
Sore itu, Hyuna merasa sangat lelah sekali. Rasa kantuk pun mulai menguasainya. Padahal mata kuliah di hari kedua itu, sebentar lagi akan berakhir.
Matanya sudah tak kuasa lagi untuk tetap terbuka. Hyuna mencari cara supaya tidak sampai tertidur di dalam kelas.
Entah, dia sendiri pun bingung kanapa bisa sebegitu mengantuknya. Padahal semalaman tidurnya pun sudah dirasa cukup. Bahkan ia sampai tidak tahu saat Mona pulang.
Hingga pada detik-detik terakhir dosen mengucapkan kata penutup, Hyuna semakin tidak tahan dan ... ia tertidur hingga tak sadarkan diri ketika dosen baru saja keluar dari ruang kelas.
Semua mahasiswa di kelas itu satu per satu keluar tanpa mempedulikan Hyuna. Sebab, mereka tidak bisa baik pada sembarang orang. Apalagi keberadaan Hyuna di kampus itu baru terhitung dua hari.
Di saat ruang kelas telah kosong dan pintu masih terbuka, tak sengaja Dave lewat dan melihat seorang wanita dengan wajah yang tertutupi oleh rambut, kedua tangan dilipat dan kepalanya ditaruh di atasnya.
"Siapa yang berani tidur di kelas dalam kondisi sudah kosong ini?" gumam pria itu seraya masuk ke dalam kelas untuk memeriksakannya.
Tadinya Dave ingin memberikan teguran pada wanita itu. Namun ketika pria itu menyibakkan rambutnya, dia pun terkejut.
"Hyuna?" tukasnya. "Kenapa dia tidur di sini? Kelihatannya lelah dan mmengantuk sekali."
Akan tetapi Dave tidak ingin langsung membangunkannya. Pria itu justru pergi dari sana dengan berhati-hati supaya tidak membangunkan Hyuna.
Dave menuju sebuah kantin khusus para dosen yang letaknya tak jauh dari kelas Hyuna. Pria itu segera membuatkan segelas kopi dengan takaran yang pas. Setelah jadi, secangkir kopi itu dibawanya.
Sepanjang perjalanan menuju kelas Hyuna, banyak mahasiswa yang memperhatikannya. Tak jarang mereka menyapa ketika Dave melewati mereka.
Setibanya di depan kelas, Hyuna masih ada di sana dengan kondisi dan posisi yang sama. Dave pun berjalan menghampirinya lalu duduk di sebelah Hyuna.
Sebelum membangunkan wanita itu, Dave menyibakkan rambutnya yang menutupi wajahnya lagi. Pria itu memandangi wajah cantik Hyuna beberapa saat.
Namun tiba-tiba saja Hyuna terbangun dengan mata yang masih setengah terbuka. Wanita itu mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan otot-otot yang terasa kaku hingga berbunyi 'kretek' pada leher, pinggang serta kedua tangannya.
Ketika Hyuna menoleh sambil menutup mulutnya karena sedang menguap, seketika merasa terkejut dengan kehadiran Dave di sampingnya.
"D-Dave, maksudku Pak Dave? Sedang apa di sini?" tanya Hyuna terbata dan salah tingkah.
"Ini minumlah, mungkin bisa membuat kantukmu hilang." Dave menggeser secangkir kopi buatannya ke hadapan Hyuna dan wanita itupun memandangi kopi yang diberikan oleh Dave.
__ADS_1
"Terima kasih kopinya," kata Hyuna, menoleh ke arah Dave sambil menyelipkan rambut ke belakang salah satu telinganya lalu tersenyum.
Nyaman sekali memandangnya, apalagi memilikinya. Pikir Dave demikian.
"Sama-sama," balas Dave tersenyum simpul dan masih memandangi Hyuna.
Saat itu buku dan kertas milik Hyuna masih ada di atas meja. Setelah beberapa kali meneguk kopi dan hanya tersisa sedikit ampas, wanita itu segera membereskannya.
"Bagaimana? Sudah lebih baik?" tanya Dave sambil beranjak dari duduknya.
Hyuna menengadah ke arah Dave yang tinggi menjulang. "Sudah. Sekali lagi terima kasih, tapi bagaimana bisa Pak Dave tahu aku disini?"
Dave melihat ke arah luar jendela dan ada segerombolan mahasiwa yang lewat melihat ke dalam kelas. "Tadi tidak sengaja saya lewat sini dan ada seorang mahasiswa yang tertidur. Ternyata itu kamu," jelasnya.
"Lalu kopi ini?" tanya Hyuna penasaran.
"Di dekat sini ada kantin khusus dosen, jadi saya sendiri yang membuatnya," jawab Dave datar.
Hyuna pun tercekat. Tidak pernah sebelumnya ia diperlakukan seperti itu. Dave begitu perhatian padanya.
"Maaf, tidak tahu kenapa saat bangun tidur tadi jantungku berdetak seolah tidak seperti biasanya. Lalu tubuhku juga rasanya tidak keruan, lelah sekali," kata Hyuna.
"Apa kamu kurang cukup istirahat?" tanya Dave dengan wajah serius. Pria itu ikut duduk kembali.
"Tidak juga, semalam aku tidur setelah mematikan telepon darimu dan bangun pun di jam yang sama setiap paginya," jawab Hyuna.
"Ya sudah, lebih baik kamu ikut ke ruangan saya sekarang. Nanti akan saya berikan vitamin supaya tubuhmu sehat kembali." Dave berdiri lagi dan Hyuna pun mengikuti sambil mengaitkan tas ranselnya di bahu.
Ketika Hyuna hendak membawa cangkir bekas kopi itu, seketika Dave melarangnya.
"Biar saya saja yang bawa." Pria itu mengambilnya dari tangan Hyuna. Lalu mereka pun pergi dari kelas itu.
"Pak Dave sudah lama jadi dosen disini?" tanya Hyuna ketika mereka sedang berjalan berdampingan.
"Ya dari semenjak saya lulus, saya ditawari jadi pengajar mahasiswa di fakultas kedokteran dengan minat spesialis jantung." Dave melirik sekilas lalu menatap ke depan kembali.
__ADS_1
"Memangnya ada syarat khusus tidak supaya bisa jadi pengajar ditengah sibuknya menjadi dokter?" Topik mereka semakin menarik bagi Hyuna. Rasa penasaran pun menggugah dirinya untuk bertanya lebih banyak lagi.
"Tentu. Hanya untuk mahasiswa dengan lulusan terbaik serta memiliki segudang prestasi selama masa kuliah."
Dari penuturan Dave, sudah bisa Hyuna simpulkan. Kalau pria itu termasuk dalam kategori yang disebutkan tadi.
"Oh begitu rupaya."
Keduanya pun tiba di depan pintu. Tak disangka, Hyuna melihat wanita yang kemarin sempat bicara padanya. Kebetulan saat itu wanita tersebut pun sedang melihat ke arahnya. Hyuna hanya sedikit menunduk lalu mengikuti Dave masuk ke dalam ruangan.
"Sepertinya Pak Dave banyak penggemarnya ya di sini," ujar Hyuna ketika sudah menutup pintunya kembali.
Dave mengangkat kedua bahunya dengan alis serta bibir yang melengkung ke bawah. "Saya tidam merasa seperti itu."
"Oh iya, um ... aku minta maaf ya kemarin sewaktu mengembalikan pakaian milik Pak Dave, aku lancang bilang kalau Pak Dave adalah pamanku," ucap Hyuna dengan suara pelan.
"Paman?" Dave terkekeh lalu menggelengkan kepala. "Memangnya ada yang menegur kamu sewaktu mau masuk ke sini?" tanyanya.
Hyuna mengangguk cepat. "Iya. Mungkin kalau aku tidak bilang kalau Pak Dave itu pamanku, dia akan terus mencecarku dengan berbagai pertanyaan."
Dave membuka laci yang ada di mejanya, lalu mengeluarkan beberapa lembar vitamin yang akan dikonsumsi oleh Hyuna.
"Saya baru tahu ... sebab selama ini belum pernah ada yang masuk ke ruangan saya tanpa ada saya di dalamnya," timpal Dave sambil berjalan ke arah Hyuna dengan membawa vitamin itu. "Ini vitamin untukmu. Semuanya diminum satu kali sehari menjelang tidur malam," katanya seraya memberikan vitamin itu pada Hyuna.
"Terima kasih banyak Pak Dave," ucap Hyuna dengan hati yang senang menerimanya.
"Iya, sama-sama." Dokter sekaligus dosen itu tersenyum.
Hyuna semakin tak kuasa untuk tetap bertahan berada di ruangan Dave. Akhirnya wanita itu pun pamit dari sana, guna meminimalisir degub jantungnya.
"Kalau begitu aku balik dahulu ke asrama ya, Pak Dave. Permisi."
"Baiklah, hati-hati ya," kata Dave dan Hyuna mengangguk paham. "Jangan sampai telat makan!" serunya ketika Hyuna hendak membuka pintu.
"Oke Pak!"
__ADS_1
Bersambung ....