
Beberapa bulan kemudian.
Hari itu bertepatan dengan jadwal liburan panjang, Boy memboyong keluarganya pergi ke negara Prancis untuk mengunjungi adiknya yang tinggal di sana. Rencananya mereka akan berada di sana kurang lebih dua minggu lamanya.
Akan tetapi Hyuna tidak akan ikut berangkat bersama mereka, karena satu bulan setelah aktifitas perkuliahan berlangsung, Hyuna memutuskan untuk mengambil kerja part-time. Maka dari itu ia tidak ikut berangkat bersama kedua orang tua serta kakaknya, melainkan menunggu hari libur dari tempatnya bekerja.
Niat awalnya hanya ingin mengisi waktu luang supaya perasaannya terhadap Deo bisa berangsur hilang. Karena memang saat itu Hyuna hampir putus asa, ikatan pernikahannya dengan Deo mungkin sebentar lagi akan berakhir. Namun semakin lama, ia sangat menikmati kesibukannya itu.
Meskipun awalnya mendapat pertentangan dari Nestya dan juga Boy, tapi ketika melihat kesungguhan Hyuna, akhirnya mereka memberi izin. Tidak sulit bagi wanita itu untuk mendapat pekerjaan.
Dalam kurun waktu satu minggu, Hyuna sudah mulai bekerja di sebuah restauran junk food. Dengan bekerja part-time, pikiran Hyuna menjadi lebih terarah. Walau terkadang merasa lelah pada tubuhnya, tapi ia tetap bahagia.
Pekerjaan itu dibawa santai olehnya, terutama saat melayani berbagai macam karakter orang yang membeli makanan atau minuman di restauran tempatnya bekerja. Hitung-hitung bisa melatih emosinya menjadi lebih teratur lagi.
Perlahan Hyuna pun mampu tidak berharap dengan perasaan serta hubungannya yang digantung oleh Deo. Sampai detik itu, Deo belum pernah sama sekali menemui Hyuna.
Padahal hampir setiap hari Fabios terus mendesak Deo supaya melepaskan Hyuna. Pria itu sungguh tidak tegas terhadap perasaannya sendiri.
Apalagi ketika Leika telah keluar dari jeruji besi dan menjadi tahanan kota. Wanita itu memilih tinggal bersama kedua orang tuanya. Namun Leika masih suka menghubungi Deo, entah telepon ataupun mengirimkan pesan.
Leika terus mengganggu konsentrasi Deo, supaya pria itu bisa merespon dirinya. Akan tetapi sayang seribu sayang, Deo tidak pernah merespon apapun terhadapnya.
...----------------...
"Kalian hati-hati dijalan ya!" seru Hyuna melambaikan tangan ke arah mobil yang ditumpangi oleh kedua orang tua serta kakaknya. Mereka yang didalam pun membalas lambaian tangannya.
Setelah mobil itu pergi, Hyuna masuk lagi ke dalam rumah. Ketika baru memasuki kamar, terdengar suara notifikasi dari ponselnya.
Omong-omong soal ponsel, Hyuna membelinya ketika mendapat gaji pertama. Sebab ia menolak keras ketika kedua orang tuanya hendak membelikan benda itu.
Sebuah permintaan pesan sari seseorang melalui akun sosial medianya. Setelah dilihat, ternyata tertera nama 'Ains_Deo'. Sebelum Hyuna membuka isi pesannya, ia mencoba membuka profilnya terlebih dahulu.
Deg!
"Dia menghubungiku?" tukasnya merasa tidak percaya. Namun ia masih belum berani membuka isi pesan pria itu.
Akhirnya Hyuna keluar dari aplikasi itu dan bergegas pergi ke kamar mandi. Ia harus segera berangkat kerja.
Beberapa menit kemudian, Hyuna keluar dari kamar mandi. Setelah notifikasi itu, tiba-tiba ponselnya berdering.
Ia kira kedua orang tua, kakak atau teman satu kampusnya. Namun saat di hampiri ternyata nomor asing yang memanggilnya.
__ADS_1
"Duh, nomor siapa ya ini? Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak sekali?" Keresahan dalam hatinya muncul seketika. Hyuna membiarkan panggilan itu hingga berakhir dengan sendirinya.
Nomor itu terus menghubungi Hyuna sampai ia selesai bersiap. Namun Hyuna tidak perduli karena memang tidak ada pesan yang masuk memberitahukan pemilik nomor itu.
Hyuna pun berangkat menuju tempat kerja menggunakan sepeda motor. Menjelang hari liburnya, kebetulan ia mendapat bagian di waktu pagi hingga siang hari.
...----------------...
Setibanya di tempat kerja, seperti biasa Hyuna menaruh tas di loker dan berganti seragam. Saat itu restauran pun belum buka. Hyuna membereskan meja dan kursi serta membersihkan lantai.
Ketika baru saja selesai melakukan semua itu, teman kerjanya menghampiri.
"Nih minum dulu, Hyuna!" kata wanita dengan rambut yang diikat menyerupai ekor kuda. Dia menyodorkan segelas minum kepada Hyuna.
"Terima kasih, Angle." Hyuna menerima gelas itu lalu meminumnya.
"Sama-sama. Oh iya, kapan kamu mengambil hari libur?" tanya Angle yang ikut duduk bersebelahan dengan Hyuna.
"Mungkin minggu depan. Kamu kan tahu sendiri kalau disini tidak bisa mengambil hari libur lebih dari satu minggu," jawab Hyuna mengingatkan Angle kembali.
"Oh iya sih. Kamu benar ... " Wanita itu mengangguk sambil tersenyum lebar sampai barisan giginya terlihat.
"Kamu sendiri kapan? Apa tidak ada rencana berlibur dalam waktu dekat ini?" Hyuna bertanya balik seraya menoleh.
"Begitu ya?" Hyuna menepuk bahu Angle. "Semoga uangnya cepat terkumpul ya!" serunya menyemangati teman kerjanya itu.
"Iya, semoga." Angle pun tersenyum.
Tak lama berselang, jam kerja pun tiba. Seperti biasa Hyuna berdiri di belakang meja kasir menunggu pelanggan datang. Sedangkan Angle berada di bagian dapur.
Sewaktu baru buka, restauran itu langsung diserbu pengunjung. Kebanyakan dari mereka memang seusia dengan Hyuna.
Karena efek libur panjang, banyak sekali orang-orang yang memilih membeli makanan di luar ketimbang harus masak di rumah. Ditengah banyaknya antrian, ada satu orang yang membuat Hyuna seketika tertegun. Ia sampai menurukan topi supaya tidak mudah dikenali oleh orang yang ada di depannya.
"Selamat datang, mau pesan apa?" tanya Hyuna dengan ramah.
"Beef burger tanpa acar satu, soda tiga, spagetti bolognese plus double topping keju satu, sama lasagna satu."
Hyuna bernapas lega karena pria yang ada di hadapannya itu sama sekali tidak mengenali dirinya.
"Mau makan di sini atau dibawa pulang?" tanya Hyuna lagi.
__ADS_1
"Dibawa pulang. Tapi saya minta tolong diantarkan ke alamat ini ya?" pinta pria itu seraya menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat rumah. "Di restauran ini bisa delivery 'kan? Soalnya saya sedang buru-buru," lanjut pria itu.
"Oh iya, bisa Tuan. Saya ulangi pesanannya lagi ya .... " Hyuna pun mulai menyebutkan pesanan yang tadi di pesan oleh pria itu.
"Ini uangnya." Pria itu memberikan sejumlah uang pada Hyuna. Setelah diambil, dengan cepat Hyuna menghitungnya. Mengingat antrean dibelakang pria itu masih cukup panjang.
"Pesanannya atas nama siapa?" tanya Hyuna memastikan.
"Yundra."
"Baik, Tuan. Dan ini kembaliannya. Pesanan Anda akan tiba tiga puluh menit lagi," kata Hyuna seraya memberikan uang kembalian kepada pria itu. "Terima kasih, jangan lupa mampir kembali."
Lalu pria itu pun pergi. Hyuna melayani pesanan orang yang sudah mengantre. Hingga hampir sepuluh menit tidak ada lagi orang yang mengantre.
Namun tiba-tiba Angle menghampiri Hyuna.
"Hyuna," panggil Angle berdiri tepat disampingnya.
"Ada apa Angle?" tanya Hyuna menoleh lalu menautkan alisnya.
"Pesanan yang diantar atas nama Yundra tidak ke bawa sama kurir kita. Kata chef Jeff, kamu mau tidak mengantarnya. Biar kasir aku yang jaga selama kamu pergi mengantar makanan itu," jelas Angle. Sementara itu Hyuna yang memang tahu kalau teman kerjanya itu tidak bisa mengendarai sepeda motor, mau tidak mau dia yang mengantarkannnya.
"Baiklah, kebetulan sedang tidak ada antrean juga." Hyuna melepas apron yang terpasang di pinggangnya. "Aku pergi dulu ya!" pamitnya kemudian begegas ke dapur untuk menggambil pesanan itu.
...----------------...
Hyuna merasa telat mengantarkan pesanan yang seharusnya tepat tiga puluh menit menjadi hampir satu jam. Apalagi tadi ia sempat nyasar, sebab bentuk perumahan elit itu sama semua. Dan ditambah rasa panik, Hyuna sampai tidak sadar melihat nomor rumahnya.
Saat sudah sampai, Hyuna melepas helm-nya lalu membawa pesanan itu kepada sang empunya. Ia mulai menekan bel.
"Yang punya rumah kok tidak keluar-keluar ya?" gumam Hyuna semakin cemas.
Hingga pada bel yang ketiga, pintu pun terbuka. Sesaat kemudian seseorang muncul dari balik pintu itu.
Hyuna terbelalak sambil melihat kembali pada kertas yang ada di tangannya. Ia memastikan kalau alamat yang diberikan pria tadi tidak salah.
"Loh kok kamu yang mengantarkannya?" tanya pria yang ada dihadapan Hyuna.
Namun wanita itu masih tercekat. Lidahnya seakan kelu untuk menjawab pertanyaan pria itu.
Sesaat kemudian, muncul seseorang lagi. "Apa pesanannya sudah datang?"
__ADS_1
Hyuna semakin mati kutu. Dalam hatinya pun bertanya-tanya. "Ada apa sebenarnya dengan mereka?"
Bersambung ....