Tetanggaku Duren (Duda Keren)

Tetanggaku Duren (Duda Keren)
16. Persiapan lamaran


__ADS_3

Radit duduk di bangku mobilnya dengan arah Pandangan matanya masih mengawasi area SMA Garuda. Sosok yang dia tunggu belum juga keluar dari gerbang. Radit yang mulai merasa bosan duduk di dalam mobil, kemudian keluar dan duduk di atas kap mobilnya dengan santai.


Memakai kemeja biru muda dan celana bahan warna dongker. Beberapa kancing bagian atas ia buka sedikit. Sedang lengan panjangnya ia gulung sebatas siku. Penampilan Radit makin memukau dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


Yah, Radit sangat tampan dengan gaya seperti itu. Usia matang menjelang empat puluhan. Dengan tubuh yang terjaga. Kulit sawo matang. Siapapun yang melihat akan langsung meleleh.


Anisa, ibu dengan satu putri sudah mendengkus kesal ketika melihat Radit yang sudah berada di depan gerbang sekolahnya. Bukan karena apa, kehadiran Radit begitu mencolok dan menjadi pusat perhatian orang orang di sekitarnya. Anisa tidak senang ada gosip yang beredar terutama tentang dirinya. Dia akan lelah meladeni pertanyaan pertanyaan tentang siapa pria yang datang ke sekolah Garuda.


Pesona Radit bahkan membuat siswi SMA Garuda berteriak histeris. Tidak ragu, mereka dengan begitu berani menggoda pria tampan yang sedang duduk di kap mobil mewahnya.


"Om, nunggu kita ya, om?" goda para gadis yang terpesona dengan ketampanan Radit. Sedangkan Radit hanya tersenyum tipis. Membiarkan para gadis menatapnya dengan puas.


Sosok Anisa sudah muncul di depan gerbang. Radit mengembangkan senyumnya, melihat wanita yang ia tunggu sedang berdiri dengan wajah yang di tekuk.


" Masuk !" Tanpa basa basi Radit membuka mobilnya dan meminta Anisa segera masuk dalam mobil. Radit pun sebenarnya sudah merasa risih jadi pusat perhatian di depan gerbang sekolah.


Tanpa banyak perlawanan, Anisa pun langsung mengikuti perintah Radit. Bukan karena ia sudah menyerah. Anisa hanya ingin mempercepat situasi yang tidak nyaman di depan gerbang. Celoteh para siswi yang memuji muji Radit, membuat telinganya panas.


Radit menyalakan mesin mobilnya kemudian mulai menginjak gas. Sesekali Radit melihat Anisa yang masih dengan raut wajah kusutnya.


"Harusnya kamu senang, Nisa. Calon suamimu datang menjemput"


"Apaan sih mas, calon suami, calon suami terus. Mas Disa tidak sedang demam, kan?"


Sekilas Radit menatap Anisa. Dalam hati ia mengeluh, sampai hari ini Anisa masih belum bisa ditaklukan. Dia masih tidak mau mengakui keberadaan Radit. Radit hanya mendengus sebal.


"Sebentar lagi Nis"


Anisa hanya menoleh kearah Radit yang masih saja bisa tersenyum manis. Meskipun ia bersikap tidak terlalu ramah. Bahkan mungkin menyebalkan.


"Ini bukan jalan ke rumah kita, mas"


"Apa kamu bilang ?" Radit menampakkan wajah usilnya.


"Ini bukan arah rumah kita" ulang Anisa lagi.


"Rumah kita? Amiiin"


"Apa sih mas? tidak usah bercanda, deh"


"Sudah, ikut saja. Tidak usah protes. Ibu yang meminta aku ajak kamu ke sini"


"Serius, mas?"


"Kalau tidak percaya, tanya saja sekarang"


"Tidak usah"


Mobil mereka berhenti di depan sebuah butik yang mewah.


"Buat apa kita kesini?"


"Nemenin aku sebentar, Nis "


"Jangan pake lama, sebentar lagi aku ada jadwal les anak anak"


"Iya, tidak lama. Asal kamu nurut dan tidak banyak protes. Hanya tiga puluh menit selesai kok"


Radit melangkah diikuti oleh Anisa. Sengaja Anisa mencari posisi berjalan di belakang tubuh Radit. Radit merasa sedang berjalan dengan staf kantor ketimbang calon istri. Mereka terlihat kaku dan asing. Tapi Radit tidak mempermasalahkannya, yang penting urusan hari ini, harus segera selesai.


Seorang wanita paruh baya dengan paras ayu dan anggun sudah menjemput mereka. Radit terlihat begitu akrab dengannya. Mereka ngobrol sebentar kemudian Wanita pemilik butik itu menyapa Anisa.


"Mas Radit, ini calonnya?"


"Iya, Tante. Doakan, ya. Saya bisa bawa dia ke pelaminan" Radit menunjuk Anisa yang masih berdiri di belakangnya.


"Tidak ada yang nolak kalau diajak nikah sama mas Radit. Sudah tajir, ganteng, baik dan Sholeh" Tante Aya terus memuji Radit tanpa jeda.


Anisa tidak perduli, ia mengetuk ngetukan ujung sepatunya di lantai, matanya asik mengamati gaun gaun yang terpajang rapih di etalase.


"Saya ukur dulu ya, mas Radit " Tante Aya mulai beraksi dengan meteran di tangannya. Seorang pegawai butik mencatat ukuran yang di sebutkan oleh Tante Aya.


"Sini Cantik, Tante ukur dulu" ujar Tante Aya pada Anisa setelah selesai dengan Radit.


"Saya, Tan?" Anisa terlihat bingung. Ia melirik Radit yang sedang menatapnya.


"Iya"


"Kok saya ikutan di ukur?" Anisa tampak protes pada Radit.


" Mau cepat pulang ke rumah kita, tidak?" Radit terkekeh .Ada penekanan pada kata rumah kita. "kuti arahan Tante Aya" sambung Radit lagi.

__ADS_1


Meski enggan, akhirnya Anisa pun mengikuti Tante Aya untuk diambil ukuran tubuhnya.


"Cantik, jangan jutek sama calon suami, Radit itu seribu satu loh. Dia baik, setia juga sholeh. Yang ngantri dia banyak. Apa tidak sayang ?" Nasehat Tante Aya pada Anisa.


"Tante bisa saja, Kita itu cuma tetanggaan, Tan. Dia bukan calon suami "


" Hadeh, Cantik..., Betul kata nak Radit. Kamu itu juga sama, cuma seribu satu yang modelnya kaya gini" Tante Aya terlihat gemas pada Anisa


"Saya biasa saja, Tante. Tapi kalau dia memang seribu satu. Murah kan, Tan? Dua ribu dapat dua" Anisa seperti mendapat ide lelucon untuk Radit. Sedang Radit sudah mulai kesal dengan kekonyolan Anisa.


" Iya ...iya, Semoga besok langgeng, ya. Tante doakan" Melihat Ekspresi wajah Radit, Tante Aya menyudahi obrolannya dengan Anisa.


Tante Aya adalah pemilik butik sekaligus perancang kebaya terkenal. Keluarga Wijaya mempercayakan kebutuhan fashionnya di butik ini dari dulu.


"Tante, baju pesanan saya sudah siap?" Tanya Radit


"Sudah Tante siapkan, tenang saja " Tante Aya memberikan dua paper bag pada Radit.


"Tante memang, the best" ujar Radit sambil memberikan kartu pada Kasir butik


" Sekalian kita pamit ya, tante "


"ya, hati hati, salam buat mama Arin"


"Mari tante" ucap Anisa sambil berdiri kemudian mengikuti langkah Radit yang keluar dari butik


Radit membukakan pintu mobil untuk Anisa. Setelah Anisa masuk, ia memutari mobil dan segera ikut masuk.


"Kita langsung pulang atau mau makan dulu?"


"Pulang, mas. Aku ada jadwal les dengan anak anak sebentar lagi''


"Ya sudah, makan di rumahmu saja. Aku juga sudah kangen masakan ibu"


"Baru kemarin, mas makan di rumahku. masa udah kangen lagi sama masakan ibu?"


"Soalnya kangen juga sama yang punya rumah" Radit terkekeh


Anisa langsung memasang wajah kesal. Makin kesini, Radit semakin terbiasa mengucapkan kata kata gombal. Membuat Anisa jadi merinding. Mungkin Radit salah satu playboy cap kodok.


"Kenapa muka kamu kaya gitu ? Tidak suka aku gombalin ?"


Sampai depan rumah Anisa, mobil Radit berhenti. Radit sudah memutar akan membukakan pintu mobil tapi Anisa sudah lebih dulu keluar.


"Nisa, ini bawa masuk " Radit mengulurkan satu paper bag pada Anisa


"Ini untuk aku mas?"


"Iya, hadiah buat kamu karena sudah berbaik hati mengantar aku ke butik"


"Gak usah pake acara hadiah, mas. Aku gak mau. Tadi juga aku terpaksa"


"Sudah di beli, nis. Masa aku yang harus pakai, sih? Lagian itu baju wanita''


Anisa tertawa geli, membayangkan Radit memakai baju wanita.


" Kamu mentertawakan, aku ?"


" Gak mas " Anisa menggeleng sambil masih menahan tawanya


" Aku pulang ke kantor dulu, ya "


" Mas Disa ...,katanya mau makan? kok pergi, lagi sibuk?"


" Beneran nih, boleh ?"


"Boleh, asal mau dengan lauk seadanya"


"Tapi dengan sarat"


" Apa ?"


"Makan nya ditemani kamu, ya. Aku tidak bisa kalau makan sendiri''


"Kaya anak kecil saja" Anisa membuka pintu rumahnya di ikuti oleh Radit.


Alea sudah menyambut kedatangan Anisa dan Radit


"Bunda, papi " Alea meminta Salim dengan senyum sumringah


''Lea lagi apa ?" Ucap Anisa dan Radit bersamaan .

__ADS_1


" Lagi bikin gambar, bunda, lihat !" Alea menunjukan gambarnya. Alea mewarisi bakat menggambar dari Fatah yang seorang arsitek. Radit dan Anisa pun memuji gambar buatan Alea yang memang bagus.


"Bunda ke dalam dulu, ya. mau menyiapkan makan siang untuk om Radit"


"Papi, bunda ! Bukan, om" ucap Alea menegaskan


" Ya, terserah Lea" Ucap Anisa pergi begitu saja. Dia enggan melihat Radit yang semakin jumawa karena telah berhasil menghasut Alea untuk memanggil papi.


Radit dan Alea meneruskan acara menggambar di ruang tamu sedang Anisa menuju ruang makan menyiapkan makan siang untuk Radit.


"Mas sudah siap, makan siang dulu "


"Iya" Radit meninggalkan lea


Anisa menepati janjinya menemani Radit makan siang


"Nisa, aku minta pak Rahmat penjaga rumahku untuk berjaga di rumah ini. Kamu jangan mengusirnya. Aku tidak mau lengah sampai Fatah bisa ke rumah ini lagi dan mengusik kalian"


"Tidak perlu repot begitu, mas" ucap Anisa tidak enak hati.


Ibu menghampiri Radit sambil membawa cobek. Ia meletakan sambal tempe yang baru saja selesai ia buat.


"Coba icipi, ini. Dulu nak Radit suka, kalau ibu buat sambal tempe" Radit langsung terkekeh. Memorinya kembali ke beberapa tahun lalu. Menu yang sering ia minta pada Bu Ratna saat tinggal bersama.


"Terima kasih, Bu. Pasti enak kaya dulu"


"Iya, nak Radit. Maaf ya, ibu jadi merepotkan nak Radit. Dan pak Rahmat juga harus mendapat pekerjaan ektra"


"Tidak Bu, sekalian jaga rumah saya. Tidak ada yang direpotkan sama sekali" Ucap Radit sambil menyendok lagi sambal tempe sampai tidak bersisa.


Setelah selesai makan, Radit pamit untuk kembali ke kantor. Masih ada beberapa urusan kantor yang belum selesai.


Ibu duduk di depan Anisa, memandang lekat pada putri semata wayangnya. Ibu belum sempat menyampaikan permintaan Radit pada Anisa.


"Ibu ingin membicarakan sesuatu, Nis.


Besok malam, orang tua nak Radit akan datang kerumah ini ''


" Ada apa Bu?''


"Mereka akan meminta kamu untuk menjadi istri nak Radit"


" Bu .....Nisa belum siap untuk...."


"Kali ini ibu yang meminta, terimalah niat baik mereka Nisa"


"Bu ..."


" Tidak ada alasan kamu menolak nak Radit. Dia pria yang baik, tidak ada kekurangan pada dirinya "


" Tapi Bu .."


" Kalau memang iya kamu tidak mencintai Radit. Belajarlah menerimanya. Asal kamu berusaha, tidak akan sulit mencintai nak Radit. Dia pria penyayang. Dan satu lagi, keputusan ibu bulat dan tidak bisa ditawar lagi. Kalau kamu masih ingin melihat ibu ada di rumah ini. Kabulkan permintaan ibu !"


Anisa menunduk tidak bisa membantah. Baru kali ini ibu sangat tegas kepadanya. Selama ini, ibu selalu mendukung apa pun keinginannya.


Ibu meninggalkan Anisa yang masih merenung. "Maafkan ibu, Nisa, Semua ibu lakukan untuk melindungi kamu. Ibu mempercayai nak Radit. Dialah orang yang tepat untuk mendampingi dan menjaga kamu. Ibu mengenal betul keluarga mereka sangat baik. Mereka akan menerima kamu juga Lea" itu yang ada dalam benak ibu.


***


Arini dan Wijaya sedang bersiap untuk pergi ke tempat Bu Ratna . Akhirnya putra sulung mereka mau menikah lagi. Radit sudah berkali kali mereka jodohkan dengan beberapa wanita tapi semuanya Radit tolak. Dan kali ini, Radit sendiri yang meminta.


" Ma, papa sudah rapi belum ?" Ucap Wijaya pada istrinya.


" Sudah pa, sudah tampan maksimal " celoteh mama sambil tertawa.


"Akhirnya anak papa yang satu ini bakal punya istri lagi. Papa bersukur, Radit memilih Nisa. Dia bukan orang lain untuk kita, iya kan, ma? Arif dan Ratna, mereka orang orang yang baik dan bersahaja. Radit akan sempurna di dampingi oleh putri mereka"


"Betul, pa. Akhirnya Radit berhasil menaklukkan Anisa juga"


"Keturunan siapa dulu, ma. Wijaya...pantang menyerah kalau sudah jatuh cinta. Mama yang keras kepala saja bisa papa taklukan"


"Beda, pa. Papa bukan menaklukan mama. Tapi maksa..." Arini protes


"Ma, Radit sepertinya sudah tidak sabar. Dia sudah menelpon papa berkali kali "


Pak Wijaya memperlihatkan ponselnya. Ada puluhan panggilan tak terjawab dari Radit. Bu Arini sampai tertawa lepas dengan kelakuan Radit putranya.


Mobil pun bergerak menuju kediaman Anisa. Sampai depan gerbang rumah Radit Mobil itu berhenti dan memberi kabar jika sudah sampai. Radit sudah terlihat tampan dengan balutan baju formal. Begitu juga dengan Ara. Gadis kecil itu pun tampil menawan.


Mereka turun dan berjalan ke rumah Anisa yang terletak di sebelah rumah Radit. Wajah Radit tegang. Ia berdoa, semoga Bu Ratna berhasil meyakinkan Anisa. Dadanya bergemuruh. Meski ini bukan yang pertama untuk Radit, tapi ini lebih menegangkan dari pada loncat bebas dari ketinggian gunung.

__ADS_1


__ADS_2