Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Bab 34. OTW ke Inggris


__ADS_3

Ketika membuka pintu, ia merasa banyak sekali yang tidak berubah, tidak ada yang menyentuhnya pula. Kondisi apartemen yang seperti kapal pecah itu masih sama. Namun melihat banyaknya barang-barang yang tidak beraturan, Hyuna sudah tidak tergugah untuk membereskan serta membersihkannya.


Tidak ingin pusing dengan kondiai apartemen, Hyuna memilih lekas pergi ke kamarnya. Karena baginya waktunya kali ini tidak banyak. Di sana ada sebuah laptop dan juga tablet yang masih tertutup rapih di atas meja belajar.


"Sepertinya laptop dan tabletku pasti sudah habis batreinya karena tidak pernah kena isi," gumam Hyuna bermonolog sambil mencari keberasaan kabel serta kontak untuk mengisi daya kedua gadget tersebut.


Tak lama, ia pun menemukannya ada di bawah meja belajar dengan keadaan terlepas dari kontak listrik.


"Untunglaaah waktu itu aku tidak lupa untuk mencabutnya.Coba kalau lupa, haduh! Bisa kebakaran unit apartemenku ini," kata Hyuna bermonolog, kedua tangannya langsung menyambungkan masing-masing kabel ke laptop dan juga tablet.


Setelah berhasil menyala dengan sempurna, Hyuna menghidupkan akses internet. Ia mulai menyambungkan panggilan melalui aplikasi ke nomor Mama-nya.


Cukup lama Nestya menjawab panggilan anaknya itu. Entah sedang tidak memegang ponsel, sedang di jalan atau terkejut karena nomor Hyuna tiba-tiba memanggilnya.


Hyuna akhirnya mengirim pesan kepada Nestya.


[Ma, ini aku Hyuna. Aku masih hidup. Aku ingin pulang ke Inggris sekarang, tapi uangku tidak cukup. Bisakah Mama membantuku memesankan tiket pesawat? Setelah pesan ini akan aku kirimkan gambar visa, paspor dan identitasku.]


Pesan itu berhasil terkirim. Ajaibnya, langsung dibaca oleh Nestya. Itu artinya ia sempat sangat terkejut dengan panggilan dari Hyuna.


[Astaga, ini benar kamu? Kamu pulang ya? Mama akan segera kirimkan tiket pesawat untukmu.]


Hyuna pun membacanya. Sambil menunggu Nestya memesankan tiket pesawat, Hyuna segera mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Pun barang berharga lainnya serta mengeceknya kembali.


Mulai dari identitas pribadi, visa, paspor, serta lembar kelulusan dan penilaian asli dari sekolah lama. Begitu melihat visa dan paspor masih aman, Hyuna segera mengirim gambarnya kepada Nestya.


Dalam kurun waktu satu jam lamanya. Hyuna telah siap, pakaian sudah ganti dengan model asli dirinya. Tidak mengenakan dress, seperti yang tersedia di dalam lemari sewaktu di rumah Deo itu.


Sebuah notifikasi dari aplikasi layanan akomodasi pun masuk ke akun emailnya. Hyuna segera membuka. Tak lama sang mama pun mengirim pesan.


[Coba cek email-mu. Tiket sudah berhasil dikirimkan atau belum?]


Hyuna mengunduh tiketnya terlebih dahulu. Yang kemudian ia cek kebenarannya.


"Oh, Tuhan. Terima kasih atas kemudahan dariMu." Hyuna sangat merasa bersyukur. Ia segera melepas pengisi daya yang sejak tadi terhubung pada laptop dan juga tabletnya. Sebab hanya itu yang ia miliki, dan ponselnya telah lenyap.

__ADS_1


Merasa tidak ada yang mengikuti sama sekali, Hyuna tetap menutup wajahnya dengan kacamata, topi serta masker ketika keluar dari unit apartemen. Tak lupa juga kartunya ia bawa ke Inggris.


...----------------...


Kurang lebih dalam waktu tiga jam berada di dalam pesawat, akhirnya Hyuna mendarat di Birmingham International Airport. Ia turun dengan langkah kaki yang sangat tegas. Merasa bebas dan spontan berteriak.


"Aaaaaaaaaaaaaaaa! Aku bebas!" Begitu lega sekali rasanya setelah melakukan itu.


Tanpa Hyuna sadari dibelakangnya masih ada penumpang lain yang mengantre untuk segera turun dari pesawat. Bagaimana tidak? berdiri tepat di pertengahan anak tangga.


Bagai keluar dari sangkar emas. Hatinya sangat bahagia. Berharap mulai hari itu hidupnya bisa lebih baik lagi karena bersama kedua orang tuanya.


"Maaf ya." Seketika Hyuna merasa malu saat menoleh ke belakang. Ia segera turun sambil berlari dan langsung menuju ke tempat pengambilan barang.


Beberapa menit kemudian, koper pun telah berada di tangannya. Ia segera menghubungi Nestya melalui panggilan.


"Hallo Ma?" kata Hyuna ketika sudah terhubung.


"Hyuna, Mama sudah di bandara. Kamu ada di terminal berapa?"


"Iya. Cepat katakan, kamu ada di terminal berapa?"


"Aku di terminal dua Ma. Mama dimana?"


"Pas sekali. Mama ada di terminal dua."


"Aku sudah lihat Mama. Di belakang Mama."


Hyuna melambaikan tangannya ketika Nestya berbalik badan. Hati Nestya seakan meleleh, mulutnya bahkan sampai ditutupi oleh kedua telapak tangan. Wanita itu menangis setelah sekian lama tidak bertemu dengan anak bungsunya.


Hyuna berjalan dengan sedikit berlari sambil menarik kopernya itu. Saat sudah berada di depan sang mama, tangan yang tadi memengang gagang koper pun dilepas seketika. Ia memeluk sang mama sangat erat.


Tangis haru pun pecah dari keduanya. Baik Hyuna maupun Nestya sama-sama menyimpan rasa rindu yang teramat dalam. Bak sebuah roda kehidupan menghantarkan pada pertemuan merek kembali. Tuhan masih memberikan Hyuna kesempatan hidup untuk yang kedua kalinya.


Disamping Deo yang sangat baik karena mau merawatnya lewat suster Bora dan dokter Gabriel. Namun disisi lain, jahatnya Deo karena mendua diatas pernikahan itu sendiri.

__ADS_1


Meski statusnya masih menjadi istri Deo, tapi beruntung segala dokumen yang ia miliki untuk keluar dari negeri Jerman itu berhasil. Mungkin Deo belum memasukkan namanya ke dalam data catatan sipil.


"Hyuna, Mama rindu sekali sama kamu, Nak. Sudah hampir tujuh bulan Mama tidak enak makan dan juga tidur, akhirnya doa Mama dikabulkan oleh Tuhan. Kamu ternyata masih hidup," tutur Nestya menyampaikan rasa rindunya disela tangisan dengan air mata yang tanpa sadar membasahi bahu Hyuna.


"Maafin Hyuna yang waktu itu tidak hati-hati, Ma. Tetapi, kenapa papa tidak ikut menjemput Hyuna?" Pelukannya dilepaskan sejenak, mencari keberadaan sang papa di sana.


"Papa mu kalau jam segini sudah pergi ke kantor. Beruntung kamu menghubungi Mama. Coba kalau papa mana mungkin dijawab olehnya, masih jam sibuk gini, iya tidak?" kata Nestya sambil terus memandangi serta membelai wajah anak bungsunya yang tidak berubah dengan penuh kasih sayang.


"Iya ya, Ma. Aku juga rinduuuu sekali sama Mama." Hyuna memeluk Nestya kembali cukup erat.


"Ya sudah, yuk kita pulang. Mama yakin kamu pasti lapar. Ceritanya nanti di rumah saja ya!" seru Nestya lalu merangkul pinggang Hyuna menuju sebuah mobil yang ia kendarai sendiri dari rumah.


Walau bukan dari kalangan keluarga kaya raya, tapi keluarga Hyuna di Inggris memiliki mobil sendiri-sendiri. Satu untuk Boy kerja dan satunya untuk Nestya pergi ke mana-mana. Karena di rumah mereka tidak menyewa pelayan. Jadi segala kebutuhan rumah di lakukan bersama.


Jarak dari bandara menuju rumah pun ditempuh kurang lebih dua jam lamanya. Sepanjang perjalanan Hyuna hanya tertidur karena terlalu merasa lelah sehabis kabur dari Deo.


"Hyuna," panggil Nestya sambil mengoyangkan pelan bahu anaknya.


"Emmmmm .... " Hyuna menggeliat sambil membuka matanya perlahan. "Apa kita sudah sampai rumah, Ma?" tanyanya kemudian.


"Tentu. Ayok turun, istirahat di kamarmu jika ingin tidur lagi!" seru Nestya sambil membuka bagasi mobilnya.


Hyuna pun merenggangkan otot-ototnya lalu turun dari mobil setelah membuka sabuk pengamannya. Matanya menatap ke sekeliling halaman rumah.


"Tidak ada yang berubah ya, Ma," ucap Hyuna spontan.


"Memangnya apa yang mesti diubah? Hidup di perbukitan dan memiliki kebun sendiri sudah jauh menyenangkan bukan, sejuk ... asri," jawab Nestya sambil menurunkan koper dan tas milik Hyuna lalu menutup bagasinya kembali.


"Benar juga sih." Hyuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya cengengesan. "Seharusnya waktu itu aku tidak pergi ke Jerman ya untuk kuliah. Aku bisa berkebun setiap hari di sini," lanjutnya merasa menyesal.


"Sudah, yang berlalu biar jadi pelajaran saja. Sekarang Mama yakin kamu sangat lelah. Sana ke kamarmu! Biar barang-barangmu nanti, Mama yang rapikan," kata Nestya saat melihat wajah Hyuna yang sudah tidak enak dipandang karena tampak lelah sekali.


"Baiklah, aku ke dalam duluan ya Ma!" Hyuna akhirnya masuk ke dalam rumah dan Nestya pun tak lama mengikuti sambil menggendong tas serta menarik koper.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2