Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Bab 54. Tentang Hubungan Mereka


__ADS_3

Hyuna mencuci wajahnya terlebih dahulu untuk memastikan kalau kedua matanya tidak sembab karena menangis. Ia pun berganti pakaian.


Setelah beberapa saat, Hyuna telah siap dan hanya membawa beberapa lembar uang serta ponsel yang dimasukkan ke dalam celana. Tak lupa kunci motor pun dibawanya.


Saat sekiranya keadaan kondisi halaman rumah yang sudah aman, Hyuna segera mengunci pintu lalu pergi ke sebuah taman yang tak jauh dari rumahnya mengendarai sepeda motor untuk menemui dokter Gabriel.


Tak lama, begitu Hyuna sampai, belum ada tanda-tanda kehadiran dokter itu di sana. Ia pun menepikan motornya sedikit ke sisi sudut supaya tidak ada orang yang dapat melihatnya.


Kondisi taman itu cukup sepi. Biasanya akan ramai ketika sore menjelang dan banyak anak-anak yang bermain di sana.


Hyuna mencari tempat duduk tak jauh dari tempat motornya berada. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling taman yang ada di hadapannya. Sangat asri dan menenangkan.


Wanita itu mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana, guna melihat notifikasi yang masuk. Ternyata ada sebuah pesan di sana.


[Dear istriku, terima kasih karena telah jujur dengan segala perasaan yang selama ini kamu rasakan. Aku baru tahu kalau kamu sangat mencintaiku dengan tulus. Maaf aku telah menoleh luka di hatimu sangat dalam. Namun aku yakin kata maaf saja belum mampu mengembalikkan perasaanmu padaku seperti dulu. Maaf aku masih belum dapat sepenuhnya membuktikan padamu tentang keseriusanku.


Sore ini aku harus kembali ke Hamburg untuk menyelesaikan urusan serta pekerjaanku. Minggu depan aku akan kembali menemuimu, ku harap kamu bisa memberiku jawaban bukan tentang perpisahan lagi. Karena aku tidak menginginkan hal itu. Sampai berjumpa lagi, Deo.]


Hyuna menarik napas sangat dalam sambil memejamkan matanya setelah membaca pesan itu. Hatinya begitu hampa sampai tak tahu lagi kata apa yang harus ia beri kepada Deo supaya pria itu bisa memahaminya.


"Hyuna?"


Mendengar suara seseorang yang terdengar persis di sebelahnya, Hyuna membuka matanya lalu menoleh ke sumber suara.


"Dokter Gabriel."


"Ada apa?" Pria itu duduk di sebelah Hyuna.


"Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan pada Dokter." Hyuna menoleh sebentar lalu menatap lurus ke depan.


"Tanyakan saja."


"Apa benar Dokter yang memberitahukan Deo tentang rumah dan nomor ponselku padanya?" Hyuna menoleh lagi dengan wajah datarnya.


Dokter Gabriel seketika bingung. Pria itu berpikir sejenak untuk memilih kata sebagai pembuka hal yang ingin dijelaskannya.

__ADS_1


"Sebenarnya tadi pagi, Deo yang bertanya langsung padaku. Dia tahu tentang dinner kita malam itu, entah darimana. Dia mencecar saya dan hampir saja memukul karena saya tidak kunjung memberikan jawaban untuknya mengenai alamat dan nomor ponselmu. Ya daripada saya sampai babak beluk, lebih baik kamu yang marah sama saya. Maaf Hyuna."


Wanita itu menghela napas panjang. "Lantas hubunganmu dengan Deo apa? Rumah itu milik siapa?"


"Deo itu kerabat dekat saya. Hanya saja semenjak kedua orang tua saya sudah tiada, keluarga Ainsley menjadi sangat dekat dan perduli dengan saya."


Hyuna membulatkan matanya. "Oh iya?"


Dokter Gabriel menganggukkan kepala. "Sebenarnya di Hamburg, saya itu dokter pribadi mereka. Dan rumah itu adalah rumah saya."


"Kenapa waktu itu Dokter tidak bilang padaku?" tanya Hyuna sambil mengerutkan keningnya.


Dokter Gabriel terkekeh. "Saya hanya bersikap profesional."


"Lalu pria yang memesan makan di tempatku bekerja kenapa wajahnya mirip sekali dengan Deo?" Hyuna bertanya lagi.


"Oh itu Yundra, adiknya Deo. Mereka sedang berkunjung ke sini karena ada bisnis yang sedang mereka geluti bersama." Dokter Gabriel menoleh ke arah Hyuna, begitupun sebaliknya. Pandangan mereka saling bertemu. "Akan tetapi Deo sendiri punya kepentingan lain selain bisnis, yaitu menemuimu."


"Sudah ku duga. Tapi lagi-lagi pertemuan kami tidak pernah berjalan mulus." Hyuna menghempaskan napas kasar.


"Yang saya lihat, Deo sedikit ada perubahan. Yundra pun bilang begitu," sambung dokter Gabriel.


"Iya. Selama ini yang kami kenal, Deo itu sangat acuh pada wanita. Sewaktu berpacaran dengan Leika pun dia tetap menjadi pria dingin dan gila bekerja. Akan tetapi, setelah urusannya dengan Leika selesai, dia sama sekali tidak nampak terpuruk. Bahkan terlihat bahagia," jelas dokter Gabriel. Namun wanita yang duduk disebelahnya hanya tersenyum menyeringai.


"Ck!" Hyuna berdecak merasa tak percaya. "Apa yang nampak belum tentu sama dengan yang ada dipikiran ataupun hatinya bukan?" Wanita itu menoleh sambil mengangkat sebelah alisnya.


Dokter Gabriel hanya terdiam. Pria itupun bingung karena raut wajah Hyuna mulai menunjukkan emosinya. Sejujurnya dia belum pernah ada pengalaman menghadapi seorang wanita.


"Begini saja, kalau kamu ingin tahu keseriusan Deo ke kamu. Pergilah ke kantornya di Hamburg tanpa sepengetahuannya. Lihat, apa benar dia bahagia karenamu atau bukan," ucap dokter Gabriel memberikan saran pada Hyuna.


Wanita itu melengkungkan kedua alisnya seraya menarik napas dalam-dalam. Ia berpikir sejenak.


Sesaat kemudian sebuah ide pun muncul di otaknya. Hyuna menyunggingkan senyum seolah melihat sesuatu yang membuatnya bahagia di depan matanya.


Seketika ia menatap dokter Gabriel. "Terima kasih sarannya Dok!" katanya bersemangat.

__ADS_1


"Sama-sama."


Hyuna beranjak dari tempat duduknya. "Aku akan mengikuti saran Dokter!" katanya lagi terdengar sangat yakin.


"Tetaplah berhati-hati selama di sana. Terlebih media sudah tahu kalau Deo mantan suami dari seorang public figure, dan ... " Dokter Gabriel menghentikan ucapannya.


"Dan apa Dok?" tanya Hyuna penasaran.


"Saat perjalanan ke sini, Deo mengirimkan pesan untuk saya. Dia bilang kalau dia mendapat kabar bayi yang ada di kandungan Leika harus segera dilahirkan."


Deg!


Detak jantung Hyuna seolah berhenti beberapa saat. "Kenapa memangnya Dok?" tanyanya menatap samar.


"Saya belum tahu pasti penyebabnya apa, padahal seharusnya akan lahir beberapa minggu lagi."


"Pantas saja dia bilang ada urusan di Hamburg. Ternyata Leika akan melahirkan," batin Hyuna.


Melihat Hyuna tertegun, dokter Gabriel menepuk pelan bahunya.


"Kamu tidak usah risau. Yakinlah Tuhan selalu punya cara agar membuatmu bahagia, meskipun bukan dengan dia."


Perkataan dokter Gabriel mampu menyihir penat yang ada dipikiran Hyuna dalam sekejap. Meskipun pria yang kini sedang berbicara padanya itu sangat baik dan sempurna, tapi tetap saja Hyuna merasa berat membuka hati untuknya.


Hyuna tersenyum menatap dokter tampan itu. "Terima kasih banyak atas kebaikan dokter beberapa bulan ini. Aku tidak tahu kalau dokter tidak memberitahukan padaku. Semoga, dokter bisa menemukan wanita yang tepat sebagai pendamping hidup," ucapnya dengan besar hati.


"Sama-sama. Terima kasih juga doanya," balas doktee Gabriel sopan.


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu ya Dok. Sampai bertemu kembali," kata Hyuna berpamitan.


"Iya, hati-hati di jalan!" seru dokter Gabriel.


"Dokter juga!" Hyuna mulai berjalan menuju tempat sepeda motornya berada sesekali ia menoleh ke belakang untuk melambaikan tangan.


Saat sudah naik ke atas motor, Hyuna menyalakan mesin lalu menekan tombol klakson. Setelah itu pergi meninggalkan dokter Gabriel.

__ADS_1


Tidak lama Hyuna pergi, dokter Gabriel pun akhirnya juga pergi dari taman itu menuju rumah sakit kembali.


Bersambung ....


__ADS_2