Tetanggaku Duren (Duda Keren)

Tetanggaku Duren (Duda Keren)
18. Menghabiskan waktu denganmu


__ADS_3

Di sudut kantin setelah usai mengajar, Anisa memesan satu mangkuk bakso babat. Aroma kas dari bakso membuat perutnya semakin meronta. Anisa menuangkan kecap ke dalam mangkuk hingga kuah terlihat kecoklatan. Ia masih menambahkan lagi saus tomat ke dalam mangkuk bakso untuk melengkapi rasa kuah bakso kesukaannya. Kepala Anisa masih celingukan mencari mangkuk plastik yang berisi sambal.


Ia mengaduk bakso dengan perlahan. Beberapa murid yang lewat menyapa Anisa. Perhatiannya teralih saat notifikasi di ponselnya berbunyi. Ada pesan dari Nania.


"Traktir aku mie ayam, ingat! mintain sayurnya yang banyak. Lima menit lagi, aku ke kantin "


"Siap, nyonya " Anisa membalas pesan dari Nania.


Anisa memanggil ibu kantin dan memesan mie ayam kesukaan Nania. Kemudian ia duduk kembali dan mengaduk aduk bakso yang ada di depannya.


Anisa menyuapkan potongan bakso ke dalam mulutnya. Menikmati rasa daging sapi berpadu dengan kuah hangat yang gurih. Perfecto...


Dalam lima menit, Nania sudah berada di depan Anisa. Kebetulan sekali, mie pesanan Nania sudah datang. Dia langsung mengambil posisi enak dengan mengaduk mie dan saus agar merata. Keduanya larut dengan makanan favorit masing masing.


"Rasa bakso di Kantin ini memang top, Nania. Mantap, pake banget" Seru Anisa di sela sela kunyahannya.


" Apalagi mie ayamnya, ummmhhh endulita. rasa gretong" Nania tersenyum lebar. Memamerkan gigi giginya yang bersih. Kemudian kembali menyuapkan mie ayam ke dalam mulutnya.


Nania dan Anisa menghabiskan makanannya, kemudian minum es jeruk yang sudah terhidang di meja. Anisa masih diam, ia harus menjelaskan hubungannya dengan Radit pada Nania. Entah harus mulai dari mana. Anisa sendiri bingung. Semuanya serba tiba tiba.


"Pekan depan aku akan menikah dengan pak tetangga" Ucap Anisa. Akhirnya kalimat itu yang meluncur dari mulut Anisa.


Nania langsung tersedak mendengar ucapan sahabatnya. Tenggorokan Nania terasa perih. Ia meraih air putih untuk meredakan tenggorokan. Nania masih meragukan pendengarannya sendiri.


Melihat reaksi Nania. Anisa merasa tidak enak hati. Dalam hatinya pun meragu. Apakah keputusannya tepat. Menikahi Radit secepat ini.


"Kamu bercanda kan, Nis?"


"Aku serius Nania, liat cincin ini ! Kami bertunangan kemarin dan pekan depan Kami menikah "


" Kamu ...?" Nania tersenyum jahil. Menatap Anisa dengan ragu. Anisa sangat mengerti arti tatapan sahabatnya itu. Nania pasti berpikiran yang tidak tidak.


" Ibu yang terus mendesakku " Anisa menepis pikiran buruk sahabatnya.


"Tapi kamu suka juga kan ? gak ada yang menolak, Nisa. Dia itu, selain tampan rupawan tapi juga mapan. Coba kamu lihat mobil mewahnya"


"Entahlah, aku tidak tau dia kerjanya apa dan dimana"


" Serius kamu, Nisa? "


" Hmm...Ibu dan mama Arini, mereka berteman sejak masih muda "


"Mungkin ibu yang lebih tau siapa keluarga mereka. Ah...terserahlah yang penting dia orang yang bisa ku percaya. Mama ,papanya juga sangat baik, mereka bisa menerima aku juga Alea"


"Selamat ya, Nis. Semoga kali ini pernikahanmu bahagia hingga Jannah"


"Sejujurnya aku sendiri belum siap. Tapi ibu mendesakku terus"


"Nis, aku rasa tidak akan sulit menerima pak tetangga. Dia terlihat gentle dan kamu rasakan, cara dia menatapmu .....oh so sweet, Nisa "


"Apaan sih, Na?" Anisa mencebik tidak suka, Naina terlalu heboh. Beberapa orang yang kebetulan berada di kantin spontan memperhatikan mereka.


Anisa hanya tersenyum, malu. Nania memang seheboh itu. Beberapa rekan guru hanya mengangguk memaklumi. Meski dewasa, terkadang orang seumuran mereka pun memiliki sisi kekanakan yang bisa muncul kapan saja.


"Nis, sudah bukan saatnya kamu ragu. Cincin sudah terpasang, hari pernikahan sudah di tentukan. Konyol kalau kamu masih ragu. Berdoa saja, Nisa. Kali ini pernikahanmu yang terakhir.


"Makasih, Na. Aku harus tetap maju, semuanya sudah di siapkan. Mungkin ini yang terbaik bagiku. Semoga saja. Dia benar benar belahan jiwaku yang sesungguhnya"


"Amiiin"


Jam istirahat sudah selesai, kebetulan hari ini, Anisa sudah tidak memiliki jam untuk mengajar. .Anisa bisa pulang lebih awal, tapi ia memilih ke ruangan kepala sekolah. Mau tidak mau, ia harus mengajukan cuti untuk hari pernikahannya. Meski itu hanya beberapa hari di pekan yang akan datang.


Ada perasaan sungkan, ia belum terlalu lama sendiri. Tapi sudah akan menikah lagi.


Anisa menghadap kepala sekolah di ruangannya. Pria berwibawa itu meminta Anisa untuk duduk. Sepertinya pak kepala sedang mengerjakan sesuatu di layar komputernya.


"Ada apa Bu Nisa, Sepertinya sangat penting?"


"Saya mau mengajukan cuti untuk pekan depan"

__ADS_1


"Cuti...?"


"Iya, pak. Saya akan menikah lagi"


Sejenak pak kepala sekolah terdiam. Pria lima puluh tahun itu menatap Anisa.


"Maaf sebelumnya, Bu Nisa. Ini serius? Soalnya saya dapat amanah dari pak kepala Dinas. Tapi saya belum sempat menyampaikannya pada Bu Nisa"


"Maksud bapak?" Anisa tampak bingung. Apa hubungannya kepala dinas dengan pernikahannya.


"Bu Nisa tau kan, pak kepala dinas itu sepupu saya? Dia ada maksud untuk menjalin hubungan serius dengan Bu Nisa. Dia sudah setahun ini ditinggal istrinya" pak kepala sekolah menjeda penuturannya sambil memperhatikan reaksi Anisa yang justru kebingungan.


"Beliau mengajak saya untuk menemui Bu Nisa nanti malam. Ingin bersilaturahmi dan Bu Nisa tau kan, maksud saya?"


"Maaf, pak saya sudah bertunangan dengan calon suami saya" ucap Anisa terbata bata. Ia menjadi gugup, semakin tidak nyaman.


"Siapa calon suami Bu Nisa? Apa tidak sebaiknya Bu Nisa mempertimbangkan lagi? Pak kepala dinas serius loh, Bu. Beliau baik dan mapan karirnya. Meski usianya sama dengan saya. Beliau pasti kecewa jika Bu Anisa menolaknya. Dia sudah beberapa kali melihat Bu Nisa di sekolah ini. Dari sekian wanita, dia hanya berminat pada Bu Nisa. Bahkan secara khusus minta saya untuk menemani beliau untuk bersilaturahmi ke rumah ibu''


"Maaf, pak" Anisa semakin tidak nyaman. Mana mungkin ia membatalkan pernikahannya dengan Radit. Dengan kepala dinas, Anisa tidak begitu mengenal. hanya beberapa kali dia bertemu saat mengurus surat surat. Lagi pula usia pria itu jauh di atasnya.


Pak kepala sekolah sepertinya sudah tidak dapat mempengaruhi Anisa. Anisa sudah memiliki keputusan yang bulat.


"Baiklah, Bu Nisa. Saya akan setujui cuti ibu untuk satu pekan. Setelah itu, mohon lebih fokus lagi dalam mengajar" pak kepala sekolah pun akhirnya menyerah.


Dengan gontai, Anisa keluar dari ruangan kepala sekolah. Keputusannya kali ini semoga tidak berpengaruh terhadap karirnya. Anisa berharap, Kepala dinas bisa bersikap profesional.


Radit sudah menunggu di depan gerbang seperti kemarin. Hanya saja, Radit tidak keluar dari dalam mobilnya. Ia hanya membuka pintu sambil menunggu Anisa mendekat.


"Siang, mas" Anisa mengambil tempat duduk di samping Radit tanpa banyak drama. Tanpa diperintah pun ia memasang sabuk pengaman. Radit hanya mengulas senyum mendengar sapaan basa basi Anisa.


"Kita langsung jalan, ya?" Radit langsung menyalakan mobilnya.


"Mas...."


"Hmmm"


'Mas Disa tidak sibuk? harus antar jemput aku, bukannya mas juga harus kerja?"


"Tidak usah aneh aneh, mas" Anisa tampak salah tingkah dan Radit terkekeh. Sebenarnya Radit ingin terus menggoda Anisa. Tapi dia berpikir ulang. Lebih baik ia berbaik baik dengan calon istrinya.


"Aku ingin menghabiskan waktuku denganmu, Nis. Walau hanya sekedar makan siang bersama atau menjemput kamu, sebelum kita benar benar menikah" ujar Radit sambil menjalankan mobilnya dengan tenang


Anisa berpikir tentang acara pernikahan mereka. Radit dan dia belum sempat membicarakan. Akan seperti apa acara tersebut. Anisa ingin akad nikah yang sakral tapi sederhana. Pernikahan ini adalah pernikahan kedua mereka. Tidak ingin berlebihan. Itu yang ada dalam pikiran Anisa


" Mas acara pernikahan kita mau diadakan di rumahku atau rumah mas Disa? Kita hanya akad saja kan?"


" Papa sudah menyiapkan tempat untuk acara pernikahan kita, Bukan resepsi besar. Aku mengundang beberapa kenalan ku agar mereka tau aku sudah menikah denganmu"


"Tadi aku juga sudah ijin dan mengajukan cuti untuk acara pernikahan kita "


"Sebaiknya kamu undang teman temanmu, Nisa. Mereka harus tahu kalau aku dan kamu sudah menikah. Acaranya akan dilakukan pagi hari. Besok aku akan berikan undangan kusus untuk temanmu"


"Teman kantorku banyak mas aku hanya akan mengundang kepala sekolah dan teman dekatku"


"Kamu undang saja semua, Nis. Tidak enak kalau harus memilih milih. Nanti kamu dibilang sombong. Kita akan berbagi kebahagiaan. Kamu tenang saja, semua urusan sudah beres di atur oleh mama dan ibu. Baju pengantin kita juga sudah siap. Kamu hanya tinggal memakainya saja"


" Memang muat kalau teman temanku di undang semua? Jumlah mereka mungkin ada seratus orang"


"Muat, Nis kalau cuma seratus dari pihak kamu. Mama dan ibu sudah memperkirakan semua, kok"


" Ya sudah, terserah mas. Aku ikut baiknya saja. Tapi aku tidak menyangka ibu dan mama bekerja sama tanpa aku tau"


"Setelah acara pertunangan kita, mama mengajak Bu Ratna untuk pergi menyiapkan semua yang di perlukan"


" Ibu mulai berahasia denganku"


"Berpura pura lah tidak tau, Nis. biarkan ibu dan mama bahagia. Mereka sangat antusias memilih menu dan segala pernak pernik pernikahan kita"


"Iya, aku paham"

__ADS_1


Mereka sampai di depan gerbang rumah Radit. Mobil pun masuk ke dalam pekarangan rumah Radit. Anisa sepertinya ingin protes, kenapa Radit membawanya ke dalam rumah. Ia sudah ingin pulang ke rumah sendiri dan menikmati waktu senggangnya.


" Nis, masuk! mama dan bu Ratna sudah menunggu kita di dalam "


" Ibu juga sedang ada di rumah, mas Disa ?"


"Iya, mereka sedang berkumpul, Aku juga ingin kamu terbiasa dengan rumah ini. Ayo masuk"


Anisa mengekor di belakang Radit. Ia mulai mengamati rumah Radit yang sangat indah dan tertata rapih . Anisa berpapasan dengan beberapa orang asisten yang di pekerjakan oleh Radit. Mereka memberi salam pada Anisa. Rumah Radit begitu luas, Anisa baru menyadari itu.


Untuk pertama kalinya Anisa benar benar masuk ke dalam rumah Radit. Biasanya ia hanya masuk lewat samping rumah dan taman belakang, yang terjauh hanya sampai kamar Ara, ketika ia memandikan Lea dan Ara setelah berenang beberapa hari waktu yang lalu.


Anisa memasuki ruang tamu yang cukup luas. Di sudut ruangan ada guci besar berisi bunga hias kering. Satu set sofa berwarna coklat tua, Ruangan ini terlihat begitu formal. di dinding ruang tamu hanya ada lukisan alam yang indah.


Keduanya masuk menuju ruang keluarga yang lebih besar, mungkin tiga kali lipat dari ruang tamu. Di sana sudah ada Lea, ibu, Ara dan mama. Mereka sedang bercengkrama begitu akrab.


Begitu Anisa dan Radit muncul dua bocah kecil Langsung berhamburan memeluk Anisa, mereka berebutan. Anisa reflek membentangkan kedua tangannya dan memeluk dua bocah kecil tadi.


" Bunda, ayo bunda, Ara mau nunjukin baju baru Ara dan Alea yang tadi di belikan Oma"


" Papi gak ada yang meluk nih ?" Radit terlihat iri, saat dua bocah itu hanya memberi atensi pada Anisa saja.


Dua gadis kecil itu pun tersadar, ada sosok yang belum mereka sapa. Kemudian keduanya pun memberi hadiah kecupan di pipi Radit sambil memeluk tubuh kokoh di samping Anisa.


"Sudah pulang Nis?" Sapa mama Arini pada calon menantunya.


Anisa menghampiri ibu dan mama Arini kemudian mencium punggung tangan keduanya.


"Duduk di sini, Nis" mama Arini dan Bu Ratna serta Anisa kemudian membicarakan tentang acara pernikahan. Acara yang menurut mama Arini sederhana.


Lea dan Ara menarik tangan Radit karena Anisa terlanjur dikuasai sang Oma dan nenek. Terpaksa Radit mengikuti keinginan mereka. Radit sudah berada di kamar Ara. Dua bocah kecil itu ingin menunjukan baju baru mereka yang begitu indah.


"Lihat, pi. cantik sekali kan, baju Ara dan Lea?" Radit hanya mengangguk menyenangkan ke dua anaknya.


"Bajunya cantik, kalian pilih sendiri ? "


"Oma yang pilihin "


" Ya sudah, di simpan dulu"


Radit menyimpan kembali baju mereka di dalam lemari.


"Kalian main dulu, papi mau bicara sama bunda" perintah Radit pada ke dua putrinya. Radit tidak melupakan tujuannya membawa Anisa ke rumah ini.


Radit memanggil Anisa agar mengikutinya ke lantai atas. Mendengar panggilan Radit, Anisa pun meminta ijin pada Mama Arini dan juga Bu Ratna. Sekarang mereka sudah berada di lantai atas. Di lantai atas ini terdapat mini bar dan dapur bersih. Ada beberapa kamar, ruang santai, ruangan kerja Radit dan tempat olahraga pribadi milik Radit


Di area lantai dua pun, Anisa tidak melihat ada foto Radit bersama mendiang istrinya. Mungkin Radit sudah melepasnya dan di ganti dengan dua buah lukisan abstrak yang sangat indah.


Radit mengajak Anisa ke balkon depan. Keduanya berdiri di sana. Terdapat rak bunga yang berisi jajaran pohon kaktus.


"Cantik sekali mas, kaktus kaktus ini. Mas Disa masih sempat merawatnya"


"Kaktus bukan tanaman yang manja. Mereka tidak perlu mendapat perawatan yang khusus, Nisa. Kaktus tanaman yang tangguh dan tidak merepotkan, selain itu bentuk mereka sangat cantik"


" Betul mas" Anisa masih takjub dan mengamati satu persatu jenis kaktus yang ada. Dia sibuk dengan kekagumannya.


"Lihat, Nis. Dari sini, aku juga bisa selalu memantau aktifitas mu" Radit menunjuk arah samping, tepat ke rumah Anisa "Dari sini, aku bisa melihat bidadari yang sedang menyapu atau menjemur baju, setiap pagi" kembali Radit terkekeh .


Anisa terkejut, teryata dari balkon ini, Anisa bisa melihat dengan jelas situasi ke arah rumahnya.


" Mas sering lihat aku lagi jemur baju ?"


Masih sambil tertawa lucu, Radit menganggukkan kepalanya .


"Kamu tau ? kamu terlihat sangat lucu ketika menjemur baju"


Wajah Anisa memerah. Setiap menjemur baju, dia selalu bernyanyi nyanyi. Anisa pikir tidak akan ada orang yang melihat tingkah konyolnya .


"Jangan malu, Anisa. Justru pemandangan itu, membuatku selalu ingin bangun pagi "

__ADS_1


"Mas Disa ....." Anisa menutup muka dengan kedua tangannya. Malu yang luar biasa andaikan bisa saat itu ia ingin menghilang dari hadapan Radit ......malu malu


__ADS_2