
Gadis cantik itu mengenakan gaun warna merah muda, dengan rambut panjang sebahu yang dibiarkan terurai begitu saja. Ia duduk di atas kursi sambil mengayun ayunkan kakinya.
"Pak Radit tidak ada, Dila. Dia sedang keluar" ucap Arman sambil menatap dalam pada gadis cantik di depannya. Arman hanya bisa menelan Saliva. Sebagai pria yang menyimpan rasa, Arman mencoba menahan diri. Meski sering rasa sakit dan cemburu yang dirasakan olehnya saat sang wanita pujaan justru mencari pria lain.
" Mas Arman bohong, kan ? Saya harus ketemu mas Radit hari ini juga" Dila masih merajuk
"Kamu memang keras kepala, Dila. Terserah kamu saja. Silahkan menunggu pak Radit sampai kamu bosan" Arman mulai kesal dengan Dila
"Aku akan menunggu" Dila tak kalah ketus.
Arman menatap layar komputernya sambil terus menyalin berkas yang baru saja di berikan Siska. Sesekali telepon di mejanya berbunyi. Semua menanyakan tentang keberadaan Radit yang tidak muncul hari ini.
Dila memperhatikan Arman. Meskipun pria itu menyebalkan, tapi Dila tidak boleh menyerah begitu saja. Dia tetap akan menunggu sampai Arman memberinya info tetang keberadaan Radit.
"Mas Arman, aku haus" Dila mulai merecoki Arman yang sedang fokus bekerja. Dila sangat tau kelemahan Arman. Pria itu memiliki rasa yang lebih padanya. Dia bisa memanfaatkan itu.
Arman menoleh sekilas, kemudian menghubungi bagian pantry untuk membawa minuman dingin ke ruangannya. Ia melanjutkan kembali pekerjaannya
"Mas Arman, nanti ajak aku makan siang lagi, ya "
"Aku sibuk " ujar Arman mencoba acuh pada Dila.
" Mas Arman emang tega ,kalo liat aku pingsan di sini karena kelaparan ?"
"Terserah, kamu sudah besar dan punya uang. Kamu bisa beli sendiri atau pesan"
" Mas Arman jahat "
Kemudian Dila mendekati Arman di meja kerjanya. Jantung Arman mulai berdetak kencang. Dila sudah begitu dekat dengannya. Bahkan harum parfum Dila membuat Arman kehilangan konsentrasi.
Arman mengerjapkan matanya. Sekuat tenaga mengendalikan diri, Posisi Dila hanya tinggal satu langkah darinya. Arman dapat melihat dengan jelas kaki jenjang Dila yang berbalut kulit putih tanpa noda. Arman semakin terprovokasi. Tiba tiba Arman merengkuh pinggang Dila, membawa tubuh Dila semakin tak berjarak dengannya.
Mata Arman terfokus pada satu titik, bibir cantik Dila yang tipis sedikit membuka. Entah setan dari mana, tiba tiba saja Arman sudah menyatukan bibirnya. Dila mulai memberontak, Pada perlakuan Arman yang sudah sangat kurang ajar pada dirinya.
Arman terhanyut dengan permainannya sendiri. Bahkan tangannya sudah mulai bergerilya dipunggung Dila, Mengusap dengan tekanan yang lembut. Dan plakkk....
Arman tersentak, Sebuah tamparan mengembalikan kewarasannya. Arman melepaskan Dila. Dila langsung mendorong dada Arman dengan sekuat tenaga. Gadis itu meluapkan amarahnya pada Arman. Pria yang sudah berani mengambil ciuman pertamanya.
Arman terdorong beberapa langkah ke belakang. Ia tersenyum tanpa merasa bersalah meski sudah membuat Gadis yang selalu dia impikan menangis.
"Apa kamu menyesal sudah berciuman dengan ku?" Arman berkata sambil mengusap bibirnya sendiri. Ia terlihat begitu menikmati.
" Mas Arman, kurang ajar" Sentak Dila di tengah isakkannya.
"Aku menyukai mu Dila, aku tidak suka kau mengejar ngejar pak Radit. Pak Radit sudah bertunangan. Beberapa hari lagi dia akan menikah "
''Tidak mungkin, mas Arman pasti berbohong, kan?"
"Itu benar, Dila. Pak Radit hanya menganggap kamu sebagai adiknya. Akulah orang yang mencintaimu. Berhentilah merendahkan dirimu dan mengejar ngejar kakak iparmu. Kalau kamu tidak percaya, pergilah ke rumah pak Radit. Sekarang, pak Radit sedang bersama dengan calon istrinya"
Dila tetap tidak percaya. Ia menganggap Arman tetap berbohong. Setengah berlari Dila keluar dari ruangan Arman. Terlihat sorot mata yang begitu kecewa dari gadis itu. Begitu juga Arman, ia kecewa saat Dila begitu terluka karena pria lain.
Dila mempercepat laju mobilnya menuju ke rumah Radit. Dia harus membuktikan ucapan Arman. Dila mengagumi Radit sejak dulu. Meski Radit masih bersama almarhum kakak kandungnya. Dila yang menjadi saksi betapa Radit adalah pria yang sangat layak untuk di perjuangkan. Dila mengetahui kisah Bela dengan pria yang di temukan meninggal bersama di dalam kecelakaan mobil.
__ADS_1
Rasa bersalah Dila berkembang menjadi rasa yang selalu ingin membuat Radit bahagia. Dila ingin menjadi wanita yang bisa membahagiakan Radit.
Arman melamun setelah kepergian Dila dari ruangannya. Ada rasa bersalah karena sudah berbuat kurang ajar dan menyakiti Dila. Namun disisi lain Arman juga bahagia. Setidaknya, Dila mengetahui fakta bahwa Radit telah bertunangan dan Arman telah mengungkapkan perasaannya yang selama ini ia pendam.
Arman tinggal menunggu kemarahan Radit karena telah membocorkan keberadaan Radit saat ini. Arman akan menanggung Resiko itu.
***
"Mas Radit, mas... "
Suara Dila menggema dari sudut ruangan rumah Radit. Beberapa asisten mencegah Dila masuk ke lantai atas. Tapi Dila tidak perduli dan tetap menerobos naik ke lantai dua.
" Mas Radit .. mas ..." Dila terus berteriak manggil Radit. Gadis itu sudah menghilangkan rasa malunya.
Beruntung, Bu Ratna dan mama Arini sudah pergi bersama anak anak ke tempat gedung yang akan di gunakan untuk persiapan pernikahan Radit.
Sayup terdengar suara Dila yang memanggil nama Radit. Keduanya kemudian diam memastikan suara yang sayup sayup terdengar.
"Nis, kamu dengar, kan. Seperti ada orang yang memanggil manggil namaku?"
" Iya, aku dengar. Sebaiknya kita masuk ke dalam rumah" ajak Anisa pada Radit. Tapi Radit malah menggeleng. Ia mencekal tangan Anisa. Mencegah Anisa masuk ke dalam rumah. Tatapan Radit membuat Anisa merinding. Apalagi senyumnya yang begitu tipis.
"Mas..." Anisa tampak gugup. Sambil mengibaskan cekalan tangan Radit.
"Nis, Aku ..." Radit ingin mengungkapkan perasaannya pada Anisa dengan layak tapi pintu yang menghubungkan rumah dan balkon tiba tiba terbuka.
"Mas Radit ...?" Dila muncul di sana. Menghancurkan momen romantis yang hampir tercipta. Dila berteriak histeris mendapati Radit sedang bersama wanita.
"Dila..?" Radit melepaskan tangannya dari Anisa.
"Siapa dia? jangan katakan dia calon istrimu, mas" ucap Dila sambil menunjuk ke arah Anisa
"Dia Anisa, calon istriku" tutur Radit lemah. Radit hampir kehilangan energi untuk menghadapi Dila. Berkali kali memberi pengertian pada gadis itu tapi hasilnya nihil.
" Tidak..., mas Radit taukan? Dila cinta sama mas Radit. Harusnya Dila yang jadi istri mas Radit" Dila menangis gadis itu luruh di lantai.
" Dila, jangan konyol kamu! Kamu itu adikku sendiri. Mana mungkin aku punya rasa yang lebih, Dila"
Dila berdiri, mencoba mendekat ke arah Radit dan Anisa. Sedang Anisa hanya terpaku melihat adegan demi adegan di depannya. Jantungnya hampir copot mendapati kenyataan bahwa adik ipar Radit. mencintai Radit.
Saat Dila makin mendekat, Radit melindungi Anisa dengan berdiri di depan Anisa Persis. Radit tidak ingin sampai Anisa terluka oleh ulah nekat Dila yang terlihat sangat marah.
" Kamu" Ucap Dila sambil menunjuk Anisa yang terhalang tubuh Radit. "Kamu tidak pantas bersanding dengan mas Radit. Kamu menghancurkan semua impianku. Harusnya aku yang ada di posisimu sekarang. Aku yang mencintai mas Radit lebih dulu, Bahkan jauh sebelum mbak bela pergi"
"Dila..!" Bentak Radit saat itu juga. "Pulang, sebelum aku menghubungi mama dan menceritakan betapa memalukannya kamu. Bisa bisanya merayu kakak iparmu sendiri"
"Aku tidak mau. Apa bagusnya dia dari aku, mas Radit? Wanita ini mungkin hanya menginginkan hartamu saja. Bertingkah sok polos. Aku, aku mas. Yang tulus mencintai kamu" Ucap Dila sambil menunjuk dan memandang sinis pada Anisa .
Radit segera mencengkram tangan Dila yang menunjuk kearah Anisa. Radit tidak rela Anisa di perlakukan seperti ini.
"Cukup Dila, aku sudah tidak bisa lagi mentolelir kelakuanmu ini"
Dengan paksa Dila di seret oleh Radit dan diserahkan pada sekuriti rumah yang sejak tadi menunggu aba aba dari Radit.
__ADS_1
Radit kembali menghampiri Anisa .yang masih syok dengan kedatangan Dila.
" Nis, kamu baik baik saja ?"
Mata Nisa menatap nanar Radit. Ia hanya mengangguk lirih. Radit mengerti betul harus menjelaskan sesuatu pada Anisa. Agar Anisa tidak salah paham untuk ke depannya.
"Nis, dia adik dari almarhum istriku, Bela.
Aku tidak punya perasaan apapun untuknya. Dia sudah seperti Adiku sendiri ''
"Tapi dia cinta kamu, mas "
"Aku tidak, aku cintanya sama kamu" Radit kembali meraih jemari Anisa. Menatapnya penuh perasaan. "Mungkin Dila hanya terobsesi denganku. Aku tidak tahu"
Anisa menunduk, Anisa akui Radit merupakan sosok yang begitu sempurna. Jauh di lubuk hati Anisa masih tersimpan rasa takut untuk kembali kehilangan dan tercampak. Semua ini baru awal saat melangkah ke gerbang pernikahan bersama Radit. Anisa tidak berani membayangkan ke depannya akan seperti apa.
"Nis, buang rasa takutmu. Kamu bisa mengandalkan aku. Sekarang dan sampai nanti. Disini, berdetak karena kamu" .Radit mendekapkan tangannya ke dada kirinya. Sambil terus menguatkan Anisa yang hampir meragu. "Dengarkan aku, Nisa. Bela sudah meninggal tiga tahun lalu. Aku tak menyangkal banyak wanita yang datang menawarkan diri padaku. Aku tidak pernah tergoda. Aku bukan orang yang mudah untuk jatuh cinta. Hatiku yang memilih kamu" Radit tau, wanita yang akan ia nikahi masih memiliki trauma yang dalam. Dengan tulus Radit mengungkapkan perasaannya pada Anisa.
"Nis..." Radit memanggil Anisa yang masih diam menelaah seluruh ucapan Radit.
" Maaf...,. Mungkin kamu akan lelah menghadapi aku yang masih menyimpan rasa takut. Bantu aku melupakan kesakitan yang masih terus menghantuiku. Aku akan berusaha memijakkan kaki dengan keyakinan ku sendiri, nanti"
"Pasti, Nis. Kita hadapi bersama" Radit mengangguk dengan mantap.
Radit meraih tangan Anisa, keduanya memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah. Sudah cukup lama mereka mengungkapkan perasaan masing masing. Sampai lupa meninggalkan Mama dan ibu Ratna yang sudah kembali pergi tanpa memberitahu mereka.
"Aku mau pulang"
"Kita makan siang bersama, dulu. Perutku lapar. Aku tidak bisa makan sendiri" Radit mulai merajuk pada calon istrinya.
Anisa tersenyum dengan tingkah Radit yang kekanakan. Anisa sudah memperkirakan permitaan Radit yang satu ini hanya bagian dari modus pria itu untuk lebih lama dekat dekat dengan dirinya. Tiga tahun terakhir, selama menduda, ia selalu makan sendirian. Mungkin jika beruntung di temani Ara, itu pun kalau Radit pulang awal.
"Yakin tidak bisa makan kalau sendiri?"
"Iya, paling..."
"Mas tidak usah manja. Aku mau pulang. Aku panggilkan pak Sam buat menemani mas Disa makan siang"
"Niss"
"Tiga tahun terakhir kan mas menduda, trus setiap kali makan siapa yang menemani? Klien, Arman, Ara, atau pak Sam supir pribadi, mas? atau..."
"Manja sama calon istri boleh dong, Nis" Serobot Radit dengan Alus yang naik turun
"Aku tau kalau mas cuma modus" Jawab Anisa singkat. "Tapi aku mau pulang, kejadian barusan cukup membuatku lelah. Aku ingin istirahat, sebelum Lea dan Ara pulang"
"Ya sudah, kamu istirahat saja di sini" Radit masih berusaha mencegah Anisa pergi. Tapi Radit harus kecewa saat Anisa tetap menggelengkan kepala. Dengan berat hati Radit membiarkan Anisa pulang ke rumahnya sendiri.
Anisa pulang ke rumahnya sendiri yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah Radit. Radit mengantar Anisa sampai pintu samping rumahnya. Anisa melarang Radit mengikutinya sampai rumah. Tentu saja bukan hal yang baik berdua di rumah Anisa yang sepi. Tidak ada orang lain lagi di sana.
Membiarkan Anisa sendirian saat ini adalah pilihan terbijak. Memberikan sedikit ruang untuk menikmati masa kesendiriannya yang akan segera terenggut oleh Radit. Radit menyadari itu. Hubungan mereka memang di buat secepat itu oleh Radit.
Di rumahnya Anisa merebahkan diri setelah berganti baju. Ia mencoba merenungkan kembali semua yang terjadi. Sikap Radit, cara pria itu melindungi, menganyomi, menguatkannya. Juga tidak lupa dengan modus dan juga keisengan pria tersebut. Anisa pun lelah ia terlelap dalam tidur siangnya.
__ADS_1