
"Vin, saya ke kamar dulu ya," kata Hyuna pada Vina yang sedang membereskan meja makan.
"Oh iya Nyonya, silahkan," balas Vina bersikap sopan.
Perasaan Hyuna sedang dirundung kebimbangan. Terlebih ketika melihat paras serta wujud Leika secara langsung tadi siang. Ada segelintir rasa ingin merebut posisi Leika saat itu.
Sesaat setelah Hyuna menutup pintu kamar. Di depan rumah berhenti sebuah mobil sedan berwarna hitam. Seorang pria pun turun dari kursi kemudi dan segera masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu ataupun memenekan bel.
Vina yang masih berada di ruang makan pun tersentak kaget saat melihat seorang pria berjalan begitu saja. Dirinya dianggap seolah tak ada di sana. Pria itu berjalan tergesa-gesa menaiki anak tangga.
"Hei! Anda siapa?" tanya Vina dengan tegas.
Pria itu menghentikan langkahnya lalu menoleh sekilas ke arah Vina. Sesaat kemudian berjalan kembali.
"Astaga! Siapa dia? Kenapa hanya melihatku? Dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku sama sekali. Aku harus susul dia!" Vina melempar kain serbet ke atas meja, kemudian berlari menaiki anak tangga.
"Ya ampun langkah yaa cepat sekali," keluh Vina dengan napas yang tersengal-sengal ketika baru separuh jalan menelusuri anak tangga.
Mungkin karena dia lari, tenaganya jadi cepat habis. Bahkan kakinya pun sampai bergemetar. Belum ada sehari di rumah itu, Vina sangat lelah sekali. Akhirnya pelayan itu pelan-pelan melangkahkan kakinya kembali naik ke lantai atas.
Matanya terbelalak ketika melihat pria itu masuk dan menutup kembali pintu kamar Hyuna.
"Astaga! Apa itu Tuan Deo? Mati lah aku kalau memang itu suami Nyonya." Vina menepuk-nepuk bibirnya sendiri, merasa menyesal karena sempat meneriakinya dari meja makan.
Tidak ingin membuat masalah, Vina pun turun kembali untuk melanjutkan pekerjaannya di dapur.
...----------------...
Sementara itu di kamar Hyuna. Wanita itu begitu terkejut dengan kedatangan Deo yang selalu secara tiba-tiba. Terlebih ketika dirinya hendak mengganti pakaian tidur.
"Deo, kenapa kamu kemari? Kamu takut aku kabur?" cecar Hyuna sambil melangkah mundur, berusaha menjauhi Deo yang masih berdiri di dekat pintu.
"Ini rumahku. Siapa yang berani melarang?" kata Deo dengan santainya. Ia pun duduk di pinggir tempat tidur. "Sini, duduk!" titahnya sambil menepuk kasur.
"Kalau kamu mau bicara, bicara saja. Aku bisa berdiri ko," kata Hyuna yang sebenarnya merasa gugup.
__ADS_1
Deo mendes ah kasar. "Baiklah, kalau kamu tidak ingin duduk disebelahku. Kita langsung to the point saja." Pria itu merubah posisi duduknya menjadi menghadap ke Hyuna. "Aku ingin tidur disini malam ini," pungkasnya.
Hyuna mengerutkan alisnya sambil menggelengkan kepala. Ia tiba-tiba mengingat kejadian tadi siang. Besar kemungkinan Deo akan meminta hak padanya.
"Baiklah, aku akan tidur di kamar lain kalau begitu," jawab Hyuna dengan cepat.
"Tidak boleh!" Hyuna langsung membulatkan matanya ketika Deo melarang keras.
"Ke-kenapa bisa begitu? Aku ... Aku belum siap sekamar denganmu saat ini," kata Hyuna meremang.
"Kita bahkan pernah melakukannya Hyuna," timpal Deo berusaha meyakinkan wanita itu.
"Tapi saat itu kondisinya berbeda Deo. Waktu itu aku masih sakit. Sekarang aku sudah sembuh," sanggah Hyuna.
"Tetap saja. Kamu harus temaniku tidur di kamar ini." Deo tetap bersikukuh dengan keinginannya. Sementara Hyuna bergegas melangkahkan kaki menuju pintu untuk keluar dari kamar itu.
Deo yang melihat Hyuna akan pergi pun, dengan cepat beranjak dari duduknya lalu menarik tangan wanita itu.
"Ah!" Hyuna tersentak kaget ketika ada sebuah tangan yang mencekal lengannya. "Lepasin Deo!" bentak wanita itu.
"Sampai kapan pun aku tidak akan mau!" Hyuna tak kalah tersulut emosi. "Kamu ingat Deo, ada Leika, wanita yang kamu cintai selama ini. Bukan aku!"
"Kamu!" Deo melepaskan cekalan tangannya dengan kasar. Pria itu justru membuka handle pintu lalu keluar dari kamar. Setelah itu pintu pun ditutup sangat kencang olehnya.
Hyuna memejamkan mata, sesaat kemudian menangis sampai jatuh terduduk di lantai.
"Aku ingin kamu paham, Deo. Karena aku tidak ingin kamu jadikan pelampiasan. Meski aku mencintaimu, tetap saja perasaanku lebih egois. Menginginkan kamu menjadikan aku satu-satunya wanita yang berarti dalam hidupmu," gumam Hyuna ditengah tangisannya.
...----------------...
Hampir semalaman Hyuna tidak bisa tidur, akhirnya ia pun bisa tidur sekitar empat jam yang lalu. Namun tidurnya tidak terlalu nyenyak, ia teringat akan ajakkan Nat kemarin.
Setelah dirasa tidurnya cukup, Hyuna pun terbangun. Ia segera mandi dan mengganti pakaian.
Tak lama kemudian, ia keluar dari kamar. Kondisi rumah sangat sepi. Hyuna pun pergi ke lantai bawah.
__ADS_1
"Vin, kamu lihat Tuan Deo tidak semalam atau pagi ini?" tanya Hyuna menghampiri Vina yang baru saja selesai mencuci piring.
"Belum tuh Nyonya. Padahal saya tidur pukul sebelas malam dan saya juga bangun lebih pagi hari ini," jawab Vina mengelap tangannya yang basah ke apron yang ia pakai.
"Oh gitu ya." Hyuna merumat-rumat kedua telapak tangannya. "Kalau gitu saya ke atas lagi ya," pamit wanita itu lalu pergi dari hadapan Vina.
Hyuna ingat kalau di lantai atas terdapat tiga kamar. Satu diantaranya memang ia tempati. Sedangkan dua lainnya belum pernah dimasukinya.
Pertama Hyuna memasuki kamar yang tak jauh dari kamarnya. Ia membuka pintu dengan sangat pelan. Ketika pintu terbuka, otomatis lampu kamar menyala. Ternyata tidak ada siapapun di sana. Kondisi tempat tidur pun masih sangat rapih.
Lalu yang kedua, kamar ini berada di dekat tangga. Luasnya bisa dibilang lebih besar dari kamar yang tadi namun lebih kecil dari kamar yang di tempati oleh Hyuna.
Wanita itu membukanya sangat hati-hati, setelah terbuka cukup lebar, lampu dikamar itu menyala. Hyuna terkejut dengan keberadaan Deo di sana.
Deo masih tertidur pulas dengan selimut yang menutupi separuh tubuhnya. Pakaiannya pun masih sama seperti yang dipakai semalam.
"Ternyata dia tidak benar-benar pergi dari rumah ini," kata Hyuna dalam hatinya. Lalu pelan-pelan ia pun menutup pintunya kembali. Supaya tidak membangunkan Deo dari tidurnya.
Akhirnya Hyuna pergi ke lantai bawah untuk sarapan.
...----------------...
Getaran ponsel yang ada di atas nakas membuat Deo terbangun dari tidurnya. Ia kemudian duduk dan melihat ke layar ponsel yang sedang menyala itu.
"Leika?" gumamnya lalu menjawab panggilan itu.
"Ya, ada apa?"
"Kamu dimana sih? Kenapa semalam tidak pulang? Padahal aku nungguin kamu loh. Aku telepon Mommy katanya kamu tidak ada di rumah mereka."
"Sejak kapan kamu dekat dengan Mommy?" tanya Deo terdengar ketus.
"Tidak, hanya semalam saja. Aku bersusah payah mencari keberadaanmu Deo. Kamu share location ya sekarang ada di mana. Biar aku yang menjemputmu."
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri," jawab Deo lalu memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Bersambung ....