
"Tunggu!" cegah Deo lalu menatap Hyuna yang masih memunggungi dirinya.
Seketika Hyuna berbalik badan lagi dan segera menghapus sisa air matanya di pipinya. "Ada apa?" tanya wanita itu, terdengar ketus.
Deo berdiri dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Hyuna.
"Kamu mau ngapain?" Wanita itu gelagapan ketika Deo semakin mendekatkan tubuh padanya. Alhasil ia semakin melangkah mundur.
Namun pria itu tidak menjawabnya. Hingga ketika Hyuna telah bersandar di dinding dan tidak bisa mundur lagi, Deo semakin menghimpit dirinya.
"Kamu mau apa?" tegas Hyuna dengan segenap keberaniannya.
"Kamu istriku bukan?" Deo malah bertanya balik padanya. Tak hanya itu, tatapan nakal pun sengaja ia berikan pada Hyuna.
"Ya ... kalau aku istrimu, memangnya kenapa? Jelas aku memegang bukti dokumennya," jawab Hyuna semakin gelagapan.
"Layani aku selayaknya suamimu." Kata-kata yang dilontarkan oleh Deo membuat wanita itu bersusah payah menelan ludahnya.
"La-layani kamu seperti apa?" tanya Hyuna yang merasa gugup.
"Seperti ini," kata Deo. Dengan cepat pria itu mendaratkan sebuah ci uman singkat di bibirnya yang sedikit terbuka.
"Hah!" Hyuna terkejut dengan mata yang membulat sempurna. Seketika bibirnya dikatupkan rapat-rapat. Saat itu ia paham kalau Deo menginginkan sesuatu hal yang belum pernah dilakukan olehnya.
"Bagaimana?" tanya Deo, tatapannya semaki membuat Hyuna salah tingkah.
"Aku ... " Hyuna ingin sekali menolaknya. Ia belum siap. Meskipun ia sangat mencintai Deo. Namun hal itu belum bisa ia lakukan. "Maaf, aku belum bisa," jawabnya seraya memejamkan mata karena takut melihat raut kemarahan Deo tampak lagi didepannya.
Sesaat kemudian, Deo melangkah mundur. Pria itu tidak berkata apapun lagi.
__ADS_1
Setelah dirasa tidak ada respon, perlahan Hyuna membuka matanya. Ia menatap Deo yang juga masih menatap dirinya dengan tatapan datar dan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
"Rupanya kamu paham apa yang aku maksud, Hyuna. Kenapa kamu menolakku? Apa kamu benar-benar tidak mencintaiku sama sekali?" cecar Deo sambil menelisik Hyuna dari ujung kepala hingga kaki.
"Jangan memberiku tatapan seperti itu! Seolah aku wanita murahan," tegas Hyuna, semakin ketus. Ia tidak terima akan tatapan yang diberikan oleh Deo.
Wanita berparas cantik itu memilih segera pergi dari ruangan itu. Rasanya ia percuma menemui pria yang masih berstatus suaminya. Niat hati hanya ingin meminta izin, tapi ternyata ia mendapat perlakukan tidak mengenakan. Walau sebenarnya masih dalam batas wajar. Tetap saja Hyuna tidak terima.
"Hei, kenapa kamu pergi? Aku belum selesai bicara padamu, Hyuna!" Suara Deo meninggi lagi. Pria itu sedang dalam kegelisahan karena ga irahnya tiba-tiba naik sesaat setelah memberi ci uman singkat pada bibir Hyuna.
"Aku sudah selesai bicara padamu!" kata wanita itu sambil terus berjalan ke arah pintu keluar. Lalu saat sudah berada di dekat pintu, Hyuna menoleh dengan tangan yang sudah memegang handle pintu tersebut. "Bye!" lanjutnya sambil memicingkan mata, kemudian membuka pintu.
Akan tetapi, baru saja pintu terbuka selebar tubuhnya. Tangan Deo langsung meraih lengannya cukup kuat. Alhasil Hyuna yang terkejut melepaskan handel pintu itu, lalu berbalik badan sedikit terhempas.
Ketika pintu tertutup kembali, kedua tangan Hyuna reflek dikalungkan ke leher Deo. Sementara kedua tangan Deo, melinggar pada pinggang Hyuna. Sontak mata keduanya saling bertemu.
Hyuna terbelalak dengan napasnya mendadak tertahan. Rasanya oksigen yang ia hirup, seolah telah habis dan bahkan menjadi sesak pada bagian dadanya. Ditambah denyut jantung yang kian berdebar beriringan dengan darah yang mengalir deras di dalam nadinya. Seolah ada sengatan listrik yang menyetrumnya saat itu juga.
Hal itu tentu saja membuat Hyuna tercekat. Bibirnya bergerak seakan ingin mengutarakan sesuatu, tapi tanpa bersuara. Hyuna memejamkan matanya sejenak seraya menghela napas. Ia pun berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Deo. Namun sayangnya pria itu semakin mengunci Hyuna supaya tidak bisa terlepas darinya.
"Lepaskan aku, Deo!" sentak Hyuna sambil mengeluarkan seluruh tenaganya.
"Aku tidak akan melepaskanmu, sebelum aku mendapatkan hakku," sahut pria itu dengan entengnya.
Tiba-tiba saja sebelah tangan Deo menelusup ke belakang leher, lalu memberi serangan tak terduga pada Hyuna. Wanita itu seketika diam dan mematung.
"Deo mmmmpphhh .... "
Hyuna berusaha memberontak. Namun tangan Deo terus menekan tengkuk lehernya supaya yang awalnya hanya sebuah kec upan, semakin lama menjadi sebuah pagutan panas.
__ADS_1
Wanita itu merasa ada sesuatu yang mengalir deras dari balik segitiga berendanya. Basah dan lembab. Deo adalah pria yang pertama kalinya menyentuh Hyuna.
Mungkin ada kebahagiaan tersendiri bagi Deo jika mengetahuinya. Namun berbeda dengan Hyuna yang merasa gelisah sekaligus panas.
Ditengah permainan Deo yang hampir membuat Hyuna porak poranda, suara ketukan pintu menyadarkan keduanya. Saat itu juga baik Deo maupun Hyuna berusaha menahan hasratnya yang sedikit lagi sampai ke ubun-ubun.
Posisi mereka saat itu berada di sofa. Hyuna di bawah dan Deo di atas. Entah sejak kapan posisi mereka seperti itu, tapi yang jelas mereka saling menikmati.
Setelah keduanya telah selesai merapihkan penampilan, Deo pun berjalan ke arah pintu untuk membukakannya. Ups! Sepertinya Deo sedang salah tingkah. Biasanya pria itu selalu teriak dari dalam menyuruh siapapun yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk.
Ternyata yang berdiri di depannya itu adalah Zean . Pria itu membawa tumpukan berkas ditangannya.
"Tuan, saya ingin mengembalikan berkas ini kepada masing-masing divisi. Kalau Anda membutuhkan saya, saya akan kembali lima belas menit lagi," kata Zean. Ia meminta izin pada atasannya. Sebab, ia berjaga-jaga jikalau berkas yang beberapa saat yang lalu diberikan pada Deo ada koreksi.
"Ya sudah." Deo pun bergegas menutup pintu. Akan tetapi, Zean melihat lipstik diujung bibir Deo. Tentunya hal itu mengundang tanda tanya pada Zean.
"Maaf Tuan, apa ada nyonya Leika di dalam?"
Deo mengerutkan alis dan berpikir sejenak. Leika? Tidak mungkin. Wanita itu sedang sibuk dengan karirnya. Bahkan untuk mengurus suaminya pun kalau hanya di rumah saja, selebihnya berkabar melalui ponsel pun bisa dihitung dengan jari dalam sehari.
"Tidak ada."
"Oh, saya kira ada. Soalnya di ujung bibir Tuan ada bekas lipstik warna nude gitu."
"Apa?" Deo reflek memegang tempat yang dimaksud oleh Zean. Ternyata benar, di jari tangannya pun terlihat ada warnanya. "Oh ... Ini aku ... Tadi ... Um. Sudahlah tidak penting. Cepatlah kamu antarkan berkas itu. Saya masih banyak kerjaan," kata pria itu gugup. Akhirnya mengalihkan ke hal lain.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Zean menunduk hormat lalu pergi dari hadapan Deo.
Sementara di dalam, Hyuna sedang cekikikan karena mendengar perbicaraan kedua pria tadi. Ia membayangkan bagaimana wajah malunya Deo, meski ia sendiri pun belum pernah melihatnya.
__ADS_1
"Ada apa kamu tertawa?"
Bersambung ....