
Dave menghubungi teman satu profesinya di rumah sakit tempatnya praktek. Kebetulan saat itu temannya pun sedang senggang dari kunjungan pasien. Hingga setibanya di rumah sakit, Dave langsung membawa Hyuna menuju ruangan praktek temannya.
"Siang, Dokter Dave dan istri. Bagaimana kabarnya hari ini?" tanya dokter kandungan wanita dengan name tag dr. Elena Paula.
"Siang. Dokter Elena, kabar kami baik. Hanya saja saya hanya ingin mengecek kondisi istri saya, biar pasti kalau firasat saya itu benar atau salah," jawab Dave yang sudah tidak sabar. Namun Hyuna seketika menoleh dan memberi tatapan tajam padanya.
"Oh gitu," kata dokter Elena seraya terkekeh. "Kalau Nyonya sendiri apa yang sedang dirasa? Apa ada keluhan?" Kemudian dokter Elena bertanya pada Hyuna.
"Tadi saya sempat mual Dok. Tapi saya rasa mungkin efek kelelahan saja, karena akhir-akhir ini sedang sibuk menyusun skripsi," jawab Hyuna apa adanya.
"Hunny ... " ucap Dave dengan suaranya yang sangat lembut.
"Begini saja. Mari kita lihat sama-sama, bagaimana?" kata dokter Elena memberi usulan.
"Dok, saya yakin kok kalau saya tidak hamil." Hyuna tetap bersikukuh tidak merasa. Sebab saat dirinya tahu kalau akan diperiksa ke dokter kandungan, sebenarnya merasa kesal. Ia selalu pesimis ketika ke sana, dalam setahun terakhir masa menstruasinya tidak beraturan dan setiap kali telat masanya ia dan Dave selalu pergi ke dokter kandungan, alhasil hasilnya selalu negatif.
__ADS_1
"Mungkin saja kali ini kalian mendapat hadiah dari Tuhan. Siapa tahu bukan? Tidak ada salahnya mencoba?" Dokter Elena menengahi kembali.
"Mau ya Hunny ... please ...." Dave memohon dengan raut wajahnya yang memelas. Sementara itu Hyuna masih bergeming menatap suaminya masih dalam keadaan kesal.
Sesaat kemudian Hyuna mengempaskan napas kasar. "Ya sudah aku mau di periksa," ucapnya pada Dave.
Seketika senyum pun terbit dari kedua sudut bibir pria itu. Lalu ketiga orang yang ada di ruangan itu berdiri dan berjalan menuju tempat tidur dan alat USG.
Setelah Hyuna berbaring dan Dave selesai memasangkan selimut untuk menutupi bagian tubuh bawahnya, dokter Elena mulai mengoperasikan alat tersebut. Dengan perasaan cemas dan gugup, baik Hyuna dan juga Dave sama-sama menunjukkan raut wajahnya yang penuh ketegangan.
Dokter Elena yang melihat itu mengulum bibirnya, menahan tawa guna menghargai perasaan mereka. "Nyonya minta tolong lebih relaks saja ya, supaya hasilnya mudah terlihat. Bisa?"
"Tarik napas ya Nyonya," kata dokter Elena memberi intruksi dan Hyuna pun melakukannya dengan baik.
Sungguh tak di sangka! Ketika alat transvagina di masukkan, terlihata jelas di monitor berukuran dua puluh empat inchi yang terpasang di dinding itu ada sebuah kantung rahim dan janin yang masih berukuran sangat kecil. Hyuna dan Dave pun terperangah, merasa tidak percaya sekaligus terharu.
__ADS_1
"Dave, aku hamil?" tanya Hyuna dengan pandangan masih menatap ke layar monitor itu. Begitu pula dengan Dave.
"Iya Hunny ... " Dave kemudian menoleh ke arah Hyuna dengan sorot teduhnya. "Kamu hamil," lanjutnya lalu memberi kecupan pada kening Hyuna.
Dokter Elena tersenyum bahagia ketika melihat sepasang suami istri itu. Kejadian yang dialami oleh Hyuna hampir sama persis ketika dirinya mengandung anak pertamanya dulu. Sampai sekarang dokter berusia tiga puluh enam tahun itu sudah dikaruniai tiga orang anak.
"Selamat ya untuk kalian. Jangan lupa dijaga kesehatannya. Mulai diatur dari pola makan, asupan yang harus dipenuhi dan juga aktifitasnya. Ya ... Saya yakin Dokter Dave pasti sudah paham dan sangat menyayangi Nyonya Hyuna."
Janin dengan panjang sekitar sepuluh centimeters itu, diperkirakan berusia delapan minggu. Perjalanan baru untuk Hyuna dan Dave pun di mulai. Segala persiapan menjadi orang tua yang bertanggung jawab untuk anaknya mulai dibentuk sejak dini.
Setelah pemeriksaan selesai, dokter Elena memberikan resep vitamin ibu hamil untuk Hyuna. Keduanya pun kemudian pamit dan pergi dari ruangan itu.
"Kamu bahagia Dave?" tanya Hyuna sambil mengalungkan tangannya pada lengan suaminya, tingkahnya semakin terlihat manja.
"Tentu, aku sangat bahagia! Kalau kedua orang tua kita tahu pasti mereka juga sangat bahagia!" seru Dave dengan wajah yang berseri-seri.
__ADS_1
"Iya kamu benar!" Keduanya pun tertawa, karena merasa bahagia yang sulit diucapkan oleh kata-kata.
Bersambung .....