
"Leika, siapa pria yang merenggut mahkotamu? Kenapa tidak ada darah yang keluar setelah kita berhubungan suami istri?" tanya Deo seraya memicingkan matanya dengan sorot tajam, bak ribuan jarum menghantam Leika dalam hitungan detik.
Wanita itu keluar dari kamar mandi dan berdiri di depan pintunya. "Anu ... Itu .... " Lidahnya seketika kelu. Leika mendadak sangat gugup. Bahkan dia tidak berani menatap wajah suaminya sendiri.
"Siapa Leika ? Jujur saja!" tanya Deo lagi. Suaranya semakin meninggi.
Leika memejamkan matanya sambil merumat kaitan handuk di dadanya. Dia sangat takut, benar-benar takut.
"Um ... Aku minta maaf," katanya dengan suara bergetar. "Waktu itu aku khilaf. Aku tidak dapat menolak, karena keadaan yang terus mendesakku," jawab Leika secepat mungkin, dalam satu tarikan napas lalu diam kembali.
Deo bangkit dari duduknya. Pria itu kemudian berjalan menghampiri Leika yang sedang menundukkan wajahnya.
"Aku minta maaf .... " ucap Leika lagi dengan suara yang masih bergetar, saking merasa takutnya. Berharap Deo akan menerima permintaan maafnya.
Sampai langkah pria itu berhenti tepat di depannya, tubuhnya ikut bergetar. "Khilaf dengan siapa?" Deo bertanya lagi karena penasaran. Suaranya berusaha dia normalkan kembali.
"Nando, pemilik production house tempatku bernaung saat ini," lirih Leika sambil memejamkan kedua matanya.
Sedangkan Deo langsung berkacak pinggang lalu mengusap wajahnya dan menghempaskan napas kasar. "Astaga, Leika. Sembilan tahun loh kita sama-sama, apa kamu tidak ingat perjuanganmu sendiri untuk masuk ke dalam keluarga Ainsley? Sekarang malah kamu kotori begitu saja. Dimana akal sehatmu?" Dada Deo semakin kembang kempis, wajahnya memerah. Pria itu sebisa mungkin berusaha mengontrol emosinya.
"Iya, aku tahu, aku salah. Maafin aku .... " Leika memohon dengan mata yang berkaca-kaca memberanikan diri menatap Deo saat itu.
"Kapan kamu melakukan itu? Atas dasar apa? Cinta? Nafsu?" cecar Deo. Rasa cemburu sekaligus marah terus bergemuruh di dalam hatinya. Akan tetapi Leika masih beruntung, karena saat itu Deo tetap memakai akal sehatnya.
"Se-seminggu yang la-lalu," jawab Leika terbata. Sementara Deo langsung berbalik badan, enggan menatap wanita yang baru saja beberapa jam yang lalu menjadi istrinya. "Aku dan Nando melakukan itu karena dia terus mendesakku untuk menerima lamarannya. Karena aku menolak dia memaksaku dan akhirnya hal itu terjadi," pungkasnya.
"Dimana kamu melakukan itu?" tanya Deo bersikap dingin dan dalam masih keadaan memunggungi Leika. Pria itu meresapi denyutan nyeri yang menghujam jantungnya.
"Di ... Prancis, hari terakhir aku ada di sana," jawab wanita itu sambil berderai air mata.
Dia menangis? Pantaskah itu? Jelas Deo sudah terlanjur sakit hati menerima kenyataan yang ada. Atau mungkin, Tuhan sedang memberi pria itu hukuman atas rasa sakit yang diderita oleh Hyuna saat itu?
__ADS_1
Suara isakan tangis yang didengar oleh Deo sangat membuatnya risih. "Sudah. Aku paling benci mendengar ataupun melihat wanita mengis."
Pria itu kemudian berbalik badan lalu masuk ke kamar mandi. Namun saat hendak menutup pintu, Leika dengan cepat menahannya.
"Beib, aku mohon. Maafin aku!" ucapnya sambil terus berderai air mata.
"Beri aku waktu untuk menerima. Lebih baik segera pakai bajumu!" pinta Deo lalu mendorong kuat hingga pintu pun mampu tertutup dengan sempurna.
Leika menghempaskan napas kasar setelah itu menggeram karena merasa kesal atas kebodohannya sendiri. Karena takut Deo semakin marah, akhirnya dia pun memakai bajunya kembali.
...----------------...
Sementara itu, Hyuna baru saja selesai mengenakan pakaian karena habis mandi. Kedua kakinya pelan-pelan sudah bisa berjalan meskipun belum lancar seperti orang normal pada umumnya.
Kegigihannya untuk sembuh patut diacungkan jempol. Terlebih dia begitu sangat percaya pada hati kecilnya, bahwa Deo juga akan mencintainya suatu hari nanti.
Sore itu, Hyuna berjalan ke luar kamar menuju balkon rumah. Namun ketika baru saja hendak membuka pintu kaca yang mengarah ke balkon, Bora datang menghampirinya.
"Kamu sedang apa, Hyuna?"
"Kenapa kita tidak sekalian saja berjalan-jalan ke luar? Tidak jauh dari sini ada mall yang baru saja diresmikan," usul Bora dengan manik mata berbinar-binar. Begitupun dengan Hyuna.
Mendengar usulan dari Bora, hatinya sangat bahagia. Senyum pun tak luput dari wajahnya.
"Benarkah?" tukas Hyuna memastikan. Akan tetapi sesaat kemudian wajahnya tiba-tiba murung.
Bora mengerutkan keningnya, merasa heran. "Kenapa? Apa kamu tidak suka berkunjung ke mall?" tanyanya dengan penuh empati dan tangannya sambil memegang lengan Hyuna.
"Bukan ... Bukan seperti itu." Hyuna mendesah pelan. "Aku tidak punya uang untuk pergi ke sana. Suster tahu sendiri bukan? Selama ini pengobatanku saja Deo yang membayarnya. Aku tidak ingin membuatnya merasa kalau aku memanfaatkannya," pungkasnya.
"Hyuna ... " Bora mengeluarkan sebuah kartu dari saku bajunya. "Ini ambillah," katanya menyodorkan kartu tersebut.
__ADS_1
Hyuna terperangah sekaligus bingung. "Ada apa dengan kartu ini? Kenapa kamu memberikannya padaku?" cecarnya kemudian, tapi belum mengambil kartu itu dari tangan Bora.
Perawat itu tersenyum lalu menarik pelan tangan Hyuna dengan posisi telapak tangan di atas kemudian menaruh kartu tersebut ke atasnya. "Sebenarnya kartu ini milikmu." Bora mengepalkan tangan Hyuna untuk menahan tangannya.
"Siapa yang memberikannya?" tanya Hyuna masih belum mengerti.
"Tuan Deo. Dia sengaja menitipkan kartu ini padaku, tapi tidak secara langsung. Melainkan melalui sebuah jasa ekspedisi yang dikirim langsung dari pihak bank." Bora menarik napas dalam, sedangkan Hyuna menatapnya tidak percaya.
"Aku ragu Sus menggunakannya," kata Hyuna murung lagi.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tetapi saranku, lebih baik kartu itu kamu pegang saja. Mungkin suatu hari kamu butuh. Kalau tidak salah, isi kartu itu tidak terbatas pemakaiannya," ujar Bora. Perawat itu menghargai keputusan yang diambil oleh Hyuna.
"Ya sudah kalau begitu. Um ... Sus," balas Hyuna.
"Hmm, ada apa?" tanya Bora sedikit memiringkan wajahnya.
"Bagaimana kalau Suster menemaniku mengobrol di balkon? Entah kenapa aku sedang butuh teman untuk berbicara. Mungkin saja perasaanku menjadi lebih baik," pinta Hyuna dengan sorot teduh. Bora seketika merasa tidak tega melihat wanita itu dirundung rasa sedih karena pria yang berstatus sebagai suaminya itu telah menikah lagi.
"Dengan senang hati, aku akan berusaha menjadi pendengar yang baik untukmu." Mereka akhirnya pergi ke balkon bersamaan.
Sebelum memulai perbincangan, Bora membuatkan dua cangkir teh terlebih dahulu. Lalu membawakannya ke balkon berikut dengan camilannya.
"Sus, kalau kita mencintai seseorang. Apa boleh kita bertahan untuk orang itu dan berharap suatu hari nanti orang yang kita cintai juga mencintai kita?" Hyuna membuka percakapan. Sebelum menjawab, Bora telah menyadarinya. Kalau ternyata perasaan Hyuna pada Deo sungguh benar adanya.
"Siapa sih yang bisa menyalahkan hati? Meskipun hanya sebuah perasaan yang tidak berwujud seperti apa. Setidaknya dari rasa itulah kita bisa melihat dan juga berpikir, kalau apa yang kita rasa sukai pasti akan dipandang indah. Begitupun termasuk apa yang kita yakini."
Hyuna tersenyum mendengar pemaparan dari Bora.
"Jika dirasa kita masih kuat, bertahanlah. Namun jika dirasa sudah teramat sakit dan menyiksa, silahkan pergi. Karena kita itu wanita, bukan boneka yang tidak memiliki semua itu," jelas Bora dan Hyuna apun mulai paham.
"Jadi ... "
__ADS_1
Bersambung ...