
...Dan pada akhirnya, aku harus belajar menetralkan degub yang masih kencang. Mengukur kata lewat sapa. Serta menahan senyum kala temu....
...Meskipun aku pernah ada di hidupnya. Tetap saja, aku bukanlah pemeran utamanya. Sebab aku tahu, bahagianya bukan bersamaku....
...****************...
Nestya memeluk Hyuna sangat erat. Ia belum rela kalau anak bungsunya itu akan pergi jauh darinya demi kegiatan kampus.
"Ingat ya Hyuna, selama di sana jangan pernah berkendara sendiri. Ajak temanmu kalau berpergian. Jangan sekali-kali keluar malam kalau tidak perlu." Wanita paruh baya itu melepaskan pelukannya setelah memberi wejangan.
"Iya Ma ... Mama tenang saja. Hyuna akan jaga diri baik-baik kok selama di sana," balas Hyuna mencoba menenangkan hati Nestya.
"Kalau ada apa-apa harus telepon Mama atau papa loh," tambah Nestya dan Hyuna pun mengangguk lalu mereka berpelukan lagi.
"Sudah dong Ma, Hyuna-nya jangan dipelukin terus nanti dia tidak pergi-pergi ... Kalau sampai ketinggalan pesawat bagaimana?" sahut Boy yang juga ikut mengantar Hyuna ke bandara.
Nestya akhirnya melepaskan pelukannya. "Hyuna, ingat pesan Mama. Okay?" Tak lupa ia pun mengecup kening anak bungsunya itu.
"Iya Ma. Siap bos!" Hyuna memberi tanda hormat pada Nestya menggunakan telapak tangan kanan yang ia letakkan di ujung alis. Sontak perilakunya itu mengundang tawa mereka.
"Baiklah semuanya. Aku pamit ya ... sampai berjumpa lagi setelah study banding!" seru Hyuna sambil tersenyum dan mengangkat sebelah tangan lalu melambaikannya.
Semua yang turut mengantar pun melepas dengan penuh haru kepergian Hyuna ke London.
Hyuna berbalik badan seraya menarik koper, pergi dari hadapan mereka. Sebelum take off, tentunya ia harus melengkapi syarat dalam melakukan penerbangan terelebih dahulu.
Setelah semuanya selesai, Hyuna pun disurub duduk di ruang tunggu yang telah di sediakan terlebih dahulu, untuk menunggu giliran masuk ke dalam pesawat. Sementara kedua teman kampusnya telah munggu di ruangan itu sejak dari setengah jam yang lalu.
"Hai, kalian Evan dan Mona?" tanya Hyuna ketika menghampiri mereka karena memakai almameter yang sama.
"Hallo ... " sahut keduanya.
__ADS_1
"Benar. Kamu pasti Hyuna?" balas Evan tampak terpesona akan kecantikan yang Hyuna miliki.
"Iya benar," jawab Hyuna lalu mengulurkan tangannya, mengajak berjabat tangan. "Senang bertemu dengan kalian."
"Senang juga bisa satu kelompok denganmu." Mona tersenyum manis sambil melihat ke arah Hyuna lalu ke Evan secaea bergantian.
"Kalian sampai di sini jam berapa?" tanya Hyuna serata duduk di kursi kosong yang ada disebelah Mona.
"Sepertinya dari setengah jam yang lalu. Kebetulan pas aku sampai, Evan juga sampai," jawab Mona dan diberi anggukkan kepala oleh Evan.
"Oh gitu, berarti dari kampus cuma kita bertiga saja?" Kali ini Evan yang bertanya. Kedua wanita yang bersamanya pun mengangguk bersamaan.
"Berarti aku cowok sendiri dong!" serunya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya memangnya kenapa? Yang penting 'kan kamu tidak satu kamar dengan kami," celetuk Mona sambil bersilang dada.
"Jangan bilang kamu tidak bisa tidur sendirian ya Van?" ledek Hyuna membuat wajah Evan seketika memerah.
"Ya syukur deh kalau berani," timpal Mona lalu mereka tertawa.
Hari itu pertemuan pertama mereka bertiga. Meskipun pertama, rasanya seperti sudah lama saling kenal. Satu sama lain pun lebih sering melempar lelucon, mereka menganggap itu hanya sebuah hiburan dan tidak dimasukkan ke dalam hati.
Mungkin dengan cara pendekatan itu, kedepannya membuat mereka lebih dekat lagi seperti saudara. Apalagi Hyuna yang akan satu kamar dengan Mona.
Lima belas menit berlalu tidak terasa bagi mereka. Karena sejak tadi penuh dengan canda tawa hingga tak sadar banyak menghabiskan waktu. Beruntung mereka sadar akan informasi penerbangan yang diberitakan oleh informan itu.
"Yuk kita masuk ke dalam!" ajak Evan pada kedua teman wanitanya. " Mona, jagain Hyuna ya ... Takut dia kena jetlag," sambungnya seraya mengedipkan sebelah matanya. Karena memang posisi tempat duduk mereka berjauhan.
"Kamu kali yang kena jetlag. Kasihan juga. Sendiri pula duduknya," balas Hyuna lalu menjulurkan lidah.
Mereka bertiga pun duduk di kursi masing-masing.
__ADS_1
...----------------...
Kurang lebih tiga jam lebih lima menit, pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan mulus di bandara Heathrow. Setelah mendapat intruksi dari pramugari, para penumpang pun diperbolehkan turun satu per satu. Tak lupa juga himbauan pengambilan koper pun di beritahukan juga oleh pramugari tersebut.
"Guys, sebelum ke asrama kita mampir ke tempat makan dulu yuk? Aku lapar sekali," kata Mona sambil memegangi perutnya. Wanita itu memang gemar sekali makan. Pokoknya tiada hari tanpa makan. Makanya tak heran tubuh ya yang gemuk dan juga tinggi, sudah bisa mendefinisikan kalau dia memang 'tukang makan'.
"Aku sih oke, kamu gimana Van?" jawab Hyuna lalu menoleh ke arah Evan.
"Ya sudah. Aku takut kamu pingsan Mona. Mana kuat aku menggangkat tubuhmu. Sedangkan tubuhku saja masih seperti korek api," sahut Evan dengan gaya nyelenehnya.
Seketika Evan mendapat decakan kesal yang dilontarkan oleh Mona. "Kamu ini!"
Akhirnya setelah mengambil koper masing-masing, mereka pergi ke depan lobby kedatangan untuk menghampiri mobil yang telah di sediakan oleh pihak kampus disana. Bagaimana tidak? Meskipun ketiga orang itu memiliki sisi lain yang unik, namun kecerdasan mereka tidak bisa diragukan lagi. Karena mereka adalah mahasiswa pilihan.
"Pak kalau kami minta tolong untuk pergi ke tempat makan sesuai kantong mahasiswa terlebih dahulu bisa atau tidak?" tanya Evan ketika terakhir masuk ke dalam mobil pada sopirnya.
"Bisa. Dengan senang hati, saya bisa mengantarkan kalian." Sopir itu kemudian mulai melajukan mobilnya. "Di dekat asrama ada tempat makan yang sesuai kantong mahasiswa. Menurut saya sih enak, tapi tidak tahu kalau kalian."
"Lanjut Pak. Soalnya teman saya sudah kelaparan," sahut Evan. Namun ditengah tawanya, tiba-tiba perutnya juga berbunyi. Bahkan jauh lebih keras dari suara perut Mona yang lapar.
"Nahloh! Ketahuan 'kan siapa yang lebih lapar?" timpal Hyuna membuat Mona tertawa puas.
"Eh tapi Van, kalau kamu yang pingsan tenang saja kok. Aku masih bisa sendiri buat gotong kamu pakai satu jari kelingking lagi!" kata Mona sambil tersenyum menyeringai.
Hal itu membuat Evan seketika bergidig ngeri. "Mona yang benar saja kamu. Masa pakai satu jari kelingking. Tidak sekalian saja pakai jempol kaki?" balasnya.
Di dalam mobil itu ramai hanya dengan mereka bertiga. Sementara sopir yang fokus menyetir pun terkadang ikut tertawa mendengar celotehan mereka.
Hingga hampir setengah jam, mobil yang mereka tumpangi tiba di depan tempat makan yang dimaksud oleh sopir tadi. Mereka pun turun, namun tidak denga sopir yang memilih menunggu mereka di dalam mobil karena alasan sudah makan.
Bersambung ....
__ADS_1