
Hyuna membersihkan mulutnya dari cairan muntahan yang baru saja ia keluarkan di depan wastafel. Wajahnya kemudian terangkat menatap dirinya sendiri dari pantulan kaca. Terlihat pucat namun masih tampak cantik. Kepalanya pun tiba-tiba terasa pusing, berdenyut dan tubuhnya terasa lemas. Ia segera keluar dari toilet setelah menyeka mulut dengan tisu yang ada di samping kaca.
Sementara di depan toilet, Dave terus mondar mandir mengkhawatirkan istrinya yang sudah hampir setengah jam yang lalu berada di dalam sana.
"Kenapa Hyuna belum juga keluar ya?" gumamnya sambil menghentikan langkahnya sejenak, lalu sebelah tangannya mengusap dagunya sendiri. Perasaannya semakin gelisah. Ingin rasanya ia menerobos masuk ke dalam. Namun apalah daya, toilet itu khusus wanita. Ia tidak bisa main masuk ke dalam begitu saja.
Ceklek.
Pintu terbuka. Wanita yang sejak tadi ditunggu Dave akhirnya keluar.
"Hyuna, apa sudah lebih baik?" tanya pria itu sambil menggenggam kedua tangan istrinya.
"Ya, lumayan. Tapi masih .... " Hawa mual mulai menguasai Hyuna kembali. Ia segera menutup mulutnya lalu masuk ke dalam toilet kembali.
__ADS_1
"Apa ada yang salah dengan tubuhku?" Dave bertanya pada dirinya sendiri seraya mencium bau badannya sendiri. Namun ia merasa minyak wanginya masih harum seperti biasanya. "Ah iya!" Pria itu teringat akan Hyuna yang tiba-tiba mual ketika mencium bau masakan.
Tak lama kemudian Hyuna keluar lagi dari dalam toilet. Dave langsung mengeluarkan sapu tangannya dan memasangkannya sebagai masker di wajah Hyuna. Seketika wanita itu terkejut akan perlakuan Dave, namun di sisi lain Hyuna merasa bahagia. Untuk sementara waktu, rasa mualnya bisa diredam dengan wangi parfum suaminya sendiri.
"Yuk kita pergi dari sini," ajak Dave lalu merangkul pinggang Hyuna. Keduanya berjalan menuju kasir terlebih dahulu untuk membayar serta mengambil pesanan mereka.
Beberapa saat kemudian, keduanya telah berada di dalam mobil.
"Kamu mau makan sambil kita jalan atau nunggu sampai rumah?" Dave memberi pilihan, karena dirinya harus belajar menyesuaikan kondisi nyaman pada istrinya itu.
"Tapi kenapa My Hunny?" tanya pria itu lalu mengelus lembut pipi istrinya sambil menunjukkan sorot teduhnya.
"Aku lapar sekali." Hyuna menangis sampai tergugu.
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa kamu jadi sensitif seperti ini Hyuna?" Dave ikut merasa sedih.
"Tidak tahu, rasanya aku tuh ingin menangis terus. Aku sendiri bingung ada apa denganku akhir-akhir ini," jawab Hyuna sambil menyeka air matanya. Ia pun menyadari kalau apa yang dirasakannya saat itu menjadi jauh lebih sensitif.
Dave terdiam beberapa saat, lalu angkat bicara. "Sepertinya aku harus membawamu ke rumah sakit," kata pria itu.
"Untuk apa Dave? Aku baik-baik saja kok, mungkin ini karena aku kelelahan saja makanya jadi seperti ini." Hyuna menolak secara halus.
"Ya justru aku takut kamu kenapa-kenapa My Hunny. Kita bisa mengeceknya secara langsung. Bisa jadi kamu akan mendapat solusi supaya bisa terbebas dari rasa lelah yang sangat luar biasa." Dave berusaha untuk meyakinkan Hyuna. Sedangkan istrinya terus menatap lurus ke depan sambil menyandarkan punggung di sandaran kursi.
Hyuna menghela napasnya. Wanita itu menghela napasnya. "Ya sudah aku menurut saja apa kata pak dokter." Akhirnya ia pun menyetujui.
Setelah perdebatan yang cukup rumit, Dave pun melajukan mobilnya ke rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung ....