Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Bab 30. Tutur Batin Mommy


__ADS_3

Hyuna baru saja tiba di rumah yang selama ini ia tempati. Sesaat setelah turun dari mobil taksi, langit tiba-tiba mendung. Gemuruh petir pun mulai bersahutan terdengar seolah berada di ujung jalan kompleks rumah itu.


Hyuna segera masuk ke dalam. Tak lama mobil taksi pun pergi dari sana.


"Untung saja Nyonya sudah sampai, coba kalau belum mungkin akan terjebak hujan," kata Vina yang tiba-tiba muncul dari dalam saat Hyuna baru saja sampai di depan pintu.


"Eh, astaga aku sampai kaget!" seru Hyuna sambil menghela napas panjang.


"Maaf sudah mengagetkan Nyonya." Vina menunduk merasa tidak enak hati. Lalu tak lama wajahnya terangkat kembali. "Oh iya Nyonya, sejak tadi ditunggu oleh suster Bora di ruang keluarga. Katanya dia ingin berpamitan," lanjut wanita itu.


"Ha? Berpamitan?" tukas Hyuna sambil mengerutkan alis.


"Iya Nyonya." Vina kemudian memberi jalan untuk Hyuna supaya bisa masuk ke dalam.


"Ya sudah, saya temui dia terlebih dahulu ya."


Hyuna melangkahkan kakinya pergi ke ruang keluarga. Benar saja, ia melihat ada dua buah koper yang berdiri tepat di samping Bora duduk.


Bora yang mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya pun menoleh lalu tersenyum.


"Suster ... " Hyuna mempercepat langkahnya kemudian ikut duduk di sebelah Bora. "Kenapa Suster pergi sekarang? Apa Suster tidak ingin disini lebih lama lagi?" tanya Hyuna dengan mata yang berkaca-kaca. Baginya sungguh berat berpisah dengan wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


"Saya harus kembali ke rumah sakit Hyuna. Tugas saya disini sudah selesai. Karena dari awal perjanjiannya itu, jika kamu telah benar-benar pulih maka akan selesai pula tugas saya untuk merawat kamu," jawab Bora dengan suara lembut.


Hyuna terdiam. Rasanya tidak ada kata-kata yang mampu mencegah Bora untuk tetap tinggal. Semua sudah di rencanakan oleh Deo.


"Sus ... Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku. Aku tidak rindu sekali dengan mereka," kata Hyuna lalu tergugu.


"Mungkin kalau aku bisa, aku pun mau mengantarkanmu. Namun sayangnya, aku sudah terikat oleh instansi terkait. Dimana jika aku bermasalah, maka seakan aku akan menjadi buron disini." Bora mencoba menjelaskan pada Hyuna. Sebab hukum di negara Jerman memang sangat ketat. Sekali namanya tercoreng, untuk keluar dari negara itu saja tidak bisa karena dianggap lari dari tugas.


"Oh seperti itu ya Sus?" Hyuna terperangah karena baru mengetahui tentang hal itu.

__ADS_1


"Iya ... Aku paham berada diposisimu. Kalau kamu tidak tahan, lebih baik bilang pada Tuan Deo untuk membatalkan pernikahan kalian. Bagaimanapun kamu juga berhak bahagia. Kecuali ... " Bora menghela napas seraya melirik Hyuna yang menatap kosong kedepan. "Kalau kamu terlalu mencintainya, kamu juga harus siap dengan segala risiko yang akan terjadi kedepannya," jelas Bora.


Hyuna memejamkan mata, lalu menarik napas dalam-dalam. Hatinya mencoba menerima apa yang dikatakan oleh Bora. Perawat itu ada benarnya juga, menurutnya.


"Terima kasih Sus, sudah selalu menjadi teman yang baik untukku selama ini. Aku tidak tahu bagaimana masa pemulihanku kalau bukan dengan Suster orangnya. Aku merasa, Suster sudah seperti ibuku sendiri," tutur Hyuna merasa sangat bersyukur.


"Benarkah?" tukas Bora. Perawat itu merasa terharu sampai menitikkan air mata. "Boleh aku memelukmu Hyuna?" tanyanya kemudian.


"Tentu, boleh." Keduanya pun saling berpelukan sebagai tanda perpisahan.


...----------------...


Tak terasa satu jam berlalu sangat cepat. Pekerjaan Deo pun baru saja selesai. Pria itu segera mengirimkan pesan kepada Mommy-nya kalau ia akan segera berangkat.


Deo mengendarai mobilnya sendiri untuk menjemput Mommy-nya di salon. Beberapa menit kemudian, ia pun tiba.


Deo bisa bernapas lega karena Dovi sudah menunggu di depan lobby salon. Itu artinya ia tidak perlu masuk ke dalam dan bertemu para pelayan salon yang menggelikan baginya.


"Hai, Mom," sapa Deo yang sengaja menghentikan mobilnya tepat di depan Dovi sambil membuka kaca jendelanya.


"Kita pergi ke mall mana Mom?" tanya Deo sesaat setelah Dovi menutup pintu dan sedang memakai sabuk pengaman.


"Mall khusus barang-barang perlengkapan rumah ya? Soalnya Mommy mau mendekor ulang ruang tamu sama ruang keluarga. Kata Daddy-mu dia sudah bosan melihatnya," jawab Dovi. Meskipun demikian, belanja adalah hal yang paling menyenangkan baginya.


"Baiklah." Deo melajukan mobilnya ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di pusat kota Hamburg.


"Deo, bagaimana kabarnya Leika? Semejak menikah, kok dia sama sekali tidak pernah mengunjungi kami?"


Pertanyaan Dovi membuat Deo sedikit tersentak. Pria itu juga baru menyadarinya dan dikira orang tuanya tidak akan mempertanyakan hal itu.


Karena Deo hanya diam dan tidak langsung menjawabnya, Dovi merasa ada yang aneh dengan rumah tangga anaknya itu.

__ADS_1


"Apa terjadi sesuatu dengan kalian?" tanya Dovi lagi. Sebagai seorang ibu tentunya ia mempunyai insting yang kuat.


"Tidak Mom." Deo mengelak dan enggan berbagi cerita dengan Mommy-nya.


"Jujur saja, dari awal kamu memutuskan akan menikahinya ... Mommy merasa Leika bukan orang yang tepat buat kamu." Dovi menoleh ke arah Deo yang masih fokus menyetir mobil. "Mau dilarang, itu sudah menjadi keputusan kamu. Kamu cinta sama dia, kamu yang menjalankannya sama dia. Kami sebagai orang tua hanya mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga kamu dan juga Leika," lanjutnya.


Deo pun setia mendengarkan setiap nasihat yang diberikan oleh Mommy-nya.


"Bagi Mommy, selama rumah tangga itu tidak ada pengkhianatan. Perbedaan pendapat dan prinsip masih bisa dibicarakan secara baik-baik. Sebab jika sudah berkhianat, ibarat sebuah cangkang telur itu sudah retak. Mungkin bisa diperbaiki, tapi itu agak sulit. Pasti ada yang berubah, entah dari diri kita atau pasangan kita sendiri. Ya, Mommy berharap kalian baik-baik saja," tutur batin Dovi pada anak sulungnya.


"Terima kasih Mom." Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Deo. Tentunya Dovi lebih tahu tentangnya. Sifat yang dimiliki olehnya itu tidak berubah sejak kecil. Pendiam dan memendam semuanya sendiri. Akan tetapi Dovi percaya, suatu hari Deo akan keluar dari sifatnya itu kalau bertemu dengan orang yang tepat.


Perbincangan mereka, tanpa terasa telah sampai ditempat tujuan. Deo memarkirkan mobilnya tak jauh dari lobby. Lalu keduanya pun turun dari mobil dan masuk ke dalam mall tersebut.


Saat baru memasuki pusat perbelanjaan. Pertama kali yang Deo lihat yaitu sebuah contoh kamar bayi. Terlihat lucu dan menggemaskan. Ada yang khusus laki-laki dan juga perempuan.


Deo tersenyum tipis dan hampir tak terlihat. Seketika ia membayangkan sosok seorang anak hasil darah dagingnya sendiri.


Sementara Dovi terus berjalan yang tanpa sadar meninggalkan Deo yang masih berdiri sambil menatap ke arah contoh kamat bayi tersebut. Namun ketika sadar, wanita itu sampai menggelengkan kepala sambil menghampiri anaknya.


"Deo! Kok melamun disini?"


Pria itu tersentak kaget. "Oh iya, Mom."


"Makanya kamu harus berusaha lebih keras lagi supaya Leika bisa segera hamil," seloroh Dovi sambil terkekeh.


Deo hanya mengulum bibirnya seraya menarik napas. "Yuk Mom, kita cari barang yang Mommy butuhkan," kilahnya, mengalihkan pembicaraan.


Dovi hanya menggelengkan kepala sambil menatap malas anaknya. "Iya deh!"


...----------------...

__ADS_1


Setelah dua jam berada di dalam mall, Dovi akhirnya mengajak Deo pulang. Barang belanjaan yang ia beli akan dikirim langsung dari toko ke rumahnya.


Bersambung ....


__ADS_2