Tetanggaku Duren (Duda Keren)

Tetanggaku Duren (Duda Keren)
23 . Trick and trap


__ADS_3

Menjelang sore hari, Radit dan Anisa sudah kembali ke dalam hotel. Radit seharian ini memanjakan sang istri. Kemanapun keinginan wanita itu, ia selalu menuruti tanpa banyak pertanyaan. Saat senyum indah milik Anisa terbias dari wajah cantiknya, Radit seperti menemukan kembali harta karunnya yang sempat hilang.


Angan Radit kembali melayang pada belasan tahun yang lalu. Perasaan yang pernah tercipta, kembali terulang saat mengikuti gadis kecil yang selalu merengek meminta diantar ke tempat tempat yang diinginkan.


Sampai di kamar, rasa lelah begitu terasa. Menyisiri pinggir pantai tanpa alas kaki. Membuat jejak langkah di atas lembutnya butiran pasir pantai dan kembali hilang tersapu ombak. Begitu menyenangkan, semua karena bersama dengan orang yang begitu istimewa.


Radit duduk di sofa dan membiarkan Anisa membereskan bawaannya. Seperti Anak kecil yang baru saja pulang dari tempat bermain.


"Mas, mau mandi?" tanya Anisa pada suaminya yang sedang duduk sambil memejamkan mata.


"Aku lelah sekali" Radit membuka matanya, melihat sang istri sudah berada di sisinya. Senyum jahil Radit pun terbit. "Kalau mandi bareng kamu, aku ikut"


"Ishh ....aku tanya serius'' Anisa mendengkus kesal


"Ayo, aku juga serius" Radit berdiri dan menyeret tangan Anisa menuju ke kamar mandi. Radit hanya ingin menggoda Anisa.


Anisa langsung mengibaskan tangan Radit, sambil cemberut. Radit langsung mengerutkan dahinya. Tanda siaga satu, bahaya mulai mengancam, kemudian Radit tertawa sambil melepaskan cekalan tangannya dari Anisa.


"Mas, cuma bercanda, Nis" Radit kembali duduk


Jangan sampai Anisa marah, seharian ini Radit sudah merayu sang istri agar moodnya bagus. Radit ingin memulai malam indah tanpa paksaan lagi. Tidak lagi ingin lepas kendali seperti kejadian malam pertama mereka. Memulai semuanya dengan rasa rela tentu akan lebih indah.


Anisa menyiapkan baju santai untuk Radit yang sudah selesai mandi. Ia juga membereskan pakaiannya yang akan dia pakai. Lagi lagi Anisa lupa, ia hanya punya satu baju panjang, itu pun sudah kotor. Terpaksa ia harus memakai kembali mini dress yang ada di kopernya.


Radit yang baru selesai mandi hanya bisa tersenyum melihat tingkah Anisa yang kebingungan. Anisa membolak balikkan mini dress yang ada di tangannya. Radit pura pura acuh. Ia segera memakai bajunya sendiri.


" Mas, udah selesai ?" Anisa menoleh pada Radit. Aroma sabun mandi menguar terasa sangat segar. Kenapa pria saat selesai mandi masih mengeluarkan aroma segar. Anisa menahan senyumnya.


"Sudah, cepat mandi sana! sudah mau magrib. Mas sudah siapkan air hangat di bathtube"


"Iya mas, terima kasih" jawab Anisa sambil berlalu ke kamar mandi.


**


Selesai makan malam, Radit mengajak Anisa duduk di teras balkon kamar mereka. Menikmati pemandangan malam yang tampak sangat indah saat ini. Semesta seperti berpihak pada mereka, malam ini cuaca begitu cerah. Langit tampak benderang dengan cahaya bulan keperakkan.


Hembusan angin membelai keduanya. Suhu udara pun tidak terlalu dingin. Menjadi momen yang begitu tepat untuk dinikmati oleh sepasang pengantin baru. Anisa berdiri kemudian pandangannya beralih ke bawah bangunan. Tampak bias sinar lampu yang menerangi kota kecil ini. Indah, Anisa berdecak kagum. Tangan kokoh Radit merengkuh pinggang Anisa. Helaian rambut Anisa ia sibak dan di letakan di bahu sebelah kiri.


Radit merasakan tubuh Anisa mulai bergerak meronta. Sentuhan intim seperti ini masih membuat sang istri belum terlalu nyaman. Radit mendesah kecewa, meski ia tetap mempertahankan posisi tangannya di pinggang Anisa.


"Mas, kapan kita pulang?"


"Aku mau disini terus''


"Kamu gak kangen anak anak?"


"Kangen, tapi masih betah disini "


" Pulang besok, ya mas, please .... " Anisa merajuk.


"Tergantung, kalo kamu bisa buat mas, seneng. Kita pulang besok"


"Gak baik loh, mas. Kita menitipkan anak anak terlalu lama. Mereka itu tanggung jawab kita" Anisa mencoba membujuk.


"Kamu emang paling bisa, membuat mas, merasa bersalah" Radit melepaskan pelukkannya. "Baiklah, besok kita pulang. Kita istirahat di dalam" Radit menggandeng Anisa masuk ke dalam kamar.


Radit menutup pintu dan juga tirai. Ia


langsung berbaring di ranjang sambil menunggu Anisa yang sedang membersihkan wajah.


"Kalau sudah ngantuk, mas tidur saja dulu" Anisa mencoba mengulur waktu. Tapi sayang, Radit sudah tau apa arti ucapan lembut Anisa.


"Aku belum mengantuk. Aku nunggu kamu saja" aroma aroma penolakan yang halus dari Anisa membuat Radit memutar otak. "Kamu pikir, aku pria lugu? oke, aku ikutin permainan kamu "


"Aku mau maskeran dulu, mas. tadi siang habis dari pantai wajahku rasanya gosong "

__ADS_1


"Mas bantuin, ya?" Radit bangun dari tempat tidurnya.


"Emang mas Disa bisa?" Anisa heran sambil melirik ke arah Radit yang sudah menghampirinya.


"Bisa lah, cuma tinggal nempelin doang" Radit mengulurkan tangannya pada Anisa "Mau sampai kapan kamu mengulur waktu? Heran, kenapa mesti nolak nolak dulu. Menyiksa suami. Perempuan memang aneh. Ayo kita buktikan, siapa yang menang" kata hati Radit.


"Betul, mas Disa mau bantuin?"


Anisa memberikan bungkus masker pada Radit. Radit menerima dengan senang hati.


"Ayo pejamkan matamu, biar mas yang nempelin ke wajahmu. Tapi, mending sambil berbaring Nis, biar rilek" Radit menarik tangan Anisa ke arah tempat tidur mereka.


Anisa menuruti perintah Radit tanpa curiga. Ia berbaring di atas ranjang dan memejamkan mata. Anisa hanya menunggu Radit memasangkan masker di wajahnya. Beberapa saat kemudian. Radit tersenyum menang


"Manis banget sih istriku ini, penurut, imut dan cup" Radit mengecup sekilas bibir Anisa.


Reflek, Anisa membuka matanya. Radit sudah berada di atas tubuhnya tanpa busana. Tatapannya sudah di penuhi kabut hasrat dan tak ada celah lagi untuk Anisa menghindar atau pun berontak.


Untuk kesekian kali Anisa Harus tunduk mengikuti Radit yang terus meminta haknya.


Tubuhnya terasa remuk mengimbangi permainan Radit. Mungkin karena Radit sudah terlalu lama hidup sendiri. Anisa pun menyerah, memilih ikut menikmati keindahan yang diberikan Radit.


Radit sangat gemas saat melihat Anisa yang terkulai tidak berdaya akibat perbuatannya. "Ini hukuman buat istri yang suka menunda permintaan suami"


Radit membetulkan letak selimut di tubuh polos Anisa. Sedang si pemilik sudah hanyut dalam mimpi. "Nis, tetaplah di sisiku seperti ini" ucap Radit sebelum ia merebahkan tubuhnya. Radit mengecup dalam kening sang istri.


**


Pagi hari setelah sarapan, Radit memberi tahu Anisa jika mereka akan pulang hari ini juga.


"Nis, kita akan segera pulang. Kamu senang?" Tangan kokoh Radit sudah meraih pinggang Anisa. Diusapnya pipi Anisa yang putih. Sedang Anisa berusaha tenang, ia harus membiasakan diri dengan bahasa sentuhan Radit.


"Tentu saja, Aku sudah kangen rumah dan anak anak "


"Lea dan ibu ?"


"Kamu itu mikir apa, sih? tentu semua akan ikut pindah bersama kita. Ibu sudah pindah di rumahku sejak kemarin. Lea dan Ara tidurnya di satu kamar. Mama sudah mendekorasi kamar mereka"


"Rumah ku kosong, mas?" Anisa berusaha melepaskan rengkuhan Radit di pinggangnya. Namun rengkuhan Radit terlalu erat. Radit justru sengaja membuat Anisa duduk di pangkuannya.


"Terserah kamu, Nis. Rumah itu mau di apakan"


"Buat tempat ngajar privat, mas,


boleh?"


"Mengajar di sekolah masih boleh, privat tidak lagi. Ada Lea dan Ara juga aku yang harus kamu rawat"


"Baiklah, tapi aku harus menyelesaikan les privat mereka sampai sebulan ke depan karena itu sudah jadi tanggung jawabku, mas"


"Deal" ucap Radit menyetujui


"Mas, kita pulang jam berapa?"


"Satu jam lagi"


"Mas, beli baju panjang lagi, masa aku pulang pake baju ini. Yang kemarin masih basah" Anisa menunjuk mini dress yang dipakainya. Radit hanya terkekeh kemudian mencubit gemas hidung Anisa.


"Sebentar" Radit membuka ponsel dan mengetikan pesan perintah


Tidak lama, seorang pegawai hotel datang dan memberikan paper bag yang cukup besar pada Radit.


"Kok cepet banget, mas. Sudah nyampe aja bajunya" Anisa membuka paper bag yang di berikan Radit.


"Mas sudah siapkan gaun ini dari pertama

__ADS_1


Kita datang" ujar Radit disertai senyum nakal


" Mas bener bener ngebuat aku memakai baju kaya gini selama di sini. sampai aku tidak bisa keluar dari kamar?" Anisa hampir tidak percaya dengan trick yang dimainkan Radit. ia hanya bisa cemberut.


"Menyenangkan suami pahalanya besar, Nis. Tidak usah cemberut seperti itu bibirnya. Nanti aku bisa berubah pikiran lagi" berkata dengan nada datar meski tau Anisa Pasti kesal.


Anisa menatap kesal. Kemudian mengikuti Radit membereskan barang bawaan mereka. Menurut Radit, sebentar lagi mereka akan di jemput.


"Ganti baju sana! Biar mas yang urus ini semua" Adit membereskan dua koper tempat baju mereka.


Anisa meninggalkan Radit, ia masuk ke dalam ruang ganti. Memakai baju yang Radit siapkan. Sejenak ia terpaku di depan cermin. Mengusap gaun yang begitu cantik di tubuhnya yang mungil. Dia terlihat begitu berbeda dengan gaun ini. Anisa memberi polesan lipcream warna pink muda di bibirnya sebagai sentuhan akhir. Cantik, dia sendiri terpaku menatap pantulan wajahnya.


"Mas aku sudah selesai"


Radit menoleh ke arah Anisa. Tatapannya begitu memuja saat melihat Anisa yang sudah sangat cantik dengan gaun pemberiannya. Pria itu langsung mendekat. Sebuah kecupan mendarat di kening Anisa


"Cantik banget, Nis. Aku jadi pingin nempel terus" Anisa hanya bisa tersipu dengan ucapan Radit.


"Mas, ganti baju dulu!" Anisa mendorong dada Radit pelan. Memberi isyarat agar tidak merusak tatanan hijab yang hampir di buka Radit. Bisa kacau kalau dibiarkan menempel terus, acara pulang bisa tertunda.


" Iya " jawab Radit, namun tampak tidak rela melepaskan Anisa. Meski terpaksa, Radit bergegas mengganti bajunya dengan setelan formal yang sudah disiapkan oleh Anisa dari tadi.


Sambil menunggu Radit berganti, Anisa masih duduk di sofa sambil membuka ponselnya. Banyak sekali pesan yang masuk, rata rata mengucapkan selamat untuk pernikahannya. Ia juga mendapat kiriman Foto pernikahannya dari Sinta adik iparnya.


Ada rasa belum percaya jika kini hidupnya berakhir bersama Radit, pria sombong yang menyebalkan di awal pertemuan mereka kembali. Anisa pun tidak menyangka jika Radit adalah pria yang pernah ada di masa kecilnya.


Anisa setengah melamun sambil menatap foto pernikahannya dengan Radit di ponselnya.


Kisah panggilan Disa.


Belasan tahun lalu, ia masih sekolah dasar, mungkin kelas tiga. Di rumahnya yang sederhana kedatangan seorang remaja pria berbadan kurus dan tinggi, kulitnya coklat, rambutnya sedikit gondrong dengan kacamata minus.


Anisa kecil sangat senang dengan kedatangan Radit remaja. Ia memiliki sosok kakak yang sangat ia inginkan. Ia langsung menempel pada Radit.


Anisa sering memaksa Radit untuk membacakan buku dongeng kesukaannya karena Bu Ratna sibuk membuat kue untuk pesanan. Anisa kecil sering tertidur bersama Radit di depan televisi.


Anisa kecil juga sering meminta Radit untuk diantar ke toko buku atau rumah temannya sambil memamerkan kalau ia juga punya seorang kakak.


Radit Remaja selalu mengikuti keinginan Anisa. Dia tidak keberatan dengan sikap Anisa yang sangat posesif terhadap dirinya. Anisa kecil yang cantik sudah bisa membuat Radit kalang kabut. Gadis kecil itu akan menangis dengan kencang saat keinginannya tidak di penuhi. Radit paling suka saat memerkan Anisa pada teman teman kuliahnya. Karena semua teman kuliah Radit akan memuji kecantikan dan kepintaran Anisa kecil waktu itu.


Suatu hari Anisa tidak mau lagi memanggil Radit dengan nama mas Radit, ia memanggilnya dengan panggilan mas Disa.


Usut punya usut, teryata teman teman Anisa. Selalu mengatakan, kalau Radit bukanlah kakak kandungnya. Radit hanya anak kos di rumah itu. Anisa kecil tidak mau kehilangan Radit, ia sudah sangat menyayangi Radit dan ketergantungan dengan keberadaan Radit di sisinya.


Disa adalah singkatan dari Radit milik Anisa. Nama Disa, Anisa abadikan dalam setiap bukunya, di tembok kamarnya. Bahkan Radit remaja jika mendapat tamu teman perempuan, Anisa kecil akan dengan posesif duduk di pangkuan Radit.


Anisa menutup wajahnya sendiri. Ia tersadar dari bayangan masa lalu. Mungkin ini doa Anisa kecil yang di jawab tuhan untuknya. Anisa selalu berdoa untuk bisa memiliki Radit selamanya.


"Sayang, kamu kenapa?" Suara Radit mengagetkan Anisa.


"Mas, apa masih ingat dengan tingkahku saat masih kecil? dulu aku sangat posesif padamu"


Radit tertawa mengingatnya, jelas ingatan Radit lebih tajam. Radit sudah remaja saat itu di banding Anisa yang masih kecil.


"Tapi sekarang, kenapa kamu jual mahal?" Radit bertanya dengan tatapan tajam membuat Anisa salah tingkah.


"Dulu kan aku masih kecil, mas" sahut Anisa berkilah untuk menutupi rasa malunya.


"Terus sekarang ? " Radit mencecar


"Tidak tau " ucap Anisa sambil mengangkat dua bahunya


"Anisaaaaa" Radit tampak gemas pada Anisa.


Anisa jadi ngeri sendiri. Dulu kala, ia sangat memuja pria di depannya. Pria di depannya juga yang mengajarkan patah hati untuk yang pertama kali .....ketika Radit kembali ke Jakarta. Anisa menangis semalaman dan tidak mau makan sampai sakit.

__ADS_1


__ADS_2