
Anisa tersedak mendengar ucapan Radit. Ia tidak pernah menduga pria di hadapannya bisa berkata seperti itu. Rasanya baru kemarin pria itu berkata kata kasar dan hari ini dia mengajaknya menikah .
Wanita bodoh mana yang mau menerima dengan mudah ajakan menikah dari pria seperti Radit. Anisa tidak menjawab dan menganggap itu sebuah gurauan saja. Melanjutkan lagi makan malamnya yang terjeda tadi.
Radit juga terlihat salah tingkah. Ia memperhatikan Anisa.
"Kamu marah Anisa? Maaf, terkadang memang aku tidak bisa mengendalikan ucapanku. Semua mengalir begitu saja. Aku tidak bisa membohongi perasaan yang ada"
Anisa tersenyum membalas rasa bersalah Radit yang sudah keterlaluan. Tapi ucapan Radit yang barusan juga menyiratkan sebuah peryataan yang sebenarnya.
"Aku anggap pak Radit sedang bercanda" jawab Anisa kalem. Anisa meketakkan sendoknya diatas piring. Kemudian menatap Radit. Entah apa yang ada di pikiran pria itu. Anisa hanya ingin menegaskan sesuatu.
"Acara malam ini sengaja di buat untuk mbuat kita dekat, kan?" Tanya Anisa pada Radit.
"Iya, mereka menjebak kita di sini"
"Sebenarnya saya kecewa, saya memenuhi undangan makan malam ini karena memang untuk menyenangkan ibu dan juga menghormati Tante Arini"
"Maafkan mereka, Nis"
"Tentu saja, ibu dan Tante yang bekerja sama. Tidak masalah. Hanya saja, sebaiknya kita saling menjauh, mulai saat ini. Biar mereka juga paham. Diantara kita tidak ada apa apa. Saya masih belum berfikir untuk menjalin hubungan lagi. Kekecewaan itu menyisakan rasa takut"
Untuk kali ini Radit hanya bisa diam. Anisa masih sangat terluka. Terlihat dari cara bicaranya, sorot matanya. Radit menunduk. Ia sungguh sungguh merasa bersalah. Penghianatan pria itu benar benar menghancurkan hati Anisa.
"Nis... Maaf"
"Saya tidak ingin lagi, kita ada urusan. Tapi jangan larang Ara menemui kami. Biarkan mereka berteman. Begitu juga Lea, mungkin suatu saat dia ingin menemui Ara, tolong biarkan mereka tetap bersahabat"
Ucapan Anisa kali ini membuat hati Radit teriris. Rasanya seperti sedang di tolak. Meski Radit tau alasan mengapa Anisa mengatakan semua ini. Inikah definisi dari sakit tapi tak berdarah.
"Nisa, Aku janji mereka akan berhubungan seperti biasa. Tidak ada yang berubah kecuali Aku. Aku akan mencoba untuk menjauh seperti yang kamu inginkan"
"Terima kasih. Semoga ibu dan Tante Arini bisa memahami kita"
Meja makan itu kembali hening, pelayan meletakan menu utama untuk dinikmati. Radit mencoba menelan makanan ke dalam tenggorokannya. Namun tiba tiba saja rasa laparnya hilang. Ia bahkan tidak lagi bernafsu untuk makan.
"Kamu sangat mencintai dia, Nis?" Tiba tiba Radit kembali membuka suara.
"Iya, dulu .... Dia pria yang sangat baik. Aku sangat mempercayainya. Duniaku hanya berputar di sekelilingnya. Aku lupa dengan yang lain. Kami saling mencintai . Tapi orang sebaik dan secinta itu pun bisa mengkhianati"
Anisa menarik nafas panjang. Melepaskan rasa berat setiap kali mengingat kisahnya.
"Saat ini, perasaan untuk Dia sudah mati, bersama hatiku" lanjut Anisa lirih.
Andaikan bisa, Radit ingin memberikan bahunya untuk Anisa bersandar. Merengkuh tubuh mungil itu di dadanya. Memberikan kedamaian juga cinta yang luar biasa.
"Manusia memang bisa berubah, Nis. Siapa yang tau? Aku juga butuh waktu untuk menenangkan diri saat itu. Bela pergi begitu mendadak, meninggalkan tanya yang tidak pernah bisa terjawab. Aku hanya berujung pada kata Iklas, Setelah berjuang dengan kegelisahan hati selama bertahun tahun. Belajarlah menempatkan rasa iklas, Nis. Insha Allah bebanmu, lukamu bisa terangkat"
Anisa menatap Radit sendu. Pria di depannya teryata pernah memiliki luka. Bahkan kepergian sang istri menyisakan ragu. Radit menyebutkan kata Iklas....
Anisa baru di tahap bisa menerima, namun hatinya belum sepenuhnya iklas. Butuh waktu sedikit lagi agar hatinya terbiasa. Kemudian menjadi iklash.
__ADS_1
"Kamu percaya jodoh?" Tanya Radit sambil kembali menatap wajah ayu di depannya.
"Tentu, Tuhan yang mengatur semua yang berjalan di bumi" ucap Anisa mantap
"Tidak ada yang kebetulan di bumi ini, Nis. Betul katamu, semua ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Seperti pertemuan kita kembali. Di saat kita sudah tidak lagi bersama orang yang salah. Kamu tau artinya, kan?
Anisa mendengar uraian Radit seraya menggeleng, tidak tau jawabannya. Radit tersenyum simpul, Anisa belum memahami isyarat halus yang ia ucapkan. Anisa benar benar tidak peka.
Terakhir pelayan menghidangkan makanan penutup untuk Radit dan Anisa. Keduanya kembali menikmati hidangan penutup dengan pemikiran mereka masing masing.
Setelah selesai keduanya berjalan beriringan menuju mobil. Setelah perbincangan panjang selama makan malam, mereka jadi saling mengenal lagi satu sama lain. Radit yang selalu lebih dewasa. Anisa yang tertatih untuk menjadi lebih dewasa.
"Kamu mau langsung pulang? Rasanya sayang, Nis. Malam ini sangat cerah" ucap Radit sambil mengemudikan mobilnya.
" Sebaiknya kita pulang. saya harus bangun pagi"
"Aku dengar dari ibu, kamu tidak mau ambil harta Gono gini. Apa itu benar, kenapa? Meskti tidak untukmu tapi Alea membutuhkannya"
"Iya, aku pasti bisa membesarkan Alea sendiri"
"Sembrono kamu, Nis"
"Saya ingin lepas dari segala hal tentang mas Fatah, menghapus semua jejaknya di hidupku, kecuali Alea. Dia bagian terindah dari semua yang terjadi"
" Bodoh, sekarang wanita itu yang menikmatinya" ucap Radit lugas
"Iya, jika aku tidak bodoh, aku juga tidak akan tertipu dan menikahi mas Fatah ''
"Nis, sepertinya aku...." Radit tidak meneruskan ucapannya. Pria itu ingat, Anisa masih terluka. Dia tidak ingin membebani wanita itu dengan perasaannya. Biarlah kali ini Radit mengalah, menahan diri sejauh yang ia bisa.
Akhirnya mobil sampai di depan rumah Anisa. Anisa turun tanpa menunggu Radit membukakan pintu. Radit menunggu di luar mobilnya sejenak, memastikan Anisa benar benar sudah masuk rumah.
Radit kembali masuk ke dalam mobil dan menuju rumahnya yang hanya beberapa langkah saja. Sampai di kamarnya, Radit membuka baju mengganti dengan piyama tidur dan sekedar membersihkan diri.
Mungkin semesta belum mendukung Radit untuk kembali menjalin sebuah hubungan baru dalam kehidupannya. Ia sudah mendapat penolakan. Wanita itu memberinya dinding pembatas yang tidak boleh dilewati saat ini.
Lukanya terlalu dalam, mungkin. Radit mungkin jatuh cinta pada Anisa. Percikan asmara itu tidak terasa mulai membakar Radit. Radit mengalah, ia menerima permintaan Anisa untuk saling menjauh. Radit turuti semata mata untuk menguatkan dirinya. Seperti ketika kita akan melakukan sebuah lompatan, otomatis melangkah mundur sebagai persiapan untuk bisa bertolak sejauh mungkin.
Bila sudah saatnya, Radit akan memperjuangkan perasaannya hingga menjadi pemenang. "Tunggu waktunya, Anisa. Jika itu sudah terjadi, kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dariku'' ungkap Radit dalam hati.
Radit kembali berdiri di atas balkon. Rumah sebelah i masih menyala. Radit memperhatikan bayangan yang masih hilir mudik di rumah itu. Beberapa saat kemudian rumah itu menjadi gelap dan sunyi. Pemiliknya bersiap menjemput mimpi.
"Selamat malam, Nis. Mimpi yang indah"
***
Anisa membuka pintu berlahan, tidak ingin menimbulkan suara yang akan membangunkan ibu atau Alea. Semalam ini, ibu pasti sudah terlelap dalam mimpi. Anisa meletakan tasnya di gantungan. Kemudian membersikan diri. Anisa mepersiapkan kebutuhan Alea untuk besok pagi setelah itu, ia memadamkan seluruh lampu. Bersiap untuk menjemput mimpi.
Anisa merebahkan dirinya di atas ranjang. Perbincangannya dengan Radit malam ini begitu membekas. Ucapan Radit, benar. Dia belum sepenuhnya iklas, hingga masih terus merasa sakit. Hatinya mudah sekali untuk rapuh, merasa lelah dan sakit. Seribu andai yang tak berguna. Karena waktu tidak bisa di putar kembali. Ia tetap harus menghadapi hidup sendirian dan berjuang.
Saat memutuskan untuk mengahiri pernikahan. Harusnya Anisa mengerti betul. Cepat atau lambat akan ada pria yang datang menawarkan sebuah kehidupan yang berbeda.
__ADS_1
Anisa menghapus lelehan air matanya. Kemudian matanya terpejam. Hingga mimpi dan asa menjemputnya. Mengarungi Malam menyongsong pagi.
**
Keesokan harinya Anisa berangkat mengajar. Saat melintasi rumah Radit Ia melihat Radit sudah berada di depan gerbang. Pria itu dengan sejuta pesonanya berdiri di samping mobil mewahnya. Radit sempat melihat ke arahnya dengan wajah datar. Kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Anisa.
Anisa tersenyum kecut. Bukankah ini yang diinginkan dirinya, Radit menjauh. Tidak lagi mengganggu hari harinya. Pria itu benar benar menepati janji. Anisa pun menginjak gas mobilnya kemudian melalu menuju SMA Garuda tempatnya mengajar.
Anisa sudah berdiri di dalam kelas, Ia mulai menerangkan materi pelajaran matematika tentang eksponen atau pangkat. Satu persatu Anisa menjelaskan beberapa sifat eksponen. Dari mulai A pangkat n dikalikan A pangkat m sama dengan A pangkat n ditambah m . Demikian juga jika suatu bilangan berpangkat nol berarti bernilai satu dan masih ada beberapa lagi sifat eksponen.
Murid murid sangat jelas dengan apa yang diterangkan oleh Anisa. Mereka belajar dengan asik dan santai. Untuk sebagian orang, matematika merupakan suatu pelajaran paling tidak disukai. Padahal dengan kita memperhatikan dan sering berlatih akan mempermudah untuk memahami.
Bel pun berbunyi tanda pelajaran usai. Semua bergegas keluar untuk istirahat. Anisa menuju ruang guru kemudian meletakkan buku bukunya di atas meja. Nania mendekat sambil menyodorkan beberapa kue. Anisa tersenyum cerah mendapat suplai asupan makanan menjelang siang, lumayan untuk mengganjal perut sementara agar lebih bisa fokus dan bahagia.
"Kamu memang teman ter the best
Nania, terima kasih banyak, ya"
"Sama sama Nis, bagaimana perkembangan mu dengan pak tetangga, sudah ada kemajuan?" Keduanya duduk berjajar sambil menikmati kue.
" Histh ...gak ada. kita pure tetanggaan "
"Nis, apa kamu terlalu polos ? Kamu tidak memperhatikan pak Duren yang tampan itu menatapmu penuh kekaguman"
"Nania, aku belum berfikir menjalin hubungan lagi"
" Kalau kamu ingin sembuh dari lukamu, cobalah menjalin hubungan lagi, Nisa. Kalau kamu masih asik dengan kesendirianmu. Kamu akan semakin terpuruk. Jangan sia siakan waktu. Hidup kesepian itu menyedihkan"
Puk puk... tepukan di punggung Anisa oleh Nania. Layaknya menenangkan anak kecil. "Nania, aku akan melakukannya, hanya saja aku belum sanggup,tunggu beberapa saat lagi" batin Anisa berkata
"Tunggu satu tahun lagi, mungkin aku sudah siap" tiba tiba Anisa berkata seperti itu pada Nania.
"Heh nona, jatuh cinta itu tidak bisa direncanakan"
Nania terbahak mendengar sahabatnya berkata. Nania harus maklum Anisa itu guru matematika jadi semuanya harus pasti dan bisa di hitung, bahkan bagi Anisa sebuah peluang pun ada rumusnya seperti rumus peluang lempar dadu dalam soal MTK.
"Bisa saja Nania, segala yang terencana pasti lebih bagus"
"Itu teori, Nis. Pada kenyataannya ada yang namanya fakto X"
"Maksudmu?" Jawab Anisa bingung.
"Faktor X, itu bisa berupa keberuntungan dan kesialan. You know, what i mean?"
"Iya tapi kita boleh kan, berencana?"
"Terserah kamu, Nis. Tiba tiba pak tetangga melamarmu, baru tau kamu" Nania pasrah
Ucapan Nania sebenarnya sudah terjadi, entah itu serius atau bercanda. Pak tetangga sudah memintanya jadi istri. Anisa diam saja.
"
__ADS_1