Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Sequel - 2


__ADS_3

Setibanya di asrama, Hyuna beserta Mona dan Evan masuk ke dalam kamar masing-masing. Mereka hanya diberi kesempatan hanya menaruh koper dan barang bawaan mereka saja. Setelah itu, mereka pun disuruh pergi ke kampus untuk mengikuti bimbingan melalui seminar.


"Hyuna, perlengkapan alat tulis dan segala macam ada yang tertinggal tidak?" tanya Mona ketika keduanya hendak keluar dari kamar.


Hyuna memeriksanya kembali. "Tidak ada Mona, sudah cukup. Lagi pula hanya bimbingan saja bukan?"


"Bisa jadi. Tetapi dengar-dengar yang melaksanakan study banding di sini bukan hanya dari kampus kita saja loh," jawab Mona terdengar meyakinkan.


"Serius?" tukas Hyuna sambil mengerutkan alisnya dan Mona pun mengangguk cepat. "Berita darimana itu?" tanyanya kemudian.


"Pak Andrew." Jawaban Mona membuat Hyuna membulatkan matanya.


"Sejak kapan kamu dekat sama dosen killer itu Mona? Kalau tidak salah, pak Andrew itu CEO juga, terus ... kedua orang tuanya itu lulusan master predikat cumlaude pula," jelas Hyuna, kali ini mata Mona yang membulat.


"Sumpah, apa berita tentang dia sudah tersebar seantero kampus?" Mona terperangah karena tidak percaya.


"Entah ... " Hyuna mengangkat kedua bahunya. "Aku juga hanya mendengar kata mereka yang menjadi menggemarnya saja. Asal kamu tahu, setiap hari aku sampai bosan duduk bersebelahan dengan mereka yang terus membicarkan tentang pak Andrew, pak Andrew dan pak Andrew," timpal Hyuna merasa gerah ketika menyebut nama itu.


"Memangnya kamu tidak tertarik padanya?" tanya Mona dengan hati-hati. Sejujurnya ia takut rahasianya akan terbongkar.


"Tidak!" jawab Hyuna dengan tegas. "Aku sedang malas tertarik dengan seorang pria. Fokusku saat ini lulus dengan nilai terbaik plus mendapat predikat cumlaude," pungkasnya.


Mona mengempaskan napas lega. Sampai-sampai, ia harus bersusah payah menelan ludahnya. Tanpa sadar Hyuna memperhatikannya.


"Wajah kamu kenapa? Kok tiba-tiba jadi pucat gitu?" tanya Hyuna sedikit memiringkan wajahnya menatap Mona lebih lekat. Namun wanita yang ditatapnya itu, seketika menjadi salah tingkah.


"Oh, tidak apa-apa. Yuk kita ke gedung seminar, sebentar lagi akan dimulai loh!" ajak Mona, ia mengalihkan pembicaraan. Terlebih ia malah jalan lebih dulu meninggalkan Hyuna yang masih berada di dalam kamar, guna meredam rasa malu bercampur gugup yang melebur jadi satu.


"Mona kok aku ditinggal sih!" seru Hyuna. Ia menghela napas lalu menyusul Mona keluar dari kamar. Tak lupa pintu kamar pun dikunci olehnya.

__ADS_1


"Mona tunggu aku!" panggil Hyuna yang semakin mempercepat langkahnya. Sementara Mona sudah berada jauh di depan. Ia berjalan sangat tergesa-gesa, apalagi ketika mendengar suara notifikasi dari ponselnya.


Hyuna segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana, untuk melihat siapa yang mengirimkannya pesan. Kemudian binder serta bolpoin yang awalnya ia taruh di tangan kanan, dipindahkan ke tangan kiri. Pandangannya fokus melihat ke layar ponsel.


Ternyata sebuah pesan masuk dari dokter Gabriel untuk menanyakan kabar padanya. Keningnya mengernyit, sebab sudah lama sekali pria itu tidak menghubungi dirinya.


Namun ketika Hyuna hendak membalas pesan itu ...


Brak!


Tak sengaja Hyuna menabrak seorang pria yang sedang berjalan sambil memegang secangkir kopi di tangannya. Namun ternyata kopi itu tumpah mengenai kemeja yang dipakai pria tersebut.


Hyuna reflek mengangkat kedua tangannya ke atas sambil memegang binder serta ponsel di kedua tangannya. Lain halnya dengan pria itu, sebuah tatapan tajam langsung menjurus pada Hyuna.


"Aw!" Pria itu menjauhkan cangkir yang berisi kopi panas itu menjauh dari tubuhnya. Ia mengibaskan tangan pada kemejanya yang basah serta kulitnya terasa panas karena terkena tumpahan kopi itu.


"Sebenarnya kamu itu jalan pakai mata tidak sih? Ceroboh sekali!" Suara tinggi pria itu membuat Hyuna memejamkan kedua mata seraya memundurkan wajah.


"Lain kali kalau jalan itu pakai mata!" sambung pria itu lalu berdecak kesal dan pandangannya tak lepas dari wajah Hyuna..


"Aku kan sudah minta maaf. Aku benar-benar tidak sengaja," balas Hyuna tidak ingin terus disalahkan.


"Gara-gara kamu kemeja saya jadi basah!" gerutu pria itu, lalu pergi dari hadapan Hyuna. Hingga tanpa sengaja bahu keduanya saling berbenturan.


Hyuna meringis kesakitan, tapi dia hanya diam. Matanya tak lepas menatap pria itu dengan seksama dengan raut wajah polosnya.


"Kalau dilihat-lihat pria ini tampan juga. Meskipun galak, tapi nyaman dilihat," gumam Hyuna dalam hatinya. Tanpa sadar ia mengagumi sosok pria itu. Namun tak lama ia pun segera menepisnya.


Pria itu menyadari almamater yang dipakai oleh Hyuna. Ia menghentikan langkahnya kemudian berbalik badan.

__ADS_1


"Kamu mahasiswi yang akan studi banding di kampus ini?" tanya pria itu menatap sinis .


"Iya ..." Hyuna pun berbalik badan. Karena menurutnya sangat tidak sopan ketika berbicara sambil memunggungi orang itu. "Anda sendiri dosen di sini?" tanyanya dengan hati-hati. Namun pria itu hanya tersenyum menyeringai, lalu berbalik badan lagi dan meninggalkan Hyuna begitu saja tanpa menjawab pertanyaan darinya.


"Asli, itu orang sombong sekali ! Aku jadi penasaran, siapa sih dia sebenarnya?" Hyuna berdecak karena pria itu mampu membangkitkan emosinya.


Karena tidak ingin terlambat masuk ke dalam gedung seminar, Hyuna tidak terlalu menghiraukan pria tadi. Ia memilih segera pergi dari sana.


...----------------...


Di dalam gedung seminar, ternyata sudah banyak sekali mahasiswa yang sudah menempatkan diri di kursi masing-masing. Hyuna mendadak jadi orang bingung mencari keberadaan kedua temannya itu. Ia masih berdiri di ambang pintu sambil mengedarkan pandangan ke segala arah.


Tak lama kemudian, Hyuna melihat tangan Evan melambai ke arahnya. Lalu ia pun melakukan hal yang sama dan segera menghampiri mereka.


"Mona, kamu kok ninggalin aku sih?" keluh Hyuna seraya duduk di sebelah wanita itu lalu menghela napasn panjang.


"Maaf ya Hyuna. Aku kira kamu bisa cepat menyusul," jawab Mona memasang wajah memelas, karena merasa bersalah.


Karena kondisi hatinya sedang tidak enak, Hyuna hanya terdiam. Karena ia butuh waktu untuk menetralkan perasaan tidak nyaman yang sedang dirasakannya. Terlebih ketika ia bertemu dan tidak sengaja menabrak pria tadi.


Sesaat kemudian, para pengisi acara memasuki gedung seminar itu dan duduk di kursi yang telah di sediakan di atas panggung. Suara gemuruh tepuk tangan pun begitu menggema di sana.


Semua yang hadir di sana memang kebanyakan mahasiswa asli kampus itu. Sedangkan mereka yang mengikuti program studi banding itu hanya sekitar dua persen saja. Sekitar dua puluh orang mahasiswa pilihan dari berbagai universitas dari negara-negara di benua Eropa.


Namun Hyuna melihat salah satu kursi yang masih kosong di sana. Kebanyakan yang duduk di sana itu para master dari berbagai fakultas, dan usia mereka pun rata-rata mungkin seusia kedua orang tuanya atau bisa jadi lebih.


Hati kecilnya berbisik, merasa penasaran. Karena jikalau memang kosong, tidak mungkin terdapat nama pemiliknya di atas meja seperti yang lain.


"Kira-kira, siapa ya yang menempati kursi itu? Pasti tidak kalah hebat seperti mereka yang juga ada di sana," batin Hyuna bertanya-tanya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2