Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Sequel - 7


__ADS_3

Tepat seminggu Hyuna berada di London. Hubungannya dengan Dave terjalin dengan baik. Meskipun komunikasi mereka hanya sebatas dosen dan mahasiwa. Tetapi tidak apa, bagi Hyuna itu lebih dari cukup. Mengingat masih ada beberapa semester lagi yang harus ia hadapi sebelum memasuki masa penyusunan skripsi.


Hari itu Hyuna beserta teman satu fakultasnya akan pergi mengunjungi beberapa tempat objek wisata yang cukup ternama di London. Segala perlengkapan pun telah ia siapkan sejak semalam. Tubuhnya pun sudah merasa sehat kembali, setelah meminum vitamin yang diberikan oleh Dave beberapa hari yang lalu.


"Mona, aku tinggal dulu ya. Baik-baik seharian di asrama," kata Hyuna berpamitan pada Mona yang masih bermalas-malasan di atas tempat tidurnya.


"Iya nih, hari ini aku bakal puas-puasin menonton film. Evan juga lagi kencan sama gebetan barunya." Mona berdecak. Sebenarnya wanita itu bahagia bisa menikmati hari libur, namun sayangnya bukan Mona kalau tidak pergi di hari libur.


"Ya sudah, tapi kalau kamu mau keluar jangan lupa pintunya di kunci ya!" seru Hyuna lalu pergi ke meja makan untuk mengambil tas ranselnya.


"Siap! Kamu juga jangan lupa bawa kunci cadangan!" teriak Mona dari dalam kamar.


"Iya, kamu tenang saja!" Hyuna juga melakukan hal yang sama. Lalu ia pun keluar dari kamar.


Seketika kamar pun menjadi hening dan benar saja Mona beranjak dari tempat tidurnya lalu duduk di sofa untuk menyalakan televisi. Sambil menunggu loading selesai, Mona menyiapkan segala macam camilan di atas meja.


...----------------...


Hyuna telah berkumpul di halaman depan kampus bersama teman-teman yang lain. Salah seorang panitia mulai memanggil nama mereka satu per satu untuk mengetahui kehadiran mereka.


"Baik, sudah hadir semua. Sekarang silahkan masuk ke dalam bus sesuai dengan nama yang ada di kursi masing-masing, paham?"


"Paham!"


Setelah semuanya naik, bus pun mulai melaju.


Tempat pertama yang akan mereka kunjungi yaitu Museum Madame Tussauds London. Dimana di tempat itu terdapat ratusan patung lilin dari mulai selebritis, orang-orang kerajaan maupun karakter-karakter dari film favorite seluruh dunia. Patung lilin di sana, bukan hanya sekadar patung lilin biasa, namun dalam bentuk patung lengkap beserta atribut yang khas.



HAmpir satu jam perjalanan, tibalah mereka di sana. Total panitia yang ikut dari kampus ada sekitar empat orang. Dua diantara mereka merupakan tour guide pada acara hari itu.


Keduanya saling bergantian menyampaikan informasi mengenai tempat yang dinilai bersejarah itu. Tak ayal banyak pula pengunjung anak-anak datang ke sana bersama kedua orang tua serta sanak saudara.


Setelah hampir satu jam berada di tempat itu, para mahasiswa sudah ouas bersua foto dengan para patung favorite mereka, para panitia mengintruksikan mereka untuk segera masuk ke dalam bus. Mengingat akan ada tempat lain yang akan dikunjungi selanjutnya.


...----------------...


Terik matahari sudah mulai menyoroti seluruh penjuru London. Bus yang mereka tumpangi telah sampai di tempat kedua yaitu, The Tower of London.


__ADS_1


Banyak yang mengira kalau bangunan yang usianya sudah lebih dari satu abad itu kosong atau tidak berpenghuni. Namun ternyata, keamanan pada bangunan itu dijaga ketat oleh para penjaganya.


Lokasi itu awalnya sempat ingin dijadikan sebagai tempat tinggal para anggota kerajaan. Meski akhirnya dialihfungsikan menjadi gudang senjata, pusat keuangan serta kebun binatang.


Mereka pun dipandu oleh salah seorang petugas keamanan yang sudah lama tinggal di bangunan itu. Berawal dari sang ayah yang tadinya bertugas dan tinggal di sana, namun setelah sang ayah meninggal digantikanlah olehnya.


Pemandu itu pun menunjukkan pada mereka mengenai sisa-sisa peristiwa yang terjadi di bangunan itu. Termasuk ruang eksekusi dan penyiksaan yang di lakukan oleh orang kerajaan dahulu kala.


Setelah cukup lama berkeliling, mereka pun mengakhiri penelusuran itu dan kembali ke dalam bus.


Berhubung sudah waktunya makan siang, bus melaju menuju sebuah tempat makan yang tidak jauh dari sana. Nama tempatnya Golden Chippy.


...----------------...


Para panitia memang sengaja memberikan waktu yang cukup lama saat di tempat makan tadi. Mengingat perjalanan mereka dari pagi itu tidaklah dekat.


Hingga pada pukul tiga sore waktu setempat, sudah saatnya untuk para panitia memberikan sesi hiburan pada mereka. Yaitu mengunjungi sebuah tempat dengan suasana urban yang sebenarnya.



Piccadilly Circus yang merupakan ruang publik sekaligus persimpangan yang berada di kawasan West End itu, popular dengan layar-layar iklan lebar yang menempel pada bangunan disekitarnya. Di sana tidak hanya ada jajaran toko-toko yang bisa memenuhi hasrat berbelanja. Namun ada juga Museum Ripley's Believe or Not! disekitar sana.


Di saat semua mahasiwa yang ikut mulai berpencar untuk mencari hiburan masing-masing, berbeda dengan Hyuna yang hanya ingin memotret saja.


"Hyuna, sedang apa kamu di sini?"


Wanita itu menurunkan kameranya lalu menoleh ke samping. Tak disangka, ia bertemu dengan seseorang yang selama ini tidak dilihatnya lagi.


"Doktee Gabriel?"


"Hai, apa kabar? Lama sekali ya kita tidak jumpa," kata dokter tampan yang pernah merawat Hyuna sewaktu ia mengalami koma beberapa waktu yang lalu.


"Aku sangat baik." Hyuna tersenyum. "Dokter sendiri apa kabar? Kenapa bisa kita ketemu disini ya? Kebetulan sekali," tanya wanita itu.


"Saya juga baik. Lusa, saya ingin bertemu teman saya yang praktek di rumah sakit besar di London. Rencananya sebelum menemuinya, saya ingin membelikan buah tangan dahulu padanya," jelas dokter Gabriel.


"Oh seperti itu. Apa Dokter baru tiba di London?" tanya Hyuna lagi.


"Iya kamu benar. Ya ... Sekitar satu jam yang lalu. Penginapan saya juga dekat sini." Dokter Gabriel memasukkan kedua tanganya ke dalam saku celana sambil menarik napas dalam. "Kamu sendiri sedang apa sendirian di tengah keramaian ini?" tanya pria itu kemudian.


"Oh, aku sedang ada acara dari kampus. Di tempat ini hanya diberi waktu dua jam saja. Banyak kok teman-teman yang ikut, satu fakultas ... tapi mereka sedang berpencar," papar Hyuna dan dokter Gabriel pun mengangguk paham.

__ADS_1


"Oh iya, kamu pindah kampus ke kota ini?" tanya dokter Gabriel.


"Tidak, aku hanya sedang studi banding saja," jawab Hyuna lalu sambil memotret kembali. Ia tidak ingin melewatkan pemandangan yang sekiranya bagus untuk diambil gambarnya.


"Sendiri? Atau ada teman juga?" tanya dokter Gabriel lagi.


"Ada temanku, tapi mereka berbeda fakultas denganku. Jadi sekarang kami sedang sibuk sendiri-sendiri." Hyuna menoleh sejenak sambil tersenyum.


"Oh iya, ada yang ingin saya tanyakan padamu. Tetapi sedikit pribadi, kalau menurutmu tidak bisa dijawab, tak apa," kata dokter Gabriel dengan hati-hati, sebab takut Hyuna tersinggung.


"Ya tanyakan saja Dok." Hyuna bersikap santai.


"Hm, apa kamu sudah menemukan pengganti Deo?" Detak pada jantung pria itu seketika berpacu cukup kencang. Wajahnya mulai memerah karena menahan rasa gugup yang mulai menyelimutinya.


Akan tetapi, Hyuna merespon pertanyaan itu diawali dengan terkekeh pelan. "Aku sedang tidak memikirkan hal itu Dok. Fokusku sekarang hanya ingin lulus kuliah dan memberikan nilai terbaik pada kedua orang tuaku. Karena aku yakin, seiring aku berusaha memperbaiki sifat buruk yang masih ada dalam diriku, suatu saat aku pasti menemukan cinta sejati yang sesungguhnya."


Dokter Gabriel terperangah dengan jawaban Hyuna.


"Kamu hebat, bisa menjadi wanita tegar dan juga kuat. Tetapi, apa kamu tidak ingin mengetahui kabarnya?" tanya dokter Gabriel.


Hyuna terkekeh lagi, "Deo, maksudnya?" Lalu tersenyum menyeringai sambil memotret kembali.


"I-iya." Doktee Gabriel gugup kembali.


"Untuk apa? Menyebut namanya saja hampir tidak pernah. Kalau aku tiba-tiba menanyakan kabar tentangnya, sama saja mengorek luka lama," jawab Hyuna sesantai mungkin.


Ditengah perbincangan mereka, ponsel Hyuna berdering. Wanita itu segera mengeluarkan benda pipih berbentuk persegi panjang miliknya itu dari dalam saku celana. Tertera nama salah satu panitia pada panggilan itu.


"Maaf ya Dok, aku angkat telepon dahulu. Dari panitia," kata Hyuna meminta izin dan dokter Gabriel pun menganggukkan kepala.


"Hallo? ... Oh gitu, sekarang? ... Semuanya sudah diberitahu? ... Ya sudah aku ke sana."


Kemudian sambungan telepon pun berakhir. Hyuna memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana.


Wanita itu menatap dokter Gabriel sambil tersenyum.


"Maaf Dok, aku harus pergi. Sampai jumpa lagi," kata Hyuna lalu melambaikan tangan.


"Oke Hyuna. Sampai jumpa lagi, tetap jaga kesehatan dan hati-hati di jalan!" seru dokter Gabriel.


Hyuna berbalik badan lalu berjalan ke arah bus yang sebelumnya ia tumpangi. Perjalanannya masih akan berlanjut mengunjungi satu tempat lagi.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2