
Arini dan Wijaya sudah masuk ke dalam ruangan rumah Ratna. Tak seperti lamaran biasanya yang akan dihadiri banyak orang. Ini lamaran istimewa Radit untuk Anisa ...privat cukup keluarga inti saja. Itu pun, adik Radit tidak bisa hadir karena acaranya begitu mendadak. Semuanya Radit persiapkan secepat mungkin.
Anisa mengenakan gaun yang Radit belikan tempo hari. Gaun terusan berwarna salem. Sangat cantik melekat di tubuh mungil Anisa. Meskipun berbalut Pakaian tertutup,tapi tidak bisa menutupi kecantikan alami Anisa.
Wijaya mulai mengutarakan niatnya pada bu Ratna untuk mewakili Radit yang tiba tiba jadi begitu gugup. Dengan nada yang Santai, Wijaya mempermainkan kata katanya. Sedikit mengolok putranya yang sudah tidak tahan ingin memiliki istri. Kontan saja, Wajah Radit semakin memerah.
Kini giliran Bu Ratna menjawab permintaan tuan Wijaya untuk meminta Anisa jadi menantunya. Sesaat suasana menjadi hening saat Bu Ratna menyerahkan keputusan untuk menerima lamaran Radit pada Anisa sendiri.
Anisa masih menunduk, jemarinya saling bertautan. Kemudian Anisa menatap Radit yang saat itu sedang menatapnya juga. Di sana Anisa melihat kesungguhan pria itu. Dengan berucap bismilah
"Nisa terima lamaran mas Disa, Bu" Ada rasa lega di wajah Radit dan Anisa.
"Loh kok, mas Disa Nis?" protes mama Arini
"Ma...itu panggilan spesial untuk Radit dari Anisa" ucap Radit malu malu sambil mengusap tengkuknya.
"Loh, sudah punya panggilan spesial juga, kalian? Mama kok, tidak tau. Kalian ada main di belakang mama?" Mama Arini terlihat sangat ingin tau. Pasalnya kemarin kemarin mereka seperti masih bermusuhan. Bahkan Radit tidak yakin bisa menaklukan Anisa.
"Sudah, ma. Sekarang pasang cincin Radit di jari Anisa" Radit terlihat kesal. Sedang tuan Wijaya tampak acuh saja dengan kehebohan istrinya. Pria itu sedang asik mencicipi kue yang ada di depannya.
"Iya, Dit. Kamu ini tidak sabaran sekali. Anisa sudah mau kok, jadi mantu mama"
Arini memasangkan cincin di jari Anisa. Lea dan Ara sudah memiliki acara sendiri. Keduanya asik bermain di kamar Anisa.
Radit menatap Anisa penuh pemujaan. Pria itu terlihat bahagia dan lepas. Untuk pertama kalinya setelah hari hari yang begitu hampa. Keindahan itu kembali menyapa. Menggugah rasa yang hampir beku. Radit mengucapkan rasa sukurnya dengan mencium punggung tangan Bu Ratna dan kedua orang tuanya.
Radit.
Malam ini akan menjadi sejarah dalam hidup kami, terutama Aku. Perasaan takut dan juga resah terus mengelayutiku. Belum lagi godaan papa yang begitu memalukan. Iya, aku tidak sabar untuk menikah lagi. Tapi tidak harus diPerjelas juga di depan Anisa.
Perasaan takut untuk ditolak oleh Anisa membuatku sedikit gentar dan tak banyak bicara. Aku menyerahkan pada papa sepenuhnya.
Anisaku terlihat luar biasa malam ini. Rasanya ingin menyentuh keindahan yang ada pada dirinya. Detak jantungku lebih kurang ajar lagi, memacu kencang lebih dari biasanya. Anisaku memang selalu cantik. Gaun yang aku belikan kemarin. begitu menyatu dengan karakternya yang lembut dan penyayang
Bagiku untuk jatuh cinta padanya, tidak butuh waktu lama. Aku tidak bisa menolak pesona ragawi yang dia miliki. Selain itu, aku sudah sangat mengenal wanita ini. Aku menyayanginya dari dulu.
Skenario Tuhan memang begitu unik. Kami kembali dipertemukan setelah sekian tahun. Di waktu dan situasi yang tepat. Aku anggap ini Anugrah. Berkelebat lagi saat perjumpaan pertama, ia menabrak aku di depan sebuah gedung yang teryata itu adalah kantor mantan suaminya dahulu .
Keadaannya sangat menyedihkan, Air matanya berlinang. Saat membereskan berkasku yang berceceran di bawah. Ia meminta maaf berulang ulang. Aku sudah merasakan sangat mengenal wanita ini, tapi di mana? bahkan aku sangat kawatir waktu itu. Tapi aku bukan siapa siapanya.
Setalah kami saling tatap, Anisa menerima lamaranku. Nikmat mana lagi yang bisa kudustakan. Seketika Duniaku begitu indah. Aku akan menjaga dia dan Lea. Tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mereka.
Aku melihat keterkejutan Anisa, saat papa mengutarakan, aku akan menikahinya pekan depan. Tapi dia hanya bisa menutup bibirnya dan menahan perasaannya. Untuk yang satu ini, Aku yang sudah tidak sabar. Betul yang diucapkan papa.
Aku memang egois, Nis. Tapi ini semua untuk kebaikan kita. Seminggu bagiku begitu lama saat menunggu Anisa benar benar jadi milikku. Rasa rinduku membuncah dahsyat. Akan lebih aman jika aku dan Anisa sudah menjadi pasangan yang halal .
Papa dan mama begitu bahagia dengan keputusanku menikahi Anisa. Mereka sempat kawatir setelah kepergian Bela dulu. Aku tidak pernah mau lagi menjalin hubungan dengan mahluk yang bernama wanita.( POV Radit end)
**
Radit tersenyum bahagia. Sungguh teryata Bu Ratna benar benar bisa menepati janjinya untuk membuat Anisa menerima lamarannya. Tinggal satu langkah lagi, Keluarga impian Radit akan terwujud
Di ujung sofa, Anisa sedang bercengkrama dengan Ara dan Alea. Wanita itu begitu pandai menahan perasaannya. Dia bisa membuat semua yang ada di ruangan itu percaya bahwa dia pun baik baik saja.
Memang baik baik saja, seperti kata Bu Ratna. Semua kriteria yang di inginkan wanita ada pada sosok Radit.
Tapi rasa canggung dan rasa tak percaya diri Anisa yang masih membuat sekat. Dia belum bisa menerima sosok Radit masuk terlalu jauh kedalam hatinya.
Mata Anisa mengerjap membuang bayang bayang buruk dari benaknya. Berusaha menyakinkan dirinya, bahwa Radit adalah pria yang tepat.
__ADS_1
Radit sudah duduk di sampingnya. Pria itu menatap Anisa dalam dengan senyuman yang tulus. Ada getaran hangat yang menyusup di hati Anisa. Anisa hanya perlu berjuang untuk menyingkirkan rasa takut dikhianati oleh pria sempurna di depannya. Sebuah gumamman meluncur dari bibir Anisa saat melihat cincin tunangan di jari manisnya.
"Aku akan menjadi istrinya" tarikan nafas dalam membuat hatinya lebih tenang.
***
Di Apartemen, tempat tinggal Fatah. Pria itu sedang menahan emosi. Lantaran gina tidak memberinya jeda. Wanita itu terus menuntut. Yang lebih mengejutkan Fatah, teryata Gina sedang mengandung anak Fatah. Fatah ingin mengelak, menjadi pria pengecut. Namun hati nuraninya berkata lain. Fatah hanya mencoba untuk mengulur waktu. Menyiapkan diri untuk bisa menerima kenyataan.
"Aku sudah katakan, Gina. Seharusnya kamu bisa melindungi dirimu sendiri. Mengapa kamu nekat untuk hamil. Kamu mau menjebak aku, hah?" Fatah berteriak kesal.
"Tega kamu, mas. kamu anggap aku ,pelacur atau budak nafsumu? Aku sudah kehilangan segalanya. Kamu yang merenggutnya. Di mana perasaan kamu mas? " Gina memukul mukul dada Fatah
Fatah mengusap mukanya dengan kasar. Membiarkan Gina melepas beban hatinya. Pikiran Fatah mulai buntu. Dia tidak lagi menginginkan Gina. Saat ini yang ada dalam benak Fatah adalah Anisa. Kembali bersama keluarga kecilnya. Keinginannya itu kian besar saat mengetahui Anisa sedang di dekati oleh pria lain.
"Ini sudah Minggu ke delapan, mas. di mana tanggung jawab kamu. Anak ini darah daging mu sendiri "
"Diam Gina! kita akan cari jalan keluarnya. Kamu hanya perlu tenang, jangan membuatku pusing"
"Jalan keluar apa mas? Jalan keluarnya hanya satu, kamu harus segera menikahiku secepatnya"
"Tidak Gina, aku tidak bisa menikahi kamu, aku akan kembali dengan istriku Anisa"
"Brengsek kamu, mas. Kamu pikir aku tidak punya perasaan. Kamu juga punya anak perempuan, bagaimana jika Alea diperlakukan seperti kamu memperlakukan aku. Hukum karma itu berlaku, mas" Gina berteriak marah
Plaaak..., suara tamparan keras di pipi Gina. Fatah melayangkan tangannya. Emosinya tersulut mendengar putri nya akan mendapat hukum karma karena ulahnya. Dia tidak terima, dia lah yang harus di hukum. Fatah hilang kendali dan semakin bingung. Tiba tiba hidupnya hancur seperti ini.
Gina terhuyung akibat tamparan Fatah yang keras. Ia mengusap pipinya yang terasa begitu panas. Lebam kemerahan bekas telapak tangan Fatah tercetak jelas di wajah bersih Gina. Sakit hati, tentu saja Gina sangat sakit hati dengan sikap Fatah yang berubah. Perselingkuhan tidak pernah membawa kedamaian. Dua duanya hancur dan terpuruk.
"Dengar, mas Fatah. Aku memberimu waktu satu bulan. Aku bisa lebih nekat untuk menghancurkan kamu. Jika harus hancur, kita akan hancur bersama"
" Gina, kamu mengancam?"
Fatah terdiam mendengar ucapan Gina. Dia semakin tau, Gina wanita seperti apa. Tekad Fatah semakin bulat untuk meninggalkan wanita itu. Gina bukan wanita polos seperti yang dia kira. Fatah jadi teringat ucapan Radit, Anisa akan berjodoh dengan pria baik bukan pria tukang selingkuh.
" Pergi dari hadapanku, Gina! Aku sangat muak melihat wanita sepertimu"
"Kamu yang membuat aku jadi seperti ini. Akan aku pastikan, kamu menyesal. Ketika kamu menyadari, semuanya sudah terlambat" Ancaman Gina tidak main main
Saat itu juga, Fatah mengusir Gina dari apartemennya. Fatah melemparkan kartu dan sejumlah uang pada Gina. Tanpa memperdulikan perasaan, Fatah memperlakukan Gina seperti wanita hina.
Gina mengambil semua pemberian Fatah. Namun semua itu tidak menghapus rasa bencinya pada Fatah. Sambil mengusap perutnya ia tersenyum sinis. Sebuah pembalasan yang lebih kejam akan ia berikan untuk Fatah.
Kelemahan Fatah adalah mantan istri dan juga putrinya. Gina akan memanfaatkan itu untuk menghancurkan Fatah. Dia harap Fatah akan menyesalinya dan terus meratap.
Gina menyeret kopernya. Ia keluar dari apartemen Fatah.
"Kita lihat, mas. Siapa yang akan menangis besok. Aku atau kamu. Waktumu hanya 1 bulan dari sekarang" kalimat terakhir Gina sebelum menutup pintu. Namun Fatah tidak bergeming. Ia tetap mengusir Gina saat itu juga.
***
Pagi yang cerah mentari bersinar terang tanpa ada awan yang menghalangi. Anisa baru akan membuka mobilnya ketika suara klakson mobil Radit berbunyi.
Radit tersenyum dengan senangnya. Wajah pria itu, lebih bersinar dari biasanya. Seperti wajah seseorang yang baru mendapatkan undian berhadiah. Langkah panjang Radit menghampiri Anisa yang masih tidak percaya.
"Kenapa, Kamu terkejut atau terpesona? Ekspresimu seperti menggambarkan kekaguman pada ciptaan tuhan yang satu ini" kata Radit sambil menepuk dadanya. Ia menunjukan kenarsissannya
"Sudah mulai narsis" Anisa mendengkus kesal "Ada apa, mas Disa pagi pagi ke sini ?" Tanya Anisa penuh selidik.
"Ya jemput calon istri, lah"
__ADS_1
"Aku bisa berangkat sendiri, mas. Biasanya juga sendiri"
"Itu sebelum kamu punya calon suami" Radit tetap kekeh untuk mengantar Anisa.
"Apaan sih, mas. Kamu bukannya sibuk dan harus kerja?"
" Ayo masuk !" Radit sudah membukakan pintu mobil dan meminta Anisa masuk.
Tidak ingin berdebat saat hari masih pagi. Anisa menuruti permintaan Radit. Masuk ke dalam mobil tanpa banyak protes. Ia juga memasang sabuk pengaman tanpa di perintah Radit
"Nis, mulai hari ini Alea dan Ara akan berangkat ke sekolah bersama, Kamu tidak usah kawatir lagi. Mereka akan diantar jemput oleh pak Sam, supirku"
"Aku jadi sungkan kalau begini, terus terang aku jadi tidak nyaman. Belum apa apa sudah merepotkan"
"Beberapa hari lagi, kamu sudah resmi jadi nyonya Raditya wijaya. Tidak salah kalau aku menjaga kalian. Aku akan memastikan semua aman"
"Mas, apa tidak terlalu terburu buru? Aku belum siap"
"Kalau bisa cepat kenapa tidak? Aku bisa lebih leluasa menjaga kamu dan Lea. Fatah masih terus berkeliaran di sekitar kita, Nis. Yang kedua kita sudah sama sama dewasa, apa kamu tidak takut menambah dosa?"
"Mas, tapi tidak secepat ini juga" Anisa membujuk Radit. Tapi rupanya Radit tidak terlalu perduli dengan rengekan Anisa.
"Hari pernikahannya akan tetap diadakan seperti rencana, Nisa. Tidak bisa diubah. Kita akan saling belajar memahami dan mengerti. Aku tau, kamu belum memiliki perasaan yang sama seperti aku, Nis. Aku akan membantumu, Nis. Percayalah.."
Anisa menatap Radit. Pria itu tau Anisa belum memiliki perasaan yang sama. Ada semburat sendu dibalik kata kata Radit yang terlihat lugas. Seluas itu hati Radit untuk Anisa
"Maaf " lirih Anisa. Ada rasa bersalah yang menyusup.
"Sudah, kita akan belajar saling mengerti. Yang perlu kamu tau, aku menyayangi kalian. Ibu, Lea dan juga kamu"
Mobil terus berjalan menuju SMA Garuda tempat Anisa mengajar. Sepanjang perjalanan, Anisa memikirkan ucapan Radit. Hingga tidak terasa mereka sudah sampai di depan gerbang SMA Garuda. Radit menghentikan mobilnya.
Anisa melepas sabuk pengamannya. Sekilas melirik Rafit yang hendak turun dari mobil. Anisa segera mencegah pria itu dengan mencekal lengan kokohnya.
"Kenapa?" Radit menatap Anisa bingung. Apa mungkin ada yang ingin Anisa bicarakan. Ia mengerutkan dahinya. Terlihat lucu di mata Anisa
" Mas Disa gak usah turun, biar aku saja "
"Oh, ya sudah. Nanti siang aku jemput kamu lagi. Tapi kalau ada rapat mendadak, pak Sam yang akan menjemput kamu'
"Terserah mas Disa, saja " ucap Anisa sambil menyelempangkan tasnya sebelum keluar
"Kamu memang penurut, Nis. Ini yang membuat aku jatuh hati sama kamu "
" Mulai lagi ..."
Radit tertawa melihat Anisa yang kesal dengan gombalannya. Anisa bergegas jalan ke dalam ruangan guru seperti biasa. Ia melewati koridor koridor kelas untuk sampai ke sana. Tubuh Anisa terseret saat tangan Anisa di tarik dari belakang oleh Nania tepat di depan pintu masuk ruang guru.
Tanpa rasa berdosa Nania tersenyum jahil. Melihat wajah Anisa yang terkejut.
"Nania..." Teriak Anisa sedikit kencang.
"Nis, tambah dekat saja dengan pak duren. Sampai sampai diantar jemput. Apa kamu masih mau membohongi sahabat mu ini? kalau tidak ada apa apa diantara kalian " Nania terus memberondong pertanyaan pada Anisa.
Rupanya sedari tadi Nania menyaksikan Anisa turun dari mobil mewah Radit. Mahluk satu ini memang keponya over dosis. Anisa tidak bisa lagi menyembunyikan keadaan yang sebenarnya dari Nania.
"Kita masuk dulu, Na. Nanti setelah jam istirahat, aku akan menceritakan semua. Asal..., Kamu bisa janji, tidak ember ke mana mana"
" Oke, oke. Aku tunggu penjelasan kamu, nanti" ujar Nania yang tampak antusias untuk mengetahui kisah Anisa dengan pak tetangga duren (duda keren ).
__ADS_1