
Hyuna seketika terdiam mendapati pertanyaan Deo setelah menutup pintu ruangan itu. "Memangnya kenapa? Tidak boleh?" Ia sambil memperhatikan wajah Deo yang masih memerah. Ia berusaha keras untuk menahan tawanya.
Deo menghampirinya dan ikut duduk di sofa. Pria itu mengambil sehelai tisu untuk menghapus noda lipstik yang ada di dekat bibirnya.
"Sudah ya." Hyuna berdiri. "Aku mau pulang saja," lanjutnya seraya meraih tasnya. "Maaf sudah mengganggu waktumu. Anggap saja ini pertemuan terakhir kita."
"Kenapa seperti itu? Jika memang kamu ingin pergi menemui kedua orang tuamu hanya untuk pergi dariku, sampai kapanpun aku tidak akan mengizinkan," tegas Deo dengan penuh penekanan.
Hyuna reflek menjauhkan tubuhnya. "Ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat sangat marah? Bukankah kalau aku tidak menemuimu saat ini, kamu tidak akan pernah menemuiku lagi, bahkan menganggapku pun tidak?" cecar wanita itu, terpancing emosi. Tatapannya menjadi berani pada Deo.
Pria itu hanya terdiam dengan segenap amarahnya yang kian tertahankan. Memang benar apa yang dibicarakan oleh Hyuna. Sejak awal hanya Leika yang bertahta di hatinya. Lalu saat sudah kecewa, semua berubah seperti orang asing.
"Permisi." Hyuna pamit lalu bergegas pergi dari ruang kerja suaminya. Kakinya melangkah dengan gamang. Air matanya pun menetes sesaat setelah ia menutup pintu. Lagi-lagi Deo menoreh luka di hatinya.
Sementara pria itu hanya berdiam diri di sofa. Tanpa mengejar dan juga mencegah agar Hyuna tetap tinggal.
Beberapa menit berlalu, Deo pun beranjak dari sana. Ia berjalan menuju sebuah laci pada bufet yang terletak tak jauh dari sofa itu. Ia membuka laci itu dan melihat sebuah map berwarna biru di sana. Ia pun mengambilnya lalu menutup lacinya kembali.
Deo kembali duduk di kursi kebesarannya dan mulai membuka map tersebut. Sebuah data yang sangat lengkap tentang Hyuna ada di dalamnya. Terbesit ada rasa bersalah dalam hatinya.
Lalu di lembar terakhir dalam map itu, ada sebuah bukti tentang pengkhianatan Leika padanya. Seketika dadanya bergemuruh dan ia merasa sangat marah. Semua yang ada di map itu merupakan kumpulan laporan yang dikirim melalui email. Mungkin tidak semuanya, karena terlalu banyak.
...----------------...
Keadaan di lobby saat itu sedang sepi. Tidak seorang pun yang mengenali Hyuna di sana. Akan tetapi ketika berada di depan, sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depannya.
Hyuna menghentikan langkahnya dan berdiam diri. Tak lama berselang turun seorang wanita dengan rambut model keriting gantung, memakai kacamata hitam serta sheath warna coklat dan juga heels setinggi kurang lebih tujuh centi meter, dari mobil itu.
Ia masih memperhatikan wanita yang ada di hadapannya. Sesaat kemudian, wanita tersebut membuka kacamata hitamnya.
Saat itu juga Hyuna tahu siapa wanita itu. Polesan make up on di wajahnya sama sekali tidak menyulitkan Hyuna mengenalinya.
Ya, dialah Leika. Artis papan atas yang tengah melambung namanya di setiap siaran televisi sosialita. Terlebih namanya yang selalu bagus saat diberitakan, ditambah pula seorang istri dari seorang pengusaha kaya raya di negara itu.
__ADS_1
Hyuna tercekat. Hatinya? Jangan ditanya. Sudah pasti ia merasa sakit. Memang patut diacungkan jempol. Tubuh Leika sangat sempurna, menurutnya. Tampak terawat serta mulus seperti kulit bayi.
"Kamu beruntung, Leika. Menikah dengan orang yang kamu cintai dan juga mencintaimu. Tapi aku? Hanya bisa terus berjalan di dalam kesendirian. Meskipun aku mencoba untuk tidak menghiraukan perasaanku, tapi hatiku terasa hancur hingga berkeping-keping karena perasaanku yanh tulus padanya." Hyuna bermonolog dalam hati, seolah berbicara langsung pada wanita yang ada di depannya.
Tidak ingin terlalu lama terhanyut, Hyuna menunduk hormat kemudian pergi dari hadapan wanita itu. Akan tetapi, wanita yang dihormatinya itu justru menjunjukkan sikap kesombongannya, malah menatap tidak suka dengan kehadiran Hyuna di sana.
Entah kenapa semenjak melihat Leika secara langsung, meski tak saling kenal atau berkenalan, Hyuna merasa yakin untuk pergi ke Inggris saat itu juga.
Ia segera memanggil taksi ketika sudah berada di depan gerbang perusahaan. Sekuat mungkin air matanya ia tahan. Bukan waktunya menangis untuk saat itu.
...----------------...
Leika baru menginjak kantor milik suaminya lagi semenjak menikah. Terakhir sebelum ia mendapat projek film di Prancis. Mungkin bisa dibilang, ia memang jarang datang ke kantor Deo. Karena jadwal syuting yang juga menyita waktunya.
Hari itu Leika sengaja datang ke kantor secara mendadak. Rencananya ia memang ingin memberi kejutan pada suaminya itu. Tak lupa buah tangan berupa makanan kesukaan Deo pun ia bawa.
Beberapa pegawai yang melihatnya datang langsung menunduk hormat menyambut kedatangannya. Siapa sih yang tidak kenal Leika di kantor? Semua pasti mengenalnya. Tentunya karena pernikahan itu.
Hingga saat tiba di lantai tempat dimana ruangan Deo berada. Zean yang baru saja tiba di meja kerjanya langsung memberi hormat pada istri atasannya itu.
"Selamat siang, Nyonya."
"Siang. Suami saya ada?" Leika menghentikan langkahnya sejenak di samping meja kerja Zean.
"Sepertinya ada, Nyonya. Tadi sempat ada tamu, lalu saya tinggal ke bawah," jawab Zean jujur.
"Tamu? Apa tamunya wanita?" tanya Leika menyelidik.
"Iya benar," jawab Zean spontan.
"Sepertinya tamunya yang tadi bertemu denganku sewaktu di depan lobby deh!" Leika menerka dalam hatinya.
"Apa perlu saya pastikan dulu tamunya masih ada atau tidak?" tawar Zean kemudian.
__ADS_1
"Tidak perlu, biar saya sendiri saja yang memastikan." Leika sudah tidak sabar bertemu dengan Deo saat itu juga. Ia pun melangkahkan kakinya kembali sambil membusungkan dada dan sedikit mengangkat wajahnya, lalu masuk ke dalam ruangan yang dituju.
Zean hanya menghela napas panjang lalu menggelengkan kepala sesaat setelah Leika pergi dari hadapannya.
"Apa semua istri bos seperti itu? Dia terlihat sombong sekali," gumamnya dengan suara sepelan mungkin. Namun untungnya saat itu Leika sudah menutup pintunya.
Sementara di dalam, Deo terkejut akan kedatangan Leika. Berhasil dong wanita itu memberi kejutan? Akan tetapi, Deo sendiri bukan terkejut senang, melainkan merasa gelisah karena tadi baru saja Hyuna keluar dari ruangan itu.
"Ada apa kamu kemari? Sudah selesai dengan syuting film-mu itu?" tanya Deo lalu menyeringai menatap Leika yang sedang menunjukkan raut wajah teduh dihadapannya.
"Kok kamu gitu sih? Aku kan ke sini karena rindu padamu," kata Leika sambil mengerucutkan bibirnya, sedikit kesal dengan sikap Deo.
"Terus aku harus bagaimana? Seperti pria itu yang selalu memberimu pujian dan kehangatan?" Tiba-tiba Deo meninggikan suaranya. Pria itu teringat akan bukti yang diserahkan Aldo padanya.
"Pria itu?" Leika menggelengkan kepala. "Aku sama sekali tidak punya pria lain selain kamu, Deo." Ia berusaha membela diri dan berjalan menghampiri Deo yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
Sejujurnya Deo sedang tidak ingin melihat wajah wanita itu. Sebisa mungkin ia meredamkan emosinya. "Kalau kamu ingin membicarakan sesuatu yang tidak penting, lebih baik keluar. Aku sedang sibuk. Pintu keluar sudah tahu 'kan?" kata Deo yang langsung menusuk ke jantung Leika.
"Kamu mengusirku, Deo? Aku salah apa? Aku sudah minta maaf sama kamu soal kejadian waktu itu! Aku kira kamu bakan menerima," protes Leika dengan kedua tangan yang dikepal cukup kuat.
Deo semakin terpancing emosi. Pria itu berdiri lalu menggebrak meja sangat kencang. Beruntung ruang kerjanya kedap suara. Disisi lain Leika pun sangat terkejut saat melihat mata Deo yang memerah serta membulat sempurna.
"Apa kamu bilang? Salah kamu apa?" Deo kemudian berdecih. "Aku sudah menyuruhmu keluar dari agency itu, tapi kamu tidak dengar!" Ia menggebrak meja kembali dan kedua tangannya ditaruh di atas meja lalu seketika wajahnya menunduk.
"Deo, dengarkan penjelasan aku dulu ..." kata Leika dengan suara bergetar.
"Apa? Mau jelasin apa lagi? Bukankah semua sudah jelas?" cecar Deo sambil menyodorkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Leika. "Atau jangan-jangan ... Kamu mencintai dia? Iya 'kan?" pungkasnya. Pria itu cemburu sekaligus kecewa. Berperang dengan hati dan kenyataan, sungguh membuatnya seperti pria yang dipenuhi kebimbangan.
"Bukan seperti itu, Deo." Leika berkilah, merasa terkena serangan tiba-tiba.
"Lalu kenapa?"
Bersambung ....
__ADS_1