Tetanggaku Duren (Duda Keren)

Tetanggaku Duren (Duda Keren)
9. Lamaran gila Radit


__ADS_3

Usai rapat internal, Radit memajukan langkahnya menuju ruangan pribadinya. Ia masuk ke dalam toilet untuk sekedar membasuh muka. Setelah merasa segar Radit, keluar dan kembali duduk di kursi kebesarannya.


Arman datang dengan menjijing tas kerjanya. Sepertinya pria itu akan berpamitan lebih dulu untuk pulang.


"Belum mau pulang, Bos?"


"Sebentar lagi, aku sedang menunggu laporan dari cabang di Bali"


"Aku pulang duluan" Ucap Arman datar.


"Bagaimana perkembanganmu dengan, Dila?" Tanya Radit saat Arman hendak melangkah pergi.


Arman menghentikan langkahnya, kembali teringat kejadian tadi siang. Tiba tiba saja ia tersenyum, ini saatnya ia bertanya pada Radit.


"Siapa dua wanita tadi, Bos? Dia bukan dari orang dinas, kan? Jangan jangan dia...."


"Berisik kamu, Man. Tidak bisakah kamu diam, dan pura pura tidak lihat"


"Aku akan diam, jika bos, memberiku penjelasan. Meski itu hanya sedikit. Tapi aku bisa tebak, pasti wanita yang berkerudung biru, kan? Cantik banget bos, tapi dia seperti masih anak kuliahan. Ya..., walaupun menggunakan baju batik"


"Kamu tidak perlu tahu, Man" Radit tersenyum penuh arti "Berikan berkas ini pada Siska! dia tau harus di kemanakan" Radit memberikan setumpuk berkas pada Arman saat ponselnya berdering.


Arman masih tak bergeming, dengan perintah Radit. Sepertinya ia masih penasaran dengan wanita yang bersama Radit tadi siang. Radit meninggikan suaranya. Meminta Arman untuk segera membawa berkas yang ia suruh.


Lagi lagi Arman hanya bisa memendam rasa penasarannya saja. Ia menggerutu sambil membawa berkas.


***


Setelah membersihkan diri, Radit merebahkan tubuhnya yang penat. Seperti hari hari yang lalu ia hanya bisa menatap langit langit kamarnya. Entah mengapa akhir akhir ini ia merasa begitu kesepian.


Radit kembali mengingat kejadian hari ini. Dari pagi hingga menjelang petang. Ditengah kesibukannya ia masih sempat menggoda tetangga sebelah. Rasanya sangat menyenangkan. Dia juga bertingkah konyol, tiba tiba berada di depan sekolah Anisa.


Radit memiringkan tubuhnya, meraih bantal guling untuk ia peluk. Mendadak hatinya gelisah tidak menentu. Dalam hati ia berdoa semoga Anisa tidak merasa terganggu.


Bayangan Anisa kecil berkelebat, bocah cengeng itu mengacak acak dunia Radit. Dahulu kala, dia harus sering kali bersabar ketika Anisa yang masih bocah selalu merengek minta ditemani ke mana mana. Dia juga sering harus membacakan buku kesukaan Anisa sampai bocah itu tertidur bersamanya. Tapi Radit ingat betul perasaanya ketika melihat wajah cantik bocah cengeng itu tertidur lelap atau tertawa senang, ia merasa bahagia.


Malam semakin larut. Radit belum bisa memejamkan mata. Entah mengapa hatinya terasa perih ketika sang mama menceritakan keadaan Anisa. Wanita itu telah di campakkan oleh mantan suaminya. Andaikan saja ia tahu siapa pria itu, Radit tidak segan segan untuk menghajarnya.


Entah perasaan apa yang dimiliki Radit. Ia memiliki rasa empati yang berlebihan pada Anisa, mungkin karena ikatan masa lalu yang pernah ada diantara mereka. Perasaan sayang dan ingin melindungi itu begitu menggebu.


Malam terus merayap, entah bagaimana wajah Anisa seperti terus mengganggu. Radit beranjak dari tempat tidurnya. Dia sendiri bingung harus bagaimana untuk membuat matanya terpejam.


Radit berdiri di atas balkon. Ia menatap rumah sebelah yang sudah tampak gelap. Rasanya tidak adil sekali, hatinya gelisah tapi yang mengganggu benaknya sedang terlelap dalam damai.


Radit kembali masuk ke dalam rumahnya. Langkahnya menuju kamar Ara, Kemudian ikut rebah di samping putri kecilnya. Betapa damainya Ara. Radit tersenyum kala ingat Ara yang memanggil Anisa dengan sebutan bunda. Sepertinya indah. Mungkin hari harinya akan sempurna, Saat di sisinya ada Anisa yang bisa ia goda setiap saat. Selain itu Ara mendapatkan kasih sayang seorang bunda. Radit membayangkan itu semua hingga tersadar saat suara Adzan subuh berkumandang.


Radit merutuki dirinya sendiri, semalaman ia tidak dapat memejamkan mata hanya memikirkan wanita di sebelah rumahnya. Sadar akan kebodohannya, Radit kembali bertanya tanya. Sebenarnya perasaan apa yang ada di hatinya. Apakah dia sudah jatuh cinta?....


***


Sayup suara adzan subuh telah membangunkan Anisa dari dunia mimpi. Setelah menunaikan kewajibannya, ia memulai aktifitas rutin di pagi hari. di dapur ibu sedang menjerang air. Anisa membuka pintu kulkas dan menyiapkan bahan bahan untuk ia masak.


"Kita buat tumis bayam dan tempe goreng, ya Bu" ucap Anisa pada ibu


"Boleh Nis, Lea juga suka menu itu. Oh iya, ibu sudah memasak nasinya"


"Buat bekal sekolah, Lea minta di bawakan sanwich isi sosis. Nanti Nisa yang siapkan Bu"


"Kamu kan berangkat pagi, Nis. Apa masih keburu? Biar ibu saja yang buatkan"


"Masih keburu, Bu. Buat sanwich kan gampang. Aku nggak mau ibu terlalu lelah"


"Justru kamu yang akan lelah, Nis. Kamu harus mengajar belum lagi pekerjaan rumah"


"Nisa kan masih muda, Bu" Anisa terkekeh membuat ibu menatap Anisa dalam. Seolah ada yang ingin dia ucapkan.


"Kenapa, Bu?" Anisa heran dengan sikap ibu yang tidak biasa.


"Kamu masih muda, massa iddahmu juga sudah lewat beberapa bulan yang lalu. Menikahlah lagi, Nis. Jangan sia siakan masa muda mu. Kamu cantik, ibu takut banyak fitnah, jika tidak ada imam yang melindungi mu"


" Insha Allah, Anisa bisa jaga diri Bu"


" Nis, kemarin Nak Radit menitipkan kunci mobilmu pada ibu"


"Kunci mobil? Nisa sampai lupa. Bu"


"Apa kalian sedang dekat?" selidik ibu.


"Tidak, Bu" Anisa langsung menggelengkan kepalanya.


"Kalian sama sama sendiri loh. Ara juga sudah memanggilmu bunda. Radit orang yang baik dan ..."


"Tdak Bu, Nisa belum berfikir ke arah sana. Nisa baru menikmati ketenangan"

__ADS_1


" Apa kau masih mengharapkan Fatah?"


Anisa menggeleng lemah. " Tidak Bu, Tidak bisa lagi. Dia sudah bahagia dengan perempuan impiannya. Tidak ada lagi hati untuk mas Fatah"


"Jangan menutup diri, Nis. Masa depan mu masih panjang. Kamu berhak bahagia"


"Doakan saja Bu"


Ibu kemudian terdiam. Wanita paruh baya itu sangat mengenal karakter putrinya. Anisa bukanlah wanita yang mudah untuk jatuh hati. Apalagi setelah mengalami kekecewaan. Mungkin sedikit campur tangangannya bisa membuat putrinya luluh.


"Nis, Tante Arini mengundang keluarga kita makan malam. Kamu bisa datang, kan? Maaf, ibu sudah menyanggupi. Ibu tidak enak hati untuk menolak"


"Ya sudah, Nisa usahakan nanti"


"Terima kasih, Nis. Nanti malam kita di jemput nak Radit"


Sebenarnya Ratna dan Arini telah menyiapkan sebuah rencana. Untuk membuat kedua Anak mereka lebih dekat. Ibu bernafas lega mendengar jawaban Anisa.


***


Malam harinya


Anisa mengenakan terusan warna hitam dengan kerudung mustard, sangat menyatu dengan wajah putihnya. Sudah cukup lama Anisa tidak pernah lagi memantas diri, biasanya hanya berdandan ala kadarnya untuk malam ini, Anisa menunjukan kecantikan wanita dewasa yang penuh pesona.


Anisa masih di dalam kamarnya. Ketika Suara ketukan pintu berbunyi. Anisa segera bergegas keluar dari kamarnya untuk membukakan pintu.


Saat membuka pintu, Radit tengah berdiri. Wajah pria itu terlihat tampan. Kemeja abu tua, celana jeans juga harum maskulin yang memanjakan hidung. Radit menatap Anisa dengan lekat. Ia masih berdiri mematung saat Anisa mempersilahkan masuk.


"Masuk dulu, saya panggilkan ibu" Ucap Anisa.


"Pak Radit..." Anisa kembali mengulang ucapannya. Radit terkejut dengan wajah merona.


"Ya, Nis?" seperti orang bodoh.


"Masuk dulu, saya akan panggil, ibu"


Radit mengangguk kemudian duduk di ruang tamu sambil menenangkan kegugupannya. Perasaan yang baru pertama kali ia rasakan pada seorang wanita. Saat menyatakan cinta pada Bela pun biasa saja. Ia sudah tau bela pasti akan menerimanya.


POV Radit .


Anisa terlihat sangat cantik. Aku tiba tiba kehilangan kendali saat berhadapan dengannya. Aku harap Anisa tidak menyadari kegugupanku. Dia memanggilku dengan sebutan yang normal tidak lagi pak tetangga dengan nada ketus pula. meski sebenarnya aku tersinggung saat dia memanggilku, pak.


Apa aku setua itu? Mungkin selisih usia kami sepuluh tahun. Tidak terlalu banyak menurutku. Justru ideal , Aku masih sangat kuat untuk menggendongnya sampai ranjang pengantin kami. Ya Tuhan....kenapa pikiranku sejauh ini. Semalam saja aku tidak bisa tidur sampai pagi. Lalu bagaimana dengan nanti malam.


"Loh, Bu. Alea tidur?"


"Sttttt" ibu mengajak Anisa keluar dari kamarnya. Ia tidak ingin cucunya terbangun.


"Nis, kamu berangkat sendiri, ya. Alea tidur. Ibu juga belum bersiap siap"


"Anisa tidak mau, Bu. Nisa tidak begitu akrab dengan Tante Arini"


"Jangan mengecewakan mereka, Nis. Ibu juga sudah ngantuk, ini. Harus istirahat"


"Bu...." Anisa merajuk.


"Pergilah Nisa, tidak enak sama Arini. Di sana juga ada Ara, kamu tidak akan canggung"


" Tapi Bu "


Kemudian ibu mendorong Anisa ke ruang tamu menemui Radit yang sedang menunggu mereka.


"Nak Radit, ibu nitip Anisa, ya. Katakan pada Arini, Ibu dan Lea tidak bisa ikut. Tolong pulangnya jangan terlalu malam'


"Baik Bu, ayo Nisa" ucap Radit bersemangat.


Terpaksa Anisa mengikuti Radit yang sudah berjalan lebih dulu. Radit membukakan pintu mobil untuk Anisa.


"Ara mana?" Tanya Anisa saat sudah berada di dalam mobil. Di dalam mobil ini hanya ada dirinya dan Radit. Anisa mulai panik.


"Ara di rumah mama. Tadi siang sudah di jemput. Kenapa ?" Ucap Radit sambil menyalakan mesin mobilnya. Radit melirik Anisa yang terlihat cemas.


"Tidak, Rumah Tante Arini masih jauh ?"


" Baru jalan, nis. Sudah tanya masih jauh apa enggak rumah mama. Kamu sudah tidak sabar?" ujar Radit


Anisa terdiam sepanjang jalan. Begitu pula dengan Radit. Keduanya tampak canggung. Kemarin kemarin mereka bisa saling menyindir dan mengejek. Anisa juga bisa berkata ketus. Tapi malam ini keduanya seperti kehilangan kata kata.


"Nis,..." Panggil Radit setelah keheningan menyelimuti perjalanan mereka


"Ya"


"Kamu takut ..?"

__ADS_1


"Emm, bukan takut, tapi canggung nanti, saya tidak terlalu akrab dengan Tante dan om"


"Santai saja, Nis. Kita hanya makan malam keluarga. Bukan ketemu calon mertua" Radit terkekeh.


"Pak Radit bisa serius, gak sih ?" Anisa mulai terpancing dan Radit membalasnya dengan senyum


"Bisa, kalau kamu mau, saya seriusin"


Anisa hampir saja ingin mencubit lengan Radit karena kesal. Arah pembicaraan pria itu selalu menjurus pada sebuah hubungan. Namun Anisa menahan diri.


Mobil Radit berhenti di sebuah restoran mewah. Anisa ragu untuk turun dari mobil. Ia masih duduk tanpa melepas sabuk pengaman. Radit sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Anisa.


"Kamu tidak mau turun, Nis?"


"Bukannya ke rumah Tante Arini?"


" Mama gak pinter masak jadi lokasinya di restoran ini"


" Oh ..." Anisa melepas sabuk pengamannya. Kemudian turun dari mobil.


"Ayok masuk " ujar Radit sambil menggandeng lengan Anisa tanpa permisi.


Tentu saja Anisa terkejut, Kemudian segera menepis tangan Radit. Radit menatap bingung.


" Bukan muhrim jangan asal main gandeng saja" kata Anisa menghempaskan kebingungan Radit.


"Oh maaf " Radit melepaskan tangannya dari Anisa


Mereka terus berjalan masuk ke dalam restoran .


" Reservasi nyonya wijaya?" tanya Radit pada pelayan


"Mari saya antar"


Keduanya mengikuti pelayan menuju lantai dua. Sebuah ruangan tertata cantik dengan nyala lilin redup membuat suasana begitu intim. Di sisi ruangan terdapat jendela kaca besar dengan view taman buatan yang didesain begitu cantik. Di atas meja rangkaian mawar segar menjadi penghias.


Keduanya duduk sambil menunggu pelayan datang. Radit membuka ponselnya mengabarkan kalau ia dan Anisa sudah sampai. Kemudian sebuah pesan masuk dari mama Arini yang membuat Radit tersenyum senang.


" Anisa, sepertinya kita hanya akan berdua di sini. Mungkin ini pekerjaan orang


tua kita "


" Maksud pak Radit ?"


" Mereka sengaja membuat kita makan malam berdua disini"


" Kita pulang saja pak " ucap Anisa


"Terlanjur Anisa, Semua sudah di pesan. apa kamu tidak lapar ?"


Anisa tidak menjawab. Ia menoleh ke kanan dan kiri, semuanya sepi dan hening. Anisa mencoba untuk menenangkan diri. Ia pun melihat Radit melakukan hal yang sama. Semuanya terlanjur dipesan, sebaiknya di nikmati saja. Kapan lagi bisa dinner di tempat yang cantik seperti ini.


Akhirnya Radit bisa merasa lega. Anisa setuju untuk makan malam, meski hanya berdua dengannya. Sejujurnya Radit takut Anisa menolak rencana untuk tetap makan di restoran ini.


Makanan pembuka sudah datang dan keduanya mulai menikmati. Radit mencoba mengakrabkan diri.


"Kamu suka menunya, Nis?"


"Suka, ini sangat lezat" puji Anisa seraya tersenyum.


"Syukurlah"


"Pak Radit yang pesan semua?"


Radit menggeleng, " Mama, Nis"


"Mulai kapan kalian di Jakarta?" Tanya Radit pada Anisa. Ia ingin suasana makan malam ini membuat mereka semakin dekat. Selain itu menatap wajah Ayu di depannya sangatlah menyenangkan. Memperhatikan setiap ekspresi Anisa saat berucap. membuat bibirnya ingin menyentuh mulut mungil itu.


"Waktu Aku SMA, Ayah memilih menetap di sini. Tadinya sering pindah pindah tugas"


"Mas Radit, berapa bersaudara?" Anisa gantian bertanya. Dia tidak tau sama sekali tentang keluarga Wijaya. ia hanya baru mengenal Radit dan Tante Arini.


"Dua, aku dan adik Perempuanku"


"Senang, ya punya saudara. Dari dulu aku juga ingin punya Adik. Tapi tidak bisa. Kata ibu bisa punya aku saja sudah keberuntungan"


"Alea mirip seperti kamu, ya Nis. Tidak punya adik. Kasian Nis, sebaiknya Alea cepat dikasih saudara biar gak sendirian kaya kamu"


"Ish bagai mana bisa ?" jawab Anisa polos. Tidak menyadari pria di depannya sedang melancarkan aksi.


"Bisa, Nis. Menikahlah denganku. Alea akan langsung punya saudara Ara dan jika beruntung kita bisa memberinya Adik" Radit menutup mulutnya.


Gila gila....Radit memaki dirinya sendiri. Kenapa dia bisa melamar wanita yang ada di depannya. Anisa langsung pucat mendengar ucapan gila Radit.

__ADS_1


__ADS_2