
Hamburg, Jerman.
Pagi itu Deo merasa tersentak ketika bangun dari tidurnya. Entah apa yang ia mimpikan tadi malam, sampai peluhnya bercucuran di sekitar kening dan juga tubuhnya. Padahal pendingin ruangan di kamar itu sudah dalam batas yang wajar seperti biasanya.
Pria itu terduduk sambil mengatur napasnya. Tak disangka t-shirt oblong warna putih yang dipakainya pun basah karena keringat itu sendiri.
Kemarin saat tahu Hyuna tidak ada di kamarnya, Deo mengamuk sampai membabi buta. Vina yang berada di lantai bawah pun menjadi bahan cecarannya. Leika sampai terperangah melihat tingkah Deo yang seperti kehilangan barang berharga itu.
Akhirnya Leika memilih pergi dari sana setelah mendapat bentakkan Deo yang terasa menyakitkan baginya. Hanya saja, Deo langsung terkulai lemas ketika melihat kepergian Hyuna dari CCTV yang ada di rumah tersebut.
Deo pun memilih menetap di sana. Hanya mengabari Zean dan meminta sekertarisnya itu menghandel semua pekerjaannya. Ya, Deo kembali ke dirinya seperti semula. Seenak jidatnya saja ketika menyuruh sesuatu.
Dan pagi itu benar-benar pagi yang berbeda baginya. Ia tidur di kamar tempat yang biasa Hyuna tempati. Namun rasanya hampa sekali.
Akhirnya ia putuskan untuk segera mandi dan mengganti pakaiannya yang telah basah.
Dalam waktu tidak sampai setengah jam, Deo pun telah rapih. Rambut klimis, tubuhnya segar, serta penampilan oke. Pria itu keluar dari kamar menuju lantai bawah.
"Vina, apa Hyuna sudah pulang?" Suara baritone yang dikeluarkan olehnya membuat Vina terlonjak kaget. Pelayan itu masih menyisakan trauma akibat kemarahannya kemarin.
"Be-belum Tuan. Saya belum melihat Nyonya Hyuna pagi ini," jawab Vina sambil menundukkan wajahnya merasa gugup serta ketakutan.
"Oh ya sudah. Kalau sudah pulang, bilang sama dia jangan pergi lagi. Tunggi saya kembali ke sini untuk menemuinya, paham?" perintah Deo, dingin dan juga datar.
"Paham, Tuan." Vina terus menundukkan wajahnya hingga Deo benar-benar pergi sambil mengendarai mobilnya dari rumah itu. Barulah ia bisa mengangkat wajah serta bernapas lega.
"Nyonya kamu pergi kemana sih? Kenapa tuan Deo segitu marahnya? Padahal istri yang kemarin juga ke sini juga tidak kala cantik dengan nyonya Hyuna. Memang dasar orang kaya, punya kekuasaan satu lobang saja tidak cukup. Maunya selalu lebih!" gerutu Vina bermonolog, mengeluarkan segala unek-unek yang terus membuat hatinya merasa kesal sendiri.
Tidak ingin terlalu larut dalam pikiran negatifnya, Vina melanjutkan pekerjaannya kembali.
...----------------...
Sementara Deo mengendarai mobilnya pergi ke apartemen yang ditempatinya bersama Leika. Hari itu ia berniat untuk berangkat ke kantor.
__ADS_1
Namun ditengah perjalanan, ponselnya yang ada di dalam saku celana pun bergetar. Ia sedikit mengangkat sebelah bokongnya supaya ponselnya bisa keluar dari sana.
Tertera nama sang ibu dalam panggilan itu. Deo menepikan mobilnya, setelah itu barulah ia menjawab telepon itu.
"Ya, Mom. Ada apa?" tanya Deo datar.
"Deo kamu ini apa-apaan sih? Kenapa kamu tega menduakan istrimu? Leika nangis-nangis telepon ke Mommy bilang kamu menikah lagi dengan wanita lain? Apa kamu tidak cukup hanya dengan Leika? Bukannya kamu yang sedari awal bersikukuh untuk menikahinya? Kenapa sekarang malah mengkhianatinya?"
Deo membuang napas panjang. Sorot matanya menatap tajam ke depan dengan sebelah tangan menggenggam stir mobil cukup kencang. Pria itu sungguh tidak percaya kalau Leika sedang berusaha mencari sekutu supaya bisa memojokkannya, dan itu adalah ibunya sendiri.
"Mom, biarkan kasih aku waktu untuk berpikir. Mana yang harus aku lepaskan. Karena semuanya terasa tidak mudah untukku."
Memang benar, sulit untuk Deo memilih satu di antara dua. Pun keduanya tidak bisa ia tahu pasti mana yang akan mengantarkannya pada sebuah kebahagiaan.
Jika tetap memilih Leika, Deo harus siap dengan segala konsekuensi menjadi suami dari seorang artis. Namun jika memilih Hyuna, ia harus mau mengenal seseorang dari awal lagi.
"Terserah kamu! Kalau sampai daddy-mu tahu, kamu bisa habis di nasehati olehnya," pungkas Dovi yang merasa pusing karena persoalan rumah tangga anak sulungnya itu.
Mengapa tidak? Setiap ada masalah Leika selalu bercerita kepada Dovi. Entah sejak kapan wanita itu mencuri perhatian Dovi, yang jelas dengan segala tipu daya. Ia berhasil menjerat hati mama mertuanya.
"Apa? Sejak kapan? Kenapa daddy-mu tidak pernah cerita sama Mommy?" cecar Dovi tidak habis pikir.
"Sudah lama sekali. Lebih baik Mommy tanyakan saja sama daddy. Aku hanya takut Leika melebih-lebihkan kenyataan yang ada."
"Ya sudah kalau begitu, akan Mommy tanyakan langsung sama daddy-mu ... " Dovi mendengar suara bising kendaraan dari seberang teleponnya. "Kamu lagi dijalan Deo? Darimana pagi-pagi begini?" tanya Mommy-nya lagi.
"Iya, Mom. Panjang ceritanya. Masih ada yang ingin Mommy tanyakan lagi atau tidak? Soalnya aku mau jalan lagi ke apartemen terus berangkat ke kantor," kata Deo persiapan mengambil start untuk memutuskan panggilan telepon itu.
"Ck! Kamu ini." Dovi berdecak merasa kesal. Apalagi pasalnya Fabios sudah berangkat ke kantor sesaat sebelum menelepon Deo. "Tidak ada. Ya sudah, Bye."
Akhirnya Dovi memutuskan sambungan telepon itu. Deo menaruh ponselnya ke dalam dashboard kemudian melajukan mobilnya kembali.
...----------------...
__ADS_1
Saat tiba di apartemen, Deo mencari keberadaan Leika di sana.
"Sial! Kemana wanita itu? Kenapa tidak ada di sini? Aku jadi curiga semalaman dia tidak pulang ke sini. Atau jangan-jangan dia pergi sama manager-nya? Atau mungkin malah dengan si Nando sial an itu. Breng sek! Dia sudah mulai berani membohongiku."
Deo merasa geram ketika tidak menemukan Leika di sekeliling unit apartemennya. Pria itu mencoba menghubungi wanita yang dicarinya sejak tadi.
"Nomor yang Anda hubungi berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi."
Deo merumat ponselnya cukup kencang. "Nomornya tidak aktif. Leika! Kamu benar-benar ingin cari perkara denganku!" Matanya memerah begitu pula dengan wajahnya. Ia sampai menghempaskan napas kasar hingga berkali-kali. Pun napasnya kembang kempis sambil berkacak pinggang.
Tak ingin membuang waktu lebih banyak lagi, Deo pergi ke kamar untuk mengganti pakaian. Dalam waktu beberapa menit, ia pun keluar dari kamar dan menyambar kunci mobil kemudian bergegas pergi ke kantor.
Di pertengahan jalan, Deo tiba-tiba merasa lapar. Akhirnya ia membelokkan mobilnya ke sebuah restauran junk food yang tak jauh dari tempatnya berada.
Sepaket big burger dengan soda pun menjadi pilihannya. Namun ketika sedang menunggu pesanan disiapkan, tak sengaja pandangan Deo melihat seseorang yang sangat ia kenali.
Deo sampai menyipitkan matanya untuk memastikan orang itu benar atau tidak seperti perkiraannya. Semakin pria itu cermati, semakin jelas terlihat.
"Leika? Dia sedang bersama siapa? Sepertinya dia tampak bahagia sekali," gumam Deo saat merasa benar dengan orang yang ia cermati sejak tadi. Orang itu memang tampak sedang bersenda gurau dengan tawa yang lepas.
Namun ketika melihat petunjuk waktu yang melingkar di tangan kanannya, Deo memilih segera pergi dari sana setelah mendapatkan makanannya.
Sampai tiba di kantor, raut wajah pria itu tampak muram. Orang-orang yang berpapasan dengannya pun tidak berani menyapanya. Hanya menunduk hormat menyambut kedatangannya.
Akan tetapi hal itu tidak berarti pada Zean. Pria itu tahu betul jika raut wajah Deo sudah tampak sangat marah seperti itu.
"Pagi Tuan. Beberapa berkas yang sudah saya cek ulang sudah ada di atas meja, Tuan bisa segera menandatanganinya. Lalu untuk jadwal meeting hari ini, kebetulan tidak ada. Karena kemarin sudah saya wakilkan," kata Zean, dari pada saat Deo keluar dari lift sampai di dalam ruangan.
"Oke, kamu boleh keluar," perintah Deo bersikap sangat dingin melebihi kutub utara dan juga selatan. Zean pun menunduk hormat yang kemudian pergi dari ruang kerja Deo.
Pria itu duduk di kursi kebesarannya, menatap ponsel yang baru saja dinyalakan. Saat mendeteksi keberadaan Leika melalui GPS-nya, ternyata benar. Leika ada di restauran tadi.
Ketika Deo mencoba menghubungi ponselnya, tiba-tiba saat itu bisa terhubung. Namun tidak satu pun panggilan Deo dijawab oleh Leika.
__ADS_1
Deo semakin pening dan akhirnya memilih fokus bekerja di hari itu.
Bersambung ....