
Hari itu mata kuliah berakhir lebih cepat karena dosen yang akan mengajar pada jam berikutnya mendadak ada urusan penting. Kebetulan Hyuna juga harus menyelesaikan tugas rangkuman selama study banding kemarin dan harus di serahkan besok pagi pada ketua rektorat kampus.
Wanita cantik itu berjalan keluar dari ruang kelasnya menuju halaman khusus parkir motor. Namun ketika dipersimpangan jalan, Hyuna berpapasan dengan Mona yang sedang jalan sendirian juga.
"Hai Mona," sapa Hyuna seraya tersenyum.
"Eh, hai Hyuna. Kamu sendirian saja?" tanya Mona lalu keduanya saling berjabat tangan.
"Iya nih, mau pulang juga. Kamu sendiri mau kemana?" Hyuna pun bertanya balik.
Mona mengusap tengkuk lehernya. "Ke ruangan pak Andrew."
"Oh ... ya sudah. Kalau gitu aku duluan ya," kata Hyuna berpamitan kemudian pergi dari hadapan Mona.
"Oke bye. Hati-hati dijalan ya." Mona melambaikan tangan. Wanita itu tersenyum bahagia karena memiliki teman baik seperti Hyuna. Terlebih Hyuna sendiri memang tipe orang yang tidak mau tahu tentang urusan orang, selama tidak merepotkan dirinya. Ya, dia tidak akan peduli. Sebab setiap orang pasti punya urusan dan privasinya masing-masing.
Sementara itu di halaman parkir, Hyuna baru saja memakai helm-nya. Ia mulai memundurkan motor supaya bisa keluar dari barisan motor lainnya. Setelah itu ia pun melajukannya.
...----------------...
Tidak sampai setengah jam, Hyuna akhirnya tiba di rumah.
"Aku pulang ... " ucapnya ketika masuk kedalam rumah.
Kedatangannya di sambut oleh Nestya yang sedang bersantai di ruang keluarga.
"Hai ... Anak cantik Mama sudah pulang." Nestya kemudian melihat ke arah jam dinding. Seketika ia mengerutkan kedua alisnya, menatap heran. "Tumben sekali sudah sampai jam segini? Kamu tidak lagi bolos 'kan Hyuna?" tanya wanita paruh baya itu sambil memberi tatapan menyelidik.
"Apa sih Ma? Mana mungkin juga aku bolos. Mama ngadi-ngadi deh!" elak Hyuna merasa tidak terima.
"Ya, kan Mama khawatir ... Takutnya kamu lagi bosan eh malah bolos," timpal Nestya.
"Mama tenang saja, aku anak baik kok. Tidak mungkin juga aku melakukan hal itu." Hyuna berdecak sambil berjalan menuju kamarnya.
"Hyuna jangan kelamaan di kamar. Kamu harus makam siang, setelah itu Mama mau mengajakmu ke suatu tempat," kata Nestya sengaja mengeraskan suaranya. Walau pada akhirnya Hyuna hanya menjawab dengan satu kata dari ambang pintu kamar, yaitu 'oke!'.
Beberapa menit kemudian, Hyuna keluar dari kamarnya. Wanita cantik itu hanya mengenakan pakaian rumahan berupa kaos oblong berwarna putih yang membentuk lekuk tubuh serta celana pendek menyerupai rok mini berwarma merah jambu.
__ADS_1
Nestya sudah berada di ruang makan sedang menyiapkan makan siang untuk mereka berdua, sebab Boy masih ada di kantor.
"Ma," sapa Hyuna seraya menarik salah satu kursi lalu duduk. Semua hidangan yang tersedia di atas meja sungguh membuat selera makannya semakin meningkat.
Setelah tiga hari berada di rumah, Hyuna lebih sering pulang tepat waktu dan menghabiskan waktu mengerjakan rangkuman sampai pukul sebelas malam. Menjadi anak yang berprestasi sangat bangga pada diri sendiri, apalagi yang tidak memiliki prestasi. Apa akan sesibuk yang Hyuna lakukan?
Tentu saja tergantung cara bicara, bersikap serta meluluhkan hati dosen. Namun sayangnya dosen yang mengajar di kelas Hyuna tidak kalah killer nya dari dosen killer macam Andrew.
"Yuk makan dulu! Kamu mau apa?" kata Nestya seraya menarik kursi di sebelah Hyuna.
"Semuanya Ma. Masakan Mama tidak pernah gagal deh!" seru Hyuna dengan semangat dan antusias.
"Oke deh." Nestya sangat bahagia. Ia pun menaruh semua hidangan ke dalam piring Hyuna dengan porsi masing-masing secukupnya. Setelah itu keduanya menyantap makan siang bersama.
...----------------...
Ketika sedang asik menonton televisi, Nestya tiba-tiba teringat sesuatu.
"Hyuna, ikut Mama yuk ke kebun belakang rumah."
"Sudah ikut saja. Yuk!" Nestya menarik tangan anak bungsunya itu supaya segera beranjak dari tempat duduknya. Mau tidak mau, Hyuna pun mengikuti Mama-nya.
Saat pintu terbuka lebar, Hyuna begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya itu. Deretan tanaman hidroponik dengan berbagai macam hasil yang sudah siap panen sangat memanjakan matanya.
"Ma, kalau begini cuci matanya, aku bisa betah berlama-lama di halaman belakang!" seru Hyuna terpukau.
"Ya sudah yuk bantu Mama panen." Nestya mendekat ke arah rak yang tersusun wadah berbagai macam ukuran sesuai. "Kamu tinggal pilih saja mau panen yang mana. Ingat ya jangan di campur! Karena Mama sudah menyiapkan wadah dengan nama yang sudah tertera pada masing-masing wadah tersebut," sambungnya lalu mengambil salah satu wadah itu.
"Oke Ma. Siap!" Hyuna ikut mengambil salah satunya terlebih dahulu. Pilihannya tertuju pada tanaman berries. Macam tanaman itu pun beragam. Namun yang ada di sana hanya ada tiga macam saja karena keterbatasan lahan. Kenapa Hyuna memilih itu, selain untuk dipanen, tentunya bisa sambil dimakan langsung.
"Ma ...."
"Hmm, kenapa?"
"Sebenarnya alasan aku ingin segera pulang waktu itu karena Deo."
"Loh kenapa begitu? Kamu ketemu lagi dengannya?" Nestya menghentikan kegiatannya sejenak.
__ADS_1
"Tidak. Lebih tepatnya belum."
"Lalu?"
"Jadi aku punya teman dekat, pria usianya mungkin sudah kepala tiga. Dia itu seorang dokter sekaligus dosen. Beberapa hari sebelum aku pulang, aku sempat makan malam dengannya. Lalu dia bercerita, katanya ada seorang teman yang satu profesi dengan dia sedang membutuhkan bantuannya." Hyuna sambil memakani blueberry langsung dari pohonnya.
"Ternyata temannya itu adalah dokter Gabriel." Wanita itu mengatur napasnya terlebih dahulu karena mulai tersulut emosi. Sedangkan raut wajah nestya sangat serius.
"Jadi dokter Gabriel itu meminta bantuan kepada pria teman baikku itu untuk memyembuhka anak dari seseorang, dan Mama tahu ... Anak itu adaah anak Deo," pungkas Hyuna lalu melanjutkan memetik buahnya lagi.
Sementara Nestya sampai mengembuskan napasnya berkali-kali. "Pantas saja kamu terus mendesak Mama supaya bisa segera memesankan tiket pulang," keluhnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Terus pria yang katanya teman dekat kamu itu bagaimana?" tanya Nestya.
"Kami masih berhubungan baik dan ... Dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Tapi sampai sekarang aku belum menjawabnya," jawab Hyuna.
"Kalau tidak langsung dijawab, lalu kamu mau jawabnya kapan? Memangnya kalaupun di terima, apa hati kamu sudah siap menerima orang baru, melalui masa perkenalan yang mungkin tidak sebentar.
Hyuma menghela napasnya, lalu berkata. "Aku bilang akhir pekan ini, aku akan menjawabnya tepat di ruang tunggu keberangkatan."
"Lantas dia mau menunggu?" tanya Nestya dengan tatapan yang semakin serius.
Hyuna hanya mengangkat kedua bahunya seakan berkata 'tidak tahu'.
"Ya, menurut Mama sih. Kamu kan sudah besar, sudah pernah menikah dan sudah tahu mana yang tulut ataupun tidak. Kalau memang sudah siap, tidak ada salahnya mencoba. Karena jika kita sudah memulai suatu hubungan, maka kita juga harus siap di akhirnya. Entah berpisah ataupun menikah.Sedangkan untuk Deo, kamu harus belajar menghadapi apapun ketika ada dia di sana. Berusahalah untuk bersikap biasa saja."
"Iya Mama benar. Aku masih terus belajar," kata Hyuna dengan sangat yakin.
...----------------...
Tanpa terasa mereka telah selesai memetik buah dan juga sayur.
"Ma, aku mau langsung pergi ke kamar ya!" kata Hyuna meminta izin lalu meletakkan wadahnya ke atas meja.
"Hyuna sebentar!"
Bersambung....
__ADS_1