Tertatih Mencintaimu

Tertatih Mencintaimu
Bab 9. Leika Kembali


__ADS_3

Hamburg, Jerman.


Deo menghentikan pekerjaannya sejenak saat mendengar suara ketukan pintu ruang kerjanya.


"Masuk!" perintahnya kemudian.


Pintu pun terbuka lebar. Deo menoleh lalu terpana akan sosok wanita berbalut dress berwarna pelangi dengan rok model payung serta bagian atas tanpa lengan.


"Leika!" seru Deo seketika berdiri dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


Wanita yang masih berdiri digawang pintu itu, juga ikut tersenyum sumringah. Dengan langkah pasti dia masuk ke ruangan Deo seraya menutup pintu ya kembali. "Beib, aku kangen!" Dia mendekati Deo yang masih berada di belakang meja kerja, lalu menghambur ke pelukan pria itu.


"Aku juga kangen." Deo duduk kembali di meja kebesarannya. Sedangkan Leika duduk di pangkuan Deo sambil mengalungkan tangan dileher pria itu, bersikap manja. "Bagaimana Prancis? Katamu di sana seminggu? Kenapa sekarang sudah pulang? Ini belum ada seminggu loh?" cecar Deo dengan segerombol pertanyaan, seakan tidak memberikan kesempatan pada kekasihnya untuk langsung menjawab.


"Pertama, aku kangen sama kamu. Kedua, aku kangen banget sama kamu, dan ketiga ... Aku kangen banget banget banget sama kamu." Tanpa di duga, Leika langsung mengecup bibir Deo dan sengaja menempelkannya lebih lama.


Deo adalah pria yang normal. Setelah selama 9 tahun lamanya memendam hasrat, entah kenapa Leika yang tadinya sangat menjaga, seketika menjadi agresif.


Ketika pria itu hendak memberi sebuah ci uman yang lebih, tapi tiba-tiba saja bayangan wajah Hyuna menghantui benaknya. Deo segera melepaskan ci uman tersebut.


"Maaf ... " Deo berdehem, melonggarkan tenggorokannya.


"Kenapa, Beib? Sebentar lagi kita akan menikah bukan?" Sorot mata Leika mendadak sendu dramatis. "Apa aku salah kalau membuat kekasihku merasa terpuaskan?" lanjut wanita itu sambil menggelayut manja. Mengalungkan kembali kedua tangannya di leher Deo.


"Aku belum bisa. Kita belum resmi menikah. Sebaiknya kamu turun dari pangkuanku sekarang," kata Deo mengangkat kedua tangannya. Pria itu masih bisa bersikap lembut.


Leika memutar malas kedua matanya. "Ck!" Dia pun berdecak merasa kesal. "Ya tapi kan kita akan menikah Deo Ainsley. Sembilan tahun ... aku yakin kamu sebisa mungkin harus menahannya. Sekarang saat ada kesempatan, kenapa kamu menyia-nyiakannya?"


Entah kenapa gejolak amarah pada batinnya mulai terasa mendidih sampai ke ubun-ubun. "Hentikan Leika!" Suara Deo tiba-tiba meninggi.


Leika merasa takut melihat Deo marah. Dia langsung turun dari pangkuan kekasihnya, lalu berdiri sedikit jauh dari kursi kebesaran Deo.

__ADS_1


"Kenapa kamu membentakku?" tanya Leika dengan hati-hati. Dia bahkan takut melihat raut wajah Deo. Sebab baru kali ini pria itu melakukannya.


"Lebih baik kamu kembali ke apartement-mu. Aku sedang banyak pekerjaan," titah Deo tanpa menoleh sedikitpun pada Leika.


Sedangkan air mata wanita itu sudah sejak tadi membendung. Beberapa detik lagi pun akan terjatuh.


"Deo, yang kamu lakukan padaku ini, JAHAT!" Leika menghentakkan kakinya lalu pergi keluar dari ruang kerja kekasihnya itu. Hatinya benar-benar merasa kecewa.


Selepas Leika pergi, Deo mengusap kasar wajahnya lalu memijat tengkuk lehernya.


"Hyuna ... Kenapa kamu tiba-tiba muncul seolah ada dihadapanku?" gumam Deo merasa aneh. Dia pun mengacak-acak rambutnya, merasa frustasi.


...----------------...


Sementara itu Leika yang merasa kecewa dengan Deo, langsung menancapkan pedal gas mobilnya menuju ke suatu tempat. Wanita itu begitu kesa sampai kecepatan mobil yang dikendarainya itu hampir diatas ambang maksimal.


Beruntung jalanan di siang hari ini cukup sepi. Sehingga tak banyak mobil yang memadati jalanan tersebut.


Tidak butuh waktu banyak untuk berkendara, Leika sampai di sebuah butik ternama di kota Hamburg. Dia kemudian turun dari kursi kemudinya lalu masuk ke dalam butik tersebut.


Disana banyak sekali tumpukan kertas hasil design yang sesuai dengan permintaan pelanggan. Bukan hanya itu, di dinding berukuran dua kali tiga meter terdapat contoh bahan yang akan digunakan untuk membuat pakaian.


"Dia mengusirku," keluh Leika sambil menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.


"Apa? Kenapa bisa?" tukas pria itu merasa terkejut.


Leika mengangkat kedua bahunya. "Entah ... Aku kira dengan aku bersikap agresif, dia akan membalasku. Ah, rasanya untuk segera masuk ke dalam keluarga konglomerat itu banyak sekali tantangannya. Deo juga, kenapa sih dia tuh sok-sok an jual mahal? Padahal aku tahu dia ingin sekali yang namanya bercinta," gerutunya. Mengeluarkan segala opini yang kini tengah memadati benaknya.


Pria itu menghela napas panjang sambil bersilang dada sambil menyandarkan pinggangnya pada sebuah meja kerja. "Apa kamu melakukannya secara terburu-buru?" tanyanya kemudian.


"Ku rasa tidak. Seperti biasa, aku menunjukkan sikap manjaku padanya," jawab Leika, merasa percaya diri.

__ADS_1


"Sepertinya kamu harus lebih pandai lagi untuk segera dinikahi Deo. Kamu tahu sendiri bukan? Sekarang kamu telah mengantongi restu kedua orang tuanya. Jangan sampai bobrok mu itu tercium oleh keluarga Ainsley maupun pada ajudannya," usul pria itu mencoba memberi masukan pada Leika yang tengah dirundung kesal dan gelisah. Lalu pria itu memicingkan matanya. "Kalau kamu cerdik, harus lebih dekati lagi kedua orang tuanya."


"Ck!" Spontan, Leika berdecak lalu memutar malas kedua matanya. "Sudahlah, aku sedang malas membicarakan hal itu. Aku akan kembali ke Prancis besok pagi dan mungkin akan lebih lama lagi tinggal di sana meskipun jadwal syuting sudah selesai," ucapnya.


"Loh kok gitu?" Pria itu mengernyit. "Sebentar lagi kamu tunangan dengannya Leika. Sebaiknya setelah syuting selesai, kalian mempersiapkan untuk acara tunangan. Masih ada waktu kurang lebih dua minggu lebih loh," usulnya.


Pria itu adalah Fendy Louise. Seorang designer muda yang bergelut dalam bidang pakaian pengantin dengan gaya tubuhnya yang gemulai. Meskipun demikian, Fendy selalu membantu Leika dan memberikan dukungan penuh pada sahabatnya itu. Usia keduanya hanya terpaut tiga bulan saja.


"Entah, aku sedang tidak bersemangat untuk mengharapkan Deo menjadi tunanganku. Dia terlalu sibuk dengan urusannya ... " Leika menghentikan ucapannya seraya berpikir. "Apa telah terjadi sesuatu padanya ya? Tapi apa?" lanjutnya mulai mengambil kesimpulan sendiri.


Fendy menghampiri Leika dan ikut duduk bersebelahan dengannya. "Menurutku, sekarang kamu selesaikan syuting terlebih dahulu. Setelah selesai , segera balik ke sini. Aku yakin kok, Deo tidak akan gegabah dengan setiap keputusan yang dia ambil. Selama ini, dia yang sudah berperan penting dalam hidupmu, bukan? Kalau bukan karena dia, mana bisa hutang keluargamu bisa dapat dilunasi."


Leika memejamkan kedua matanya. Dia berusaha mengatur napas, agak emosinya cepat mereda.


"Ya sudah kalau begitu. Aku akan ikuti saranmu. Sekarang, managerku pasti sedang kelimpungan mencari keberadaanku. Apa sekarang juga aku terbang ke Prancis?" kata Leika lalu bertanya kemudian.


"Kenapa tidak? Bukankah akan lebih baik begitu? Kamu sih kebiasaan selalu tidak pernah izin kalau kemana-kemana. Ingat, karirmu saat ini sedang diatas. Pasti banyak yang ingin berusaha ada di posisimu. Cobalah tata hidupmu lebih baik lagi. Buang yang buruk dan ambil yang baik," kata Fendy yang sebenarnya merasa kesal karena Leika sulit sekali merubah kebiasaannya.


Rasanya bersikap semaunya dan menggampangkan orang lain itu seperti sudah mendarah daging pada diri Leika. Dia harus benar-benar intropeksi diri, sebab tanpa dia tahu posisinya berada di samping Deo mulai terancam karena kehadiran Hyuna.


"Iya, iya, iya." Leika beranjak dari duduknya. "Aku akan kembali ke apartemen lalu terbang ke Prancis. Kalau Deo bertanya padamu, bilang saja aku sudah pergi," pintanya. Masih ada kesal dalam hatinya, tapi disisi lain dia berpikir. Kalau terlalu lama berada di butik milik Fendy, dirinya akan mendapati nasehat yang panjang kali lebar.


"Ya sudahlah, hati-hati dalam berkendara. Kabari aku kalau sudah sampai Prancis!" seru Fendy.


"Iya, terima kasih." Leika yang sudah membuka pintu menoleh ke arah Fendy. "Bye, Fen!"


"Bye!" Fendy mengangkat sebelah tangannya, sebagai tanda perpisahan. Lalu Leika pun keluar dari ruang kerjanya seraya menutup pintunya kembali.


Fendy membuang napasnya lalu menggelengkan kepala sesaat setelah. Pintu itu tertutup dengan sempurna. "Anak itu benar-benar keras kepala," gumamnya.


Bersambung ...

__ADS_1


...----------------...



__ADS_2