
"Dok .... " Dovi berdiri ketika melihat kedatangan Dave di sana.
"Apa Tuan Deo ada di dalam?" tanya dokter tampan itu. Ia merasa iba karena melihat wajah Dovi yang tampak kelelahan di usianya yang tidak muda lagi. Bahkan pada bagian bawah matanya pun sampai menghitam.
"Tidak Dok. Anak saya pulang lebih dulu ke Hamburg karena ada urusan kantor yang mendesak," jawab Dovi.
"Ya sudah kalau begitu saya akan cek kondisi pasien terlebih dahulu, permisi." Dave menunduk hormat lalu berjalan melewati wanita paruh baya itu kemudian masuk ke dalam ruang NICU.
...----------------...
Di kampus tempat Hyuna berada, acara yang sedang diikutinya itu baru saja berakhir. Ia beserta Mona dan Evan keluar dari ruangan itu.
"Guys, kita ke kafe dulu bisa kali. Yuk!" ajak Mona sambil mengibas-ngibaskan tangannya memberi kode kepada Hyuna dan Evan seolah cuaca sedang panas. Padahal saat itu di luar suhu ya mencapai delapan belas derajat celsius.
"Maaf ya, kalian saja. Soalnya aku harus ke ruangan Pak Joy buat ambil sertifikat ... " Hyuna menoleh ke arah Mona dengan raut wajah sedihnya. "Seperti yang tadi pagi aku bilang padamu Mona ... Setelah aku dapat sertifikat, aku harus segera pulang ke Birmingham."
"Kok buru-buru sekali sih Hyuna. Kan kita mau rayain dulu. Apalagi kamu dapat nilai paling bagus diantara mahasiswa lainnya termasuk kami. Iya tidak Mona?" sahut Evan merasa kecewa karena setiap kali diajak pergi ke kafe dengan mereka, Hyuna tidak pernah mau.
"Iya nih. Kapan lagi kan kita bebas keluar dan jauh dari orang tua? Hari ini hari terakhir sebelum golden tiketnya hangus. Besok kita sudah berada di kampus tercinta," timpal Mona lalu menghela napas panjang.
"Aku minta maaf sekali. Serius, aku benar-benar tidak bisa. Mama-ku sudah membelikanku tiket pesawat buat jadwal penerbangan sore ini." Hyuna bersikukuh pada pendiriannya.
"Ya sudah deh kalah begitu. Hati-hati di jalan ya nanti, Hyuna. Kami sepertinya akan pulang malam." Mona akhirnya memaklumi privasi Hyuna. Ia pun memeluk Hyuna sebagai tanda perpisahan. "Selamat ya atas prestasimu. Selamat bertemu kembali di kampus kita."
Hyuna tersenyum lega sambil membalas pelukan Mona. "Terima kasih banyak Mona sudah menjadi teman baikku selama disini. Selamat juga atas prestasimu, sampai berjumpa lagi."
Keduanya saling melepaskan pelukan. Lalu, Hyuna berdiri berhadapan dengan Evan.
"Selamat atas prestasimu juga Evan. Terima kasih juga telah menjadi teman baikku selama di sini," kata Hyuna saat bersalaman dengan Evan.
"Sama-sama. Kamu juga Hyuna. Tapi sepertinya sebentar lagi ada yang jadian sama dosen di kampus ini," ledek Evan sambil mengerlingkan matanya. Sementara Hyuna tersentak kaget, alis matanya dikerutkan.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Hyuna pada Evan lalu menatap Mona saling bergantian. Namun jawaban Mona hanya mengangkat kedua bahunya, sedangkan Evan tertawa.
Hyuna melepaskan tangan Evan. Kedua orang yang bersamanya tertawa bersama. Akan tetapi Hyuna belum juga menyadarinya.
"Ya sudah lihat saja nanti. Tapi, kalau sampai ke jenjang pernikahan jangan lupa undang kami ya!" seru Mona sambil mencolek lengan Hyuna.
Wanita itu perlahan sadar, tapi dia tidak mau percaya diri. Siapa tahu bukan Hyuna orangnya bukan? yang pasti saja belum tentu benar dan tulus, apalagi baru kenal belum lama itu? Rasanya tidak mungkin kalau berharap, sebab dia belum siap membuka hati.
Berhubung sebentar lagi masuk makan siang, Hyuna memilih ke kantin yang ada di kampus itu untuk membeli makanan terlebih dahulu. Namun ketika sudah berada di kantin, Hyuna merasa risih dengan tatapan segerombolan wanita yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. Tatapan itu seolah ingin memakinya dan menghujatnya habis-habisan. Walaupun begitu, Hyuna tetap bersikap biasa saja. Ia tidak peduli apa yang orang lain lihat tentang dia dari luarnya saja.
Selesai membeli makanan, Hyuna segera kembali ke asrama. Waktunya sudah tidak banyak, apalagi jarak dari asrama ke bandara itu cukup memakan waktu yang tidak sedikit. Kurang lebih hampir satu jam kalau mobilnya melaju santai.
Sesampainya di kamar, Hyuna mandi lalu berganti pakaian. Habis itu, mulai merapikan barang-barang yang belum ia masukkan ke dalam koper. Setelah dirasa sudah semua, Hyuna menutup koper dan hanya menyisakan sebuah tas ransel berisi dokumen penting, laptop dan juga ponsel.
"Oke, beres!" gumamnya lalu menggendkng ransel dan menarik koper ke meja makan. Hyuna menyantap makanannya terlebih dahulu.
Dalam waktu lima belas menit, ia telah selesai makan dan juga membereskan bekas makanannya. Sebelum meninggalkan kamar, Hyuna memastikan kalau semua sudah terlihat rapi. Barulah ia keluar dan berjalan ke arah lobby untuk memberikan kunci kamar pada resepsionis.
Satu jam lebih dalam perjalanan, Hyuna akhirnya tiba di bandara. Sopir yang mengantarnya pun membantu menurunkan koper dari bagasi.
"Terima kasih Pak," kata Hyuna sambil menunduk hormat. Terlebih sopir itu sudah tampak berusia senja, tapi masih terlihat gagah dari postur tubuhnya.
"Sama-sama, hati-hati di jalan ya. Sampai berjumpa lagi," jawab sopir itu sambil tersenyum dan melambaikan tangan.
Hyuna pun ikut melambaikan tangan. Sesaat kemudian ia berbalik badan lalu menarik kopernya dan pergi ke bagian check in tiket pesawat.
Setelah selesai, Hyuna dipersilahkan untuk menunggu karena pesawatnya baru akan berangkat sekitar setengah jam lagi.
...----------------...
Di parkiran mobil rumah sakit. Dave baru masuk kedalam mobilnya karena tugasnya di rumah sakit baru selesai. Pria itu berusaha menghubungi Hyuna melalui ponselnya. Namun panggilannya itu tidak kunjung ada jawaban.
__ADS_1
"Hyuna ... Jawablah teleponku," gumam Dave sambil mencobanya lagi dan lagi. Lalu dirinya ingat akan sebuah acara yang diadakan kampus hari itu.
"Apa Hyuna sedang ada di kampus?" gumamnya lagi sambil menyalakan mesin mobil. Pria itu menancapkan pedal gas mobilnya menuju kampus tempatnya mengajar.
Setibanya di kampus, Dave berlari dari parkiran mobil menuju gedung tempat acara. Namun sayangnya gedung itu sudah sepi bahkan sudah di tutup oleh petugas.
Akhirnya pria itu pergi ke asrama, tepatnya ke kamar yang Hyuna tempati. Akan tetapi ketika baru sampai di lobby Dave tak sengaja bertemu dengan Evan yang saat itu akan pergi ke kamarnya untuk mengambil sesuatu yang tertinggal.
"Pak Dave ... dosen sekaligus dokter spesialis jantung bukan?" tanya Evan mencoba mengingat kembali.
"Iya benar, ada apa?" Dave pun bertanya balik.
"Pak Dave ke sini cari Hyuna?" Evan asal menebaknya.
"Kenapa kamu bisa tahu?" Dave pun sadar akan almamater yang dipakai oleh Evan sama seperti Hyuna.
"Ah, tidak penting Pak ... Oh iya, sepertinya Hyuna sekarang sudah ada di bandara. Soalnya tadi kami sempat ajak dia ke kafe tapi dia tolak. Alasannya akan segera pulang ke Birmingham," jelas Evan.
"Pulang ke Birmingham?" tanya Dave memastikan lalu berkacak pinggang dan Evan pun menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Kenapa buru-buru sekali ya?"
"Nah itu dia Pak, saya juga tidak tahu. Alasan lain sih karena Mama-nya sudah terlanjur membelikannya tiket sore ini. Coba saja Pak Dave susuk ke bandara, mungkin saja dia masih ada di sana," kata Evan lalu menepuk bahu Dave. "Maaf Pak saya tinggal dulu ya!" serunya lalu pergi meninggalkan Dave sendiri di sana.
Tidak ingin berlama-lama mematung di sana, Dave pun kembali ke parkiran mobil. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Beruntung jalan utama di sana cukup sepi, jadi dia bisa leluasa mengejar waktu supaya bisa segera tiba di bandara.
Tidak sampai setengah jam, Dave sampai di tempat parkir bandara. Pria itu segera turun dari mobil dan berlari menuju lobby keberangkatan. Dia terus berlari sambil mencari keberadaan Hyuna. Lalu di ujung harapannya, tak sengaja matanya berhenti dan melihat seseorang yang sangat ia kenali, Hyuna. Dave segera menghampiri petugas untuk meminta izin.
Setelah bernegosiasi, akhirnya Dave diizinkan masuk ke ruang tunggu. Pria itu berlari lagi hingga berhenti tepat di depan tempat Hyuna duduk. Wanita itu pun merasa terkejut, apalagi melihat napas Dave yang sampai tersengal-sengal dengan posisi membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut.
"Dave ... "
Bersambung ....
__ADS_1