
Radit berdiri di depan rumah Anisa, Pria itu mengenakan celana panjang jeans dan kaos warna putih. Terlihat lebih muda dan tampan berkesan santai dan friendly. Di tangan kirinya ia membawa keranjang parcel berisi buah.
Ara menggandeng tangan papi, dia terlihat ceria. Penampilan Ara sekarang jauh lebih baik berkat Anisa. Gadis kecil itu mengenakan celana joger berbahan denim juga kaos warna biru dengan gambar tom Jery. Kesan tomboy ada tapi terlihat manis Sedang rambutnya sudah sedikit panjang dipotong Bob.
Radit menekan bel yang ada di samping pintu rumah Anisa. Tidak menunggu terlalu lama pintu rumah terbuka. Radit berharap yang membuka pintu rumah adalah Anisa. Namun sosok mungil dengan senyuman manis, Alea. Ale melonjak girang begitu melihat Radit dan Ara yang datang.
"Papi, Ara, ayo masuk" Alea memandu kedua tamunya untuk masuk ke dalam rumah. Mereka melewati ruang tamu dan langsung menuju ruang makan.
Ada ibu yang sedang menata meja. Beberapa hidang sudah tertata cantik. Selain itu, aroma masakan ibu selalu menggugah selera. Radit menyerahkan bingkisan yang ia bawa.
"Repot repot, nak Radit" ucap ibu sambil meletakan buah yang Radit bawa di atas meja.
"Sama sekali tidak, Bu. Hanya buah, siapa tau Alea suka"
"Ayo duduk biar ibu panggilkan Anisa"
"Biar saya saja Bu, yang panggil Anisa dan anak anak" tawar Radit. Rupanya Radit sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Anisa.
Alea dan Ara sudah berada di dalam kamar Anisa. Dua bocah itu memperhatikan Anisa bersiap. Dari mulai membersihkan muka dan mengaplikasikan pelembab diwajahnya. Tidak lupa mereka selalu bertanya tentang benda benda yang ada di atas meja rias. Anisa menjawab sebisanya, meski kadang dia kebingungan. Karena dua bocah kecil di depannya belum mengerti istilah istilah make up.
"Bunda juga rambutnya panjang? Ara baru lihat " Ara terpukau dengan rambut sepungung Anisa yang sedikit bergelombang.
" Iya sayang, Ara juga mau kan punya rambut panjang "
" Iya bunda, mau. Ara, Lea terus bunda rambutnya panjang, sama an "ujar Ara disertai tawa renyahnya
"Kita bertiga nanti kaya Rapunzel, rambutnya panjaaaaang " Alea menimpali
"Terus kita bertiga jadi Rapunzel, tinggal di kastil menunggu pangeran datang" Celoteh Ara riang.
Saat Anisa memasang kerudungnya. Ara tampak bingung. Menurut Ara, Anisa sudah terlihat sangat cantik dan memukau.
"Bunda, kok ditutupi lagi rambutnya" tanya Ara polos. Matanya tidak putus menatap Anisa.
"Iya, karena bunda sudah dewasa jadi bunda harus menutup aurat. Tidak boleh sembarang orang melihat. Kecuali orang yang istimewa. Seperti Lea, Ara, nenek atau sama sama perempuan, boleh"
"Oh, papi Ara juga tidak boleh lihat? Papi pasti suka liat bunda yang cantik tanpa kerudung" Ucapan Ara begitu polos. Anisa hanya tersenyum sambil mengusap pipi Ara lembut.
"Papi Ara, kan laki laki, jadi tidak boleh lihat'
" Boleh lihat, kalau papi jadi suami bunda " tiba tiba saja Radit sudah di depan pintu kamar Anisa yang terbuka.
"Mas ngagetin aja"
" Hi hi hi bunda kaget, papi " Tukas Lea dan Ara bersamaan
"Papi sudah lapar. Ayo kita makan" tangan Radit menggandeng Lea dan Ara tapi matanya mengarah pada Anisa yang terlihat anggun malam itu. Meski hanya dengan balutan baju sederhana.
Ara dan Lea duduk berdampingan begitu juga Radit dan Anisa, sedang ibu ada di ujung meja. Mereka makan malam penuh dengan keceriaan.
"Bu, apa Anisa bisa memasak?" tanya Radit yang sedari tadi sudah ingin menggoda Anisa. Meja makan mereka terlihat hanya ramai oleh Ara dan Lea. Sedang Anisa terlihat begitu tenang.
"Kalau cuma memasak biasa, Aku bisa. Meski tidak seenak ibu" timpal Anisa cepat
"Oh ya, walau pun tidak bisa memasak, gak papa, Nis. Mas, masih bisa bayar koki buat masak" Radit berhasil memancing Anisa. Namun ia merasa tidak enak hati telah menggoda Anisa di depan Bu Ratna. Wajah Radit bersemu merah meski tidak terlalu kentara.
Anisa mengerti kearah mana ucapan Radit . Dia pura pura tidak tau dan tidak menanggapi
Setelah makan malam selesai, Alea dan Ara bermain di ruang tengah. Sedang Anisa sibuk membawa piring piring yang kotor ke belakang dibantu oleh Radit. Ibu sengaja meninggalkan keduanya dan pergi ke ruang tengah menemani Ara dan Alea.
"Letakkan saja di situ! Mas Disa pergi saja ke depan dengan anak anak" Anisa mengusir Radit dari dapur.
"Gak, aku mau di sini saja. Paling tidak, aku bisa tau, kalau kamu bisa nyuci piring apa gak" Radit terkekeh usil ia berdiri seperti pengawas memperhatikan tingkah Anisa.
" Ishh...masih aja seneng, bikin orang kesel "
"Aku juga nggak tau, ya? seneng banget kalo liat muka kamu yang lagi galak. Tapi lebih seneng lagi kalo disenyumin, Cuma efeknya itu, aku gak tahan Nisa" Radit mulai melancarkan aksinya
" Maksud mas, efek apa ?"
__ADS_1
" Kalo kamu senyum, malam nya, aku jadi tidak bisa tidur"
" Hadeeh.., kelamaan ngomong sama mas, juga bikin saya darah tinggi. Pergi sana! Takutnya saya jadi stroke"
Radit tertawa dan meninggalkan Anisa sendirian di dapur. Sudah cukup untuknya menggoda wanita itu. Kalau terlalu lama dia sendiri takut tidak bisa mengendalikan diri. Ponsel Anisa berbunyi, tertera nama Fatah di layar.
"Ya, halo "
"Aku kangen Alea, Nis. tolong buka pintu. Aku sudah di depan rumah kamu "
"Tapi sudah malam, mas. besok saja, ya"
"Buka, cuma sebentar'' Fatah terdengar memaksa.
"Baiklah, tunggu di sana!"'
Anisa membukakan pintu untuk Fatah. Begitu pintu terbuka Fatah menyeret Anisa keluar. Pria itu merengkuh tubuh kecil Anisa dengan paksa ke dalam pelukannya. Tentu saja Anisa meronta, ia meminta Fatah untuk melepaskan pelukannya. Namun Fatah tidak menggubris. Anisa berteriak meminta tolong.
Semakin Anisa memberontak, Fatah semakin kuat dan erat mencengkram tubuh Anisa. Fatah semakin nekat memaksa Anisa untuk menuruti keinginan Fatah.
"Kita kembali bersama, Nis. Kamu milikku. Aku tidak akan membiarkan kamu jadi milik orang"
"Tidak, tidak. Lepas! Aku tidak mau" Anisa terus menghindari Fatah yang ingin menci**mnya dengan paksa.
Radit keluar, langsung menarik Anisa dari Fatah dan memberi pukulan telak di perut Fatah.
"Pengecut, beraninya dengan wanita. Ayo lawan aku. Pria tidak tau malu. Masih belum puas kamu menyakiti Anisa?. Kamu sudah menceraikan dia. Tidak ada lagi hak untuk mengurusi hidup Anisa" pukulan Radit mengenai perut Fatah. Pria itu tersungkur di halaman dan meringis menahan sakit.
Anisa gemetar karena syok. Ia tidak menyangka Fatah bisa berbuat senekat ini. Diantara ketakutannya, Anisa meraih lengan kokoh Radit. Ia tidak ingin baku hantam antara Radit dan Fatah terjadi di halaman rumahnya. Radit menahan diri karena Anisa memintanya untuk berhenti.
"Nisa, ayo kita pulang. Bawa Lea, sayang. Aku sangat merindukan kamu" ucap Fatah. pria itu tidak menyerah begitu saja. Sambil memegangi perutnya dan mata yang merah, Fatah bangkit. Aroma Alkohol tercium dari mulut Fatah. Sebagai pria Radit tau persis aroma itu.
.
"Nis, aku akan membawa kalian ke rumah impian kita. Aku janji, kita akan hidup bahagia seperti yang kamu inginkan. Aku, kamu dan putri kita, Lea" Fatah terus mengoceh. Meminta Anisa untuk ikut dengannya. Anisa hanya dapat melelehkan air mata. Sambil bersembunyi di balik punggung Radit. Fatah sudah semakin tidak bisa mengendalikan diri.
Kemudian Radit menghubungi sekuriti yang menjaga rumahnya untuk membawa Fatah pergi dari tempat ini. Dua orang sekuriti datang menjemput Fatah. Meski memberontak, Fatah tetap di gelandang dengan mudah.
Fatah semakin jauh berubah. Dia sudah mulai berteman dengan alkohol. Tindakannya kasar, dan bisa menyakiti Anisa. Dahulu kala, Fatah yang Anisa kenal sangat memperhatikan perasaannya. Dia tidak pernah berbuat kasar apalagi menyakiti Anisa.
"Sudah, Nis. Fatah sudah pergi. Kamu tidak apa apa, kan?" Tanya Radit lembut. Sedang Anisa hanya bisa membisu dan menggelengkan kepalanya.
Radit memandang iba Anisa. Dia terlihat sangat rapuh. Andai saja bisa، ia ingin sekali memberikan pelukan sambil menenangkan. Meminjamkan bahunya untuk bersandar Anisa. Tapi ia hanya bisa duduk di dekatnya dengan jarak. Radit sangat tersiksa "Mengesalkan sekali " gerutu Radit dalam hati.
"Mulai sekarang, Fatah dalam pengawasan sekuriti rumahku. Dia tidak akan diijinkan masuk ke komplek kita. Kamu jangan lagi, kawatir"
"Terima kasih, mas" lirih Anisa, hampir tidak terdengar.
" Tenangkan dirimu, dulu. Jangan langsung masuk ke dalam rumah. Ada ibu dan anak anak di dalam. Aku tidak mau membuat mereka cemas"
" Manusia bisa berubah, ya, mas? Dulu dia orang pertama yang akan melindungi aku, tapi sekarang, dia menjadi ancaman untuk hidupku" ucap Anisa dengan perasaan yang berkecambuk.
"Sudah menjadi jalan mu, Nisa, tidak perlu disesali. Terkadang kita harus merasakan kecewa, oleh orang yang pernah singgah di kehidupan kita. Tentu saja menyakitkan. Kamu harus kuat, bagian tersulit nya adalah bisakah kita tidak membenci dan merelakan semua yang menimpa kita? Hati yang akan menuntun mu, Nis"
Radit menghibur Nisa yang sedang dalam kerapuhan. Meski pikiran Radit terus membuncah, mencari jalan agar bisa melindungi Anisa setiap saat dan waktu. Radit tidak akan bisa membiarkan Anisa dalam bahaya.
" Aku hanya miris dengan nasib ku, mas, juga Lea. Kemarin dia dengan mudah mencampakkan aku dan Lea tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sedangkan Mas Fatah sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Wanita itu, dan juga seluruh kerja kerasnya. Apa dia tidak mengerti? Semua tindakannya kali ini semakin membuat rasa sakit yang perlahan sudah mulai hilang menjadi lebih dalam" ucap Anisa lirih.
"Dia sudah kehilangan akal sehatnya, Nis. Kamu lihat sendiri kan? Dia datang dalam keadaan mabuk. Beruntung bukan Lea atau ibu yang menemuinya" Radit pun tidak habis pikir dengan Fatah.
"Kenapa aku begitu bodoh dulu?" Anisa menatap Radit sendu. Dia sedang menyesali perjumpaannya dengan Fatah.
"Jangan di pikirkan lagi" Radit menepuk nepuk puncak kepala Anisa. Anisa menoleh sekejap pada sosok Radit di depannya. Meski pria itu kadang menyebalkan, tapi di saat yang tepat ia selalu ada memberi Anisa perlindungan.
Sesaat Anisa terpesona dengan kedewasaan Radit. Untuk yang kesekian kali, Anisa mengakuinya, meski hanya di dalam hati.
" Ada apa Nisa ?" Ibu muncul bersama dengan Lea dan Ara. Beruntung kekacauan yang di timbulkan Fatah telah teratasi.
"Ini Bu, Nisa membetulkan pot yang di gantung tapi terjatuh" Radit memberi alasan. Karena Anisa tampak tidak siap untuk berbohong. Wanita itu terlihat gugup begitu melihat kemunculan Bu Ratna.
__ADS_1
"Harusnya kamu hati hati, Nis. Kalau memang sulit, sebaiknya kamu meminta tolong pada orang lain saja. Jangan semua dikerjakan sendiri "
"Iya, Bu. Lain kali Nisa akan minta bantuan orang lain" sahut Nisa pendek
Anisa berdiri, kemudian mengajak Alea dan Ara untuk masuk ke dalam rumah. Ia bertingkah seolah tidak ada hal besar yang terjadi. Anisa membawa dua bocah itu ke dalam kamarnya.
"Kalian belum ngantuk ?" Anisa melirik ke arah jam dinding.
"Mau cerita bunda ?" pinta Ara
"Sini, naik ke atas tempat tidur bunda. Kalian mau cerita apa ?" Anisa berada di tengah tengah Lea dan Ara. Ia menatap antusias dua bocah kecil yang menggemaskan.
"Putri Ariel, bunda. Yang mermaid itu, loh " usul Lea
" Oh Oke, dengerin ya. Suatu hari di sebuah lautan yang luas hiduplah putri duyung yang cantik jelita ...."
Anisa bercerita dengan apik. Dan dua bocah itu mendengarkan dengan seksama. Mereka berbaring di ranjang dengan tenang mengikuti setiap kata yang Anisa ucapkan.
Alea dan Ara beberapa kali sudah menguap. Namun masih ingin terus mendengarkan kelanjutan kisah putri duyung yang belum selesai.
Di ruang tengah, Radit sedang berbicara dengan ibu.
"Bu, saya kawatir dengan Anisa dan
Lea ..." Ucap Radit tampak serius. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu namun masih ragu.
"Ibu tau, nak Radit. Ibu melihat ada Fatah di halaman" Ibu diam sejenak. Sepertinya wanita paruh baya ini sedang bimbang.
"Sepertinya ibu dan Anisa harus pergi dari kota ini. Ibu ingin Anisa dan Lea jauh dari jangkauan Fatah. Kami bisa apa kalau begini? Lebih baik menghindar sebelum hal yang lebih buruk terjadi"
"Tapi, Bu. Bagaimana dengan pekerjaan Anisa dan sekolah Lea?" Radit tampak terkejut dengan ucapan ibu.
" Mulai dari awal lagi. Kalau boleh, ibu minta tolong, nak Radit. Bisakah nak Radit membeli rumah ini? Uangnya akan ibu gunakan untuk pindah ke tempat baru. Dimana Fatah tidak bisa menemukan kami"
"Tetaplah tinggal di sini, Bu. Ara akan sangat kehilangan juga saya" Radit menatap Bu Ratna sebelum melanjutkan ucapannya. "ijin kan saya menjaga keluarga ini, Bu"
"Ibu tidak mau selalu merepotkan Nak Radit"
"Tidak akan merepotkan jika ibu melimpahkan tanggung jawab ibu pada saya. Saya akan berusaha menyayangi dan melindungi Anisa dan Lea" Radit menunduk tidak berani menatap Bu Ratna lagi. Dadanya berdebar kencang.
"Maksud Nak Radit, apa ?" Sebenarnya ibu tau arah pembicaraan Radit sejak tadi. Hanya saja Bu Ratna butuh kejelasan.
"Ijinkan saya menikahi Anisa, Bu. Saya, mencintai Anisa" perasaan Radit makin bergemuruh. Meski antara Bu Ratna dan dirinya sudah begitu dekat. Tapi untuk meminang Anisa dengan begitu cepat. Radit terlalu nekat.
"Apa nak Radit tidak akan menyesal? Anisa hanya wanita biasa, nak. Keadaan kita seperti bumi dan langit. Ibu tau siapa keluarga Wijaya yang sebenarnya. Meskipun ibu dan Arini berteman sejak kecil. Ibu cukup tau diri, nak"
"Bu, apa selama ini keluarga saya membeda bedakan status?"
"Tidak pernah, kalian keluarga yang baik. Ibu..., ibu akan mengijinkan jika kedua orang tuamu sendiri yang meminta. Ibu tidak mau Anisa memasuki keluarga yang tidak menginginkannya. Ibu ingin Anisa di terima sebagai menantu yang diinginkan juga istri yang di cintai"
"Mama dan papa pasti akan dengan senang hati datang kemari untuk meminta Anisa, Bu. tapi...."
" Tapi apa nak Radit ?" Ibu terlihat cemas.
"Anisa masih menolak, saat saya mengungkapkan perasaan. Dia belum bisa menerima saya sebagai pria yang menyukainya"
" Ibu tau, nak Radit. Anisa bukan orang yang mudah jatuh cinta. Apalagi setelah perceraiannya. Tapi ibu akan membuat Anisa menerima nak Radit. Asalkan nak Radit bisa bersabar menghadapi Nisa. Jangan pernah tinggalkan Nisa dalam keadaan apapun. Ibu butuh jaminan itu dari nak Radit "
" Saya akan pastikan itu Bu. Saya menyayangi Anisa dan Lea dengan segenap hati saya"
"Baiklah, ibu menunggu kabar baik dari nak Radit. Jika memang benar, ibu tidak perlu menghilang dari kota ini. Ibu merasa lebih tenang ada nak Radit yang melindungi Alea dan Nisa"
" Ibu bisa mengandalkan saya, Secepatnya mama dan papa pasti akan segera datang meminta Anisa "
Hari semakin larut, Ara bahkan tertidur dalam pelukan Anisa bersama Lea. Sungguh pemandangan yang manis. Radit memutuskan pulang sendirian ke rumahnya. Ia menitipkan Ara di rumah Anisa. Radit kawatir saat memaksa pulang Ara, justru hanya akan membuat putri kecilnya marah. Lagi pula, esok sudah libur sekolah.
Radit pulang dengan perasaan lega. Apa yang menjadi angan angannya sebentar lagi terwujud. Secepatnya Radit akan mengabari mama Arini. Keinginan untuk memiliki menantu sekaligus ibu untuk Ara akan segera terwujud.
Radit yakin, Mama Arini akan memberinya dua jempol karena berhasil membuat Anisa jadi menantunya. Sejak di beri tahu tentang Bu Ratna yang tinggal di sebelah rumahnya, mama Arini sangat antusias. Apalagi begitu tau putri bu Ratna sudah tidak memiliki suami. Mama Arini langsung gencar membuat rencana untuk perjodohan.
__ADS_1
Namun waktu itu, Bu Ratna masih setengah hati. Ia hanya mengijinkan Radit untuk mengenal Anisa lebih dekat. Di terima atau tidak tergantung Anisa yang menjalani kehidupannya. Bu Ratna tidak bisa ikut campur.