Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Bab 25. Hyuna ?


__ADS_3

Siang hari di perusahaan terbesar di kota Hamburg saat itu telah memasuki waktu makan siang. Para pegawai pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang terasa lapar. Tak hanya itu, kantin yang sebegitu luasnya pun dipadati ratusan pegawai dan juga beberapa tamu yang sedang berkunjung ke perusahaan tersebut.


Namun di sisi lain, orang yang memimpin perusahaan tersebut masih fokus menatap layar laptop yang ada di hadapannya. Matanya begitu jeli menelisik barisan tabel dengan angka berjumlah nominal uangnyang tentunya tidak sedikit.


Dia adalah Deo. Pria yang menghabiskan kurang lebih dua minggu itu menyibukkan diri di kantor. Bahkan dia sampai menginap dan besoknya tidak masuk bekerja untuk beristirahat.


Kenapa Deo menjadi seperti itu? Ada apa dengannya? Tentunya pria itu yang biasanya selalu bekerja santai, mendadak jadi gila kerja.


Di depan lobby kantornya, seorang wanita baru saja turun dari mobil taxi. Dia mengenakan kimono dress berwarna hitam motif polkadot, dengan bagian tangan model butterfly berbahan crinkle airflow yang 'jatuh' serta memiliki panjang hingga semata kaki. Tak lupa heels setinggi lima centimeter yang terpasang dikakinya dan juga flap bag di tangannya. Tak hanya itu, rambutnya pun dibiarkan tergerai sebatas bahu. Dia terlihat sangat cantik, anggun dan juga berkelas.


Wanita itu berjalan memasuki lobby dengan langkah kaki tanpa ada keragu-raguan. Para pegawai yang sesang berlalu lalang di sana pun terpesona akan kecantikannya.


"Selamat siang," sapa wanita itu dengan ramah ketika sudah berada di depan meja resepsionis.


"Siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang resepsionis wanita yang kebetulan hanya sendirian di sana.


"Bisakah saya menemui Tuan Deo Ainsley?" Dia berhasil membuat resepsionis itu terkejut. Pasalnya, peraturan di kantor setiap ada tamu yang datang ingin menemui Deo pasti selalu lewat Zean. Tidak sembarang orang yang bisa menemuinya. Terlebih Zean lah yang biasanya sering menunggu di lobby untuk menyambut tamunya Deo.


"Maaf, apa Nona sudah ada janji terlebih dahulu dengan sekertaris Zean?" tanya resepsionis itu lagi.


Namun wanita itu justru mengerutkan alisnya, dia merasa tidak paham. "Sekertaris Zean itu siapa?"


"Bisa dibilang asisten pribadinya pemilik perusahaan ini," jawab resepsionis itu.


"Oh begitu. Atau tidak kamu bilang saja pada sekertaris Zean kalau aku ingin menemui Tuan Deo," seloroh wanita itu sambil tersenyum sumringah menampakkan barisan giginya yang putih dan rapih.


"Baiklah, akan saya coba dahulu ya. Kalau boleh tahu nama Nona siapa?" Sebelah tangan resepsionis itu mulai memegang gagang telepon.


"Bilang saja dari Indira," jawab wanita itu dengan cepat. Resepsionis pun mulai melakukan panggilan telepon.

__ADS_1


...----------------...


Zean saat itu sedang berdiri sambil membereskan berkas, tiba-tiba telepon yang ada di atas mejanya berbunyi. Dengan segera ia pun menjawabnya. "Ya, hallo?"


"Sekertaris Zean, ini dari bagian resepsionis. Di sini ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Presdir."


"Wanita? Siapa namanya?" Zean menggaruk ujung alisnya yang tidak gatal. Seingatnya hari itu tidak ada meeting atau janji temu dengan siapapun.


"Indira."


"Um ... " Zean tidak bisa memutuskannya langsung. Sebab berkas yang ada padanya saat itu sudah ditunggu oleh Deo di ruang kerjanya. "Gini aja, bilang sama wanita itu tunggu lima menit lagi. Nanti saya akan kasih jawaban bisa atau tidaknya. Karena sekarang sudah ditunggu oleh Presdir di ruangannya," lanjut pria itu merasa terdesak.


"Baik Sekertaris Zean."


Akhirnya Zean menaruh kembali gagang telepon tersebut. Setelah itu membawa tumpukan berkas yang telah tersusun rapih ke ruangan Deo.


"Permisi, Tuan ... " Zean kemudian berjalan menghampiri meja kerja pria itu. "Ini berkas yang Anda minta sudah selesai saya cek ulang," katanya seraya menaruh berkas tersebut ke atas meja.


"Terima kasih," ucap Deo dengan sikap dinginnya.


Zean pun tidak langsung keluar ruangan. Ia ingat akan pesan yang disampaikan oleh resepsionis tadi. "Tuan ... Di lobby ada seorang wanita. Kata resepsionis namanya Indira, dan wanita itu ingin bertemu dengan Anda. Dia juga belum ada janji temu dengan saya sebelumnya. Apa mungkin Anda mengenalnya?" Pertanyaan Zean mampu membuat Deo berbalik badan. Raut wajahnya pun tampak serius.


Mendengar nama Indira, terbesit suatu hal dalam benak Deo. "Apa itu Hyuna? Bukankah dia belum bisa berjalan? Lantas kenapa bisa ada di kantorku?" batinnya pun bertanya-tanya.


"Kamu kembali saja ke meja kerjamu. Biar aku yang menemuni wanita itu dibawah," jawab Deo, lalu mengeluarkan kedua tangannya dari dalam saku celana dan meninggalkan Zean yang seketkka menunduk saat ia pergi begitu saja.


"Setahuku, di keluarga Ainsley tidak ada yang mananya Indira. Lantas siapa wanita itu?" gumam Zean sebelum akhirnya keluar dari ruangan tersebut.


...----------------...

__ADS_1


Deo tidak sabar ingin melihat siapa wanita yang tiba-tiba mendatangi kantornya itu. Perasaannya semakin kuat ketika lift yang ia naiki sudah berada di lantai bawah. Ia pun keluar dari lift dengan raut wajahnya yang datar.


Saat itu, wanita yang ingin bertemu dengannya sedang menghadap kebelakang dari arah datangnya Deo. Resepsionis itu tersentak kaget ketika melihat kehadirannya di sana.


"Siang, Tuan Deo." Resepsionis itu menunduk hormat.


Napas wanita itu seketika tertahan, detak jantungnya pun seolah berhenti untuk beberapa saat ketika mendengar nama Deo. Terlebih pria yang tidak mengunjunginya selama dua minggu terakhir itu, terasa sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Mana orang yang ingin bertemu dengan saya?" tanya Deo dengan suara baritonenya. Suara yang sejak lama wanita itu rindukan. Bahkan helaan napasnya sekalipun.


"Ini Tuan orangnya," jawab resepsionis itu dengan suara yang bergetar, terdengar gugup sekali.


Wanita itu menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Dia mulai berbalik badan.


Senyum tulus, mata berbinar serta rasa hormat wanita itu tunjukkan di depan Deo. Pria yang seharusnya menyambutnya dengan hangat dan penuh kasih sayang acap kali bertemu.


Deo terlonjak kaget, ia berusaha menggerakkan bibirnya yang kaku. Suaranya tertahan karena lidahnya terasa kelu, serta gesture tubuhnya pun jelas terlihat canggung.


Kehadiran wanita yang selama ini tak pernah ia anggap ada. Berdiri tegak dengan kedua kaki yang telah pulih, dihadapannya. Ditambah balutan dress yang dipakai oleh wanita itu. Sungguh cantik!


Namun sorot mata wanita itu tetap menunjukkan rasa bahagianya. Akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan pria yang mungkin masih menganggapnya tidak ada saat itu. Pria yang ia rasa sudah bahagia dengan pasangannya. Padahal, dia juga masih pasangannya.


"Hyuna .... "


Bersambung ....


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2