
"Tunggu, Hyuna ... " Seorang pria menahan pintu dengan kedua tangannya supaya tidak ditutup oleh wanita yang ada di dalam.
Deg!
Seketika wanita dibalik pintu itu menghentikan dorongannya. "Perasaan suaranya terdengar tidak asing. Apa benar dia?" batinnya bermonolog.
Untuk menghilangkan rasa penasarannya, perlahan pintu itu dibuka olehnya. Pandangan matanya langsung tertuju pada wajah pria itu.
"D-Dave?" ucapnya terbata. "Ada perlu apa kamu kemari?" tanyanya merasa canggung.
Pria itu tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya.
"Ini untukmu." Sebuah bucket dengan beberapa macam bunga dirangkai menjadi satu. Sungguh indah perpaduannya, membuat Dave mendapat predikat pria romantis.
"Untukku?" tanya Hyuna yang masih terperangah dengan perlakuan pria itu.
Dave menjawab dengan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Namun Hyuna masih diam karena ragu untuk menerima bunga itu.
"Terimalah ... " kata Dave menatap Hyuna dengan sorot teduhnya yang tidak bisa ia sembunyikan, lalu melirik sekilas pada bunga itu. "Anggap saja ini sebagai permintaan maafku karena telah mendiamkan mu beberapa hari ini," sambungnya merasa bersalah.
"Ah! soal itu ..." seru Hyuna tersenyum meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sejujurnya ia merasa senang karena Dave mengakui salahnya dimana. "Aku sungguh tidak apa-apa. Kamu jangan terbawa perasaan seperti itu." Ia berkilah karena tidak ingin Dave mengetahui yang sebenarnya.
Dave bernapas lega. "Kalau begitu ambillah," katanya.
Hyuna tersenyum simpul dan akhirnya mau menerima bunga pemberian Dave, lalu berkata, "Terima kasih."
"Sama-sama ..." Dave memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Oh iya, apa kamu sudah makan malam?" tanya pria itu.
"Belum," jawab Hyuna, matanya masih memperhatikan bucket bunga yang masih ada ditangannya. "Kenapa memangnya?" tanyanya lalu pandangannya beralih ke arahnya.
"Kebetulan aku juga belum makan malam. Um ... Apa kamu mau makan malam bersamaku?" tawar Dave diiringi senyum manisnya.
Hyuna mengerutkan kedua alisnya, untuk berpikir sejenak. "Oh ... Boleh. Tapi ... aku ganti baju dulu ya. Tidak apa-apa 'kan?"
Dave mengeluarkan sebelah tangannya. "Iya silahkan. Aku tunggu disini," katanya tidak ada raut keberatan sama sekali.
"Baiklah, kalau gitu aku ke dalam dulu." Hyuna pun menutup pintunya. Sementara Dave berpindah posisi, berdiri di samping pintu sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.
Beberapa saat kemudian, Hyuna membuka pintunya kembali. Wanita itu telah berganti pakaian menjadi lebih rapi dari sebelumnya. Begitu pula dengan rambutnya yang sengaja diikat satu seperti buntut kuda.
"Sudah selesai?" tanya Dave ketika melihat Hyuna diambang pintu.
Hyuna mengangguk antusias. "Sudah."
"Ayuk berangkat!"
Mereka pun akhirnya pergi dari sana.
__ADS_1
Saat berada di depan asrama, Hyuna melihat sebuah mobil Royce Phantom berwarna hitam dove ada di sana. Keduanya menghampiri lalu Dave membukakan pintu untuk Hyuna.
"Silahkan," kata Dave setelah pintu terbuka.
"Terima kasih," balas Hyuna menundukkan wajahnya lalu masuk ke dalam.
Setelah keduanya telah masuk ke dalam mobil, Dave mulai melajukan mobilnya.
"Dave boleh aku tanya sesuatu padamu?" Hyuna membuka percakapan diantara mereka.
"Iya tentu boleh. Tanya saja," jawab Dave menoleh sekilas karena sambil fokus menyetir.
"Minggu lalu, sewaktu aku di London Eye apa benar kita berpapasan? Soalnya aku hanya takut salah prasangka dan pria itu hanya sekadar mirip denganmu," tanya Hyuna untuk memusnahkan rasa penasaran yang menghantuinya beberapa hari terakhir itu.
Dave bersusah payah menelan ludahnya. Pria itu sampai menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab. "Sebenarnya ... Itu aku."
Napas Hyuna seolah berhenti beberapa saat lalu menoleh ke arah Dave yang sambil fokus menyetir.
"Maaf, waktu itu kita seperti orang asing," sambung pria itu.
"Karena wanita yang ada di sebelahmu?" timpal Hyuna. Ia berusaha bersikap biasa saja seolah tidak terbawa perasaan.
"Dia itu sebenarnya pasienku. Namanya Merlin Fransisca. Usianya satu tahun dibawahku. Namun dia sudah pernah menikah namun gagal dan dia memiliki seorang anak laki-laki yang mirip sekali dengannya," jelas Dave. Pria itu cukup tahu banyak tentang wanita yang dilihat Hyuna bersamanya beberapa waktu yang lalu.
Sementara itu Hyuna masih terus berusaha untuk tidak menanggapi perihal itu dengan perasaannya. Melainkan dengan logikanya.
"Iya, ada penyumbatan pada pembuluh darahnya yang berfungsi menyaring darah untuk disalurkan ke seluruh tubuh," jawab Dave.
"Lantas anaknya?" tanya Hyuna lagi, mengerutkan alisnya.
"Sepengetahuanku yang diberitahukan olehnya. Kalau anaknya itu tinggal bersama mantan suaminya di Jerman. Entah aku tidak tahu lagi, dan kemarin aku hanya sekadar menemaninya saja. Setelah itu aku mengantarkannya pulang," pungkas pria itu dan Hyuna pun sedikit lega.
"Dave ... Sebenarnya alasan kamu menjadi dokter spesialis jantung itu apa sih, kalau boleh tahu?" tanya Hyuna mengalihkan pemicaraan.
Pria itu menghela napasnya, "Karena ayahku. Beliau mengidap penyakit jantung sejak usianya masih muda. Lalu di awal tahun ini, beliau akhirnya mau aku ambil tindakan supaya bisa lebih sehat dari sebelumnya."
"Oh jadi begitu. Lantas apa operasinya berhasil?"
"Ya berhasil."
"Syukurlah kalau begitu ..."
Tak terasa keduanya telah sampai di tempat makan yang dimaksud oleh Dave.
Setibanya di tempat makan itu, Hyuna merasa heran. Di sana sangat sepi dan lampu pun redup.
"Dave kok tempat ini sepi sekali ya?" tanya Hyuna. Seketika rasa takut mulai menyelimutinya.
__ADS_1
"Iya, apa kamu belum pernah ke sini?"
Hyuna menggelengkan kepala dengan mata yang masih menatap ke sekeliling.
"Yuk turun!" ajak Dave.
"Iya ... " Hyuna turun perlahan, lalu keduanya berjalan beriringan.
"Hyuna, kamu tunggu di sini sebentar ya," bisik Dave lalu melangkah mundur mulai meninggalkan Hyuna.
"Dave, kamu mau kemana?" tanya wanita itu menoleh ke belakang. Namun Dave sudah tidak ada di sana. "Cepat sekali hilangnya. Kemana perginya dia?" katanya bermonolog.
Suasana pun kian terasa mencekam. Bulu halus pada lengan dan kakinya langsung berdiri. Ditambah hawa dingin malam itu, membuatnya bergemetar. Hyuna takut akan gelap.
"Dave ... Kamu dimana?" lirih Hyuna mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman tanpa maju selangkah pun alias diam di tempat. "Dave!" teriaknya karena terlalu merasa takut, suaranya pun semakin bergetar.
Ingin rasanya Hyuna lari saat itu juga kembali ke asrama dan mengerutuki Dave yang sudah tega meninggalkannya ditempat seperti itu sendiri. Apalagi tempat makan itu belum pernah Hyuna kunjungi.
Hingga disaat matanya sudah berkaca-kaca, suaranya bergetar seperti orang yang sedang kedinginan dan emosinya sudah tidak terkontrol lagi. Tiba-tiba hiasan lampu berwarna-warni menyala di halaman depan tempat makan itu bersamaan.
Kerlap-kerlipnya itu menambah suasana malam di sana sangat indah. Hyuna tercekat, mematung pada tempatnya.
Rasa takut yang tadi hampir membuatnya terasa sesak karena sulit bernapas, dalam sekejap sirna. Ia menatap kagum ke sekitarnya. Namun Dave belum muncul juga.
"Sebenarnya dia kemana? katanya sebentar, tapi buktinya lama ... Hah! Kenapa para pria sama saja? Mudah berjanji tapi sulit sekali menepatinya," gumam Hyuna bermonolog.
Meskipun lampu-lampu itu tampak sangat indah, tapi rasanya hampa kalau hanya menikmatinya sendiri. Ditambah angin malam yang dinginnya sampai menusuk ke tulang, membuat Hyuna tidak ingin berlama-lama ada di luar.
Suasana hatinya seketika memburuk. Namun ketika dirinya berbalik badan, Dave sudah berdiri tak jauh darinya.
"Kamu suka?"
Posisi keduanya berdiri satu garis lurus, berhadapan.
"Hmm!" Hyuna mengangguk pelan dengan raut wajahnya yang mulai acuh. Ia masih merasa kesal karena ditinggal sendiri di tempat sepi seperti itu.
Dave yang melihat respon Hyuna biasa saja, maju beberapa langkah menghampiri wanita yang ada di depannya.
"Maaf ... " Pria itu menunjukkan raut sesal pada wajaahnya. "Aku tidak bermaksud meninggalkanmu sendiri di sini," sambungnya dengan suara nan lembut.
"Ya sudah, tidak apa." Hyuna menghempaskan napas kasar. "Aku juga sudah lapar sekali sebenarnya. Maaf juga ya jadi emosi sama kamu," pungkasnya dengan rendah hati.
Dave terkekeh pelan. "Iya aku paham kok, hampir kebanyakan orang kalau lapar pasti emosinya tidak stabil ... Kalau gitu yuk kita masuk ke dalam!" ajaknya kemudian.
"Yuk!" Hyuna tersenyum simpul.
Saat masuk ke dalam, benar saja. Tempat makan itu memang sepi. Namun ketika masuk ke dalam, ada beberapa pengunjung yang sedang menikmati makan malamnya.
__ADS_1
Bersambung ....