Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Bab 21. Daddy Ingin Membantunya?


__ADS_3

Deo pulang ke rumahnya. Pria itu berniat untuk menemui Fabios untuk membicarakan suatu hal. Tak hanya itu, ia pun ingin memberitahukan kedua orang tuanya tentang Leika yang tidak akan tinggal di rumah untuk sementara waktu.


"Deo, kapan kamu tiba?" tanya Dovi menyambut kedatangan anak sulungnya lalu memberi pelukan hangat seperti kebiasaan yang diterapkannya sejak Deo kecil.


"Baru saja, Mom." Deo pun membalas pelukan sang ibu lalu mencium kening.


"Kok kamu sendirian? Leika mana?" cecar Dovi sambil melihat ke belakang Deo, ia kira Leika datang juga bersama anaknya.


"Um ... " Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Leika tinggal di apartemenku, untuk sementara waktu Mom," pungkasnya.


Dovi memicingkan matanya, ia merasa telah terjadi sesuatu antara Deo dan juga Leika. "Kenapa? Takut rumah kita terekspose oleh media?" tanyanya lagi.


"Bukan. Bukan begitu Mom. Aku dan Leika hanya butuh penyesuaian saja." Dovi mengajak putranya duduk di sofa ruang tamu. "Walaupun kami sudah menjalin hubungan sangat lama, tapi tetap saja setelah menikah banyak hal yang harus kami toleran satu sama lain," jawabnya seraya duduk di sofa tersebut.


"Tapi, tidak ada masalah yang berarti 'kan?" Dovi bertanya dengan sangat hati-hati.


Deo pun tertegun. Entah kenapa tiba-tiba pikirannya tertuju pada Hyuna. Wanita itu menjadi sering muncul dibenaknya. Terlebih setelah pernikahannya dengan Leika disahkan.


"Deo?" panggil Dovi dengan suaranya yang seketika meninggi. Sedangkan Deo terkesiap. "Kok malah melamun. Ada apa sih? Mommy makin penasaran nih!" sergahnya, merasa kesal.


"Maaf Mom. Aku sedang banyak pekerjaan di kantor ... " Deo berkilah. Lalu pandangannya dialihkan ke arah lain. "Omong-omong Daddy mana Mom?" tanyanya kemudian.


"Ih kamu tuh ya! Menyebalkan." Dovi menghempaskan napas kasar. "Daddy-mu ada di ruang kerjanya. Tadi sih ada telekonfrens, tidak tahu deh kalau sekarang," katanya sambil mengangkat kedua bahu.


"Ya sudah kalau begitu ... " Deo beranjak dari duduknya. "Aku mau ketemu Daddy dahulu ya, Mom," lanjutnya pamit dari hadapan Mommy-nya.


Dovi menggelengkan kepalanya sambil menatap punggung Deo yang semakin menjauh dari pandangannya. Wanita itupun beranjak dari tempat duduknya dan memilih pergi ke dapur.


...----------------...


Deo telah berdiri di depan pintu ruang kerja Daddy-nya. Pria itu mengetuk pintu terlebih dahulu.

__ADS_1


"Iya masuk!" Fabios menyahut dari dalam. Lalu Deo pun membuka pintu. Rupaya, Fabios baru saja selesai melakukan telekonfrens. "Ada apa menemuiku, Deo?"


"Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan dengan Daddy." Deo menutup pintu kemudian berjalan ke arah Fabios yang masih duduk di kursi kebesarannya.


"Duduklah," ucap pria separuh abad itu. Deo patuh, duduk berhadapan dengannya.


"Dad, aku tidak bisa membawa Leika ke rumah ini," kata Deo sebagai pembuka.


Fabios mengernyit, merasa heran, "Kenapa? Bukankah dia yang selama ini kamu inginkan untuk menjadi istrimu?"


"Ada beberapa hal yang akupun baru mengetahuinya." Deo mendes ah pelan. "Semalam aku ketiduran di kamar Hyuna." Fabios memicingkan matanya. Pria itu masih diam sekaligus penasaran apa yang akan diucapkan oleh Deo selanjutnya. "Perawatnya bilang kalau dia ... " Deo menceritakan tentang informasi yang didapat dari dokter melalui Bora.


"Kamu mencintainya?" Sontak pertanyaan itu membuat detak jantung Deo seolah-olah berhenti mendadak.


"Aku ... " Deo menunduk sebentar lalu menatap Daddy-nya kembali. "Aku tidak tahu. Apalagi, dia istri pertamaku. Meskipun hanya bertemu beberapa kali, tapi aku merasa perasaanku tidak lebih dari sekadar rasa iba padanya," jelas Deo sambil menghela napasnya.


"Kalau kamu memang tidak mencintainya, lebih baik lepaskan dia. Biar aku yang akan membawanya pulang ke rumah orang tuanya. Bukankah itu lebih baik? Kamu pun bisa hidup bahagia dengan Leika." Mendengar respon Fabios, Deo bersusah payah menelan ludahnya. Hati anak sulungnya seakan berat melakukan hal itu.


"Kenapa tidak? Dia juga menantuku. Aku mau melakukan itu demi kebaikan kalian berdua." Fabios beranjak dari kursi kebesarannya lalu berjalan menghampiri Deo kemudian menyandarkan tubuhnya ke pinggir meja dengan posisi berhadapan sambil bersilang dada. "Kamu ingat, Deo. Tidak ada keluarga Ainsley yang mempermainkan perasaan seorang wanita. Terlebih sudah menjadi istrinya. Terkecuali musuh kita, kamu bisa puas menjatuhkan mereka sesukamu, tapi ingat! Tidak dengan seorang WANITA," pungkasnya.


Napas Deo seakan tertahan. Ia merasa sudah menjadi pria yang begitu jahat dimata Daddy-nya. Namun iapun bingung harus memperbaikinya darimana terlebih dahulu.


"Bukankah selama Leika tidak tahu, semua akan aman, Dad?" tanya Deo dengan kepolosan pada raut wajahnya.


Tiba-tiba saja tangan Fabios menoyor kepala anak sulungnya itu. "Kamu ini dalam hal bisnis aja bisa kejam. Coba lihat sekarang, hanya karena memilih satu diantara dua saja berlagak seperti orang bodoh!" gertaknya dengan nada yang penuh penekanan.


"Tapi Hyuna belum sepenuhnya pulih, Dad," sanggah Deo beralasan. Tanpa ia sadari percikan cinta yang Hyuna siramkan dari raut wajah cantiknya itu mampu menyalakan api asmara yang sempat meredup di dalam hati Deo.


"Ck!" Fabios berdecak kesal. "Bodoh! Benar-benar bodoh!"


PRAT!!!!

__ADS_1


Deo sangat terkejut mendapat sebuah tamparan di pipi kirinya. "Dad, kenapa aku ditampar?"


"Bagaimana dia bisa sembuh kalau kamu hanya menyuruhnya berdiam diri dirumah itu, tanpa ada sebuah pancingan supaya ingatannya bisa segera kembali dan dia bisa lekas pulih? Apa kamu kira dia patung?" ujar Fabios dengan suara yang meninggi karena terlalu kesal dengan pola pikir anaknya itu.


Deo tidak terima, sebab dia tidak merasa seperti itu. "Asal Daddy tahu. Aku sudah memberinya fasilitas. Aku sudah memberinya kartu untuk dia gunakan!" sahutnya dengan suara yang tak kalah meninggi.


PRAAATT!!!!


Kedua kalinya Deo ditampar oleh Daddy-nya dan yang ke dua tepat di pipi sebelah kanan. "Daddy?kenapa menamparku lagi!"


"Biar seimbang. Aku takut otakmu makin tidak waras kalau aku hanya menamparnya hanya satu sisi saja," jawab Fabios dengan entengnya.


"Astaga! Apa Daddy kira aku gila?" timpal Deo semakin tidak terima. Berbicara dengan Fabios saat itu membuatnya justru semakin naik darah. Sebab Deo sendiri belum bisa jujur tentang apa yang dia rasakan saat itu.


"Aku tidak berkata seperti itu, tapi jika kamu merasa ... Apa mau dikata?" Fabios kembali ke kursi kebesarannya, menghempaskan bokongnya di sana. "Sudahlah Deo. Lebih baik kamu lepaskan saja Hyuna. Nama baik keluarga kita jauh lebih penting!" katanya dengan tubuh yang maju ke depan dan telunjuk menekan ke arah meja.


"Nanti akan aku pikirkan lagi. Suasana hatiku sudah terlanjur buruk. Ditambah Daddy menamparku sebanyak dua kali." Deo merajuk. Pria itu langsung beranjak dari kursinya.


"Ingat pesanku, Deo. Sekarang semua orang sudah tahu pernikahanmu dengan Leika. Terlebih wanita itu adalah seorang public figure yang banyak pro kontra di masyarakat. Begitupun dengan bisnismu. Kalau sampai berpengaruh terhadap saham kita, aku pastikan Hyuna akan benar-benar pergi dari hidupmu," ancam Fabios yang langsung membuat Deo skakmat. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab ucapan Daddy-nya itu.


"Daddy tenang saja. Masalah itu, aku pastikan tidak akan berpengaruh dengan perusahaan," kata Deo dengan segenap keyakinannya kemudian pergi, keluar dari ruang kerja Fabios.


Ketika Deo baru saja keluar dan menutup pintu, suara langkah kaki yang terdengar tak asing baginya itu, membuatnya berbalik badan lalu menatap wanita yang telah berdiri tak jauh dari tempatnya.


"Deo ... "


Bersambung ....


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2