
Dovi yang terus menekan Deo supaya segera menikah dengan Leika pun akhirnya disetujui oleh keduanya. Keluarga Leika yang saat itu sudah hampir memiliki level yang sama dengan Deo pun, merasa tidak keberatan.
Waktu dua minggu Leika maupun Deo sama-sama berusaha meluangkan waktu untuk mengurus persiapan pernikahan di tengah kesibukan masing-masing. Bahkan Leika harus rela mondar-mandir antara Prancis dan Jerman, demi bisa segera menjadi bagian dari keluarga Ainsley.
Sehari menjelang pesta pernikahan Deo dan Leika. Pagi harinya, Hyuna yang saat itu sedang duduk di kursi roda sambil menonton televisi, tidak sengaja melihat sebuah berita tentang pernikahan suaminya tersebut. Wanita itu hanya terdiam saat pembawa berita mengabarkan hal yang terpahit baginya.
Tiba-tiba suara bel rumah berbunyi. Hyuna reflek menghapus air matanya yang sejak tadi tanpa sadar mengalir membasahi pipinya.
Bora yang saat itu tengah berada di dapur, langsung segera menuju pintu untuk membukanya.
"Maaf Tuan cari siapa ya?" tanyanya ketika melihat seorang pria memiliki postur tubuh tinggi berisi, berotot, hidungnya mancung, terdapat rambut yang memutih pada brewoknya, serta sepasang mata yang mirip sekali dengan Tuan-nya.
Pria itu berdiri di depan pintu. "Anda perawatnya Hyuna?" tanyanya pada Bora.
"Benar. Tuan cari Hyuna atau saya?" Bora masih belum paham siapa yang dicari pria itu.
"Saya cari Hyuna. Bisakah saya berbicara empat mata dengannya?" Pria itu meminta izin secara baik-baik. Meski raut wajahnya datar, tapi masih enak dilihat.
"Maaf sebelumnya, Tuan siapa ya? Soalnya saya tidak bisa sembarangan memberi izin Nyonya bertemu siapapun, kecuali Tuan Deo," kata Bora sepengetahuannya.
"Oh begitu. Saya Fabios ... Fabios Ainsley, ayah dari Deo Ainsley," jawab pria itu dengan tegas.
Bora mendadak mematung. "Pantas saja pria ini memiliki kemiripan dengan Tuan Deo. Eh ternyata ayahnya," katanya dalam hati.
"Jadi bagaimana? Bolehkan saya menemui menantu saya sendiri?" Fabios bertanya lagi seolah merasa tidak sabar untuk bertemu dengan Hyuna.
"Ba-baik Tuan. Silahkan masuk terlebih dahulu, biar saya antarkan Nyonya kepada Tuan," jawab Bora, merasa gugup. Perawat itu kemudian menunduk hormat, lalu pergi dari hadapan Fabios.
Sepanjang berjalan menghampiri Hyuna di ruang televisi, Bora justru semakin penasaran dengan kedatangan Fabios ke rumah itu.
"Apa Tuan Deo cerita ke ayahnya kalau dia sudah menikah dengan Hyuna? Itu artinya bagus dong, Hyuna diterima dalam keluarga Ainsley. Tetapi, kenapa di berita tadi bilang kalau Tuan Deo akan menikahi selebritis itu? Apa ayahnya mendukung kalau Tuan Deo punya istri lebih dari satu? Eh tapi, apa jangan-jangan ayahnya juga begitu lagi? Diam-diam punya istri lain selain ibunya Tuan Deo?"
"Siapa Sus?"
__ADS_1
Pertanyaan Hyuna membuat Bora terkesiap, lalu menghempaskan napasnya sedikit kasar untuk menetralkan kembali detak jantungnya yang tadi terkejut.
"Nyonya ... Ada yang ingin bertemu denganmu di bawah," jawab Bora terdengar setengah ragu.
"Iya, siapa? Suster dari bawah naik ke atas melamun seperti tadi, memangnya orang yang mau bertemu denganku itu siapa? Lebih menyeramkan dari monster kah?" cecar Hyuna, setenang mungkin.
"Itu Nya ... Ayah mertua Nyonya," jawab Bora seraya menghembuskan napas panjang.
"A-ayah mertua?" tanya Hyuna mengulang kata yang sama. Bora pun mengangguk cepat. "Ba-bagaimana bisa ayahnya Deo ke sini? Mau apa dia?" tanyanya lagi, mulai panik. Tatapannya bahkan terlihat kosong.
"Katanya beliau ingin bertemu denganmu, Nyonya. Mungkin ada hal yang ingin dia bicarakan denganmu ... " Bora berdiri di belakang kursi roda Hyuna sambil memegang kedua handle-nya. "Saranku, lebih baik Nyonya temui. Siapa tahu, ada hal yang bisa menguntungkan Nyonya. Aku tahu kok, berita yang ada di televisi itu belum jelas kebenarannya," lanjutnya, lalu mendorong kursi roda sang Nyonya ke lantai bawah.
"Bagaimana kalau lebih pahit dari yang kubayangkan, Sus?" tanya Hyuna kembali, dengan kekhawatirannya.
"Tidak usah risau. Tetap jadilah dirimu sendiri, tampil apa adanya. Kalaupun kenyataan lebih pahit dari yang Nyonya harapkan, yakinlah ... Masih ada harapan lain yang mungkin akan lebih indah dari kenyataan yang akan Nyonya hadapi nanti," jawab Bora dengan kata-kata super. Sekejap kekhawatiran Hyuna pun melemah, dan rasa percaya dirinya mulai bangkit kembali.
Tidak ada kata lagi yang terucap dari mulut keduanya, sampai Hyuna pun telah berada di depan Fabios.
"Baik, Tuan." Bora mengelus sekilas bahu Hyuna. Seakan memberi isyarat kalau wanita itu tidak boleh gugup.
Setelah Bora pergi, Fabios yang tadinya duduk pun berdiri. Dia merasa iba saat melihat keadaan Hyuna yang merupakan istri anak sulungnya.
"Ada apa Anda mencari saya?" Dengan segenap rasa percaya dirinya, Hyuna memberanikan diri untuk bertanya.
"Saya kesini hanya ingin tahu tentang apa yang dikatakan oleh Deo ketika kamu baru saja sadar dari koma. Ternyata kamu orangnya ... " Fabios berjalan mengitari Hyuna. "Sepertinya Deo belum bisa mengetahui identitas kamu. Dia lamban sekali dalam mencari informasi," gerutunya sambil berkacak pinggang, berdiri tepat dibelakang Hyuna. "Kalau kamu bersedia, saya bisa membantumu bertemu kedua orang tuamu," tawarnya kemudian berjalan kembali merubah posisinya menjadi berhadapan dengan Hyuna.
"Darimana Anda tahu tentang saya dan kedua orang tua saya? Bahkan saya sendiri pun belum mampu mengingat apapun tentang masa lalu saya," ujar wanita itu, merasa heran karena yang dipikirkannya sulit menjangkau apa yang telah dilakukan para kalangan atas.
"Kamu tidak usah bertanya tentang hal itu. Intinya sebelum pernikahan Deo dan Leika di gelar, saya ingin mendapat jawaban darimu. Kalau kamu setuju, besok setelah datang sebagai tamu undangan di acara mereka, para ajudan saya akan mengantarkanmu," jelas Fabios dengan tegas.
Hyuna mendadak terdiam. Sejujurnya dia bingung dan gelisah. Satu sisi dia ingin segera ingat siapa dirinya, tapi di sisi lain dia tidak akan bertemu dengan Deo dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Entah lama ataupun sebentar.
"Saya akan memberimu waktu sampai nanti malam untuk berpikir. Kalau sampai kamu tidak ada kabar, itu artinya kamu siap untuk menerima segala konsekuensinya. Terutama jika Leika juga tinggal di rumah ini," papar Fabios. Perkataannya itu membuat Hyuna semakin dirundung rasa yang semakin sulit untuk dijelaskan. Ada senang, sedih, kecewa, marah, malu dan lain sebagainya. Semua menjadi satu.
__ADS_1
Fabios kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam saku celananya, lalu menyodorkannya pada Hyuna. "Hubungi aku segera! Kalau kamu sudah mendapatkan jawabannya," perintahnya.
Wajah Hyuna menengadah, menatap kedua mata Fabios yang memang benar-benar mirip dengan Deo. Seketika bola mata wanita itu berkaca-kaca. Perlahan tangannya pun terulur untuk mengambil kartu nama tersebut.
"Oke, saya akan pikirkan semua itu baik-baik," kata Hyuna dengan kartu nama milik Fabios yang sudah ada di tangannya.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi!" Fabios berpamitan dari hadapan Hyuna.
Wanita itu memejamkan matanya sambil mengembuskan napasnya. Menjadi seorang istri dari keluarga kalangan atas, benar-benar tidak mudah baginya.
"Kamu muncul tiba-tiba, tapi kamu juga tidak bersedia. Meski kamu buat ku kecewa, tapi harapku masih tetap ada. Hingga kamu datang membawa bahagia ... untuk kita." Batin Hyuna bermonolog.
Bora muncul dari persembunyiannya. Sejak tadi diam-diam dia mendengarkan apa yang dibicarakan Fabios dan juga Hyuna.
"Nyonya ... " panggil Bora, halus.
"Sus, mulai sekarang jangan panggil aku Nyonya. Panggil namaku saja, Hyuna," pinta wanita itu.
"Baiklah ... Hyuna." Bora menghargai permintaan pasiennya itu. Dia tahu tidak mudah berada di posisi Hyuna. "Kamu mau ke kamar?" tanyanya kemudian.
"Iya, Sus."
Batin serta pikiran Hyuna sedang berperang, sebab penawaran dari ayah mertuanya itu, seakan ingin memulangkan Hyuna kepada kedua orang tuanya secara tidak langsung.
Fabios memang langsung bergerak cepat setelah Deo memberitahukan padanya beberapa hari yang lalu. Tak disangka, semua informasi mengenai Hyuna telah dikantongi olehnya.
Sementara Aldo yang merupakan orang suruhan Deo, masih mengantongi separuhnya saja. Makanya sampai saat ini, dia belum bisa melaporkan apapun kepada Deo.
Bersambung ...
...****************...
__ADS_1