
"Ada apa ya?" tanya Bora setelah membuka pintu dan ternyata sopir yang mengetuk pintu kamar.
"Saya hanya ingin mengantarkan ini," jawab sopir itu seraya memberikan sebuah paperbag pada Bora.
"Ini apa?" tanya Bora menerimanya yang ternyata paperbag itu ditutup rapat dengan perekat.
"Dokumen milik Tuan Deo, katanya harus diserahkan pada Nyonya Hyuna."
"Oh, ya sudah nanti akan aku berikan padanya."
"Baik, kalau begitu saya permisi." Sopir menunduk hormat lalu pergi dari hadapan Bora.
Setelah menutup pintu dan berbalik badan, Bora terkejut ketika melihat Hyuna sudah berada tepat dibelakangnya.
"Astaga, Nyonya."
Hyuna terkekeh pelan. "Kaget ya Sus?"
"Tidak kok, hanya terkejut."
Keduanya pun tergelak tawa.
"Omong-omong ada apa Sus?" tanya Hyuna. Matanya pun melirik ke arah paparbag yang ada di tangan Bora.
"Oh ini. Tadi sopir yang mengantar kita kesini untuk mengantarkan ini," jawab Bora seraya memberikan paperbag itu kepada Hyuna.
"Ini apa Sus?" tanya Hyuna lagi, lalu menatap Bora.
"Kata sopir tadi itu dokumen milik Tuan Deo. Terus Tuan Deo bilang Nyonya suruh menyimpannya." Bora berpindah posisi kebelakang Hyuna lalu memutar kursi rodanya dan mendekat kembali ke tempat tidur.
"Dokumen apa ya? Kok diserahin ke aku?" Hyuna bertanya-tanya dalam hatinya.
"Apa Nyonya mau pindah ke atas kasur? Mungkin saja berlama-lama di atas kursi roda membuat pinggang Nyonya terasa pegal," tawar Bora. Wanita itu tahu kalau yang tidak terbiasa berada di atas kursi roda, akan merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Oh iya Sus. Tolong bantu aku ya," kata Hyuna mengiyakan. Secara ini adalah pertama kalinya dia duduk di kursi roda.
Saat sudah berada di atas kasur, diselimuti sebagian tubuhnya dan juga sudah berada di posisi paling nyaman, Hyuna bernapas lega serta merasa nyaman.
"Ini dokumennya Nyonya, mungkin ingin dibuka." Bora menaruh paperbag itu tepat di samping Hyuna. "Oh iya, ada yang bisa aku bantu lagi Nyonya? Sebelum aku turun ke bawah untuk menyiapkan makan siang," tawarnya kembali.
"Tidak Sus, terima kasih. Sepertinya aku ingin istirahat. Kasurnya nyaman sekali," jawab Hyuna seraya tersenyum simpul.
"Baiklah, kalau begitu aku tinggal dulu ya." Bora mengelus lembut lengan Hyuna. "Selamat beristirahat. Nanti kalau makan siang sudah siap, tidak masalah kan jika aku membangunkanmu?" tanyanya kemudian.
Hyuna mengangguk. "Iya tak apa kok Sus."
Bora akhirnya pergi dari kamar itu. Setelah kepergiannya, Hyuna membuka paperbag yang sejak tadi masih berada di sampingnya.
Wanitaa itu membukanya dengan hati-hati. Bisa saja itu merupakan dokumen penting, pikirnya demikian.
Namun kedua matanya terbelalak ketika melihat isi yang ada di dalam paperbag tersebut. Memang benar dokumen penting, yaitu akta pernikahan dan juga setifikat resmi dari lembaga terkait mengenai pernikahan yang sah di mata hukum negara itu.
"Kenapa bukan Deo sendiri yang menyimpannya? Apa Deo sengaja menitipkannya padaku?" gumamnya, bertanya-tanya.
Lambat laun justru dirinya semakin menimbang-nimbang akan dibawa kemana pernikahannya itu. Walaupun pada akhirnya, Deo menyuruh sopirnya untuk menyerahkan dokumen tersebut pada Hyuna.
Wanita itu pun tertidur setelah memasukkan kembali dokumen ke dalam paperbag dan menaruhnya di atas nakas, samping tempat tidur.
...----------------...
Sementara itu, jauh di negara tetangga. Tepatnya di kota Brimingham, yang terletak di West Midlens, negara Inggris. Dimana, disanalah tempat kedua orang tua Hyuna tinggal.
Boy Albian dan Nestya Chaire, mereka tinggal di sebuah rumah bergaya Art Deco. Dimana jenis bangunan tipe itu begitu terkenal diantara tahun 1925 dan 1939.
Rumah yang dimiliki oleh kedua orang tua Hyuna itu, identik dengan modernitas, inovasi, harmoni dan penuh keserhanaan. Namun sebuah ketenangan yang sejatinya ada, mendadak hilang sejak enam bulan yang lalu.
Terutama Nestya, wanita paruh baya itu begitu terpukul ketika mendengar suara teriakan Hyuna dan berujung hilangnya komunikasi dengan anak bungsunya hingga berlangsung sangat lama. Bayangkan saja, sehari tanpa mendengar suara sang anak rasanya seperti kehilangan separuh jiwa.
__ADS_1
Apalagi sampai berbulan-bulan lamanya. Sebab Nestya merupakan tipikal seorang ibu yang setiap hari, tiga kali menghubungi Hyuna per harinya.
Tidak ada kata bosan untuk ibu beranak dua itu untuk mengetahui kabar anak-anaknya setiap hari. Namun berbeda dengsn Herya Fhier, mungkin karena sudah berkeluarga jadi tidak sesering kepada Hyuna.
Selama enam bulan pula, Nestya jadi sering tertegun memikirkan keberadaan Hyuna. Contohnya seperti di siang itu.
Dia duduk di atas kursi santai di balkon kamarnya, kedua kaki ditekuk serta kedua tangannya memeluk kakinya tersebut. Tatapannya kosong.
Sampai saat tengah terhanyut dalam lamunannya, Boy datang menepuk bahu Nestya. Tentunya hal itu membuat sang empunya terkejut lalu seketika melepaskan kedua tangan yang menaut, memeluk kedua kakinya.
"Sayang!" ucap Nestya lalu berdecak karena merasa tidak terima.
Boy terkekeh lalu duduk bersebelahan dengan Nestya dengan posisi saling berhadapan. Kedua tangannya meraih tangan sang istri lalu menggenggamnya. "Sayang, sudah ... jangan terlalu dipikirkan ya. Lihat tuh kerutan di wajahmu sudah banyak dan tampak lebih tua dari usiamu. Aku masih terus mencari keberadaan Hyuna dengan bantuan teman-temanku di Jerman."
"Sayang, kenapa sih kita tidak cari sendiri saja ke Jerman? Lagi pula tidak sampai seharian jika ke sana naik pesawat," keluh Nestya yang merasa kesal karena sang suami tak kunjung libur dari pekerjaannya.
"Kamu 'kan tahu, aku bukan dari kekuarga pewaris. Kita tinggal berkecukupan di sini saja sudah aman. Keuangan kita stabil, tetangga kita baik-baik, kedua orang tua kita juga dekat dan anak sulung kita juga tinggal tidak jauh dari sini. Sekarang, aku hanya mengandalkan bantuan dari teman-teman saja untuk mencari Hyuna." Boy menghela napas. Pria itu juga sebenarnya sangat merindukan anaknya. "Ya ... mungkin, kalau nanti memang aku benar-benar memiliki waktu libur panjang. Kita akan ke sana mencari keberadaan Hyuna," lanjutnya. Berharap sang istri bisa memahami dan lebih bersabar lagi.
Nestya masih cemberut. Hati kecilnya sudah meronta-ronta ingin segera bertemu dengan sang anak. "Selalu seperti itu! Buktinya, enam bulan Pa. Tidak ada waktu libur panjang." Nestya menghempaskan napasnya kasar. "Kalau begini biar aku sendiri saja yang akan pergi ke Jerman untuk mencari Hyuna!" Egonya bersikukuh. Mungkin sabarnya selama ini sudah tidak tertahankan lagi.
Nestya memberontak supaya Boy bisa melepaskan genggamannya. Namun ternyata Boy malah semakin mengeratkannya.
"Sayang ... Hei!" Suara Boy sengaja ditinggikan. Sebab pria itu sangat mengenal sang istri jika sudah bersikap seperti ini. Nestya akan nekad. "Jangan seperti ini. Kamu kira hanya kamu yang merasa kehilangan Hyuna!" Boy menghembuskan napas pelan, lalu berkata lagi. "Aku juga sama," ucapnya dengan suara yang lembut kembali.
Sesaat kemudian, keduanya saling diam. Padangan mata mereka pun saling bertatap dan terkunci.
"Aku janji, begitu dapat libur panjang ... Kita akan pergi ke Jerman bersama," pungkas Boy lalu membawa Nestya ke dalam pelukannya.
Semilir hembusan angin di siang itu, seakan membantu mengantarkan kerinduan mereka ke tempat Hyuna berada.
Bersambung ...
...****************...
__ADS_1