
Selesai acara, semua keluarga serta tamu yang hadir pergi meninggalkan gedung itu. Sementara Hyuna masih ingin di sana. Wanita itu berada di area koridor yang ada di belakang ruang gantinya. Ia sudah berganti pakaian, dan saat itu duduk di sebuah kursi yang menghadap ke jendela. Berkali-kali Hyuna menghela napasnya. Perlahan ketenangan pun muncul di dalam dirinya.
Dave yang baru saja menerima telepon dari rumah sakit, menghampiri istrinya lalu memeluk dan menci um pipi kanannya dari belakang.
"Kenapa kamu melamun? Ada yang lagi di pikirkan?" tanya Dave sangat lembut.
"Tidak juga sih. Hanya saja aku benar-benar merasa lega sekarang." Hyuna menoleh dan Dave memposisikan tubuhnya berhadapan dengan sang istri.
"Apa yang membuatmu lega?" tanya Dave lagi.
"Tadi sebelum acara pengesahan di mulai, Deo mendatangiku di ruang ganti. Intinya dia meminta maaf padaku dan mendoakan pernikahan kita bahagia dan bukan hanya itu, dia menyodorkanku sebuah kartu ATM." Hyuna menarik napas dalam.
"Lalu kamu ambil kartunya?" Dave mengerutkan alisnya.
Hyuna menggeleng. "Yang aku ingat kartu itu dulu pernah diberikan padaku dan aku kembalikan lagi. Tapi entah, tadi aku tidak sempat mengambil karena kak Herya telah lebih dulu menarikku."
"Oh ... Um, omong-omong apa kamu masih ingin di sini?" Dave tersenyum sambil menengok ke sekelilingnya yang sudah sepi.
"Tidak, aku ingin pulang," jawab Hyuna lalu turun dari kursi yang di dudukinya itu.
"Kok pulang? Kan kita pengantin baru." Dave protes.
"Oh iya, jadi kemana dong?" tanya Hyuna malu-malu.
"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Di jamin, tempat itu cocok buat pengantin baru seperti kita," jawab Dave sangat percaya diri sambil terkekeh.
"Apa iya?" tukas Hyuna seolah sangat terkejut.
"Ya kamu lihat saja nanti."
__ADS_1
...----------------...
Dua jam mereka menempuh perjalanan dari mulai jalan yang rata hingga banyak batu kerikil, akhirnya tiba juga di tempat yang Dave maksud.
"Benar ini tempatnya?" Hyuna menengok ke kanan dan kiri. Suasananya sangat sepi dan hanya sebuah tanah lapang yang diaspal, lalu ada tembok tinggi dan panjang terbuat dari batu alam yang disusun sedemikian uniknya.
"Makanya, yuk kita turun!" ajak Dave yang telah membuka sabuk pengaman dan juga pintunya. Pria itu kemudian turun dari kursi kemudi, tak lupa sambil menutup pintunya kembali.
Hyuna pun penasaran, akhirnya ia turun dengan membawa tas ranselnya. Sementara Dave mengeluarkan koper mereka dari dalam bagasi mobil.
"Apa sudah tidak ada lagi barang yang tertinggal di mobil?" tanya Dave setelah menutup pintu bagasi lalu menarik kopernya berjalan ke arah Hyuna.
"Sepertinya tidak," kata Hyuna seingatnya.
"Baiklah." Dave meraih tangan Hyuna untuk ia genggam. Keduanya pun masuk ke dalam.
Ternyata pintu masuknya ada di samping dinding itu. Tak disangka setelah masuk ke dalam, suasananya benar-benar sangat berbeda.
"Waw, sangat menakjubkan!" seru Hyuna lalu mendapat rangkulan dari Dave.
...----------------...
Satu minggu sudah Hyuna dan Dave ada di tempat itu. Rasanya seperti singkat sekali berbulan madu di sana. Pelayanan serta fasilitasnya membuat mereka sangat nyaman bahkan berberat hati untuk segera bertolak dari tempat itu.
"Dave, aku masih betah di sini." Hyuna merangkul manja lengan suaminya.
"Iya, aku juga sama. Kapan-kapan kita ke sini lagi ya." Tangan Dave mengusap lembut pipi sang istri lalu memberi kecupan pada bibirnya.
Hyuna tersenyum bahagia. Ia merasa menjadi orang yang paling beruntung mendapatkan suami bermodel seperti Dave. Meskipun wajahnya tampak dingin dan serius. Namun ketika bersamanya, pria itu berubah menjadi sosok yang bersahabat dan penuh pengertian dalam segala hal.
Setibanya di kediaman orang tua Hyuna, mereka pun memilih langsung pergi ke kamar. Mengingat hari pun sudah malam dan waktunya mengistirahatkan tubuh yang cukup lelah setelah perjalanan yang lumayan jauh.
__ADS_1
Akan tetapi, ditengah lelahnya mereka. Tetap saja hasrat pengantin baru untuk berhubungan suami istri pun seakan menjadi tradisi sebelum benar-benar terlelap ke alam mimpi. Bahkan pergulatan mereka di atas kasur berlangsung lebih dari dua jam lamanya. Hingga tubuh yang sama-sama sangat lelah, akhirnya tumbang bersama.
.
.
.
Tepat satu bulan menjadi sepasang suami istri, Hyuna akhirnya resmi pindah dari kampus lamanya ke kampus baru yang pernah ia jalani program study banding waktu itu. Di kampus itu pula tempat Dave mengajar. Jadi keduanya menjadi lebih sering bertemu, setelah perjuangan satu bulan lamanya menjalani hubungan jarak jauh.
Mereka pun telah menempati rumah baru yang letaknya tidak jauh dari kampus serta rumah sakit. Rumah itu memang sengaja Dave siapkan sejak lama untuk suatu hari bisa tinggal bersama keluarga kecilnya. Dan saat itu mimpinya pun terwujud.
Nestya yang awalnya sempat tidak bisa tinggal berjauhan dengan Hyuna, namun karena melihat sosok seperti Dave yang mendampingi anak bungsunya itu menjadi lega. Apalagi mereka sudah memiliki tempat tinggal sendiri. Mengingat untuk membeli rumah di London itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua surat dan kelengkapan dokumen supaya bisa menjadi hak milik memiliki sepak terjang tersendiri.
Meskipun di satu bulan pernikahan mereka belum ada tanda-tanda Hyuna hamil, tapi mereka tidak ingin terlalu memikirkannya. Sebab hasil pemeriksaan pun telah membuktikan kalau keduanya sehat dan memiliki bibit yang bagus. Hanya saja Tuhan belum memberikan waktu pada mereka untuk memiliki buah hati dan membiarkan keduanya menikmati waktu berdua setelah sebelumnya masa perkenalan mereka pun bisa dibilang sangat singkat.
Hari itu sepulang dari kampus, karena Dave sedang tidak ada jadwal mengajar, pria itu menjemput istrinya di halaman parkir. Hyuna yang sudah membaca pesan darinya pun langsung menuju mobilnya.
"Hai Dave," sapa Hyuna sesaat baru masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah kursi kemudi, lalu memberi kecupan singkat di bibir suaminya.
"Halo, Darling!" balas Dave yang justru melu mat bibir istrinya.
"Dave! Ini di tempat parkir loh!" pekik Hyuna melepaskan pagutan mereka.
Dave malah tertawa melihat ekspresi Hyuna seperti tawanan yang sedang dikejar musuhnya, karena pandangan wanita itu menelisik ke segala arah di tempat parkir tersebut.
"Tidak salah bukan kalau aku menci um istriku sendiri?" timpal Dave lalu membenarkan posisi duduknya. Sebelah tangannya mulai memegang kemudi, sedangkan tangan yang satunya memegang tuas pengoper kecepatan mobil.
"Yaaaa ... Memang tidak salah sih. Hanya saja ... " Hyuna mengigit bibir bawahnya, mengalihkan pandangan ke luar jendela seraya memasang sabuk pengaman.
"Hanya saja kamu ingin lagi?" Dave seketika memajukan wajahnya mendekati wajah Hyuna. Hal itu membuat istrinya tercengang lalu mencubit hidungnya sampai memerah.
__ADS_1
"Jahil sekali suamiku ini!"
Bersambung ....