luar kaca jendela mobil.
"Ya Tuhan, kalau memang Kau gariskan Deo untukku, bantu aku supaya bisa merasakan bahagia bersama suamiku sendiri," batin Hyuna berharap.
Setelah cukup lama berada dalam perjalanan, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Hyuna serta Bora masuk ke dalam halaman Grand Elysèe Hotel. Lalu memarkirkannya di baseman hotel tersebut.
"Sus, jadi ini hotelnya?" Hyuna bertanya-tanya. Dia akhirnya tahu. Ternyata benar, kalau restaurant yang dimaksud oleh Bora masih dalam satu ruang lingkup di hotel tersebut.
"Sepertinya iya. Sudah lama sekali aku tidak berjalan-jalan di daerah sini. Kalau bukanTuan Deo sendiri yang memberikan alamatnya, mungkin kita bisa tidak akan sampai ke sini ... " Kemudian menepuk kursi kemudi. "Benar begitu kan?" tanyanya pada sopir.
"Iya benar Nyonya," jawab sopir tersebut.
Setelah turun dari mobil dan duduk di kursi roda, Bora pun mendorongnya menuju restauran. Suasana sepanjang trotoar dimalam itu cukup sepi.
Hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang dengan mengenakan pakaian yang mewah serta berkelas. Namun, pandangan mereka saat melihat Hyuna membuat risih.
Tatapan mereka seakan merendah seolah Hyuna tidak layak pergi ke tempat yang memang dikhususkan rata-rata untuk para orang kaya.
Theo's, itulah nama restauran itu. Memang tidak dapat dipungkiri, kebanyakan dari mereka yang masuk ke dalamnya merupakan pasangan. Pria dan wanita.
Dalam hati kecil Hyuna, sebenarnya dia minder. Kekurangan yang saat ini menjadi genderang perang dalam batinnya itu, seolah menutup rasa percaya dirinya.
"Selamat malam," sapa pelayan restauran, ramah. Namun keramahannya itu tidal berlangsung lama ketika melihat Hyuna memakai kursi roda. Tatapan risih darinya untungnya sulit menyenggol perasaannya.
"Malam ... Kami mau ke meja atas nama Deo Ainsley. Kira-kira di sebelah mana ya?" tanya Bora seraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru gedung yang sangat luas itu. Sedangkan pelayan tersebut mengikuti arah pandangnya.
"Mohon ditunggu, biar saya cek terlebih dahulu ya," jawab pelayan lalu melihat layar tablet yang ada di atas meja. Dia mengecek nama pengunjung yang sudah melakukan reservasi terlebih dahulu.
__ADS_1
Disaat sedang menunggu, kedua telapak tangan Hyuna mulai basah karena berkeringat. Entah kenapa dia mulai gugup. Detak jantungnya pun berdebar dua kali lipat dari biasanya.
"Nyonya," panggil pelayan tadi. Dia telah menemukan nama yang disebutkan oleh Bora. Dia jelas tahu siapa yang akan makan di restauran tersebut. Secara penampilan Bora memang mudah dikenali sebagai perawat, sedangkan Hyuna yang kini memakai dress dengan polesan make up pada wajahnya. "Meja atas nama Tuan Deo Ainsley ada di nomor tujuh belas. Um ... Sepertinya Tuan Deo sudah datang sejak beberapa menit yang lalu. Sebab di layar tablet ada keterangan, jika sudah datang terdapat tanda centang," jelasnya.
"Oh begitu, boleh minta tolong antarkan kami ke meja tersebut?" pinta Hyuna yang tiba-tiba angkat bicara. Setelah cukup lama menetralisir perasaannya, dia pun akhirnya siap bertemu pria yang berstatus sebagai suaminya.
"Boleh. Mari saya antar," ajak pelayan itu, lalu mempersilahkan mereka jalan terlebih dahulu, dia pun mengikuti.
Hyuna telah melihat punggung Deo yang duduk membelakangi dirinya. Matanya hanya menatap nanar ke depan.
"Nyonya, ini mejanya," kata pelayan yang juga tersenyum pada Deo.
"Terima kasih."
Pelayan itu menunduk hormat lalu pergi dari dapan mereka. Setelah itu. Hyuna dudukU berhadapan dengan Deo.
"Ada apa kamu mengajakku makam malam disini?" tanya Hyuna. Dia benar-benar sangat penasaran. Sementara Deo masih menatapnya lebih lekat tanpa berkedip.
"Dia terlihat sangat berbeda," gumam Deo dalam hatinya.
"Deo?" Hyuna melambaikan tangannya di depan wajah.
Pria itu terkesiap. Sejujurnya Hyuna terpana akan ketampanan Deo saat ini. Terlebih saat mengenakan setelan toxedo berwarna putih yang dipadukan dengan kemeja hitam.
"Ehem." Deo melonggarkan tenggorokannya, mengelabui Hyuna karena sebenarnya dia salah tingkah. "Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan, sekaligus ... " Ucapannya tiba-tiba berhenti saat matanya menatap Bora yang masih ada bersama mereka. "Sus, bisa tinggalkan kami berdua?" tanyanya pada Bora.
"Bisa Tuan." Bora mengubah posisi Hyuna supaya bisa duduk saling berhadapan dengan Deo. Setelah selesai, dia pun berkata. "Kalau begitu saya permisi."
Ketika Bora telah pergi, Deo menatap Hyuna kembali.
"Hyuna ... "
Bersambung ....
...****************...
__ADS_1