
"Sebenarnya, tadi pagi saya dan Tuan Deo telah berdiskusi panjang. Bahkan kami hampir berdebat karena dia bersikukuh ingin kamu cepat pulih. Akhirnya setelah saja jelaskan, dia pun mengerti. Maka dari itu, mungkin dengan kamu menjalankan perawatan di rumah, bisa sering dipantau olehnya daripada di rumah sakit ini," tutur dokter kemudian menghela napas panjang.
"Sering dipantau? Apa dia begitu sibuk ya? Ah, lagipula siapa aku? dia bilang, aku tidak boleh berharap cinta darinya. Mungkin saja setelah aku sembuh, aku bisa terbebas darinya," batin Hyuna menerka lagi.
"Hei! Kenapa kamu melamun?" kata dokter yang seketika membuat Hyuna terkesiap.
"Ah. Tidak Dok. Tidak."
"Oh ... Selama perawatan di rumah nanti, saya juga akan visit seminggu sekali untuk mengetahui perkembanganmu sampai dimana. Semoga saja Tuhan memberimu keajaiban untuk bisa pulih lebih cepat."
"Aamiin."
Kemudian Bora pun masuk ke dalam ruangan membawa sebuah papan berwarna putih yang terdapat lembar pemeriksaan di atasnya. "Mari Dok, kita mulai pemeriksaannya."
Seusai pemeriksaan, dokter Gabriel keluar. Tiba-tiba sorot mata Hyuna tak sengaja menangkap sebuah paper bag yang berada di sudut sofa.
"Sus, itu paper bag punya siapa?" tanya
Akhirnya setelah satu jam lamanya, semua urusan sebelum keluar dari rumah sakit pun telah selesai. Hyuna turun dari tempat tidur dibantu oleh Bora naik ke atas kursi roda. Mereka juga di bantu oleh salah seorang security yang menunggu di depan ruang inap.
Setibanya di depan lobby, pintu mobil langsung dibukakan oleh sopir. Hyuna benar-benar mendapatkan perlakuan istimewa layaknya sebagai Nyonya yang sesungguhnya.
Setidaknya dengan mendapat perlakuan seperti itu, Hyuna tidak terlalu mengambil hati atas ucapan Deo saat pria itu masuk ke dalam ruang rawat inapnya tadi pagi. Mungkin Deo hanya ingin citra dirinya dimata Hyuna merupakan pria yang baik.
Perlahan Hyuna dibantu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang bagian belakang. Wanita itu tidak sendiri, melainkan ditemani oleh Bora yang juga ikut duduk bersebelahan dengannya.
...----------------...
Setelah satu jam lamanya berkendara, mobil pun akhirnya berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua. Rumah tersebut berkonsep minimalis dengan cat berwarna cerah ditambah tanaman yang bertengger rapih di tempatnya.
__ADS_1
"Sus, benar ini rumahnya?" tanya Hyuna sambil mengedarkan pandangannya.
"Kalau alamat yang diberikan oleh Tuan Deo sih benar Nyonya," jawab Bora merasa tidak salah.
Tiba-tiba sopir pun turun dari kursi kemudi. Hyuna menghela napas.
"Oh mungkin memang benar," batin Hyuna.
Sopir tersebut kemudian mengeluarkan kursi roda dari dalam bagasi mobil. Bora pun langsung ikut turun dari mobil.
Dengan sigap, perawat itu membukakan pintu untuk Hyuna. Sementara sopir telah bersiap di samping Bora dengan sebuah kursi roda.
"Hati-hati Nyonya," ucap Bora ketika membantu Hyuna turun dari mobil dan duduk di kursi roda.
"Iya, Sus. Aw!" Hyuna sedikit merintih kesakitan. Otot di bagian pinggangnya mendadak nyeri hampir tak tertahankan.
Namun setelah berhasil duduk di kursi roda, rasa sakit tadi mendadak hilang kembali. Bora tidak panik, karena itu adalah efek dari koma yang cukup lama.
Harapan Hyuna, hidupnya juga akan lebih berwarna di dalam rumah tersebut.
"Bagus ya Sus rumahnya," puji Hyuna merasa kagum.
"Iya Nyonya. Sepertinya Tuan Deo sangat tahu konsep yang cocok untukmu, Nya." Bora pun merasa ada kenyamanan tersendiri dirumah Tuan-nya itu.
"Suster memang tahu tentang Deo? Aku belum berbicara banyak dengannya. Entah, dia seperti enggan berlama-lama berbicara padaku. Tapi, disisi lain dia baik banget sudah memberiku hidup yang layak seperti ini," gumam Hyuna. Dia memang butuh seorang teman untuk mengeluarkan segala penat yang ada dibenaknya. Teman untuk bercerita, beruntung Bora orang yang tepat.
Disudut ruang tamu, ada sebuah lift. Mereka naik ke lantai dua menggunakan lift tersebut.
"Sebenarnya aku juga tidak tahu banyak tentang Tuan Deo. Banyak para perawat di rumah sakit yang bilang, kalau Tuan itu pewaris kerajaaan bisnis terbesar di kota Hamburg ini, bahkan perusahaan cabangnya di Berlin juga sama besarnya. Anehnya, orang selevel kalangan atas seperti dia mau menolong orang lain. Ya seperti Nyonya ini, contohnya," jelas Bora. Mereka pun telah sampai di lantai dua.
__ADS_1
"Lantas, Suster sendiri sering melihat dia di rumah sakit untuk membantu orang juga?" tanya Hyuna yang mulai penasaran. Wanita itu mencoba mengontrol perasaannya untuk tidak terlalu percaya diri, kalau tahu dia bukan orang pertama yang ditolong oleh Deo.
"Aku baru pindah dari klinik dan beruntung bisa dapat bekerja di rumah sakit besar itu beberapa bulan sebelum Nyonya masuk rumah sakit. Jadi sedikit banyak tahu tentang Tuan Deo dari para teman perawat lainnya. Tapi, ada satu temanku yang bilang kalau Tuan Deo sudah dua kali dengan Nyonya ini, menolong orang lain dan membawanya ke rumah sakit itu."
"Apa yang ditolongnya seorang wanita juga?" tanya Hyuna dengan hati-hati.
"Benar, dan waktu itu katanya sih akan melahirkan," jawab Bora seingat apa yang dikatakan temannya itu.
Seketika perasaan Hyuna tidak keruan. Apa jangan-jangan Deo punya istri lain selain dirinya? Apa wanita lain yang disebut olehnya tadi pagi itu istrinya yang melahirkan di rumah sakit yang sama? Pikiran Hyuna terus menerka-nerka.
"Apa dinikahi juga Sus?" Dengan rasa canggung, Hyuna memberanikan diri bertanya demikian. Hati kecilnya merasa takut kalau dirinya merusak kebahagiaan istrinya Deo yang lain.
"Oh, tidak Nyonya. Wanita itu sudah memiliki suami. Katanya sesaat setelah melahirkan suaminya tiba dirumah sakit. Malah suaminya itu memberikan sebuah hampers mewah sebagai tanda terima kasihnya. Denger-denger, suami dari wanita itu seorang arsitektur ternama."Jawaban Bora benar-benar membuat hati Hyuna merasa lega.
"Apa sebenarnya Deo sudah memiliki istri sebelumnya?" tanya Hyuna lagi. Batinnya merasa belum puas karena belum mendapatkan jawaban yang dia cari, terlebih dengan perkataan Deo tadi pagi.
"Setahuku sih tidak ada berita dia menikah dengan seorang wanita deh. Bahkan kekasih pun tidak ada yang tahu. Biasanya kebanyakan para pewaris di kota ini, sering kali mengadakan acara mewah dan sampai masuk ke media televisi. Tapi ku rasa Tuan Deo belum menikah sebelumnya, Um ... Entahlah, aku juga tidak tahu pasti," jawab Bora, jujur.
"Oh jadi seperti itu." Hyuna menhembuskan napas panjang.
Mereka pun masuk ke dalam sebuah kamar. Tentunya kamar itu akan ditempati oleh Hyuna selama tinggal di rumah tersebut.
"Sudah, jangan terlalu banyak memikirkan hal yang dapat memberatkan pikiranmu. Bahagialah ... lihat deh kamar ini, begitu cantik bukan? ... " Bora menghentikan kursi roda yang di dorongnya itu tepat di samping tempat tidur. "Nyonya itu cantik, meskipun mungkin belum ada rasa cinta untuk Nyonya dari Tuan Deo, seiring berjalannya waktu pasti cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya ... Ingat, pernikahan Nyonya dan Tuan Deo itu resmi dimata hukum negara ini. Itu artinya Nyonya berhak apapun yang dimiliki Tuan Deo," pungkasnya.
"Baiklah Sus, terima kasih banyak untuk semuanya," ucap Hyuna seraya tersenyum.
Tiba-tiba saja pintu kamar itu ada yang mengetuk. Kedua wanita yang berada di dalamnya menoleh bersamaan ke arah pintu tersebut.
"Siapa itu Sus?" Hyuna mengerutkan alis.
__ADS_1
"Tidak tahu Nyonya. Biar aku lihat terlebih dahulu."
Bersambung ...