
Semua rencana sangat tersusun rapih oleh Nat. Ketika Deo pergi, Nat pun masuk ke dalam kamar itu. Namun ia merasa sangat terkejut. Tragedi kamera yang hancur sungguh di luar rencananya.
Sebab, Nat pun merasa kesal karena Hyuna memilih pergi sendiri menemui kedua orang tuanya tanpa menuruti ajakannya itu. Sepertinya setelah itu terjadi, Nando juga akan ikut murka. Karena segala budget untuk rencananya itu dikeluarkan oleh Nando.
"Mana Leika?" tanya Nat terdengar ketus pada mereka.
"Di kamar mandi," jawab salah satu dari mereka.
Nat langsung menggedor kamar mandi. "Leika, sedang apa kamu di dalam?" serunya. Namun tidak kunjung ada jawaban dari Leika. Nat menggedornya lagi.
Ceklek!
Baru saja Nat mengangkat tangannya, pintu pun terbuka.
"Kamu sedang apa? Ini kenapa pakaianmu diganti?" tanya Nat sambil mengerutkan alisnya.
"Tidak apa-apa Kak Nat. Aku mendadak suasana hatiku buruk. Aku ingin pulang saja," jawab Leika dengan suara pelan. Ia sudah terlanjur malu di depan semua orang yang ada di kamar itu.
"Tidak bisa!" tegas Nat menolak. "Setelah acara ini selesai kita ada jadwal syuting lagi. Semangat dong! Tetap berada di atas itu tidak mudah. Ibarat sebuah pohon, akan banyak angin kencang yang menerpanya," jelas Nat yang tidak ingin meruntuhkan semangat Leika dalam berkarir.
Namun Leika hanya terdiam menatap nanar padanya. Nat pasti sudah menduga kalau Deo telah memarahinya habis-habisan. Leika benar-benar seperti boneka yang bisa Nat mainkan sesuka hati.
Sedangkan wanita toxic itu pandai sekali merubah suasana hati Leika dalam sekejap. Nat semakin suka pada anak didiknya itu.
"Ya sudah kalau begitu. Bisa tidak syuting yang sekarang dihentikan saja?" pinta Leika karena kepalanya terasa pening.
"Baiklah." Nat merubah poisisinya menghadap ke para crew yang tadi bertugas. "Semuanya, cukup ya syuting hari ini. Terima kasih banyak," kata Nat dengan santainya.
"Nathania, bagaimana dengan kamera kami yang rusak? Apa kamu akan menggantinya?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya nanti akan aku kirim uangnya," jawab Nat. Tentunya sedikit melegakan hati mereka.
"Jangan sampai tidak ya! Nanti kami syuting pakai apa?" sahut yang lainnya.
"Iya kalian tenang saja. Saya akan bayar lebih dari harga kamera sebelumnya." Nat segera membereskan barang-barang Leika lalu membawanya. "Kami pergi dulu, Bye!"
...----------------...
__ADS_1
Sementara itu, Deo memilih kembali ke kantor. Ia melihat chip yang tadi sempat diambilnya itu melalui laptop.
Alangkah terkejutnya ketika video itu mulai berputar dan menunjukkan banyak adegan tidak senonoh di dalamnya. Deo berusaha mengontrol emosinya sambil sesekali menghela napas panjang.
"Ternyata dia sangat berani. Jadi seperti ini kelakuannya di belakangku. Baiklah, bukti sudah aku pegang. Selanjutnya aku akan mengajukan pembatalan pernikahan ke lembaga terkait," tutur Deo bermonolog.
Pria itu sama sekali tidak terangsang saat melihat video tadi. Malah yang ada dia sangat jijik melihat pemeran utamanya.
Deo pun memanggil Zean untuk memastikan pekerjaannya hari itu benar-benar senggang.
"Zean, ke ruangan saya sebentar," titah Deo melalui sambungan telepon yang ada di mejanya.
"Baik Tuan." Setelah mendapat jawaban dari Zean, Deo mengakhiri teleponnya.
Tak lama berselang ketukan pintu pun terdengar.
"Ya, masuk!"
Dengan cepat pintu terbuka. Zean pun masuk ke dalam seraya menutup pintunya kembali.
"Ada apa Tuan memanggil saya?" tanya Zean berdiri di depan meja kerja Deo.
"Ada Tuan. Akan tetapi masih saya periksa." Zean berkata dengan lugas.
"Memang kapan deadline-nya?" Deo menelisik tajam ke arah Zean. Suasana hatinya benar-benar sedang tidak bagus.
"Seharusnya seminggu yang lalu. Mengingat asisten ketua direksi pemasaran sedang cuti melahirkan, jadi berkas laporan yang seharusnya tepat waktu malah jadi delay," jelas Zean.
Deo mengangkat kedua alisnya sambil menarik napas panjang.
"Baiklah, kamu periksa saja. Kalau sudah selesai taruh di meja saya. Besok saya akan datang lebih pagi untuk menandatanganinya," kata Deo dengan raut wajah serius.
"Memangnya Tuan akan pulang pukul berapa?" tanya Zean memastikan. Mungkin saja pekerjaannya itu bisa selesai sebelum Deo pulang, pikirnya demikian.
"Sekarang. Karena banyak hal pribadi yang harus saya urus hari ini," jawab Deo seraya berdiri dari kurso kebesarannya.
"Oh begitu." Zean tersenyum simpul.
__ADS_1
"Ya sudah. Jika ada pekerjaan yang penting segera hubungi saya ... " Deo yang tadinya hendak melangkahkan kaki seketika teringat sesuatu hal dan berbalik menghadap Zean kembali. "Oh iya, saya minta tolong. Selama sepekan kedepan, tolong pantau pergerakan saham kita. Aku hanya takut, hal pribadi saya saat ini bisa mempengaruhi grafik yang sudah bagus di titik sekarang," lanjutnya.
"Baik Tuan." Zean menunduk hormat.
Deo pun keluar dari ruang kerjanya, kemudian Zean pun mengikuti.
Hal pertama yang harus Deo lakukan sebelum pengajuan yaitu berbicara baik pada kedua orang tua Leika maupun kedua orang tuanya.
...----------------...
Ketika tiba di kediaman kedua orang tua Deo, kebetulan Fabios sedang berada di rumah. Entah sejak kapan Daddy-nya pulang, atau mungkin tertinggal sesuatu yang mengharuskannya pulang terlebih dahulu.
"Daddy, harusnya dari awal melarang Deo menikah dengan Leika. Sekarang, lihat Deo. Leika mengadu sama Mommy kalau dia merasa di duakan."
Saat itu yang Deo lihat Fabios hanya terdiam sambil bersilang dada dan sesekali menggaruk dagunya yang tidak gatal. Tidak ingin melihat perdebatan kedua orang tuanya berlanjut lebih lama, Deo masuk ke dalam ruang kerja Fabios.
"Mom. Tidak seperti itu. Aku yakin Leika melebihkan kenyataan yang ada," sergah Deo membuat Fabios dan Dovi seketika menoleh ke arahnya secara bersamaan.
"Ehem." Deo melonggarkan tenggorokannya sebelum akhirnya angkat bicara. "Jadi begini Mom yang sebenarnya ... " Deo menceritakan sedetail mungkin supaya Dovi tidak salah paham dengan kenyataan yang ada. Sekaligus pria itu pun bercerita tentang kepergian Hyuna dari rumah itu.
Dovi sangat terkejut. Satu sisi ia merasa kecewa dengan Leika. Namun di sisi lain, ia merasa kasihan dengan Hyuna.
"Mommy tidak bisa berkata apa-apa. Semua keputusan ada di tanganmu. Pilihlah yang terbaik. Jika nanti salah satunya sudah kamu genggam, tunjukkan pada kami kalau kamu memang anak laki-laki yang bisa kami banggakan!" tegas Dovi. Meskipun impiannya memiliki seorang menantu dari keluarga yang juga terpandang harus pupus. Namun mau bagaimana lagi, takdir membuat kenyataan yang tak sesuai dengan impiannya.
"Benar apa yang mommy-mu bilang. Sedari awal Daddy sudah mewanti-wanti padamu. Sekarang kami menyerahkan sepenuhnya padamu, Deo. Jadilah pria yang tegas, meski Leika sudah kamu kenal sangat lama. Yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan di masa depanmu. Kamu harus menemukan orang yang tepat di usamu yang sudah mapan ini," sanggah Fabios yang sudah pasrah.
"Terima kasih banyak. Mom, Dad." Deo tersenyum pada kedua orang tuanya. "Setelah ini aku akan menghubungi kedua orang tua Leika untuk menyampaikan pembatalan pernikahanku dengannya. Semoga semua berjalan sesuai harapanku," lanjut Deo yang penuh harap.
"Aamiin," balas Fabios dan Dovi bersamaan.
Deo pun keluar dari ruang kerja Fabios. Ia menuju kamarnya. Di sana ia menceritakan banyak kepada kedua orang tua Leika. Meski mereka sangat marah awalnya terharap Deo, bahkan sampai menilai Deo sebagai suami yang tidak bisa mengurus istrinya.
Akan tetapi, semua caci maki itu Deo telan begitu saja. Pahit? Memang. Namun pada akhirnya kata maaf dari kedua belah pihak pun terucap dengan lapang dada. Deo bernapas lega.
Dirasa semua restu sudah ia pegang, Deo menghubungi pengacaranya bernama Jeremy Wendy. Pria itu mengutarakan niatnya, lalu Jeremy pun bersedia membantu.
Deo menjadwalkan setelah makan siang nanti akan memberikan berkas yang dibutuhkan kepada Jeremy dan bertemu di sebuah restauran yang tidak jauh dari kediaman orang tuanya.
__ADS_1
Bersambung ....