
Saat hampir semua pemateri sudah memberikan bimbingan kepada mereka yang hadir di sana, tiba-tiba seseorang muncul dari pintu masuk kemudian duduk di kursi yang masih kosong tadi. Raut wajahnya datar dan matanya mulai menatap audiens.
Sementara itu, Hyuna membulatkan matanya lebar-lebar ketika melihat pria yang duduk di depan itu ternyata pria yang ditabraknya tadi. Detak jantungnya mendadak berdegup kencang. Bukan karena menyukainya, tapi karena tatapan pria itu yang sangat menusuk seperti ujung pisau buah.
"Astaga, kenapa bisa aku melakukan hal bodoh seperti tadi? Ternyata dia pemateri dalam seminar ini. Atau jangan-jangan dia telat masuk karena harus mengganti pakaiannya dulu dan itu karena ulahku. Haduh, Hyuna! perasaanku mendadak tidak enak," batin Hyuna bermonolog. Sedangkan dirinya masih mematung dengan napas yang seolah tertahan.
"Langsung saja karena sudah mendekayi penghujung acara, mari sama-sama kita sambut pemateri terakhir pada seminar kali ini ... Dokter Dave Vallentino!" seru pembawa acara. Lalu semua yang turut hadir pun memberikan tepuk tangan.
Pria itu mengambil microfon yang ada di depannya.Tak disangka dia berdiri dan keluar dari meja sambil membawa microfon tersebut. Para wanita yang hadir di sana pun menyuarakan dirinya.
Pria itu mulai berbicara. Meskipun dia perwakilan dari fakultas kedokteran, namun ketika mendengar cara penyampaiannya yang lugas, semua bisa mudah memahaminya.
Di sisi lain, Hyuna yang duduk tepat di pinggir anak tangga, seketika menjadi salah tingkah sekaligus berusaha menahan malu. Apalagi Dave terus memberi tatapan tajam padanya.
"Hyuna dia tampan sekali ya," bisik Mona dan tanpa sadar Hyuna pun mengangguk setuju.
Sebisa mungkin Hyuna menarik napasnya untuk menghirup oksigen lebih banyak lagi. Sebab dadanya terasa sesak, ditambah Dave yang terus berdiri tepat di samping tempat duduknya.
"Kenapa dia di sini terus sih? Jalan bisa kali. Astaga ... Ada apa sama aku? Kok rasanya sulit sekali untuk duduk nyaman," kata Hyuna dalam hatinya. Sesekali ia melirik ke arah Dave yang masih bicara. Tak jarang pula lirikannya pun bertepatan pada saat Dave juga melihat ke arahnya.
Kira-kira hampir setengah jam sudah Dave menyampaikan materi. Orang-orang penting yang tadi duduk di depan pun sudah meninggalkan ruangan terlebih dahulu. Sedangkan para mahasiswa masih penuh mengantre menuju pintu keluar.
"Hyuna ayok keluar!" ajak Evan yang sudah berdiri.
"Nanti saja Van. Lihat tuh! masih antre sekali," jawab Hyuna sambil menunjuk ke arah barisan yang cukup panjang dengan bibirnya.
"Iya Van. Kamu buru-buru sekali. Mau kemana sih? Ada yang kamu taksir ya?" sahut Mona ikut menanggapi jawaban Hyuna.
"Bukan begitu guys ... Pasalnya aku sudah ingin sekali buang air. Sudah tidak tahan," sanggah Evan. Pria itupun tidak bisa diam. Tubuhnya bergoyang karena sudah benar-benar tidak tahan.
"Van kamu kok jadi kayak cacing kepanasan sih? Diam dulu dong, itu antrean panjang sekali loh," ujar Mona merasa geli melihat tingkah Evan.
"Aduh, jangan sampai aku buang air di celana ini," keluh Evan sambik mengambil tas lalu berlari menyerobot orang-orang yang tengah mengantre itu
Hyuna dan Mona saling bertukar pandang lalu menggelengkan kepalanya.
"Ada pria seperti itu ya Mon?" tanya Hyuna sambil terkekeh.
"Ada ... itu si Evan!" jawab Mona lalu keduanya tertawa.
...----------------...
Ketika antrean panjang sudah tidak ada lagi, Hyuna dan Mona pun keluar dari gedung seminar. Karena jadwal mereka setelah itu tidak ada lagi dan mereka pun diperbolehkan untuk beristirahat. Mengingat aktifitas perkuliahan akan dimulai esok pagi.
__ADS_1
"Mona, kamu duluan saja ke asrama ya. Aku mau ke toilet dulu," kata Hyuna saat keduanya berada di depan toilet yang berdekatan dengan ruangan seminar tadi.
"Memangnya kamu bisa balik sendiri?" tanya Mona merasa ragu.
"Bisa kok, tenang saja," jawab Hyuna dengan santai. "Eh tapi, aku minta tolong titip binder sama bolpoin ya. Boleh?" tanyanya kemudian.
"Boleh, sini." Mona mengulurkan tangannya.
"Terima kasih Mona baik," ucap Hyuna seraya memberikan alat tulisnya pada Mona. Tak lupa juga senyuman merekah ditunjukkan olehnya.
"Satu lagi," timpal Mona belum puas atas pujian yang diberikan oleh Hyuna.
"Hah? Apa lagi?" tukas Hyuna mengerutkan alisnya, kebingungan.
"Mona cantik!" Seketika senyum Hyuna yang tadinya merekah, menjadi datar.
"Iya Mona baik dan cantik."
"Oke, bye!" Mona melambaikan tangannya lalu berbalik badan.
Setelah Mona pergi, Hyuna masuk ke dalam toilet.
...----------------...
Beberapa saat kemudian, Hyuna pun keluar dari toilet. Menyadari wanita yang ditunggunya sudah ada, pria itu segera angkat bicara.
"Aku ingin berbicara padamu!"
Suara baritone yang khas layaknya pria maskulin terdengar oleh Hyuna tepat di sampingnya. Langkahnya pun terhenti lalu menoleh ke sumber suara itu.
"Ka-kamu?" Hyuna mendadak gugup. Ia melihatnya lagi, dari dekat.
"Kenapa? Memangnya salah?" tanya pria itu yang tak lain adalah Dave.
"Tidak. Hanya saja ... " Hyuna menghela napasnya. "Bukankah aku sudah meminta maaf padamu?" tanyanya kemudian.
"Benar ... Tetapi maaf saja tidak cukup bagiku," tegas Dave dengan sikap dinginnya.
"Lantas aku harus apa supaya kamu bisa memaafkanmu?" tanya Hyuna dengan polosnya serta tubuhnya yang mematung ditempat.
"Ikut denganku sekarang!" perintah Dave lalu menarik tangan Hyuna. Meskipun tidak kencang dan juga tidak kasar, namun perlakuannya seperti itu tidak bisa Hyuna terima.
"Dave, lepaskan! Kalau sampai orang-orang melihat kita bagaimana? Aku tidak ingin terjadi kegaduhan," kata Hyuna bersikeras melepaskan tangan Dave dari tangannya.
__ADS_1
"Sebentar lagi sampai. Tidak akan ada yang melihat kita," sahut Dave tanpa menoleh ke arah Hyuna.
Raut wajah wanita itu pun seketika kesal. Sebab Dave dengan seenaknya menarik tangannya. Tak disangka, Hyuna di bawa masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Ini ruangan siapa?" tanya Hyuna ketika Dave baru saja menutup pintu.
"Ruanganku," jawab Dave lalu melepaskan cekalannya. "Duduklah!" perintahnya kemudian.
"Memangnya mau apa disini? Aku haru kembali ke asrama untuk beristirahat Dave," ujar Hyuna yang memang sudah merasa lelah. Mengingat, ia pun belum sempat makan siang.
Dave tidak langsung menjawabnya. Melainkan mengambil sebuah paperbag yang ada di atas sebuah meja. Lalu memberikannya pada Hyuna.
"Itu pakaianku yang kotor karena terkena tumpahan kopi. Aku mau kamu tanggung jawab untuk membersihkannya. Kamu bisa mencuci pakai tangan bukan?" jelas Dave memberi tatapan sinis seolah menyepelekan Hyuna.
Sementara itu Hyuna terperangah mendengar penjelasan Dave barusan. "Kenapa tidak pakai mesin cuci saja? Bukankah akan lebih ringan?" tanyanya menatap Dave seakan tidak percaya.
"Tidak bisa. Pakai tangan akan lebih bersih jika terkena noda kopi seperti itu dibanding pakai mesin," jawab Dave mencari alasan. Kenyataannya, pria itu memang sengaja ingin memberi perhitungan pada Hyuna karena kecerobohan wanita itu.
"Aku biasa pakai mesin. Tidak bisa mencuci pakai tangan, Dave." Hyuna berusaha menolak.
"Pokoknya aku tidak peduli, harus pakai tangan." Dave bersikukuh.
"Ya sudah aku juga tidak peduli," sahut Hyuna.
"Tidak bisa begitu dong. Kamu harus tanggung jawab!" tegas Dave dengan penuh penekanan.
"Dave!" Hyuna merasa geram. Kedua tangannya pun sampai mengepal kuat.
"Kamu dari fakultas apa?" tanya Dave tiba-tiba. Sontak Hyuna pun tercekat.
"Waduh mengerikan ini, dia menanyakan fakultasku. Aku takut karena hal itu bisa-bisa merusak nilai studi bandingku selama di sini," batin Hyuna menerka-nerka.
Hyuna memutar malas bola matanya, lalu berdiri. "Ya sudah akan aku cuci, tapi mungkin lusa akan aku berikan padamu." Ia mengalihkan pembicaraan.
"Loh kenapa lusa?" Besok malam harus selesai!" Dave kemudian memberikan ponsel miliknya pada Hyuna. "Catat nomor ponselmu. Supaya aku bisa menghubungimu," pintanya kemudian.
Hembusan napas kasar pun Hyuna keluarkan dan akhirnya mengambil ponsel Dave lalu mencatat nomor ponselnya di sana. Setelah selesai, diberikan lagi pada Dave.
"Ya sudah aku kembali ke asrama terlebih dahulu. Permisi." Hyuna pamit sambil membawa paperbag itu dan keluar dari ruangan.
Sedangkan Dave sudah tak tahan untuk tersenyum hingga mengulum bibirnya sendiri. Ada setitik rasa bahagia di dalam hatinya. Apalagi sudah mendapatkan nomor ponsel Hyuna.
Hmm ... Apa Dave menyukai Hyuna? Atau hanya merasa puas karena berhasil membuat Hyuna mau menuruti keinginannya. Padahal bisa saja dia pergi ke laundry untuk mencuci pakaiannya
__ADS_1
Bersambung ....