Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Sequel - 4


__ADS_3

Hyuna berjalan disepanjang lorong menuju asrama. Keadaan di sana saat itu masih sepi. Karena memang kebanyakan yang kuliah di kampus itu memilih mencari tempat tinggal sendiri ketimbang fasilitas dari kampus.


Mungkin kalau sudah memiliki otak cerdas dan menjadi mahasiwa ber-value, fasilitas itu dibebaskan dari anggaran alias gratis. Namun jika tidak, biaya sewa perbulan pun bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan poundsterling tergantung dari kelasnya.


Nah, untuk yang Hyuna serta kedua temannya itu dapatkan termasuk kelas menengah. Ya ... Harganya kisaran hampir mendekati seratus poundsterling dan itu belum termasuk makan.


Makanya sebelum Hyuna menerima tawaran studi banding itu, ia giat sekali mengumpulkan uang untuk biaya hidup selama di London. Mungkin berbeda dengan Mona dan Evan. Biarpun mereka pintar, namun keuangan kedua orang tua mereka sangat mendukung. Jadi, tidak perlu bekerja keras mendapatkan uang.


Meski begitu, bagi Hyuna uang hasil kerja keras sendiri lebih terasa nyaman dan melegakan hati. Walaupun kedua orang tuanya sudah mempersiapkan dana selama ia melanjukan sekolahnya.


Pemandangan menuju asrama pun sangat indah. Hyuna sampai tidak sadar kalau dirinya sudah berada di gedung asrama.


Sebelum masuk ke dalam, tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Hyuna merogoh kantong dan mengeluarkan benda pipih berbetuk persegi panjang itu dari sana.


Setelah dilihat ternyata ada nomor asing yang masuk mengirimkannya pesan.


[Unknown : Pastikan tidak ada noda yang tertinggal pada pakaianku. Kalau sampai ada, kamu lihat saja nanti apa yang akan aku perbuat!]


"Cih, dia mengancamku?" Hyuna tersenyum menyeringai. "Dia kira aku takut pada ancamannya itu? Hah! Lihat saja nanti." Ia kemudian masuk ke dalam kamar.


Di dalam Mona sedang asik menonton televisi sambil memakan sebungkus camilan di tangannya. "Hyuna, kamu bawa apa?" tanya wanita itu.


"Oh ini?" Hyuna mengangkay paperbag yang dipegang olehnya. "Ada orang rese yang minta dicucikan bajunya," ujarnya terdengar kesal.


"Hah? Siapa? Perasaan kita belum ada sehari di sini, kenapa ada orang rese?" Mona pun mengerutkan alisnya.


"Ah ya sudahlah tidak penting juga," jawab Hyuna lalu pergi ke kamar mandi.


Mona tidak bertanya lagi, ia pun kembali fokus menonton televisi sambil menyantap camilannya. Sementara Hyuna berkutat di kamar mandi dengan pakaian kotor milik Dave.

__ADS_1


Berhubung Hyuna tidak pernah mencuci pakai tangan, segala cara ia coba untuk menghilangkan noda kopi yang ada di pakaian itu. Dari mulai mengucek, menyikat serta sampai di rendam sambil diinjak-injakkan oleh kakinya.


"Kalau bukan karena mempertahankan prestasi dan harga diri, mana mau aku disuruh cuci baju itu orang!" Hyuna mengerutuki Dave yang baginya sudah keterlaluan.


"Setahuku disini tuh negara yang lumayan maju. Banyak tempat cuci pakaian yang menyediakan jasa bahkan ada pula dalam waktu dua jam sudah kering. Menyebalkan sekali!" sambung Hyuna yang merasa sangat kesal.


Hingga tanpa sadar, pakaiannya pun basah oleh air bercampur keringat. Mau tak mau setelah mencuci, Hyuna harus langsung mandi supaya tidak menjadi ladang kuman pada tubuhnya.


...----------------...


Seusai makan malam, Hyuna beserta Mona dan Evan pergi ke sebuah kedai yang letaknya tidak jauh dari asrama mereka.


"Mona, Evan ... apa tidak sebaiknya kita kembali ke asrama saja? Ini sudah hampir pukur sembilan malam loh," bujuk Hyuna karena dirinya juga sudah mengantuk dan tubuhnya pun terasa lelah.


"Hyuna, mumpung di London kita harus puas-puasin waktu tinggal sendiri tanpa orang tua di sini," jawab Evan dan disahuti anggukkan kepala oleh Mona yang sedang memakan permen karet.


"Kamu takut banget sih Hyuna. Santai saja, jam sebelas sudah paling malam kok kita tidur," sanggah Mona lalu merangkul Hyuna.


"Berani ke asrama sendiri?" tanya Evan seakan tidak percaya kalau Hyuna berani sendiri.


"Berani. Memangnya kenapa? Mumpung masih sore, sepertinya masih ramai juga," balas Hyuna tampak meyakinkan lalu beranjak dari duduknya.


"Ya sudah hati-hati ya. Kabari kalau ada apa-apa!" seru Evan dan dijawab anggukkan kepala oleh Hyuna.


Setelah Hyuna pergi, Evan melihat kearah Mona yang sedahg asik dengan ponselnya bahkan sampai tertawa sendiri.


"Seru banget, chatting-an sama siapa sih?" tanya Evan sambil melipat kedua tangannya ke atas meja.


"Pak Andrew," jawab Mona tanpa sadar.

__ADS_1


"Hah? Seriusan?" sergah Evan merasa tidak percaya. Karena yang pria itu tahu, pak Andrew itu tampan, idola para wanita di kampus, tajir, pintar, dan juga ramah. Ia tidak habis pikir kalau wanita yang tampak dari luarnya itu 'imperfect' bisa chatting-an dengan pria macam pak Andrew sampai tertawa. Secara dia itu terkenal dosen killer.


Mona terkejut karena suara Evan yang tiba-tiba meninggi. "Apa sih Evan? Seriusan apa?" tanyanya dengan suara yang tidak kalah meninggi.


"Kamu sama pak Andrew? Bagaimana itu? Kalian ..." Evan terperangah sambil menguncupkan jari lalu menyatukan keduanya sebagai tanda cium.


"Kapan aku sebut nama pak Andrew?" Mona berkilah, tanpa ada yang tahu jantungnya berdegub cukup kencang.


"Jujur saja sama aku. Kamu sama pak Andrew ada hubungan apa?" tanya Evan dengan raut wajah serius. Bahkan seperti seorang pria sedang mengintrogasi kekasihnya.


"Mau tahu banget atau mau tau saja?" Mona malah bertanya balik dengan gaya kecentilannya.


"Serius ... Setahu aku ya, pak Andrew itu tidak punya saudara di kampus kita." Evan berusaha memperjelas.


"Dia itu seperti bapak, sahabat, mentor, dosen, kakak, plus kekasih bagi aku," jawab Mona. Matanya berbinar seraya melirik ke atas membayangkan tentang pak Andrew.


"Astaga, kalian pacaran ternyata! Tapi kok ... " Evan tidak tega untuk memperjelas fisik Mona. Karena pria itu takut wanita yang duduk disampingnya itu tersinggung.


"Ya walaupun aku gendut, tapi dia berhasil buat aku jadi wanita yang memiliki value. Bukan untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang banyak," papar Mona. Hatinya kian berbunga-bunga.


"Syukurlah kalau memang dia tulus sama kamu Mona. Karena kebanyakan pria melihat dari fisik dahulu barulah sisi hatinya. Semoga saja pak Andrew benar-benar orang yang tepat untuk kamu," kata Evan yang ikut merasa bahagia. Sebab ia sendiri belum bertemu wanita yang benar-benar menyatu dengan sikap dan sifatnya.


"Terima kasih banyak. Kamu teman dan pria yang baik Van. Semoga cepat ketemu jodohnya ya!" balas Mona lalu tersenyum hingga kedua matanya tidak terlihat.


Evan tertawa. "Sama-sama."


Sementara di asrama, Hyuna baru saja menutup pintu kamar. Rasanya ia ingin segera merebahkan tubuh ketika melihat kasur yang tampak empuk itu.


"Semoga pakaiannya bisa segera kering dan nanti malam tidak hujan. Aku malas berurusan dengan pria macam Dave itu. Kalau saja aku tidak ceroboh tadi pagi, hidupku mungkin akan jauh lebih tenang ketimbang sekarang," gumam Hyuna bermonolog. Tak lama kemudian, ia pun tertidur.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2