Tetanggaku Duren (Duda Keren)

Tetanggaku Duren (Duda Keren)
22, Malam pertama


__ADS_3

Selesai makan malam, raut wajah Anisa masih belum berubah. Radit mulai tidak sabar. Ia mondar mandir di teras balkon depan kamarnya. Radit berusaha menghirup udara segar malam untuk mengalihkan pikiran kusutnya. Rasanya putus asa. Meskipun sudah berlama lama di sini, Radit belum bisa mengalihkan fokusnya. Sesekali, ia menggaruk garuk kepalanya sambil membuang nafas kasar. Seharusnya, ini adalah malam paling bahagia untuk pasangan pengantin yang baru menikah.


Radit tidak menyangka dengan reaksi anti pati dari Anisa dengan status nya sebagai pewaris dinasti Wijaya group. Anisa sudah sangat keterlaluan menyiksa Radit saat ini. Radit gelisah, dia bertanya pada dirinya sendiri, ' Apakah aku harus memaksa? aaahhhhhh, aku tidak tega, bocah cengeng itu pasti akan memberontak lagi. Tapi ini adalah momen paling penting untuk menentukan kelanjutan hubungan cintaku. Bocah cengeng itu akan terus terpuruk jika dibiarkan"


Otak Radit terasa panas, dorongan hatinya meminta untuk bersabar, sedang dorongan hasratnya yang sudah bertahun-tahun tertahan sangat sulit dibendung.


Teryata Angin dingin di luar tidak mampu menyelesaikan kegelisahan Radit. Kemudian Radit masuk kembali ke dalam kamar. Istrinya sedang duduk di ranjang pengantin mereka dengan baju yang akan meledakan pertahanannya.


Radit memperhatikan Anisa. Rambut hitam Anisa dibiarkan terurai. Sedangkan posisi Anisa sedang menatap ke arah layar Tv yang masih menyala. Sesekali Anisa menyelipkan anak anak rambutnya ke telinga. Matanya masih menatap lurus kearah tv. Terkadang ia bergumam dan mengusap pahanya yang mungkin terasa dingin. Dalam pandangan Radit, setiap gerakan Anisa, seolah seperti gerakan yang menggodanya, terlihat sensual.


Radit tidak lagi bisa menahan diri. Bagaimanapun ia mempunyai hak atas istrinya. Wanita itu halal untuknya. Akhirnya Radit mendekati Anisa, Ia akan mengukur sejauh mana kemarahan wanita ini. Radit akan berusaha menaklukannya.


Tanpa aba aba, Radit sudah memeluk Anisa dari belakang.


"Sayang, apa yang sedang kamu lihat?'' ucap Radit sembari menghujani kepala anisa dengan kecupan.


Anisa mencoba mengurai belitan tangan kokoh Radit di perutnya. Sekuat tenaga ia mencoba. Namun bukannya lepas, justru semakin erat. Nafas Radit mulai terasa hangat di tengkuknya. Anisa mulai siaga dengan serangan Radit. Dia belum ingin berhubungan sejauh itu dengan suaminya.


Penolakan Anisa membuat Radit semakin kesal. Kemudian ia membalikan tubuh Anisa agar berhadapan dengan wajahnya.


"Dengarkan aku baik baik, Nis. Sebesar apa kesalahanku padamu? Kenapa kamu begitu marah.?" Suara Radit tegas dan tidak ingin di bantah. Dia sudah biasa menghadapi berbagai macam karakter orang. "Aku tidak ingin bermain main terlalu lama, Aku juga lelah. Seharusnya malam ini menjadi malam terindah untuk kita'' sambung Radit lagi.


Radit masih menatap Anisa yang terdiam. Namun jangan salah, meski bertubuh kecil ia bisa membuat Radit kelimpungan. Aksi diam Anisa membuat Radit semakin berani.


"Anisa, Sayang" Radit merangsek merengkuh Anisa dengan paksa .


"Kamu kasar sekali mas'' semakin besar dan kuat Anisa menolak.


Akhirnya kesabaran Radit menguap. Ia menatap penuh hasrat pada wanita didepannya. Seperti singa lapar yang mendapatkan kelinci gemuk. Menggairahkan.


"Dengar Nisa, kamu istriku. Aku berhak atas tubuhmu. Aku menginginkannya sekarang. Aku sudah tidak mungkin lagi menahan diri. Layani aku!" ujar Radit dengan ekspresi dingin.


Ucapan Radit sangat menyakiti hati Anisa. Anisa terus menepis mencoba melawan. Radit sudah terbakar gairah dengan mudah merubuhkan Anisa di pembaringan. Anisa pada posisi tidak berdaya. Radit sudah mengunci tubuhnya.


Radit menangkup wajah Anisa. Di mata Anisa tersirat permohonan untuk di lepaskan. Tidak bisa, Radit harus mendapatkannya malam ini juga. Meski jauh di hati kecilnya, Radit meminta maaf. Karena memaksakan kehendak.


Radit melepaskan baju dari tubuhnya dan melempar sesuka hatinya. Anisa hanya bisa membeku, Logikanya berkata, semua ini adalah hak radit sang suami. Sedang hatinya merasa belum rela dan muak.


Radit sudah tidak sabar, meski tau Anisa sangat terluka dengan pemaksaan yang dilakukannya. Tidak butuh waktu lama untuk membuka penutup tubuh indah Anisa. Dress mini yang dipakai Anisa sangat memudahkan Radit.

__ADS_1


Anisa merasa menjadi boneka pemuas hasrat Radit. Dari sudut matanya mengalir bulir bening. Radit tidak lagi perduli, yang ada dalam otaknya hanya ingin segera menuntaskan hasratnya.


Nafas Radit sudah tidak beraturan, dibarengi lenguhan, saat merasakan keindahan dari puncak yang menghempas. Raganya terkulai memeluk erat tubuh Anisa. Malam terus merayap, Radit memberi jeda sebentar kemudian mengulang kembali keindahan malam pertama mereka.


**


Anisa sudah membersihkan diri dan bersuci. sayup suara adzan subuh sudah berkumandang. Radit pun terbangun saat Anisa sudah bersiap dengan mukenanya.


"Tunggu mas, sebentar. kita akan shalat berjamaah'' Radit berkata dengan tegas. Ia tau sedikit saja melunak, Anisa pasti akan mendahuluinya untuk melaksanakan subuh.


Radit sudah selesai membersihkan diri dan bersuci. kemudian bersiap untuk beribadah memimpin istrinya. Setelah usai sholat, Radit memberikan tangannya pada Anisa. Mau tidak mau, Anisa menyambutnya dan mencium punggung tangan Radit.


"Maafkan aku" ucap Radit lembut sembari merengkuh dan membawa tubuh mungil Anisa untuk bersandar di dadanya. Tangan kokoh Radit mengelus punggung Anisa pelan


Perasaan Radit bercampur aduk. Anisa tersedu di dada Radit. Ia meluapkan kekesalannya, memukul mukul dada Radit.


"Mas Disa, jahat, kasar. Mas Disa sudah menyakitiku"


"Maaf Nis, maaf " hanya kata maaf yang terus terucap dari mulut Radit.


Anisa masih tersedu, menumpahkan perasaan yang semalam tertahan.


Anisa merasa kelelahan sendiri setelah meluapkan seluruh kekesalan. Hanya dengan menangis dan memukuli dada Radit kekesalan Anisa sudah menguap.


Semua sudah terjadi, mau tidak mau pria pemaksa ini adalah suaminya sekarang. Bahkan pria itu sudah menebar benih dalam rahimnya. Radit masih memeluk tubuh Anisa yang berbalut mukena .


Radit membiarkan saja Anisa seperti ini. Radit hanya memeluk Anisa dan pasrah sembari terus meminta maaf. Radit tidak lagi mendengar isakan Anisa. Ia sudah terdiam dari tangisnya. Saat di lihat teryata Anisa kelelahan hingga tertidur dalam dekapannya. Radit menyeka sisa sisa air mata di wajah sang istri. Kemudian menggendongnya. Radit membaringkan Anisa di atas ranjang.


"Seperti anak kecil saja, setelah mengamuk tertidur dengan damai" Radit bergumam sambil melepas mukena yang masih menempel. Radit terus menatap wajah cantik Anisa dan mengecupnya penuh cinta.


Matahari sudah tinggi, sinarnya menerobos memasuki kamar. Anisa menggeliat membuka matanya. Tidurnya sangat nyenyak di pagi ini. Matanya melihat kearah jam dinding. Teryata hari sudah sangat siang.


Anisa mencari cari sosok yang membuat dirinya kesal semalam. Tapi pria itu tidak ada di dalam kamar. Perut Anisa sudah merasakan lapar. Ia melewatkan jam makan pagi.


Ingin sekali Anisa memaki. Mengapa di saat ia sangat kelaparan seperti ini, Radit justru tidak ada. Sambil menunggu, Anisa menuju kamar mandi membersihkan diri membasuh mukanya yang kusut. Kemudian mengelapnya dengan handuk kering.


Anisa sudah berada di depan meja rias. Menyapukan lipstick tipis dan bedak. Rambut panjangnya diikat ke atas, membuat leher jenjangnya terexpos.


Wajahnya sudah kembali segar, apa lagi saat ini dia memakai mini dress. Karena hanya ada baju seperti ini di dalam kopernya. Baju yang memperlihatkan kemulusan kulit putihnya.

__ADS_1


Radit membuka pintu, tangannya membawa paper bag yang tidak terlalu besar. Radit tersenyum senang melihat istrinya yang sudah sangat cantik.


" Sudah bangun sayang?" tanya Radit sembari mencium pipi Anisa.


Anisa terlihat kesal dan mengusap pipi bekas ciuman Radit yang terasa basah. Radit hanya terkekeh dengan tingkah Anisa. Kemudian keduanya duduk di sofa. Saat sedang asik berbincang, tiba tiba saja perut Anisa berbunyi.


"Kamu lapar, sayang ?" tanya Radit. ia merasa lucu melihat muka Anisa yang memerah "Kita sarapan di bawah, kamu siap siap, ya"


"Bajunya pendek semua mas" ucap Anisa pelan.


Radit memberikan paper bag pada Anisa. "Ini, mas bawakan baju panjang juga kerudung. Mudah mudahan kamu suka dan pas"


" Aku pasti suka, yang penting menutup aurat" Anisa menerima tas dan masuk ke kamar mandi untuk berganti.


Radit terpana melihat baju yang dipakai Anisa sangat serasi dan pas. Bahkan Radit tidak mengira baju pilihannya akan sebagus itu jika dipakai oleh Anisa.


" Cantik sekali, sayang, kamu suka ?"


Anisa hanya mengangguk. Kemudian keduanya turun ke bawah untuk mencari sarapan di restoran hotel. Radit menggenggam jemari Anisa posesif.


"Mas, sebenarnya kita ada di mana?"


"Pulau seribu, Hari ini mas akan menuruti keinginan kamu. Mau jalan jalan ke mana?"


"Tidak tau, kapan kita pulang? Aku kangen anak anak "


"Baru satu malam, Nisa. Mereka juga sedang bersenang senang dengan nenek dan Omanya"


Mereka sampai di restoran untuk sarapan. Anisa yang sudah kelaparan dari tadi, tidak menyia- nyiakan kesempatan. Dia mengisi perutnya. Merasakan kelezatan setiap suapan yang masuk kedalam mulutnya.


Radit hanya menatap senang. Melihat sang istri begitu lahap. "Makanya yang nurut sama suami, tidak usah pake ngambek ngambek segala, kaya anak kecil" batin Radit berucap


Uhuk uhuk Anisa tersedak, membuyarkan lamunan Radit. Anisa segera meminum air putih yang ada di depannya.


"Makannya yang pelan, sayang" ucap Radit sambil mengelus punggung Anisa.


"Ini juga pelan, mas. Mungkin ada yang sedang menggunjingkanku"


Apa hubungannya tersedak dengan orang yang menggunjingkannya aneh ........

__ADS_1


__ADS_2