Tetanggaku Duren (Duda Keren)

Tetanggaku Duren (Duda Keren)
31.Kehamilan Alea


__ADS_3

Harusnya pagi ini Hans pulang ke Apartemennya. Namun melihat Alea yang pagi itu terus muntah muntah, Hans jadi tidak tega.


"Aku kenapa Hans, kenapa setiap pagi Aku mual dan muntah?"


Hans tidak langsung menjawab pertanyaan Lea. Pria itu justru sibuk memeriksa denyut nadi di lengan Alea. Sekilas Hans menatap wajah Alea yang terlihat pucat.


"Hans...?" Kembali Lea memanggil Hans. Hans meletakkan stetoskop ke atas meja. Kemudian duduk di tepi ranjang. Hans meraih tangan Lea, sesaat ia menatap wanita itu. Menyelami perasaan yang bergejolak di dalam dadanya.


"Lea, ada yang harus aku sampaikan tentang keadaanmu"


"Ada apa dengan aku,Hans?"


"Kamu sedang hamil Alea..... " Hans lirih berucap. Ia memalingkan mukanya tidak ingin melihat reaksi Alea.


Hans pikir, Alea akan sedih seperti dirinya. Hans bahkan sempat ragu untuk mengungkapkan kebenaran yang ada. Namun di luar dugaan ternyata sikap Alea justru sebaliknya.


"Hamil ?" aneh ada perasaan gembira dalam hati Alea, mimik wajahnya pun mendadak ceria.


Hans melihat Alea mengusap perutnya sendiri. "Aku akan jadi seorang ibu" cicit Alea ringan


"Lea, kamu akan jadi ibu"


"Aku merasa bahagia, Hans. Setidaknya ada bagian dari masa laluku yang mengikutiku. Aku tidak sendirian"


"Aku sempat ragu untuk menyampaikan kabar ini, tapi kamu justru bisa menerimanya dengan mudah. Jangan kawatir, Lea. .Aku akan mendampingimu"


"Sayang nya aku tidak tau siapa Ayah bayiku"


"Kita memang belum tau ini bayi siapa. Tapi aku tidak keberatan untuk jadi Ayahnya"


"Hans jangan mulai lagi, mungkin aku sudah bersuami. Di luar sana dia sedang mencariku"


"Bisa jadi, dia juga pria yang mencelakai mu, Lea" Hans seperti diserang rasa cemburu yang berlebihan. Tidak sadar berucap tentang kekawatirannya yang akan membuat Alea tersakiti.


Lea terdiam dengan ucapan Hans, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Tiba tiba Lea menunduk, hatinya diliputi rasa gundah. Andai saja dia bisa tau siapa dirinya. Mungkin dia tidak akan kebingungan seperti ini.


"Masih mual?" Hans kembali bertanya setelah keduanya saling diam.


"Tidak lagi, Hans"


"Kalau sudah tidak mual, minum susumu,


Lea. Sedikit demi sedikit saja, usahakan habis. Dia perlu nutrisi yang baik" Hans menunjuk perut rata Alea sembari tersenyum.


"Terima kasih Hans, terima kasih sekali lagi" wajah Lea begitu sendu menatap Hans.


"Hey, jangan sedih. Minggu depan aku akan kembali lagi. Kita akan melihat keadaan bayi kita saat USG nanti"


"Hans, dia hanya bayiku" Lea merasa tidak enak hati dengan pengakuan Hans pada bayinya.


"Aku ingin menyayangi dia, Lea. Tidak salah, kan?"


"Hans..."


"Aku harus segera kembali. Sampai ketemu Minggu depan. Jangan lupa di minum obatnya. Jaga dirimu baik baik" Ucap Hans mengakhiri perdebatannya dengan Lea.


***


Alea tampak lebih segar hari ini, ia mengenakan terusan motif bunga jasmin putih lengkap dengan ebuah pasmina polos panjang menutupi kepalanya. Tampilannya selalu cantik, apalagi bibir kecilnya di poles dengan lipcream merah muda. Hans mampir tidak mau berkedip saat melihat Alea keluar dari dalam rumah.


"Aku sudah membuat janji dengan dokter Lita, dia dokter kandungan terbaik di sini. Kamu hanya perlu rilek dan mengikuti perintah dokter"


"Iya, Hans"


Hans tidak mengendarai mobilnya sendiri kali ini, ia membawa sopir. Hans duduk di samping Alea di belakang.


"Pelan pelan saja, pak!" Perintah Hans pada supirnya.


Mobil Hans melaju tenang menuju jalanan. Pagi itu masih sejuk, sesejuk perasaan Hans saat ini.


"Lea, setelah kita bertemu dokter Lita, Aku ingin mengajakmu bertemu seseorang"


"Siapa Hans?"

__ADS_1


"Orang yang sangat spesial" Hans mengulum senyum. Hatinya diliputi perasaan suka cita.


Sampai di pelataran rumah sakit, Hans membuka pintu mobil untuk Alea. Keduanya berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang praktek dokter Lita.


"Hans...?" Sapa dokter Lita, namun arah pandangan dokter Lita tertuju pada Lea.


"Ini Lea" Sahut Hans setenang mungkin. "Lea ini dokter Lita" Hans memperkenalkan keduanya. Saling berjabat tangan. Dokter Lita sudah tau siapa Alea dari rumor yang tersebar di kalangan dokter. Wanita yang di temukan Hans


"Kita pindah ya, di ruang periksa!" Dokter Lita mengarahkan Alea untuk tidur di brankar khusus periksa kemudian menutup tirainya.


Hans yang sejatinya ingin ikut di cegah oleh Alea dan di setujui oleh dokter Lita. Hans berjalan mondar mandir di ruangan dokter Lita. Dia seperti seorang Ayah yang sedang menunggu kelahiran putra pertamanya.


"Gimana, Lit?" Tanya Hans begitu Akrab dan dokter Lita muncul dari balik tirai.


"Bagus, Hans. Tidak ada yang perlu di kawatirkan"


Hans mendesah lega. Kembali duduk di sisi Alea.


"Makan yang sehat, istirahat cukup dan rutin check up. Itu saja Hans. Masalah mual itu hal yang wajar pada awal kehamilan"


"Terima kasih, Lit"


"Sure..., Ini resep yang harus di tebus"


Setelah pemeriksaan Lea selesai, Hans mengajak Lea pergi ke sebuah restoran, tentunya Hans ingin makan siang berdua dengan Lea. Namun sebelum itu, ia harus menemui direktur rumah sakit terlebih dahulu.


"Kamu tunggu di sini dulu Lea, jangan ke mana mana. Aku harus ke ruangan direktur sebentar" Hans meninggalkan Lea di ruangannya.


Lea duduk di kursi milik Hans, matanya menyapu seluruh ruangan yang cukup besar. Ruang pribadi Hans sebagai dokter di rumah sakit ini. Saat sedang asik memperhatikan seluruh ruangan, pintu terbuka lebar. Seorang wanita cantik dengan sneli masuk. Dia Rinda wanita yang sudah beberapa kali Lea temui saat di rumah sakit.


"Hai..." Wanita itu menyapa ramah pada Alea. "Hans dimana?"


"Hans ke ruang direktur"


"Kamu Alea, kan?" ALea mengangguk. Ada rasa canggung dan juga tidak enak hati berhadapan dengan wanita cantik yang ramah ini.


"Periksa ke dokter Adam?" Tanya Rinda terlihat akrab


"Usia kandunganku sudah delapan Minggu. Aku hamil sebelum bertemu, Hans. Aku dan Hans tidak memiliki hubungan apapun" tanpa di minta untuk menjelaskan, Lea berujar. Rasanya tidak tega melihat Rinda bersedih seperti tadi. Lea berdiri mendekati Rinda.


"Rinda, bisakah kita berteman?"


"Lea, ayo...,Rinda?" Hans terkejut melihat Rinda ada di ruangannya.


"Kamu sibuk, Hans?" Tanya Rinda menatap Hans lembut. Binar matanya penuh cinta.


"Aku akan membawa Lea bertemu, mami" sahut Hans dingin.


"Baiklah...aku pamit" Rinda menatap Lea kemudian berpamitan.


Rinda pergi meninggalkan ruangan Hans tanpa menoleh lagi. Ini bukan kali pertana Hans mengacuhkan durinya. Namun gadis itu tidak bisa berpaling.


"Hans, kenapa bersikap seperti itu? Tidak sopan. Dia sangat ramah dan baik" Alea menyela. Hans tidak menggubrisnya. Pria itu justru menggandeng tangan Lea untuk keluar dari ruangannya.


"Hans.."


"Dia berisik, Lea. Ayo, kita akan menemui seseorang yang akan membantu mencari identitas mu. Tapi sebelum itu aku akan membawamu bertemu mami"


"Mami mu, Hans. Untuk apa?" Lea benar benar gugup. Dia tidak berani bertemu dengan orang yang sudah melahirkan Hans.


"Aku ingin memperkenalkan kamu, sekaligus meminta restu. Aku ingin jadi ayahnya" Hans menunjuk ke arah perut Lea.


Hans tidak memberi jeda pada Lea, pria itu mengamit lengan Lea dan mengajaknya berjalan. Hans diam, tidak ingin mendengar bantahan. Lea hanya bisa mengikuti, untuk berontak dia belum memiliki keberanian yang cukup.


Memasuki pelataran rumah Hans yang megah, membuat Lea semakin ciut. Jantungnya berdegup kencang, gugup, takut, juga tidak percaya diri. Posisinya terlalu riskan dan lemah.


Kini Lea seperti seseorang yang menjadi tersangka. Papi, Mami Hans menatapnya dari ujung rambut hingga kaki. Ekspresi wajah mereka datar.


"Pi, Mi, ini yang namanya Lea" ucap Hans penuh percaya diri.


"Jadi ini yang kamu sembunyikan dari kami?" Papi hans menghembuskan nafasnya berlahan seolah ia sedang menahan diri dari ledakan emosi.


"Ya"

__ADS_1


"Mami ikut simpati dengan kejadian yang menimpa kamu, Lea. Mami dan papi tidak marah Hans menolong orang yang terkena musibah" ucap mami Hans lembut.


"Tapi papi tidak suka, kamu menyembunyikan fakta dari kami. Kamu paham, Hans? Sudah satu bulan, papi mendengar rumor tentang kamu dan dia. Jangan coreng nama baik papi"


Lea sudah mulai tampak gelisah, begitu juga Hans. Hans tau kedua orang tuanya tidak akan menyetujui niat yang akan dia sampaikan. Namun bukan Hans namanya jika tidak membangkang.


"Ada lagi yang ingin Hans sampaikan. Hans ingin mejadi ayah dari bayi yang sedang di kandung oleh Lea" tutur Hans tegas.


Mendengar itu kedua orang tua Hans tampak kesal. Papi Hans berdiri dengan wajah memerah. Hans masih belum berubah.


"Papi tidak bisa menerima dia menjadi menantu di rumah ini. Kamu boleh milih antara kami atau wanita itu" tanpa banyak bicara lagi, papi Hans meninggalkan ruang tamu.


"Pi..." Panggil mami Hans lirih, dia pun mengikuti langkah sang suami. Namun berkali kali ia menoleh ke arah Hans sembari melangkah.


Jelas wajah wanita paruh baya itu diliputi mendung. Tentu berat baginya melepaskan sang putra. Ia tidak rela Hans lebih memilih wanita lain ketimbang kedua orang tuanya.


Lea masih duduk mematung, rasa bersalah menghujani hatinya. Dia tau betul tatapan luka dari kedua orang tua Hans. Semua ini karena kehadiran dirinya. Lea menunduk berurai air mata. Dia sedih bukan karena penolakan orang tua Hans. Tapi dia sedih karena membuat perseteruan diantara Hans dan orang tuanya.


Hans melirik ke arah Lea. Dia tau penolakan Papinya membuat Lea sedih. Hans menggenggam jemari Lea seolah berkata "jangan kawatir, ku tetap memilihmu" Lea menutup kelopak matanya, luruhlah bulir bening.


Lea berlari mengibaskan genggaman tangan Hans. Ia merasa sangat berdosa. Hans mengejar Lea yang sudah berada di luar gerbang. Wanita itu bingung harus kemana karena tidak memiliki tujuan.


"Jangan begini, ayo aku antar ke suatu tempat yang lebih nyaman"


"Temui orang tuamu, Hans. Jangan jadi anak yang durhaka"


"Salah, jika aku ingin bahagia denganmu? Mami dan papi pasti akan mengerti jika mereka sudah mengenalmu" Hans memberi pengertian pada Lea tentang sikapnya.


"Tapi tidak seperti ini. Kamu menyakiti mereka. Tidak bisakah kita hanya jadi teman baik saja?" Lea terisak, dia bisa melangkah sejauh ini hanya karena kebaikan Hans yang telah menyelamatkannya. Dia sendiri tidak memiliki perasaan lebih. Bahkan Lea yakin di luar sana ada seseorang yang sangat ia rindukan.


Hans tersenyum kecut dengan ucapan Lea. Wanita itu terlalu polos. Pada Awalnya Hans memang murni hanya menolong. Tapi lambat laun Hans terpesona dan jatuh hati. Hans rela melakukan semuanya tentu karena ingin Alea membalas perasaannya juga. Teman baik, apa untungnya untuk Hans...?


Hans menyewa sebuah kamar untuk Lea menginap. Awalnya Hans ingin mengajak Lea menginap di Apartemennya. Namun Lea menolak keras.


"Istirahat saja dan makan. Aku akan pergi keluar untuk menemui temanku"


"Benarkah?"


"Ya, kamu hanya perlu menuruti aku. Tidur, istirahat. Aku yang akan mencari tau semuanya. Hmm"


Alea mengerjapkan mata. Dia tidak bisa menepis tangan Hans yang mengusap puncak kepalanya. Sentuhan intim yang membuat Alea risih. Tapi Alea sudah terintimidasi, Hans harus mengetahui jati dirinya. Saat ini Alea sangat bergantung pada Hans.


Lea mengangguk, dia menuruti keinginan Hans. Ia menyantap seporsi steak dan kentang goreng. Setelahnya ia membersihkan diri di kamar mandi.


Hans ada di lobi sedang menemui sahabatnya. Orang yang akan ia mintai tolong untuk menemukan jati diri Alea.


"Bagaimana Prass?"


"Mudah, bawa saja dia ke tempat kerjaku. Aku akan mencocokkan jati dirinya dengan mudah"


"Kamu serius, kan?"


"Tentu"


"Baiklah, besok aku akan membawanya ke sana"


Pras terkekeh, persoalan tentang ALea tentu saja sangat mudah ia pecahkan. Hans saja yang mempersulit diri. Andai saja dia melapor ke polisi, dan dengan bekal itu dia dengan mudah mengetahui siapa ALea.


"Aku yakin dia bukan wanita biasa biasa saja, Hans"


"Sok tau!"


"Dari sikap mu tentu saja"


"Aku kenapa?"


"Seperti orang bodoh" Pras senang sekali melihat wajah Hans memerah.


"Sialan..."


"Aku harus pulang. Ingat, jam 12 tepat aku tunggu. Jika terlambat aku tidak bisa menolongmu" Pras mengakhiri obrolannya dengan Hans.


"Iya" ujar Hans kesal

__ADS_1


__ADS_2