Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Bab 52. Datang Ke Rumah


__ADS_3

"Hyuna, bagaimana?"


"Apa kamu mau menerimaku kembali?"


"Aku mencintaimu."


Pertanyaan dan pernyataan Deo terus berputar-putar di dalam memori otak Hyuna. Hingga sampai tengah malam, wanita itu masih belum juga memejamkan matanya untuk tidur.


"Kenapa sih disaat aku sudah akan berada di garis finish melupakan semua tentang dia dan mencoba bersikap biasa saja, justru dia malah mendekat kembali menjadi orang yang berbeda?"


"Kamu bisa berubah dalam sekejap menjadi pria yang bersikap manis dan penuh kasih sayang. Sedangkan aku sendiri masih mati rasa dan belum bisa menerima sepenuhnya keberadaanmu di sini."


Hyuna bermonolog sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap ke plafon kamarnya.


Saat berada di taman tadi pagi, Hyuna tidak tahu harus menjawab apa. Ia memilih supaya Deo mengantarkannya kembali ke restauran.


Ia butuh waktu untuk berpikir dan mendalami rasa. Perkataan saja tidak cukup membuatnya yakin.


Meskipun awalnya Deo menolak dan bersikukuh untuk ingin tetap bersama Hyuna seharian di taman itu, tapi Hyuna yang lebih bersikukuh untuk kembali ke restauran. Hal itu tentu saja membuat pria yang masih berstatus suaminya itu mau tak mau mengabulkan permintaannya.


Walau dalam hati Deo merasa sedih, tapi mau bagaimana lagi. Kalau Hyuna terus dipaksa, maka akan semakin jauh harapan untuk hidup bahagia bersamanya.


Tidak mudah bagi Hyuna untuk memulai cerita baru masih dalam buku yang sama. Harus membaca ulang kembali dari awal, supaya tahu sepak terjang yang pernah dilaluinya. Entah sakit ataupun bahagia, bisa menjadi pelajaran untuk Hyuna kedepannya.


"Cinta memang terkadang membuat orang bodoh. Tak perduli betapa sakitnya berharap sendirian, namun tidak ada niat untuk menyerah. Dan bodohnya aku sejak awal menaruh hati padanya. Padahal tidak ada sedikitpun tempat untukku di hatinya."


Setelah bertemu dan bicara dengan Deo, Hyuna masih tetap menjadi diri sendiri. Tetap pada pendiriannya, untuk menahan sejenak dan tidak ceroboh dalam mengambil keputusan. Apalagi saat itu keluarganya sedang berada di Prancis.


Semakin lama pikirannya merasa lelah begitu pula dengan tubuhnya. Rasa kantuk pun mulai menghampirinya. Karena hampir seharian, saat ia memilih kembali ke restauran, ia pun lanjut bekerja.


Akan tetapi Deo tidak lagi menunggunya seperti hari kemarin, dan Hyuna tidak menghiraukan hal itu. Saat itu Deo memilih langsung pergi setelah mengantarkan Hyuna ke restauran.


...----------------...


Ketika pagi tiba, Hyuna bangun lebih siang dari biasanya. Bukan disengaja, melainkan memang dia kesiangan.

__ADS_1


Wanita itu sampai terlonjak kaget dan langsung turun dari tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi.


"Haduh kesiangan! Semua gara-gara Deo, menyebalkan!" seru Hyuna mengerutuki pria itu karena merasa kesal sudah dibuat berpikir keras sampai tengah malam.


Beberapa saat kemudian.


"Kalau nanti aku sampai bertemu lagi dengannya awas saja!" ujar Hyuna setelah selesai bersiap. Ia segera keluar dari kamar menuju dapur untuk sarapan sepotong roti dan segelas susu.


Dalam lima menit, sarapannya pun telah habis. Hyuna beranjak dari kursi sambil meraih tasnya kemudian berjalan ke arah ruang tamu.


Namun ketika baru saja memegang handle pintu serta kunci, Hyuna mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.


"Mobil siapa itu?" gumamnya lalu menyingkap horgen dan mengintip dari jendela. Ia masih memperhatikan ke arah mobil itu, menunggu pemiliknya turun.


"Oh My God !" Hyuna berseru sambil menaik napas hingga terdapat bunyi melengking ketika tahu siapa pemilik mobil itu.


"Ngapain sih Deo ke sini!" rutuknya merasa kesal. "Darimana coba dia tahu rumahku? Atau mungkin dari dokter Gabriel?" Hyuna mencoba menerka-nerka.


Ia segera menutup hordennya. Beruntung kaca di rumahnya itu jika dilihat berwarna hitam. Jadi jika dilihat dari luar tidak akan kelihatan.


Hyuna mengintip dari balik dinding pembatas. Awalnya yang ia kira Deo akan mengintai, ternyata pria itu justru tiba-tiba memanggilnya lewat sambungan telepon. Sontak Hyuna pun terlonjak kaget dan kepalanya sampai membentur dinding.


"Aw! Sial. Sakit sekali," keluh Hyuna sambil mengusap bagian yang sakit supaya mereda rasa sakitnya. Ponselnya terus berdering.


"Siapa sih yang telepon? tidak tahu apa orang lagi sembunyi?" Hyuna menggerutu sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


"Ha? Nomor siapa ini?" Hyuna bertanya-tanya, sebab nomor yang memanggilnya itu tidak ia kenali. Ia tidak menyadari kalau Deo yang sedang ada persis di depan jendela rumahnya sedang melakukan panggilan telepon padanya.


Pria itu dapat mendengar suara deringan ponsel di dalam rumah. Karena jarak dari ruang tamu ke dapur tidak terlalu jauh.


Hyuna dengan santainya menjawab panggilan itu. "Hallo?" sapanya tanpa ada rasa takut ataupun curiga.


"Aku tahu kamu di dalam. Cepat keluar ... Kamu bisa terlambat pergi bekerja."


Hyuna membulatkan mata dan mulut bersamaan. Lalu sebelah tangannya dengan cepat menutup mulutnya yang terbuka itu. "Astaga! Deo."

__ADS_1


"Pasti dia tahu semua ini dari dokter Gabriel," katanya dalam hati. Ada rasa sesal di dalam hatinya.


"Hallo? Kamu masih mendengarku?" Deo berkata lagi karena ia merasa tidak ada jawaban dari Hyuna.


Sementara wanita itu berusaha mengatur napasnya dan bersikap biasa saja.


"Iya, aku akan keluar," jawab Hyuna terdengar malas. Ia pun langsung memutuskan sambungan telepon Deo. Ia masukkan kembali ponselnya, lalu berjalan ke luar rumah.


Saat Hyuna baru saja membuka pintu, tepat di depan wajahnya ada sebuah bucket bunga mawar merah yang indah. Tentunya bunga itu masih di pegang oleh Deo.


Hyuna tercekat. Itulah pertama kalinya ia mendapat sebuah rangkaian bunga yang menurutnya sangat indah.


Deo lalu menurunkan bucket bunga tersebut, dan berkata. "Selamat pagi ... Istriku."


Manis! Benar-benar manis. Pipi Hyuna sampai merona dibuatnya. Padahal wanita itu memakai blush on yang sama sekali tidak berlebihan.


"Pagi ... Sejak kapan kamu jadi pria seromantis ini?" tanya Hyuna kemudian.


"Aslinya aku bukan pria yang seperti ini. Aku hanya sedang membujuk istriku ini supaya mau pulang bersamaku ... ke Hamburg."


Hyuna menyipitkan matanya sebelah. Baginya Deo sedang mengeluarkan jurus gombalan mautnya. Namun bukan berarti Hyunya langsung keegeran.


"Kalau membujukku saja kamu memakai 'topeng'. Sekalipun aku mau, aku tahu pasti ... Kamu akan tetap menjadi orang lain, bukan dirimu sendiri," sarkas Hyuna yang masih berdiri di ambang pintu.


"Oke, jadi kamu maunya aku tetap jadi aku?" Dengan sangat sabar Deo bertanya untuk memastikan pada Hyuna.


"Iya benar," balas Hyuna terdengar meyakinkan.


Deo menarik tangan kanan Hyuna, lalu memberikan bucket itu padanya.


"Inilah aku. Pria yang sedang belajar berubah menjadi lebih baik, lebih perduli dan lebih mencintai kamu. Meskipun memang hal semacam ini bukan tipikal aku yang sebenarnya. Tetapi ini inisiatif aku sendiri. Aku mencari tahu. Maka dari itu, apa kamu suka dengan kejutan yang aku beri?" ucap Deo panjang lebar.


Hyuna menghela napas lalu bersilang dada. "Sebelumnya, aku mau tanya deh sama kamu." Raut wajahnya tampak sangat serius. Sedangkan Deo langsung mengerutkan alisnya, merasa heran karena respon Hyuna jauh dari ekspetasinya.


"Mau tanya apa?"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2