
Setelah melihat video itu, Deo mengambil ponselnya kembali dari tangan Leika. Wanita itu tiba-tiba tertawa. Deo pun terkejut akan respon yang ditunjukkan oleh Leika, sungguh diluar dugaannya.
"Itu pasti rekayasa. Kamu dapat darimana video itu? Aku lebih tahu tentang kak Nat di banding kamu, Deo!" sentak wanita itu dengan rasa sombongnya sambil menatap berani seakan tidak takut pria yang ada dihadapannya itu akan marah.
"Sulit untuk ku percaya dirimu yang sekarang, Leika. Selama ini aku percaya kamu bisa jadi istri yang baik untukku setelah menikah. Namun rupanya ... " Deo menghentikan ucapannya sambil menggelengkan kepala. "Aku salah menilaimu seperti itu," pungkas pria itu.
"Justru aku lebih salah menganggapmu masih setia padaku dan ... aku masih mengira menjadi satu-satunya wanita paling beruntung di dunia karena dinikahi oleh mu." Leika mengangkat kedua bahunya serta kedua telapak tangannya, terlebih saat mengingat Deo mengakui Hyuna sebagai istrinya juga.
"Kalau saja aku tahu sebelumnya bahwa kamu sudah menikah, aku akan berpikir ulang untuk menikah denganmu," lanjut wanita itu yang kelepasan bicara sesuai apa yang ada di pikirannya. Sebab saat itu ia sedang diselimuti oleh amarah yang meledak-ledak.
"Apa yang kamu ucapkan barusan, sudah jelas mencerminkan apa yang kamu inginkan saat ini, bukan? Bagaimana kalau pernikahan kita saja yang dibatalkan? Bukankah itu jauh lebih baik?" Deo bersilang dada sambil memicingkan matanya ke arah Leika. "Kamu bisa bebas berkarir tanpa harus repot mengurus semua kebutuhanku dan hanya memikirkan dirimu sendiri."
Seketika Leika merasa tertampar. Apa yang diucapkannya barusan membuat dirinya semakin tertekan dan merasa rumit.
"Sembilan tahun kita sama-sama, Deo. Apa ini yang menurutmu pantas untukku? ku kira kamu menikahiku memang karena cinta ... Cinta kita. Setelah kamu tahu kesalahanku, kamu pojokkan aku seakan aku menjadi wanita paling hina. Sekarang aku tahu kamu sudah menikah, terus kamu mau melepaskanku begitu saja? Hebat kamu Deo, HEBAT!" Emosi dan air mata Leika sudah tak tertahankan lagi. Hatinya sakit, dan rumah tangganya berada di ujung tanduk.
"Ya, sembilan tahun. Empat tahun pertama kamu memang yang selalu aku impikan untuk dijadikan istri. Cantik, baik, selalu ada waktu untukku, tidak aneh-aneh. Setelah kamu terjun ke dalam industri para artis. Kamu berubah. Sulit untuk ditemui, selalu banyak alasan dan lain sebagainya." Deo berkata lebih tenang dari sebelumnya.
"Kamu tahu? Menjadi aktris papan atas menjadi impianku sejak kecil. Aku bukan dari keluarga pewaris sepertimu. Aku harus bekerja keras untuk membahagiakan kedua orang tuaku. Mungkin, sekarang orang tuaku sudah merasa lega. Semua keinginan mereka telah aku wujudkan selama lima tahun aku berkarir, lalu sekarang menjadi istri seorang konglomerat sepertimu membuat mereka merasa beruntung."
Leika mengatur napasnya terlebih dahulu.
"Meski jalan yang ku tempuh memang tidak selalu mulus, tapi aku yakin kalau aku mampu untuk melewati setiap tantangan itu sendiri," lanjut Leika mencoba membuat Deo paham sisi lain dari pekerjaan yang digeluti olehnya. "Sekarang, kamu bilang akan membatalkan pernikahan kita. Aku yakin kedua orang tuaku akan kecewa," lirihnya dengan suara pelan.
Deo hanya terdiam. Pria itu kemudian berjalan ke arah pinggir kasur sebelahnya. Keduanya pun sama-sama duduk tapi saling memunggungi.
__ADS_1
Tak ada kata yang terucap. Seakan sengaja menjeda pertengkaran yang diselimuti oleh amarah yang kian meledak tak terhindarkan.
Mungkin keduanya butuh waktu untuk tenang sambil intropeksi diri. Bukan hanya sebuah kata maaf yang terucap. Pun ada perubahan dari diri keduanya ke arah yang lebih baik.
Entah keputusannya akan seperti apa nantinya. Biar hati yang bicara ke arah mana tujuan mereka sebenarnya.
...----------------...
Sementara di kamar, Hyuna hanya duduk termenung di balkon kamar sambil memeluk kedua lututnya dengan dagu yang di tempelkan ke atas lutut.
Pikirannya hanya satu, ingin pulang ke rumah kedua orang tua dan tinggal bersama mereka di Inggris. Air matanya pun terus menetes bersama hati yang kian terkikis karena sebuah rasa cinta pada seorang pria yang tidak pernah mencintainya.
"Andai di kamar ini ada telepon. Aku pasti akan menelepon Papa untuk menjemputku. Mereka pasti bahagia kalau mendengar aku masih hidup. Seingatku Papa membelikan aku apartemen di kota ini. Apa aku pergi saja ya ke sana? Untuk apa aku terus berdiam diri di rumah ini? Apalagi Leika sudah tahu tentang aku dan keberadaanku. Lebih baik aku pergi sekarang!" Hyuna bermonolog.
Ia bergegas berganti pakaian, lalu hanya membawa sisa uang yang ia miliki untuk menaiki mobil taksi menuju alamat apartemennya. Setelah itu ia pun keluar dari kamar dengan sangat hati-hati.
Saat berhasil keluar dari gerbang rumah, Hyuna berjalan tanpa alas kaki sambil menjinjing sepatu hingga berada di pinggir jalan umum. Meski kakinya sedikit sakit karena sempat menginjak kerikil dan pasir, tapi ia tahan.
Pergi dari hidup Deo jauh lebih baik ketimbang berada di sisi pria itu dan berharap cintanya terbalaskan, akan membuatnya terus merasa sakit.
Setelah memakai sepatunya, Hyuna menghentikan mobil taksi yang lewat. Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkannya. Karena jalan umum itu memang banyak mobil taksi yang berlalu lalang.
Hyuna menyebutkan alamat apartemen yang dituju. Rasanya benar-benar lega sekali. Ia tidak membawa pakaian sama sekali apalagi semua berkas sengaja di tinggal.
Namun ditengah perjalanan, ia teringat sesuatu. Kartu yang berfungsi sebagai kunci pintu apartemennya entah ada di mana. Akan tetapi meski begitu, mau tidak mau ia harus pergi ke front office yang ada di lobby untuk memintanya kembali.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, sopir taksi itu menghentikan mobilnya tepat di depan lobby apartemen. Hyuna langsung mengeluarkan sejumlah uang padanya.
Setelah Hyuna turun, sopir taksi pun bergegas pergi dari sana. Karena lobby hanya tempat menurunkan penumpang saja.
Hyuna berjalan menuju resepsionis. Di sana terdapat dua orang wanita berpakaian mirip seperti pramugari sedang berjaga. Namun keduanya tampak sedang sibuk di depan komputer masing-masing.
"Permisi," ucap Hyuna ketika sudah sampai di depan meja mereka.
Reflek keduanya menghentikan pekerjaan mereka, lalu berdiri dan memberi sapaan.
"Selamat pagi, ada yang bisa kami ban ... tu?" kata salah resepsionis bernama Sheila yang tertera pada nametag di pakaiannyan. Wanita itu seketika gugup melihat Hyuna berdiri dihadapannya.
"Pagi. Saya boleh minta kunci unit nomor seribu tigaratus delapan puluh empat? Atas nama Hyuna Indira," jawab Hyuna bersikap biasa saja.
Namun keduanya malah saling bertukar pandang. Hyuna pun mengerutkan alisnya, merasa aneh.
"Hallo?" Hyuna melambaikan tangannya ke depan wajah mereka yang tampak terkejut.
"Maaf Nona, kami kira Anda sudah meninggal dunia. Pasalnya setelah kejadian kecelakaan itu tidak ada kabar lagi tentangmu," kata resepsionis bernama Rea.
"Oh, saya sedang perawatan intensif. Buktinya sekarang saya masih hidup bukan? Sekarang saya minta tolong untuk diambilkan kunci baru. Soalnya saya sendiri tidak tahu dimana kunci lamanya," jelas Hyuna.
Beruntung kedua resepsionis itu ramah. Salah satu mereka mengantarkan Hyuna ke front office untuk meregistrasi ulang.
Tidak butuh waktu lama, kunci pun sudah di tangan Hyuna. Wanita itu segera pergi ke unitnya untuk berkemas sebelum Deo bergerak lebih cepat. Hyuna benar-benar sedang memanfaatkan kondisi saat itu.
__ADS_1
Bersambung ....