Tetanggaku Duren (Duda Keren)

Tetanggaku Duren (Duda Keren)
20.Kejutan di hari H


__ADS_3

Radit tampak murka saat kembali ke kantor. Sedang Arman, pria itu tampak pasrah. Ia mengaku salah, sudah membocorkan keberadaan Radit dari Dila.


Radit menatap Arman yang masih diam di tempatnya. Sama sekali tidak melawan.


"Aku sudah bersusah payah menghindari, Dila. Tapi kamu justru membocorkan keberadaan ku. Kamu tahu? Dila nekat datang ke rumah. Dia hampir mengacaukan hubunganku dan Anisa'


"Maaf... " Jawab Arman tak berkutik.


"Kali ini aku maafkan, asal kamu bisa melakukan tugas besar dari ku"


"Tugas besar? Apa itu bos?"


"Tapi aku ragu, apa kamu bisa?" Ucapan Radit semakin membuat Arman penasaran.


Radit terlihat sangat serius. Pria itu beberapa kali melirik Arman.


"Katakan saja, bos. Saya jadi penasaran. Tugas apapun itu, saya akan kerjakan" Arman terus mendesak Radit.


"Kendalikan, Dila. Aku tau, kamu menyukainya sejak dulu. Buat Dila jatuh cinta padamu. Aku ijinkan kamu menikahi dia. Aku pikir, kamu pria yang tepat untuk Dila"


"Serius, bos?" Arman menatap tidak percaya pada sahabat sekaligus atasannya. Radit tidak semudah itu mengijinkan Arman mendekati Dila dari dulu. Selalu saja menyarankan Arman untuk mencari wanita lain. Banyak alasan Radit, dari tidak ingin membuat Arman jadi adik ipar, sampai Dila bukan perempuan yang layak untuk Arman.


Entah ada angin apa, Radit tiba tiba berubah haluan. Apa sebegitu besarnya cinta Radit pada calon istrinya yang sekarang, sehingga membuat Dila benar benar dijauhkan dari lingkaran hidup Radit.


"Ingat..., saat hari pernikahanku. Dila ada dalam pengawasanmu. Kalau sampai dia membuat kekacauan. Kamu yang harus bertanggung jawab. Bisa saja aku mengirim mu ke pedalaman. Dan jangan harap kamu bisa kembali jika gagal dalam misi ini" Radit menepuk bahu Arman.


Sedang Arman langsung sumringah. Kesempatan ini tidak akan ia sia siakan. Arman sudah memiliki kartu as yang akan membuat Dila bertekuk lutut. Andai saja Radit mengijinkannya dari dulu. Arman tidak perlu menyandang bujang lapuk sampai saat ini. Radit saja sudah mau dua kali menikah.


***


Pagi sekali, Bu Ratna sudah membangunkan Anisa. Tidak seperti hari hari biasanya, Anisa tampak sangat malas hari ini. Berulangkali ibu menepuk nepuk punggung Anisa, namun Anisa hanya menggeliat. Suhu di pagi ini memang cukup dingin. Membuat siapapun enggan beranjak dari tempat tidurnya.


Ibu kembali keruang tamu, ia tampak sungkan pada Radit yang sudah menunggu dari tadi.


"Sebentar ya, Nak Radit. Ibu akan membangunkan Anisa'


"Iya, Bu" ucap Radit sopan. Tidak lupa ia menyunggingkan senyuman termanisnya. Radit tau, Bu Ratna pasti tidak enak hati. Hari memang masih sangat pagi. Tapi Radit sudah sangat bersemangat menjemput Anisa menuju hotel tempat acara pernikahan mereka.


"Nis, Nisa, bangun! Nak Radit sudah menjemputmu"


"Jam berapa Bu, rasanya masih dingin" Anisa membetulkan letak selimut di kakinya.


"Sudah setengah lima pagi, Nis. Cepat bangun! Hari ini kamu mau jadi


pengantin ''


Anisa meregangkan tubuhnya, kemudian duduk di atas ranjang. Mengumpulkan kesadarannya sebelum beranjak.


"Mandi, trus sholat! Nak Radit sudah menunggu"


Anisa menuju kamar mandi untuk bersuci kemudian menjalankan kewajibannya. Setelah selesai, ia memakai baju terusan dan kerudung instan. Kemudian Anisa menemui Radit yang sudah menunggunya dari tadi di ruang tamu.


Radit terlihat tampan dan segar dengan baju casualnya. Aura bahagia terpancar dari wajahnya


"Mas Radit sudah rapi, akad nikahnya kan jam sepuluh. Apa tidak terlalu pagi?" Anisa mengajukan protes pada Radit


" Kita bisa istirahat dulu, di sana. Kamu sudah siap, kan?" Radit merasa sangat gemas melihat Anisa yang masih dengan muka bantalnya.


Anisa benar benar tidak menjaga image nya sama sekali. Bahkan Radit bisa menebak jika Anisa belum mandi. Dengan baju sederhana itu, Anisa mengikuti Radit menuju mobilnya.


Hari ini, Radit tidak menyetir sendiri, sudah ada Pak Sam di belakang kemudi. Tiba di depan Hotel mewah, Radit dan Anisa turun dari mobilnya. Beberapa pegawai Hotel menyambut kedatangan mereka dengan memberikan buket bunga cantik pada Anisa.

__ADS_1


Kejutan pertama, Anisa tidak pernah mengira hotel tempat mereka menikah akan sebesar dan semewah ini. Ia mencuri pandang ke arah Radit yang berjalan di sisinya. Pembawaan Radit sangat cocok dengan kemewahan yang ada di sekeliling mereka. Kemudian Anisa memperhatikan penampilannya sendiri yang sangat kontras dengan Radit. Ia layaknya Upik abu yang sedang mengiringi sang pangeran.


Kejutan kedua, Radit tanpa sungkan memasuki lift kusus untuk VVIP. Anisa tidak bisa memprotes Radit, dia hanya mengikuti saja tanpa bertanya.


Saat Radit memencet tombol lantai atas. Anisa masih sempat menguap, karena rasa kantuk yang masih menyerang. Radit hanya tersenyum sekilas dengan kelakuan calon istrinya.


Pintu lift terbuka, Radit menggandeng Anisa untuk keluar dari lift. Radit kawatir karena sejak memasuki lift, Anisa bahkan bisa memejamkan mata sambil berdiri . Sungguh wanita unik,


Sudah ada beberapa orang yang menanti kedatangan Radit dan Anisa. Radit meminta mereka untuk menyingkir dari dalam kamar. Radit akan membiarkan Anisa untuk melanjutkan tidurnya.


Radit membuka kamar hotel yang sudah di pesiapkan untuk mereka, nanti. Kejutan ketiga, Kamar hotel yang Radit pilih memiliki view yang sangat cantik dan mewah. Mungkin jika di bandingkan dengan rumah Anisa, luasnya hampir tiga kali lipat.


Anisa segera meringkuk di ranjang yang sangat nyaman. Radit hanya tersenyum simpul melihat kelakuan calon istrinya. Tidak lama, sudah ada yang mengetuk pintu kamar. Radit bangkit dari tepi ranjang. Sebelum pergi, Radit memasang selimut untuk Anisa terlebih dahulu, kemudian membuka pintu kamar.


Beberapa petugas menyiapkan baju pengantin mereka dan Segala kebutuhan mereka untuk merias pengantin.


"Akad pukul sepuluh. biarkan calon istriku istirahat dulu. Kembalilah kemari satu setengah jam lagi"


"Tapi pak, seharusnya kami mulai mengerjakannya sekarang"


"Kalian sanggup tidak? "


"Iya, tentu kami sanggup"


Semua pekerja meninggalkan Radit dan Anisa di dalam kamar. Radit masih tergugu dengan tingkah Anisa, Disaat dirinya sangat antusias dengan pernikahan ini. Anisa masih sempat tidur.


Radit ikut merebahkan diri di samping Anisa. Ia menatap wajah Anisa yang sudah terlelap. Semakin Radit menatap, semakin besar keinginannya untuk menyentuh. Wajah itu terlihat semakin menggemaskan. Pipi yang putih, matanya bulat mengatup. Alis matanya berjajar rapih. Belum lagi bulu mata yang panjang dan lentik. Hidung kecil Anisa yang tinggi dan yang membuat Radit terus berdebar saat tatapannya terkunci di bibir kecil Anisa yang penuh dengan warna kemerahan. Bibir itu terbuka sedikit. Radit semakin gila dibuatnya.


Radit memutuskan untuk segera bangkit dari tempat tidurnya. Sebelum ia bertindak di luar batas. Godaan itu terlalu berat. Radit mengusap dadanya, menenangkan diri.


"Belum saatnya. Istirahatlah, Nis. Selagi kamu masih bisa. Mungkin setelah ikrar ijab Kobul. Kamu akan terus disibukkan oleh suamimu ini." Radit menutup pintu kamar kemudian bergabung dengan papa Wijaya yang sudah berada di sana sejak kemarin.


Kamar yang Anisa tempati memiliki fasilitas yang sangat mewah. Ia berdecak kagum, Radit benar benar mempersiapkan semuanya dengan baik. Ada perasaan hangat di hatinya. Anisa tidak pernah berharap apapun pada Radit, kecuali Radit bisa menjaga hatinya.


Anisa berendam di dalam bathup cukup lama. Ia begitu menikmati semua fasilitas yang Radit berikan. Setelah merasa cukup, Anisa kemudian membilas tubuhnya di bawah shower. Terasa begitu segar setelah membersihkan diri. Anisa membungkus badannya dengan handuk. Kemudian berjalan keluar dari kamar mandi.


Saat hendak memakai baju, Anisa mencari keberadaan koper yang tadi ia bawa. Rasa kantuk membuatnya tidak memperhatikan dimana Radit menyimpannya. Anisa membuka lemari pakaian yang ada di kamar itu. Dugaanya benar, koper itu di letakkan Rafit di sana. Anisa mengenakan kulot juga kemeja berkancing depan. Saat baru saja selesai bersiap, pintu kamarnya terbuka


Radit muncul dengan senyum kasnya menghampiri Anisa.


"Sudah bangun? " Ucap Radit sambil duduk di sofa


"Iya aku baru saja selesai mandi "


" Kita sarapan dulu, setelah itu bersiap "


" Boleh " tentu saja Anisa setuju. Dia sudah merasa lapar sejak tadi.


Anisa bukannya malas di hari yang istimewa ini. Semalaman ia hampir tidak dapat memejamkan mata hingga pukul dua. Semua karena ulah Radit. Radit mengganggu Anisa yang sudah beranjak tidur. Berulangkali Radit menghubungi Anisa lewat telepon.


Setelah selesai sarapan, Anisa di minta untuk duduk di tempat yang telah di persiapkan. Radit menatap Anisa yang terlihat sedikit gugup dengan keberadaan orang orang asing di sekitarnya.


"Nis, mereka akan membantumu bersiap. Jika ada sesuatu yang tidak berkenan untukmu, katakan saja pada mereka. jangan sungkan "


" Iya, terima kasih ''


Kemudian Radit meninggalkan Anisa bersama orang orang yang akan membantunya bersiap.


" Maaf nyonya, saya akan mengeringkan rambut nyonya terlebih dahulu " ujar salah satu staf MUA.


Anisa hanya bisa pasrah ketika mereka mulai mengaplikasikan Make up ke wajah polosnya. Hampir satu jam lamanya sampai semua selesai. Anisa memakai kebaya putih dengan kerudung warna yang sama. Di bagian kepala di hiasi mahkota yang sangat indah.

__ADS_1


" Nyonya Radit memang Cantik" puji sang MUA.


Anisa tersenyum geli, Kemudian ia dibawa untuk melihat dirinya di sebuah kaca besar yang utuh. Anisa merasa takjub dengan hasil riasan dari para MUA.


Anisa menatap pantulan dirinya di dalam cermin.. Riasan di wajahnya tampak sangat Alami


" Terima kasih semua " Anisa berucap tulus dengan senyum manisnya .


Radit terlihat gelisah, masih terus menunggu. Seseorang menghampirinya dan melaporkan jika pengantin wanita sudah selesai bersiap. Ada pancaran lega di wajahnya. Semua berjalan sesuai dengan rencana.


Radit melangkahkan kakinya ke kamar Anisa. Begitu melihat Anisa dengan balutan kebaya putih yang terlihat sangat cantik, hatinya menghangat menatapnya penuh cinta .


" Nisa kamu sangat cantik " ujar Radit dengan tatapan takjub. Anisa hanya bisa memukul lengan Radit. rasanya malu saat di puji Radit di depan banyak orang.


Radit dan Anisa terlihat sangat serasi. Kemudian keduanya turun menuju acara resepsi pernikahan.


Kejutan ke empat, Ballroom tempat resepsi di dekorasi dengan sangat cantik. Bunga bunga segar mendominasi dekorasi ruangan. Anisa tampak takjub dengan semua yang ada. "Kenapa mewah sekali pernikahannya ?" masih ada tanda tanya besar di hati Anisa.


Keduanya duduk berdampingan di tempat akad. Netra Anisa mencari sosok sosok yang ia kenal. Matanya berhenti pada sosok ibu yang terlihat sangat bahagia, di pangkuannya ada Alea dengan gaun cantiknya. Gadis kecil itu praktis seperti melupakan sang Ayah setelah beberapa bulan terakhiir. Kehadiran Radit mengisi sosok itu. Mama Arini dan Ara yang memakai gaun indah seperti milik Alea dan Bu Ratna, Duduk tenang penuh wibawa. Hanya Ara yang sesekali terlihat berpindah pindah mendekati Alea. Sebelah mama Arini ada Sinta, adik Radit dengan suaminya.


Om Burhan datang kusus dari jogya. Beliau adik kandung pak Arif ayah Anisa yang akan menjadi wali di pernikahan Anisa. Di sebelah om Burhan ada papa Wijaya dengan stelan jas tampak gagah dan berwibawa.


Om Burhan menggenggam tangan Radit erat mengikrarkan ijab dan qobul.


Masih dengan kejutan ke lima Radit memberinya mahar yang fantastis.


Ketika saksi mengatakan sah ..sah Anisa baru tersadar dari lamunannya. Mulai detik ini Anisa telah beralih status menjadi istri dari Raditya Wijaya. Untuk pertama kalinya Anisa mencium tangan Radit.


Radit mengecup hangat kening Anisa. Rasa bahagia menyelimuti momen sakral ini. Usai menandatangani berkas pernikahan. Kedua mempelai melakukan sungkeman. Momen haru langsung tercipta. Mama Arini memeluk putranya erat. Mengucapkan selamat juga banyak wejangan.


Dilanjutkan dengan acara resepsi, Sepanjang acara Radit selalu menggenggam erat jemari Anisa. Sepertinya Radit tidak ingin berpisah meski hanya sebentar. Mereka menerima banyak ucapan selamat dari kolega Radit dan papa Wijaya.


Anisa masih merasa bingung. Resepsi pernikahannya begitu meriah dan mewah. Dalam hatinya bertanya tanya. Siapa sebenarnya keluarga Radit. Hingga beberapa orang penting yang sering Anisa lihat di TV pun ikut hadir.


Alunan lagu cinta putih mengalun merdu. Mengiringi detik demi detik acara resepsi yang berubah jadi sangat romantis. Binar bahagia selalu terpancar dari senyuman Radit.


Sinta mendekati Anisa dan Radit. Wanita cantik itu mengenakan gaun warna broken white yang simpel elegan. Sangat serasi dengan kulitnya yang bersih.


"Selamat menempuh hidup baru. Aku harap, abang selalu bahagia" Sinta memeluk Radit erat. Kemudian Sinta beralih pada Anisa. Meski ini perjumpaan pertama mereka, tetapi tidak ada rasa canggung.


"Kakak ipar, aku harus menyebutmu Kakak ipar, padahal usiaku lebih tua" kelakar Sinta pada Anisa. "Jaga bang Radit, kak. Dia punya banyak cinta untukmu. Tolong jangan sia siakan, dia" Sinta memeluk Anisa dengan tulus


" Terima kasih, Sin. Aku pasti akan menjaga mas Radit dengan baik" ucap Anisa tulus.


Anisa dan Radit kembali duduk di pelaminan. Tenaga mereka benar benar terkuras. Dari awal acara hingga sesi foto. Tepat jam satu siang acara telah selesai.


Ara dan Lea sedang berebut ingin bersama Anisa. Dua bocah cilik itu merasa takjub dengan penampilan Anisa yang terlihat sangat berbeda. Ia tampil bak seorang putri. Radit membiarkan kedua gadis kecil itu memonopoli istrinya. Dia masih memiliki kejutan kejutan lain untuk Anisa.


Ratna dan Arini membawa cucu mereka menjauh dari pengantin. Kedua orang tua itu memberi waktu untuk Anisa dan Radit merasakan indahnya menjadi pengantin.


Radit membawa Anisa menaiki Lift. Mereka menuju roof top. Anisa tidak sempat bertanya. Mengapa mereka tidak kembali ke kamar.


Saat pintu lift terbuka, Anisa sudah tidak sungkan lagi bertanya. Melihat hal hal yang di luar perkiraannya.


"Kenapa kita kesini?"


"Surprise dari papa" jawab Radit kalem


"Surprise?"


Sebuah helikopter sudah menunggu pengantin. Radit menggandeng Anisa segera memasuki helikopter, masih dengan baju pengantin mereka. Belum hilang keterkejutan nya, Heli itu sudah bergerak terbang. Radit menggenggam tangan Anisa yang terasa dingin. Mungkin Anisa merasa takut, gugup, atau...

__ADS_1


__ADS_2