Tetanggaku Duren (Duda Keren)

Tetanggaku Duren (Duda Keren)
11.Bertemu mantan


__ADS_3

Saat hendak pulang, ponsel Anisa berdering. Di layar ponselnya tertera nama Fatah. Tanpa ragu, Anisa langsung mengangkat. Entah apa yang akan Fatah bicarakan. Menurutnya, sudah tidak ada lagi yang perlu di bahas.


"Ya..." Anisa bahkan enggan sekedar mberi salam. Suaranya menggantung.


"Nis, bisa kita bertemu? ada hal yang ingin aku bicarakan"


"Apa lagi?"


"Tentang aku dan Alea"


"Kenapa dengan Lea"


"Aku tidak bisa membicarakannya lewat telepon, kita harus bertemu, Nis"


"Kapan?"


"Sekarang, aku tunggu di kafe biasa"


"Baiklah"


Anisa penasaran dengan keinginan Fatah, Jangan harap pria itu akan mengambil Lea. Dengan cara apapun. Anisa akan mempertahankan hak asuh putri kecilnya. Ia tidak rela Alea diasuh oleh para penghianat.


Setengah jam kemudian Anisa sudah berada di kafe biasa mereka sering menghabiskan waktu. Kafe itu terletak tidak jauh dari area perkantoran. Anisa memarkirkan mobilnya kemudian turun memasuki area kafe. Matanya menyisir mencari sosok Fatah.


Anisa menemukan pria dengan kemeja biru tua dengan garis vertikal. Dia hafal sekali dengan corak itu. Kemeja yang terakhir kali ia beli untuk Fatah sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka.


Fatah tidak menyadari kehadiran Anisa. Pria itu sedang menunduk dengan tabletnya yang masih menyala. Anisa mendekat menarik kursi yang berada tepat di depan Fatah, Kemudian duduk. Anisa tidak bersuara, seperti yang dia ingat. Fatah tidak bisa di ganggu jika sedang bekerja.


Kegiatan Fatah terhenti saat ada seseorang yang menarik kursi di depannya.


"Kamu sudah datang, Nis?" Fatah menatap perempuan yang sudah duduk manis di depannya. Ada banyak perubahan yang dia perhatikan. Dari cara berpakaian. Hingga wajah Anisa yang terlihat lebih tirus.


Sudah ada hampir sembilan bulan mereka tidak bertemu. Padahal dua bulan yang lalu Fatah ke rumah Anisa untuk menjemput Alea.Tapi dia tidak bertemu Anisa.


"Apa kabar" Kalimat itu meluncur mulus di bibir Anisa. Fatah hanya tersenyum mendengar ucapan basa basi Anisa


"Seperti yang kamu lihat, Nis" ucap Fatah. "Aku lapar, kita makan dulu, ya" kebetulan pelayan sudah datang mengantar pesanan Fatah.


Fatah memasukkan tabletnya ke dalam tas. Kemudian pelayan mulai menata menu di meja mereka.


"Makan dulu,Nis! Kamu masih suka sup ayam, kan?" Fatah menyendok kan nasi ke piring Anisa. Biasanya Anisa yang melakukan itu saat mereka masih suami istri.


"Jangan terlalu banyak" Anisa mencegah Fatah menambah porsi nasi di piringnya. Fatah meletakkan sendok nasi kemudian beralih pada mangkok sup Ayam mendorongnya agar lebih dekat dengan Anisa.


Anisa hanya bisa diam, membiarkan Fatah melakukan semua. Tindakan tindakan Fatah justru membuat Anisa semakin sakit.


"Makan, Nis. Jangan hanya di lihat" Fatah meminta Anisa untuk segera makan. Dia sendiri dengan lahap sudah memulai menyendokkan sup Ayam hangat di mangkuknya. "Kamu terlihat lebih kurus. Apa magh mu sering kambuh? Kamu harus menjaga pola makan mu, Nis"


Anisa meneteskan air mata. Ucapan ucapan perhatian Fatah semakin membuatnya tidak tahan. Untuk apa pria itu bersikap baik padanya. Hanya menambah garam di luka saja.


Anisa menarik nafas dalam. Kemudian mulai menyendokkan sup ayam kesukaannya kedalam mulut. Rasanya tidak seenak dulu. Bahkan rasanya jadi hambar.


Anisa kemudian memanggil pelayan yang sedang melintas.


"Mas, saya pesan bakso tanpa mie satu dan es jeruk. Tolong bil nya dipisah dengan yang ini ya"


"Satukan saja, mas" ucap Fatah saat mendengar Anisa meminta di pisahkan bill nya.


"Jangan, rasanya jadi tidak enak kalau gratis" ucap Anisa sambil menatap tajam pada Fatah.

__ADS_1


Fatah tidak lagi mendebat ucapan Anisa. Dia diam dan meneruskan makan siangnya. Tidak lama pelayan datang membawa pesanan Anisa. Tanpa menunggu lama Anisa pun menikmati dengan lahap.


"Apa yang ingin di bicarakan?" Anisa menutup sendoknya di mangkuk tanda selesai. Sepertinya Anisa tidak mau membuang buang waktu.


"Aku ingi bersama Lea. Semakin hari Lea semakin jarang menghubungiku. Aku semakin merindukannya "


"Maksud mas? Mau ambil Lea dari aku?"


"Bukan begitu, Nis"


"Bukan begitu bagaimana. Mas sendiri tadi yang bilang" suara Anisa makin meninggi.


"Oke oke, Nis. Hak asuh Lea memang jatuh padamu. Tapi setelah aku pikir pikir lebih baik kita mengasuh Alea bersama. Lea akan merasa lebih senang jika semua ini terjadi, kan"


"Kita akan bekerja sama untuk urusan Alea. Itu aku juga sepakat"


Fatah mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan apa yang sudah menyiksanya dari dua bulan terakhir.


"Demi Lea, Nis. Bisakah kita kembali rujuk. Kita akan memulai segalanya bersama"


"Itu tidak mungkin" Jawab Anisa tegas. "Kita tidak pernah bisa lagi bersama"


"Kamu masih marah?" Tanya Fatah seperti orang bodoh.


"Kamu pikir sendiri saja, mas"


"Aku tau, Nis kesalahanku terlalu besar. Tapi tidak bisakah kamu memaafkan aku untuk kebahagiaan, Lea?"


"Jangan menjual nama Alea, diantara kita sudah selesai. Perasaanku juga sudah selesai. Aku sudah memaafkan kamu, mas. Tapi tidak untuk kembali bersama. Kamu tahu Alea adalah sumber kebahagiaanku. Aku bisa melakukan apapun untuk Lea. Tapi hidup bersamamu lagi lebih mengerikan dari kematian. Bagaimana aku bisa membahagiakan Alea jika aku sendiri mati?"


"Anisa..."


"Aku belum menikahinya, Nis. Belum terlambat. Aku tidak akan menyakiti kamu lagi"


"Semudah itu, setelah kamu merusak wanita. Semoga Alea tidak pernah bertemu dengan pria seperti mu, mas"


"Nis, sebenci itu kah kamu padaku?"


"Mas sediri yang membuat aku seperti ini. Mas yang membuang aku dan Lea dari kehidupan mas. Kami sudah damai dan bahagia tanpa, mas" Anisa berdiri untuk menyudahi perbincangan yang konyol dengan Fatah


"Aku permisi "


Anisa sudah di ujung batas kesabarannya. Semakin lama berada di situ semakin membuat dia merasakan ledakan emosi. Anisa tidak mau mempermalukan diri dengan lepas kendali.


Fatah masih mengejar dan mengikuti Anisa. Sepertinya pria itu tidak mudah begitu saja untuk menyerah. Anisa membayar tagihan yang tadi ia makan kemudian pergi meninggalkan restoran.


Fatah menahan amarah atas semua penolakan Anisa. Hatinya begitu sakit dan kecewa. "Aku tidak akan lagi bisa kehilangan dirimu, Anisa. Aku akan membuatmu kembali padaku apapun caranya"


Tanpa Anisa dan Fatah sadari. Ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka. Terkadang tatapan cemburu juga kekesalan silih berganti. Kemudian ia terlihat lega saat melihat Anisa terus menolak pria yang ada di depannya.


"Arman, kamu tau siapa pria itu?" Tanya Radit pada Arman yang sedang menunduk menikmati makan siangnya. Arman menoleh ke arah pria yang sedang membayar tagihan di depan kasir dengan tergesa gesa.


"Dia, yang berkemeja biru? Dia Fatah, pengusaha sedang naik daun. Dia pemilik Alea persada. Ada apa, bos tertarik untuk bekerjasama dengan dia?"


"Untuk apa? di mejaku banyak proposal yang mengantri dari perusahaan yang levelnya di atas dia"


"Iya sih, bos. Tapi perusahaannya cukup kuat. Manajemennya bagus, yang paling penting proyek proyeknya sedang banyak di bicarakan karena memiliki desain yang unik"


"Orang seperti dia tidak akan bertahan lama, lihat saja. Baru sedikit sukses, dia mencampakan istrinya dan bermain perempuan "

__ADS_1


" Bos kok tau?" Arman menatap heran pada Radit.


Radit terdiam dengan pertanyaan Arman. Hampir saja dia ketahuan. Radit berdiri dari duduknya dan meninggalkan Arman yang masih bingung. Pria itu terheran heran dengan sikap bosnya saat ini yang semakin aneh. Sejak kapan bosnya mulai jadi tukang gosip. Sampai sampai tau scandal perselingkuhan orang.


"Arman, kamu mau balik ke kantor atau pindah jadi pegawai kafe ?"


Suara bentakan dari Radit mengagetkan Arman dari lamunannya .


"Tunggu bos "


Arman cepat menyusul langkah Radit yang sudah mulai keluar dari restoran lebih dulu .


Di luar restoran Radit masih melihat Anisa yang ditarik paksa tangannya oleh Fatah. Namun Anisa mencoba melawan dan mengibaskan tangan Fatah. Radit ingin sekali melindungi Anisa dari fatah. Namun dia tidak berdaya. Radit hanya bisa mengawasi dari jarak yang aman.


Terlihat Anisa yang mengancam l akan menjerit jika Fatah tidak mau melepaskan tangannya. Beruntung Fatah melepaskan cekatannya.


Radit menarik nafas lega. Sementara Anisa bisa lolos dari Fatah. Tapi tetap saja Radit merasa harus mengikuti Anisa memastikan wanita itu benar benar aman.


" Bos, sedang lihat apa?" suara Arman mengagetkan Radit.


" Kamu pulang ke kantor lebih dulu. Siapkan saja berikan yang akan aku presentasikan nanti. Aku akan pergi sebentar. Paling lama satu jam. Aku pasti akan kembali. Kamu naik taksi atau ojek saja"


Radit segera merebut kunci mobilnya dari Arman dan bergegas mengikuti mobil Anisa berlahan dengan menjaga jarak memastikan Anisa aman dari mantan suaminya .


Arman lagi lagi hanya bisa menatap heran dengan tingkah bosnya .Sedangkan Radit masih setia mengawal Anisa sampai rumah. Hatinya lega saat Anisa sudah sampai rumah tanpa di ganggu oleh Fatah .


Kemudian Radit segera memutar balik mobilnya dan kembali ke kantor. Arman sudah gelisah menunggu Radit di kantor karena sebentar lagi akan ada rapat yang sangat penting.


Arman segera menyiapkan berkas berkas yang akan di bawa oleh Radit dengan harap harap cemas. Mulutnya tidak berhenti berdoa agar Radit bisa datang tepat waktu.


Lima belas menit menjelang rapat, Radit sampai di loby kantornya. kemudian ia masuk ke dalam lift. Begitu lift terbuka peserta rapat sudah mulai berdatangan. Arman segera berlari ke arah Radit dan memberikan tas yang berisi berkas yang di perlukan Radit.


Akhirnya Arman bisa bernafas lega. Dia masuk kedalam ruangannya sambil menggerutu. Dua jam berlalu, akhirnya rapat penting itu pun berakhir.


Dengan wajah tanpa dosa Radit menghampiri Arman yang masih kesal.


"Bos hampir membuat saya mati berdiri" Arman mulai protes saat


Radit terkekeh


"Masih bisa tertawa bos? , saya disini seperti orang yang menunggu eksekusi hukuman mati"


" Berlebihan kamu, Arman "


"Sebagai gantinya, bos harus katakan kepentingan mendadak apa tadi. Kenapa harus bos sendiri yang turun tangan "


"Kamu tau sendiri kalau saya yang tangani, berarti ini urusan yang sangat sangat penting. Ini menyangkut nyawa seseorang. Tapi kamu belum saatnya tau. sudah, jangan cerewet !"


" Iya, iya, bos. Kalau jadi bos mah, bebas "


Anisa memasuki pekarangan rumahnya. kemudian turun dari mobil. ia berusaha tidak menampakan apa apa. Tentang Fatah yang ingin kembali rujuk, ibu belum saatnya tau. Tekad Anisa semakin bulat untuk benar benar melupakan pria itu. Semakin jelas siapa Fatah yang sesungguhnya.


"Baru pulang, Nis?" ibu menyapa Anisa yang hampir terlambat pulang. di ruang garasi sudah ada beberapa muridnya yang datang.


"Iya, Bu. jalanan lumayan padat tadi" Anisa memberi alasan yang paling bisa di terima oleh siapapun.


"ya sudah, kamu masuk. murid muridmu sudah ada yang datang"


Kalau begitu, Nisa ke kamar dulu, Bu"

__ADS_1


__ADS_2