
Radit sudah berada di kantornya, Ia sedang berhadapan dengan Arman. Hari ini, Radit terlihat berbeda dari biasanya. Wajahnya bercahaya dan terlihat lebih ramah. Benar benar wajah pengantin baru yang begitu bahagia. Arman hanya bisa menahan senyum.
Arman memberikan berkas pada Radit untuk di periksa ulang. Arman sudah menandai bagian bagian yang di rasa janggal. Arman berusaha setenang mungkin menjelaskan beberapa laporan yang dia bawa. Arman sadar, Radit orang yang cukup tegas untuk urusan pekerjaan. Meskipun saat ini Radit dalam mood yang bagus, tapi bisa saja berubah menjadi serigala jika menyangkut perusahaan yang dia kelola.
" Kenapa kamu terlihat begitu gelisah? Apa ada yang serius, Arman?
"Banyak sekali kecurangan yang terjadi, Bos" Arman sudah bersiap untuk menerima tatapan tajam Radit seperti
biasanya.
"Kamu panggil direktur pelaksana dan bentuk tim investigasi. Jika terbukti mereka melakukan kecurangan, ganti dengan orang kepercayaan kita''
"Baik " Arman sedikit lega terbebas dari makian Radit pagi ini. Radit tidak terlalu berapi api menghadapi permasalahan untuk saat ini.
Arman hendak melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Radit.
"Tunggu, kamu belum melaporkan progres misi yang saya berikan''
" Tidak ada masalah bos. Dila sudah mulai mau saya ajak jalan" Arman tersenyum lebar.
"Pakai jurus apa kamu ?" Tanya Radit sambil menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesarannya.
Arman tersenyum penuh arti .Membuat Radit jadi penasaran. Jurus apa yang membuat gadis keras kepala seperti Dila menjadi penurut.
"Ada bos, dilarang copy paste. Rahasia " Ujar Arman " Bos sejak punya bini, jadi lebih baik dan sabar, tidak seperti biasanya. Mungkin karena saluran emosi bos sekarang lancar, ya? " Arman menggoda Radit.
"Makanya cepetan nikah. Biar saluran otakmu juga lancar jadi lebih cerdas" Radit membalas celotehan Arman.
"Baik, bos,. Tunggu saja tidak lama lagi Aku pasti akan segera menyusul "
" Ingat, tidak ada lagi keributan yang di buat Dila. Aku ingin hidup tenang bersama istri dan anak anakku''
"Beres bos ''
***
Bigo mencengkram tangan Gina. Menatapnya tajam seakan ingin menelan Gina hidup hidup. Hawa seram dari lekuk wajah Bigo dengan luka sayatan menambah kegarangan raut wajah Bigo.
Gina mencoba berani, Ia harus bisa menguasai keadaan. Gadis itu kembali menatap Bigo .Dicarinya hati yang tergambar dari sorot mata dingin. Wajahnya memang kejam tapi pria ini pasti punya sisi lemah.
"Namaku Gina" mengulas senyuman manis sembari mengusap punggung tangan Bigo dengan lembut.
Bigo berdeham, pria itu kagum akan keberanian gadis cantik yang ada di depannya. "Kamu bisa melakukan apa yang aku suka, kamu yakin, kamu tidak takut ?"
"Saya harus memanggil mu apa? Aku sengaja menyiram mu dengan jus. Aku ingin menawarkan kesepakatan dan aku yakin kamu orang yang tepat''
Bigo terkekeh mendengar ucapan Gina. Wanita ini terlalu berani, mungkin karena tidak tau siapa dirinya. Dia belum mengenal Bigo
"Kamu sangat berani, nona. Kamu belum mengenalku. Dua jempol untuk keberanianmu. Dengar, jika kamu sudah berurusan dengan Bigo, kamu tidak bisa lepas begitu saja"
" Aku tau namamu Bigo, Kamu sangat terkenal keji di dunia hitam, Perampokan dan pembunuhan. Kamu juga sangat kesulitan jika berhadapan dengan
__ADS_1
wanita" Gina mengedipkan sebelah mata. Membuat Bigo kelabakan.
"Apa mau mu?" Bigo semakin penasaran.
"Kalau kau mau, aku akan ikut ke apartemenmu dan membicarakannya di sana" Ucap Gina seperti mendapat peluang .
"Ikutlah kalau kau berani " Bigo masuk kedalam mobilnya dan diikuti oleh Gina
Sampai di sebuah Apartement, Bigo memarkirkan mobilnya. Ia segera turun dan masuk dalam sebuah lift dan Gina hanya mengekor di belakang Bigo.
Unit ruangan yang cukup luas, ada dua buah kamar dan ruang tamu yang menyatu dengan minibar. Bigo melepaskan jaketnya yang basah dan menyalakan sebatang rokok.
"Katakan! apa yang kau mau dariku ?"
"Fatah, aku tau kau sedang ditugaskan untuk mencari mantan istri dan putrinya Fatah. Temukan dan laporkan pada Fatah seperti perintahnya. Kamu akan tetap mendapat uangnya. Tapi aku ingin kamu juga menyingkirkan dua orang itu. Buat seperti sebuah kecelakaan. Aku ingin Fatah merasakan sakit yang sesungguhnya. Dia sudah mempermainkan hidupku"
"Lalu apa untungnya untukku?"
"Hidup dan tubuhku" jawab Gina mantap
"Kau terlalu percaya diri, Aku bisa mendatangkan banyak wanita cantik ke Apartemen ini, mengapa harus kamu?" Bigo tergelak.
"Mereka semua pelac**r banyak pria yang sering memakai. Sedang Aku hanya pernah tersentuh oleh satu pria, dia Fatah orang yang menyewa mu. Aku akan menyerahkan hidupku bahkan akan melahirkan anak anak mu jika kau mau"
"Tawaran mu menarik,nona. Kamu sadar? Kamu akan terkurung seumur hidup denganku jika melahirkan anak anakku. Kamu menukar kebebasanmu hanya untuk dendam, Apa kamu yakin?"
"Yakin, bahkan aku sangat yakin dengan keputusanku. Aku juga percaya kau pasti bisa mewujudkan impianku. Impianku adalah melihat Fatah hancur. Seumur hidupnya, dia akan terus meratapi dan menyesali keputusannya membuangku. Dia akan kehilangan dua orang yang sangat berarti di hidupnya"
Bigo memang bisa mendatang kan banyak wanita cantik karena uang. Tapi tidak akan ada wanita yang mau mengandung anaknya. Mereka akan sangat jijik dengan luka yang ada di wajahnya. Dan Gina dengan gamblang menawarkan diri untuk seumur hidupnya.
Gina mendekati Bigo kemudian ia mengusap wajah Bigo dengan jemari lentiknya, seolah ia sedang membelai, memberikan rasa nyaman pada Bigo yang sedang bimbang. Cup ..Gina mendaratkan kecupan di wajah Bigo yang terdapat luka sayatan. Bigo mengerjap, merasakan rasa hangat yang mengalir hingga Unjung hatinya. Rasa yang membuat gejolak di dadanya meletup letup untuk yang pertama. Sekejam apapun, teryata hati Bigo mendambakan kasih.
Tatapan tajam Bigo meredup, apalagi saat jemari Gina mulai berani menyentuh bibir kehitaman milik Bigo. Berulang kali Bigo mengerjapkan mata. Dia terbuai oleh gerakan jemari Gina yang terus memprovokasi, seolah Gina sangat menginginkan Bigo.
Bigo sudah terbawa permainan Gina. Ia hanyut dalam perasaan yang begitu membuai. Tubuh Bigo merespon dengan sangat baik. Tangan kekarnya yang di penuhi bulu juga tato mulai menyandra Gina dalam rengkuhan.
Gina tersenyum tipis, ia telah berhasil membawa Bigo dalam romansa yang ia buat. Mendadak Gina menghentikan aksinya ketika nafas Bigo mulai memburu. Tentu saja Bigo kesal, namun Gina segera memeluk tubuh kekar Bigo dengan hangat, meredakan amarah yang hampir muncul.
"Aku akan seperti ini seumur hidupku, untuk kamu dan kelak akan ada anak anak mu yang lucu dari rahimku. Lakukanlah! setelah misimu selesai, aku akan menjadi milikmu" Bisik Gina manja di telinga Bigo.
Bigo serasa melayang dengan sentuhan intim yang sarat dengan emosi. Bigo sepertinya mulai jatuh hati. Merasa candu dengan perasaan hangat yang Gina berikan.
"Baiklah, aku akan melakukannya. Ingat, kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku setelah misiku selesai"
"Tentu saja, aku sangat menantikan saat itu tiba. Berikan nomor ponselmu, Bigo"
Seperti orang yang terhipnotis Bigo memberikan ponselnya begitu saja . ....
"Aku tau kelemahannu adalah cinta...kau pria yang sangat haus dengan cinta"
***
__ADS_1
Anisa baru saja membacakan buku cerita untuk Lea dan Ara. Sekarang dua bocah itu sudah tertidur lelap. Dengan hati hati, Anisa menutup pintu kamar anak anaknya. Malam sudah semakin larut. Rumah yang besar ini pun kian sepi. Anisa menyalakan tv sembari menunggu kehadiran Radit yang belum juga pulang.
Mobil Radit baru saja masuk ke dalam halaman rumah. Pria itu muncul dengan raut wajah yang telihat sangat lelah. Hampir satu minggu ini Radit selalu pulang saat malam telah larut. Ia harus benar benar konsentrasi dengan pembangunan mall yang baru mulai dikerjakan.
Anisa segera menyambut Radit yang baru saja pulang. Membawakan tas dan mencium punggung tangan sang suami. Tidak lupa senyuman manis selalu tersungging.
"Capek?"
"Hmm"
"Mau makan dulu?"
Radit hanya menggeleng. Tapi tangan kokohnya langsung mengamit pinggang sang istri.
"Maunya makan kamu" ucap Radit sambil terkekeh. Menyenangkan sekali hidup seperti ini. Meskipun lelah, saat pulang sudah ada orang yang menyambutnya, memperhatikannya. Anisa hanya mencubit kecil perut Radit.
"Auw" Radit pura pura menjerit. Tidak sampai di situ saja. Dengan tiba tiba, Radit menggendong tubuh mungil Anisa ala pengantin. Meskipun terkejut, Anisa mencoba menahan suaranya agar tidak terdengar oleh penghuni rumah yang sudah terlelap. Mereka saling menatap sambil menapaki tangga.
Radit meletakan Anisa di atas ranjang mereka. Setelah itu, ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Anisa hanya menatap malas pada Radit. Dia tau betul apa yang diucapkan Radit bukanlah hanya sebuah candaan.
Anisa menyiapkan baju ganti untuk Radit. Ia berusaha sebaik mungkin memperhatikan kebutuhan suaminya. Meski masih banyak sekali yang harus ia pelajari dari kebiasaan Radit.
Radit keluar dari kamar mandi dengan badan yang sudah segara. Ia melirik ke arah Anisa yang sudah berbaring. Setelah mengeringkan tubuhnya Radit masuk kedalam selimut bersama Anisa
"Mas, bajunya kok gak di pake?"
"Kelamaan, nanti juga dilepas lagi" Radit mengerling nakal
"Sudah malam, mas"
Radit tidak mau menjawab, pria itu masih harus memendam rasa kecewa. Sampai sekarang, Anisa masih saja bersiikap dingin padanya jika berurusan dengan olah raga ranjang.
"Sayang, apa kamu belum bisa mencintaiku?" Radit bertanya sambil tangan dan bibirnya beraksi.
Pertanyaan Radit membuat Anisa salah tingkah. Wanita itu masih menunduk, tidak berani menatap mata Radit yang memendam kecewa. Anisa bukan tidak mencintai Radit, wanita itu hanya belum bisa sepenuhnya percaya untuk menyerahkan hatinya pada Radit.
"Nis, I love you" Bisikan itu terdengar di telinga Anisa. Ada hawa panas dan juga nafas yang memburu dari mulut Radit, hal ini membangkitkan gelenyar di sekujur tubuh Anisa.
Anisa wanita normal yang akan tersulut saat mendapat perlakuan intim. Apalagi sentuhan Radit begitu memabukkan. Radit tidak bisa menahan diri. Pria itu hanya bertekat untuk membuat Anisa percaya. Cinta yang dia miliki tidak akan pernah berpaling.
Setiap malam menjadi malam panjang bagi keduanya. Terkadang Anisa kewalahan dengan keinginan Radit Yang tiada bosan terus menagih haknya.
Radit sudah terbuai mimpi setelah mendapatkan apa yang sangat ia inginkan. Anisa memasangkan baju yang tadi belum sempat Radit pakai dan menyelimutinya.
" Bukan aku tidak mencintaimu, mas Disa. Tapi aku masih sangat takut jika kau pergi meninggalkanku dan membawa serta seluruh hatiku. Lalu apa yang tersisa ? kau terlalu sempurna mas. Terima kasih telah bersabar dalam menghadapi ku"
Anisa mengusap rambut Radit kemudian mengecup mesra. Sebenarnya Radit belum tidur saat itu. Ia hanya berpura pura memejamkan mata. Radit mendengar keraguan yang bersemayam di hati Anisa. Ia menikmati kasih sayang yang Anisa berikan. Mendengar setiap kata yang terucap lirih dari mulut Anisa.
Di balik selimut ada hati yang sangat bahagia. Bukan cinta sendiri, wanita yang ia cintai hanya menahan diri saja Anisa rebah di samping Radit, ia menyusul dalam dunia mimpi. Suara dengkuran halus sudah terdengar dari bibir kecilnya.
Radit melingkarkan tangannya di pinggang ramping Anisa. Membawa masuk tubuh Anisa dalam pelukannya. Perasaan nyaman dan indah. "Tetaplah di sampingku Anisa, aku bukan pria sempurna seperti yang kau nilai. Aku akan rapuh tanpa dirimu" tutur batin Radit
__ADS_1