
Fatah membuka amplop coklat yang ada di atas meja kerjanya. Membuka lembar demi lembar foto yang ada di dalamnya. Rasa perih yang menyusup di hatinya. Perasaan tidak rela saat melihat Anisa tersenyum pada pria lain. Tanpa dia sadari, tangannya mengepal. Menahan gejolak perasaan yang yang begitu mengganggu. Matanya kembali memerah saat melihat foto Anisa bersama Radit yang sedang berpelukan.
Brakkk..., kepalan tangannya memukul meja. Membaca alamat tempat tinggal Anisa yang baru, Teryata selama ini mereka tinggal berdekatan. Fatah baru mengerti sekarang, bagaimana Anisa dan Radit bisa saling mengenal. Anisa tidak pernah memijakkan kaki ke tempat yang mungkin di kunjungi Radit. Anisa wanita rumahan yang lebih suka menghabiskan waktu luangnya untuk membaca buku. "Jadi selama ini mereka bertetangga " gumam Fatah
Fatah mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Kemudian ia kembali memandangi foto putri kecilnya yang begitu ceria. Dadanya terasa ditusuk tusuk. Mengingat semua kebodohannya. Hatinya mengelak jika semuanya sudah berakhir dan terlambat.
"Maafkan ayah, Lea. Mungkin kau akan sangat membenci ayah jika tau apa yang pernah ayah lakukan. Ayah berjanji, Ayah akan membawamu dan bunda kembali pulang" ucap Fatah dalam hati.
Fatah memberikan sisa pembayaran untuk Bigo dalam bentuk selembar cek.
" Terus awasi dan laporkan kebiasaan mereka padaku. Tunggu waktu yang tepat. agar mereka bisa di bawa ke tempat yang lebih aman. Ingat tanpa jejak tanpa melukai mereka " ucap Fatah tegas.
"Siap bos ''
"Pergilah "
Bigo keluar dari ruangan Fatah
***
Bigo masuk dalam apartemennya. Di sofa sudah duduk sosok cantik yang sedari tadi menunggu nya. Gina sudah tidak sabar mendengar reaksi Fatah dari Bigo.
"Sayang, kau sudah pulang?" Gina menyambut kedatangan Bigo
"Hmmm" Mata Bigo berbinar mendapati Gina sudah berada di apartemennya. Tangan kekarnya segera meraih pinggang ramping Gina dan membawanya dalam pelukan .
Bigo menatap Gina dengan kilatan hasrat. wajahnya kian mendekat. Menjelajah ranum bibir Gina.
"Sayang apa rencana Fatah selanjutnya ?"
"Dia akan menculiknya "
"Bagus sayang, saat itulah kesempatanmu untuk melenyapkan mereka"
"Hmmm" tangan Bigo Sudah menjalar menyusuri area terlarang milik Gina
"Percepat misimu, sayang. Secepat itu juga aku jadi milikmu"
Gina segera melepaskan diri dari Kungkungan Bigo.
"Kau berani mempermainkanku'' Bigo menggertak. Dia tidak suka saat Gina mendorong tubuhnya.
"Kamu harus selesaikan tugasmu dulu "
"Baiklah " ujar Bigo frustasi
" Aku akan kembali setelah kau berhasil dengan misimu" Gina beranjak dari sofa hendak berdiri. Namun Bigo menghalanginya.
Bigo lebih cepat berjalan menuju pintu, kemudian menutupnya dengan kencang. Bahkan suara dentuman pintu, membuat guna terperanjat. Bigo menatap liar pada Gina yang sudah menggodanya.
Gina tahu apa yang sedang dia hadapi. Dia tidak boleh gegabah. Gina tersenyum lembut sambil meraih tangan Bigo. Diusapnya dengan lembut tangan itu.
"Apa kamu sangat menginginkanku?" Suara Gina terdengar begitu lembut.
Bigo terdiam dengan perlakuan Gina. Berlahan amarahnya mereda karena suara lembut Gina. Dengan mantap Bigo mengangguk. Dia memang sangat menginginkan Gina.
"Kita sudah sepakat, kan ? Aku akan menjadi milikmu saat tugas dari ku selesai. Pria sejati tidak akan ingkar janji"
"Jangan pergi, aku hanya ingin memelukmu saja" Bigo merendahkan suaranya. Kehadiran Gina sudah menjadi candu untuknya. Rasa yang baru pertama Bigo rasakan.
"Baiklah, aku akan disini. Aku mempercayaimu" Gina tersenyum tipis.
"Aku akan mempercepat misiku. Aku akan segera melenyapkan mereka untuk mu " Bigo merangkum wajah Gina, kemudian mengecup keningnya.
__ADS_1
***
Pagi hari Anisa sedang sibuk mempersiapkan dua orang putrinya untuk
berangkat ke sekolah. Menyisir dan mengikat rambut mereka.
"Ara, saat sedang pelajaran nanti, kamu harus memperhatikan Bu guru. Tidak boleh nakal dan jajan sembarangan. Bunda sudah siapkan bekal buat Ara di kotak makan "
"Iya bunda "
"Lea juga sama gak boleh nakal dan cengeng, oke"
"Hmm"
Anisa mengecup dua pipi mereka dan mengantar sampai masuk kedalam mobil. Setelah Ara dan Lea berangkat, Anisa bergegas ke dalam kamarnya. Menoleh kearah Radit yang masih terlelap
'Bayi besar ini lebih merepotkan dari pada anak anak' gumam Anisa lirih.
"Mas bangun! sudah siang. Mau berangkat ke kantor gak?''
"Sepuluh menit lagi, sayang ''ujar Radit sambil menggeliat.
Anisa meninggalkan Radit yang masih malas ia segera masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Anisa juga harus bersiap untuk pergi mengajar.
Anisa sudah selesai dengan baju dinas nya dan merias wajahnya dengan sapuan make up tipis. Tampilannya terlihat segar dan bercahaya. Radit masih saja tertidur, dengan kesal Anisa kembali membangunkan Radit .
"Mas sudah siang, aku tinggal, ya? Hari ini aku ada kelas di jam pertama"
" Nisa ..." Radit membuka matanya dan segera bangun
"Cepat ya, mas. Aku tunggu di bawah"
"Iya" Radit langsung masuk ke kamar mandi .
"Duduk mas, aku pasangkan dasinya "
Seperti anak kecil, Radit menurut. Ia duduk di kursi dan membiarkan Anisa memasangkan dasinya. Mata Radit menatap lurus memperhatikan setiap lekuk yang terlukis di wajah Anisa.
"Cantik.....cup'' Radit usil mencium istrinya yang sedang sibuk memasang dasi
"Mas..'' seru Anisa sedang Radit tertawa senang
Radit meminum kopi yang baru saja Anisa buat dan memakan beberapa potong sandwich. Sambil mengunyah tatapannya tidak lepas dari Anisa. Sikap Radit seperti orang yang sedang jatuh cinta setiap harinya.
"Nisa, aku ingin secepatnya memiliki bayi lagi" kalimat itu lolos dari bibir Radit. Rasanya pasti akan sangat menyenangkan dengan hadirnya buah hati diantara mereka.
"Uhuk ...uhuk.." Anisa terbatuk mendengar ucapan Radit. Wajahnya mendadak memerah
Radit menyodorkan segelas air putih. dan mengelus elus punggung Anisa lembut
"Kenapa, kamu gugup sekali Nis?" Tanya Radit sambil menerima kembali gelas yang di sodorkan oleh Anisa. "Aku ingin memiliki bayi dari mu secepatnya. Aku sudah mengatur janji dengan dokter"
Bagi Anisa permintaan Radit ini terlalu cepat. Pernikahan mereka belum lama. Dia belum benar benar siap memiliki anak dari Radit. Masih banyak ketakutan dalam hatinya.
"Beri aku sedikit waktu, mas. Semua ini terlalu tiba tiba, aku harus mempersiapkan diri " ucap Anisa tanpa berani menatap Radit .
"Kita konsultasikan dengan dokter jika memang bisa, aku mau secepatnya memiliki bayi" Radit tetap pada pendiriannya. Dia tidak memperdulikan permintaan Anisa.
Anisa tertegun, ia menyadari sifat keras Radit yang satu ini. Dia tidak bisa membantah. Hanya bisa diam dan melanjutkan sarapannya. Perasaannya masih tidak menentu.
"Nanti malam aku ada acara dengan relasi ku. Bersiaplah mendampingi ku. Sinta akan membantumu mencari pakaian yang pantas. Pergilah setelah pulang mengajar, pak Sam akan menjemputmu "
"Aku tidak biasa dengan acara seperti itu. Aku ..." Nada bicara Anisa sedikit meninggi. Perasaannya sedang tidak menentu masih harus di bebani dengan menemani Radit di zona yang tidak pernah ia kenal.
__ADS_1
"Kamu harus belajar dari sekarang"
" Aku ini istrimu atau pegawai mu mas? kenapa mas tidak mempertimbangkan perasaanku. Mas terlalu dominan menyetir semua hidupku. Aku cape, mas"
" Kamu bicara apa, Nis? bukankah permintaanku wajar, meminta istri mendampingiku. Meminta istri untuk program anak. Tidak wajar jika aku meminta hal seperti ini pada wanita yang bukan istriku" Tatapan Radit menjadi lebih dingin. Terus terang saja ia harus menyimpan rasa sakit dengan reaksi Anisa.
Anisa terdiam, ucapan Radit tidak salah. Dialah yang belum siap jadi istri seorang Radit. Sehingga dia selalu merasa seolah Radit memaksakan semua kehendaknya
"Tapi mas, aku belum siap memiliki bayi lagi" Anisa tertunduk dan ucapan Anisa sangat menyakiti Radit.
Radit menghembuskan nafas beratnya. Mengusir sakit di dadanya.
" Kita bicarakan lagi nanti, sekarang sudah siang sebaiknya kita berangkat" Radit menyudahi ketegangan diantara mereka.
Anisa meraih tas nya dan mengikuti Radit. Dalam mobil Radit tidak membahas apapun. Pria itu benar benar diam dan berkonsentrasi pada jalanan yang sedang ia lewati. Di sampingnya, Anisa yang merasa bersalah. Mengakui bahwa dirinya yang egois. Bagaimanapun awalnya pernikahan ini. Dia telah menjadi istri Radit. Apa yang Radit minta sudah menjadi kewajibannya untuk mematuhi.
Sampai depan SMA Garuda mobil Radit berhenti tepat di depan gerbang.
"Mas Disa....maaf. Aku ..minta maaf" suara Anisa terbata bata. Selama perjalanan tadi ia banyak berfikir tentang sikapnya pada Radit.
Radit dengan santai mengangguk. Meski hanya kata maaf sudah membuat hatinya terobati.
"Aku belum bisa jadi istri yang baik " ucap Nisa sambil mencium punggung tangan Radit sebelum turun dari dalam mobil Radit
" Aku yang terlalu memaksamu " Ucap Radit singkat kemudian keduanya berpisah, Anisa masuk ke area sekolah dengan hati yang ringan karena telah mengakui kesalahannya. Raditpun melajukan mobilnya hingga hilang dari pandangan Anisa.
***
Malam harinya Anisa sudah bersiap dengan gaun malam yang tadi siang ia beli bersama Sinta. Wajah cantiknya terlihat lebih bersinar dengan gaun mewah yang membalut tubuhnya. Sinta sangat pintar dalam merubah penampilan Anisa dari sederhana menjadi sangat berkelas.
Radit masih di kantor, dia tidak terlalu banyak berharap istrinya bisa menemani pergi ke pesta pertemuan dengan para relasinya malam ini. Ia masuk ke ruang pribadinya membersihkan diri dan memakai setelan yang sudah ia bawa dari rumah.
Kemudian ia memencet tombol lift untuk segera turun. Biasanya lift khusus untuk petinggi perusahaan tidak ada yang berani memakai, tapi sepertinya malam ini ada orang yang memakai. Radit beberapa kali melihat jam tangannya. Dia tidak ingin terlambat. Mencoba menahan emosinya yang hampir meledak. Saat pintu lift terbuka muncul sosok yang membuat Radit terpesona.
"Mas Disa" Anisa mengulas senyum menyapa Radit yang berada di depan pintu lift.
Radit terpana dengan penampilan Anisa. Dia hampir tidak mengenali istrinya dan tidak menyangka Anisa mau menemaninya ke pesta, mengingat ketegangan yang terjadi tadi pagi.
" Anisa...kau mau menemaniku ke pesta ? "
" Asal mas janji jangan ninggalin aku sendiri di sana. Mas harus didekat aku"
"Iya mas janji ..., Kamu cantik sekali, Nis" ujar Radit sembari merengkuh Anisa kedalam pelukannya.
"Sinta yang membantuku bersiap"
"Adiku memang bisa diandalkan. Ayo kita berangkat"
Kemarahan Radit menguap melihat Anisa mau menemaninya ke pesta pertemuan dengan para relasi bisnis nya.
Anisa tampak canggung berbaur dengan para pengusaha. Namun Radit menggenggam erat tangannya.
"Jangan takut, lihat ada mama dan Sinta''
"Kenapa tidak bilang kalo mama dan Sinta juga ikut, Mas. Lihat, mama sangat berbeda dari biasanya"
"Sama seperti kamu, mama hanya mengimbangi pergaulan papa. Mama juga tidak terlalu suka untuk bergabung dengan istri istri relasi papa. Dia hanya menjaga kesopanan dan mencoba berbaur"
Anisa bergabung dengan Sinta dan Mama mertuanya yang banyak di kelilingi oleh teman teman kelas atas mereka. Mama tampak berwibawa diantara teman temanya. Dengan bangga ia memperkenalkan Anisa sebagai menantunya.
Bagaimana tak berwibawa mama Arini adalah istri dari pemilik group Wijaya yang merupakan salah satu konglomerat di negara ini.
**
__ADS_1
Author minta maaf, ya. Up telat dan Author mau ijin 2 Minggu gak up. Ada kepentingan terima kasih telah berkenan membaca tulisan Author. setelah 2 Minggu, Author bakalan up lagi.