
Seorang pria memperhatikan gambar dalam ponselnya . Ia tersenyum penuh arti . Kemudian matanya memperhatikan jarum jam yang ada di tangannya . Suasana malam cukup cerah bahkan bulan muncul walau pun hanya setengah .
Saat ini bandara cukup ramai meski sudah malam .Atta menyisir rambutnya dengan jemari jemari tangannya kemudian ia memperlihatkan tulisan bernama dr Rinda .Pada orang orang yang baru keluar dari pesawat .
Seorang wanita cantik menghampiri Atta . Agak sungkan menatap pria yang membawa tulisan dengan namanya .
" Hai saya dokter Rinda "
Pria itu tersenyum sembari menutup tulisan yang sedari tadi ia pajang .
" Aku Atta sepupu dari mbak Anisa , mari saya bantu bawa kopernya dokter "
Rinda menyerahkan kopernya pada Atta . Kemudian mengikuti langkah Atta ke parkiran . Rinda terdiam ketika Atta hanya membawa motor matic bukannya sebuah mobil . Ia ragu untuk menaikinya .Seumur hidupnya belum pernah .
" Ayo dokter "
" Aku ...aku belum pernah naik motor , emmmh aku takut "
Atta tertawa lucu melihat ekspresi Rinda yang ragu ragu .
" Santai saja saya bawa motornya pelan dan tidak jauh kok dekat sini aja "
Dokter Rinda akhirnya menurut naik keatas motor matic .Sepanjang perjalanan dokter Rinda gugup namun setelah beberapa saat ia terbiasa dan bisa menikmati nya .
Sampai di depan sebuah rumah, motor matic yang di kendarai Atta berhenti .Atta mengajaknya untuk masuk . Rumah mungil tetapi terlihat sangat asri . Penataannya pas dan cantik .
Seorang wanita paruh baya datang menyambut Rinda .Beliau memperkenalkan dirinya dengan nama Bu Tika .
" Dokter Rinda ini kamarnya ,semoga dokter Rinda betah tinggal di sini .Saya berada di rumah samping kalau ada keperluan apapun jangan sungkan untuk menghubungi saya " ujar Bu Tika
" Ini no ponsel saya dokter jika ada yang ingin dokter tanyakan hubungi saja nomor saya dua puluh empat jam buka " ujar Atta sembari mengerling .
Rinda masih merasa canggung hanya bisa mengangguk .Kemudian Atta dan Bu Tika meninggalkan Rinda sendirian di rumah itu .
Sepi...malam itu Rinda terlelap di kamarnya dengan tenang .Mengusir lelah dan merefreskan dirinya untuk hari esok .
***
Anisa menyiapkan sarapan pagi di meja makan. Bu Ratna dan Bik Siti juga ikut membantu .
" Bik tolong kotak bekal Ara kemarikan biar saya isi jangan lupa tempat air minumnya ya "
" Ia non "
" Ara sayang sarapan dulu nak "
" Iya bunda "
Anisa menuangkan nasi dan lauk kedalam piring Ara .
" Bunda Ara sebentar lagi kenaikan kelas "
" Oh ya belajar yang rajin ya nak "
" Iya bunda" Ara melanjutkan sarapannya
Seorang asisten mendatangi Anisa .Ia mengatakan bahwa pak Radit meminta Anisa kembali ke kamarnya . Perlahan Anisa naik ke lantai dua menuju kamarnya .
__ADS_1
" Mas Radit ada apa "
Radit tersenyum menghampiri istrinya . Tangan kokoh nya menangkup wajah Anisa yang mungil kemudian mencium dam memeluknya erat .
" Aku harus ke Jerman hari ini "
" Kok nggak bilang bilang dari semalam "
" Aku gak bisa bilang kalau istriku sedang kesal .Dengarkan aku jangan pernah pergi dari rumah ini apapun itu .Aku tidak mengijinkannya " Ucap Radit sendu seperti sangat berat meninggalkan Anisa.Aku akan segera pulang
" Iya mas . Jam berapa mas berangkat ?"
" Nanti sore . Nisa jangan malas minum susu dan vitamin . Makan yang banyak tunggu aku di rumah "
" Iya mas Radit "
" Aku takut Anisa ....." Radit semakin mengeratkan pelukannya .
" Mas nafasku ..."
" Maaf .."Radit melepaskan pelukannya "Nisa aku akan sangat merindukanmu disana "
Kemudian suara ketukan di pintu terdengar .Radit segera membuka pintu kamarnya . Ara sudah siap dengan seragam lengkapnya .Di belakang Ara ada asisten yang membawa sarapan
"Papi ,bunda Ara berangkat sekolah dulu "Pamit Ara ,kemudian meminta Salim pada Radit dan Anisa .Gadis kecil itu segera meninggalkan keduanya menuruni tangga
" Pak Radit sarapannya mau di letakan di meja ?"
" Ya letakan saja " jawab Radit singkat setelah pelayan keluar dari kamar Radit segera mengunci pintu .
" Mas Radit mau sarapan di kamar ?" tanya Anisa heran .
" Mas mau sarapan sekarang ?"
" Hmm" jawab Radit dengan tatapan yang sulit di artikan " Kemarilah Anisa aku ingin menjenguk putraku sebelum pergi ke Jerman "
" Mas Radit ,.." Anisa sama sekali tidak mengira pagi seperti ini dimana semua orang begitu sibuk mempersiapkan aktifitasnya .Radit meminta aktifitas yang lain .
Tanpa menunggu persetujuan Anisa Radit sudah memulai aksinya . Melemparkan satu persatu penutup tubuh mereka . Anisa lagi lagi hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Radit meniti awan mencapai puncak nirwana .kemudian terhempas bersama
Radit mengecup lama kening Anisa setelah menuntaskan haknya . Anisa masih terbaring tanpa sehelai benang hanya berselimut tubuh Radit yang masih menempel .Anisa menatap suaminya dalam " Pria keras kepala tidak ada romantis romantisnya ,sukanya maksa " gerutu hati Anisa .
" Anisa ..., kamu tau kan aku bukan pria penyabar aku suka maksa ,masih kaget sama kelakuanku ?" Radit seolah mengerti bahasa dari tatapan dalam Anisa padanya .Dia hanya tersenyum tipis
" Kok mas Radit tau ?"
" Aku suamimu Anisa aku hafal betul setiap gestur tubuhmu ,setiap inci kulitmu .Juga arti setiap tatapanmu "
" Mungkin cuma kebetulan mas "
" Istirahatlah dulu sebelum
kita mulai lagi " celoteh Radit dengan senyuman mesum
" Jangan mas kasihani aku . Lihat putramu sudah bergerak gerak seperti ini aku mohon kalau kau mengulangi lagi bisa bisa aku melahirkan hari ini " Anisa ketakutan padahal kandungannya baru berusia tujuh bulan
Radit tertawa lepas melihat Anisa ketakutan . Kemudian ia mulai mencumbu Anisa lagi untuk terus menggoda istrinya . Tapi sayang kegiatannya justru membuatnya kembali ingin menggapai puncak nirwana .Tapi melihat istrinya yang sudah pucat dan kelelahan Radit tidak tega .
__ADS_1
Radit memberi selimut pada Anisa sial senjata makan tuan Dia kelimpungan sendiri merasakan desakan hasratnya .
Begitu Radit memberi selimut Anisa segera melarikan diri ke kamar mandi .Menghindar dari Radit yang sudah sayu di penuhi oleh keinginan hasratnya .
Anisa sudah keluar dari kamar mandi dengan dengan pakaian lengkap . Ia mencari Radit yang tidak nampak di kamarnya .
Sementara itu Radit berada di teras balkon sedang menatapi koleksi pohon kaktusnya . Pria itu hanya mengenakan celana pendek tanpa kaos . Radit sedang menetralkan tubuhnya dari gejolak yang ia pancing sendiri .
Cukup lama Radit berada di teras sambil menghisap sebatang rokok . Radit menghisap rokok hanya ketika sedang merasa buntu . Tidak terlalu sering . Kegiatannya terganggu ketika suara Arman menggelegar mengagetkan Radit .
" Bos berkas yang perlu di tandatangani ''
" Bawa ke ruang kerjaku Arman tunggu sebentar "
" Baik bos "
Radit masuk ke kamarnya dan mandi .Dia tidak melihat Anisa berada di kamar .Setelah selesai Radit segera keruangan kerjanya memeriksa berkas berkas yang Arman bawa .Setelah selesai
Radit menyerahkan pada Arman .
Arman tidak segera pergi ia justru duduk termenung di hadapan Radit .
" Kenapa kau tidak pergi ?"
" Bos boleh aku minta rokokmu "
" Kenapa, kau ada masalah ? " tanya Radit sembari menyodorkan sebungkus rokok pada Arman .
" Aku pusing bos soal Dila , akhir akhir ini dia sangat sulit di dekati "
" Biasanya juga kamu main ancam ha ...ha.."
" Gak tega bos semenjak kehamilannya dia sering muntah muntah .Kalau aku mendekat dia selalu mengusirku katanya aku bau bos "
" ha ..ha..ha Makanya Arman kamu mandi pakai parfum yang banyak "
" Sudah bos sebelum menemuinya aku selalu mandi dulu dan memakai parfum tapi masih saja di bilang bau .Aku frustasi bos "
" Wanita hamil memang istimewa Arman dengan kehamilannya bisa membuat pria tersiksa "
" Jangan jangan bos juga lagi frustasi seperti saya bos ? Tadi saya lihat bos sedang merokok "
" Iya senasib sama kamu tapi lebih beruntung aku . Aku masih bisa meski tidak bisa berkali kali "
" Aku sudah mau sebulan tidak sekalipun " Curhat Arman bikin miris
"Itu karma untukmu ,Ketika Anisa hilang kau masih pengantin baru setiap berangkat kerja sengaja kamu memamerkan jejak percintaan mu dari leher bertanda merah sampai rambutmu yang tiap hari basah .Tidak tau bos mu merana "
" Bos jadi merhatiin .Saya kira bos diam saja karena lagi sedih sendiri teryata bos dendam nih "
" Sudah pergi sana, aku mau lanjut ronde kedua "
"Bos jangan buat orang ngiri bos dosa " Arman garuk garuk kepala ..
"Dengar kau akan menganggur sampai usia kandungan istrimu empat bulan .Rasakan Arman ..."
" Bos yang benar saja ....?"
__ADS_1
Radit terkekeh meninggalkan Arman yang sedang menghitung usia kandungan Dila