Tetanggaku Duren (Duda Keren)

Tetanggaku Duren (Duda Keren)
28. Kemalangan


__ADS_3

Sejak subuh tadi, Anisa merasa tidak enak badan. Tubuhnya terasa lelah di sertai rasa pusing dan juga mual. Radit meminta Anisa untuk tidak pergi mengajar hari ini. Bahkan Radit sudah meminta Anisa untuk pergi ke dokter.


"Mas panggil dokter keluarga ya, Nis?"


"Aku cuma meriang saja, mas. Di bawa tidur juga pasti sembuh"


"Tapi wajah kamu pucat, badan kamu juga panas" Radit menempelkan tangannya di dahi Anisa. Tapi Anisa hanya menggeleng. Dia merasa baik baik saja. Mungkin karena kegiatan di sekolah yang terlalu padat akhir akhir ini. Maklum menjelang akhir semester, semua murid dan pendidik sedang mengejar target pembelajaran.


"Mas, pulangnya mampir beli sup Ayam yang ada di dekat kantor, ya"


"Mas pulangnya malam, Nis. Nanti siang saja, pak Sam mas suruh pulang bawa sup pesananmu"


"Boleh"


"Mas berangkat dulu. Kamu istirahat di rumah. kalau belum membaik, pergi ke dokter!"


"Iya"


Raditpun bergegas pergi ke kantor. Sebelum keluar dari kamar, tidak lupa ia mencium kening Anisa.


Rumah kembali sepi, Anisa berbaring di atas ranjang. Merebahkan diri agar tubuhnya kembali bertenaga. Tidak biasanya dia seperti ini. Kemudian ia teringat sesuatu yang begitu penting.


Berlahan ia mencoba bangun dan berjalan pelan menuju meja riasnya. Anisa membuka tas hitam dan mengeluarkan sebuah kotak dari dalamnya. Sekilas ia tersenyum, menyadari hal yang seharusnya dia lakukan dari Minggu kemarin.


Saat ini, Anisa sudah berada di kamar mandi. Setelah menampung Urin, Anisa mulai menatap alat tes kehamilan dengan seksama. Hatinya sangat berharap ada kabar baik, yang ingin ia persembahkan untuk Radit.


Satu garis merah telah terbentuk, menunggu lagi beberapa saat.., dan dua garis merah! Seulas senyuman tersungging di wajahnya. Anisa hampir saja berteriak kencang saking bahagianya. Untungnya, dia masih bisa mengendalikan diri.


Anisa menyimpan tes pack kehamilannya ke dalam sebuah kotak. Kemudian Ia menulis sepucuk surat dan di masukkan ke dalamnya. Sebuah kejutan yang akan ia persembahkan untuk Radit tercinta. Kotak itu ia kemas dalam kotak beludru warna merah. Anisa harus bersabar menunggu momen yang tepat untuk kejutan romantisnya.


**


"Nis, sudah mau pulang?" Sapa Nania saat mereka berpapasan di koridor bangunan kelas.


"Iya, hari ini aku hanya ada satu jam pelajaran saja"


"Ya sudah, hati hati di jalan"


"Thank's, Na"


"Nis, dua hari ini aku tidak melihat bodyguard yang biasa menjaga kamu?" Nania tampak mengerutkan dahinya. Wanita itu tidak lagi melihat bodyguard yang menjaga Anisa.


"Sudah aman, Na. Sebulan lebih, mas Fatah tidak lagi menguntit. Dia sudah iklash sepertinya"


"Ya sudah Nis, aku harus masuk kelas dulu. Bye"


Anisa meneruskan langkahnya menuju area parkir mobil. Di sana sudah ada pak Sam, supir yang bertugas mengantar dan menjput Anisa.


Begitu melihat Anisa datang, pak Sam langsung membukakan pintu mobil untuk Anisa.


"Kita langsung pulang, Bu?"


"Ke sekolah Lea dulu, pak. Sekalian saja. Setelah itu kita baru ke sekolah Ara"


"Baik, Bu" ucap pak Sam mengikuti perintah Anisa. Mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang.


" Pak Sam sudah lama bekerja dengan mas Radit ?" Tanya Anisa membuka obrolan di tengah perjalanan.


"Sudah Bu, dari jaman pak Radit baru menduda, sampai hari ini. Bapak ikut bahagia lihat pak Radit yang sekarang "


"Memang mas Radit yang dulu seperti apa?"


"Maaf ya, Bu. Sebelum menikah dengan ibu, pak Radit seperti robot yang hanya bicara seperlunya saja. Tapi sekarang, pak Radit jadi lebih murah senyum dan ceria''


"Oh, pak Radit itu memang pemarah dari dulu, pak. Saya juga tidak suka waktu itu. Kalau ibu tidak memaksa saya nikah dengan pak Radit, Saya tidak akan mau menikah dengan dia"


"Jadi bu Anisa di paksa ibu sepuh ? Tapi pak Radit sepertinya sangat sayang dengan Bu Anisa"


"Sekarang, saya juga sayang pak, sama mas Radit '' ujar Anisa sambil tertawa


Mobil sudah sampai di depan sekolah Alea. Anisa berdiri menunggu di luar gerbang bersama deretan kendaraan yang akan menjemput anak anak sekolah pulang. ISambil menunggu lea pulang, Anisa membuka ponselnya. Ia menyentuh aplikasi pesan singkat dan mengirim pesan pada Radit.


"Assalamualaikum mas, aku sedang jemput lea dan Ara. Mas sibuk tidak ? kita mau makan siang bersama "


"Wangalaikumsalam, makan di restoran biasa, ya. Mas punya waktu luang satu jam"

__ADS_1


"Siap, pak bos. Kami meluncur"


Anisa menutup ponselnya dan memasukan kedalam tasnya.


Tidak jauh dari sana, ada mobil hitam yang sedari tadi mengikuti Anisa. Mereka sedang menunggu waktu yang tepat untuk bertindak.


Alea keluar dari gerbang sekolahnya dan melihat Anisa yang sedang menunggu. Gadis itu langsung berlari dan berhambur dalam pelukan Anisa.


"Bug uh ...." Anisa sedikit mengaduh. kepala Alea membentur perut ratanya.


"Sayang, hati hati. Dalam perut bunda ada adek"


"Adek, bunda ? Lea mau ikut Adek dalam perut ..hi ...hi..hi " ujar Alea tergelak sambil terus mencium Perut Anisa.


"Kita jemput Ara dulu, oke. Terus kita makan siang sama papi "


" Oke " Alea begitu bersemangat akan di ajak bertemu Ara dan juga papi.


Pak Sam sudah bersiap di dalam mobilnya .Anisa dan Lea pun masuk kedalam mobil. Mobil melaju berlahan menuju jalan sekolah Ara yang cukup jauh dari tempat sekolah Alea.


Saat melintasi jalan yang sepi, mobil hitam yang sedari tadi mengintai, menghentikan paksa mobil pak Sam dengan memotong jalan. pak Sam mengerem mendadak, hampir saja ia menyenggol mobil hitam di dedapannya. Tidak sampai satu menit, enam orang berbaju hitam sudah turun dan menyergap mobil yang di tumpangi Anisa dan Lea.


Anisa dan Lea ketakutan. Mereka saling memeluk. Satu orang yang bertubuh paling besar membius Anisa dan Lea. Keduanya tidak sadarkan diri. Kemudian memindahkan keduanya alam mobil mereka .


Sedang pak Sam sebelum di bius, Ia ditusuk pada bagian perutnya kemudian diikat tangannya. Tubuh pak sam di masukan dalam mobil. Pria setengah baya itu tak berdaya dengan darah yang terus keluar.


Mobil hitam penculik membawa Anisa juga Lea ke arah pinggiran kota. Tiba di dekat sebuah jurang, enam orang keluar dari mobil. Mesin mobil sengaja masih di nyalakan dan di dorong ke dalam jurang.


Mobil hitam itu terjun dan berguling guling ke dasar jurang. Salah satu dari enam orang itu mengabadikan momen saat mobil terus jatuh ke jurang yang begitu curam.


**


Di sebuah vila kecil, Fatah sedang menyiapkan kedatangan anak dan mantan istrinya. Fatah sedang menghias kamar untuknya dan juga Anisa.Tiba tiba ponselnya berdering. Secepat kilat Fatah segera mengangkatnya.


Alisnya menaut saat membaca nama yang tertera dilayar ponselnya adalah nama Gina Fatah langsung menolak panggilan dari Gina Pria itu sudah bertekat tidak lagi ingin berurusan dengan perempuan itu. Fatah kembali meletakan bunga segar dalam vas bunga setelah meletakan ponselnya. Notif pesan sampai di ponselnya terus berdenting tanpa henti.


Karena penasaran akhirnya Fatah membuka Sebuah pesan Vidio yang muncul di Aplikasi pesan. Fatah memutarnya


"Tidaaaaaak........ "Fatah berteriak dan terjatuh di lantai.


Fatah lunglai, ia tidak mengira jika Gina bisa berbuat sejauh itu. Bekelebat lagi tentang ancaman yang pernah Gina ucapkan. Penyesalan itu akan datang ketika semuanya sudah terlambat.


"Selamat menikmati rasa hancur. Seperti yang kurasakan. Karena aku pun harus merelakan benih yang kukandung terpaksa pergi karena rasa tidak bertanggung jawabmu. Kita impas"


Bulir demi bulir terus mengalir, Fatah seperti tidak memiliki nyawa. Gina benar saat ini bahkan dia tidak lagi memiliki rasa selain hancur dan hampa.


***


Di Apartemen, Bigo sedang merayakan keberhasilannya menyingkirkan Anisa dan putri semata wayangnya Bigo sudah menyelesaikan misi yang di berikan oleh Gina. Gina tertawa seoerti orang gila. Dendamnya pada Fatah sudah terlampiaskan.


Wanita cantik itu sudah ada dalam kungkungan Bigo. Pria kejam dengan luka sayatan di wajah. Gina harus menyerahkan diri sesuai kesepakatan. Di dunia ini tidak ada yang gratis. Gina menukar nafsu dendam dengan menjadi budak Bigo.


Satu persatu penutup tubuh Gina tanggal. Mata liar yang sudah tidak sabaran, mengoyak dan mencabik Gina. "Kita hancur bersama mas Fatah" batin Gina berucap. Mulai detik ini ia akan menahan semua perlakuan Bigo padanya, meski jijik dan muak.


"Sayang, kau akan jadi wanitaku seumur hidup Ha ...ha....ha....."


Gina terjatuh di jurang yang dia gali sendiri . Bigo bukan pria kesepian biasa. Bigo juga memiliki kesenangan lain yang kejam. Selamat datang di neraka kehidupan Gina


**


Radit sudah berada di restoran terlihat gelisah. Berkali kali ia menghubungi ponsel Anisa Namum tidak juga terhubung. Bahkan Radit sampai menumpahkan gelas minuman yang ada di meja. Tiba tiba saja dadanya berdebar kencang. Seperti sebuah pertanda buruk yang akan datang menimpanya. Pikiran Radit mendadak kacau. Sebentar ia melirik ke arah jam tangannya.


Radit segera keluar dari ruangan VIP yang sudah ia pesan. Saat hendak membayar tagihan ponsel yang ada di sakunya berdering. Satu nomor yang ia kenal masuk.


"Haloo"


"Dengan bapak Radit ? Kami dari kepolisian"


"Ini nomor telepon supir saya, jangan main main" tanpa sadar karena panik, Radit membentak orang yang mengaku ngaku dari kepolisian.


"Supir bapak ada di rumah sakit Rahayu, silahkan bapak datang kemari"


Sesaat Radit terdiam, ia mencoba mencerna ucapan orang yang ada di seberang telepon. Situasi ini pernah ia alami saat mendapat kabar mendiang istrinya kecelakaan.


Radit seketika rapuh. Dalam benaknya berputar berbagai dugaan tentang apa yang telah terjadi. Anisa, Lea, juga Ara. Haruskah.....? Tubuh Radit limbung, beruntung Arman datang menjemputnya.

__ADS_1


Dengan sigap Arman menyangga tubuh tinggi Radit.


"Bos, ada apa bos?" Tanya Arman bingung. Dia datang untuk menjemput Radit karena ada rapat penting dengan klien.


"Antar Aku menemui pak Sam di rumah sakit Rahayu" Bibir Radit bergetar namun ia masih mampu berkata kata


Arman segera menuju rumah sakit tempat pak Sam di rawat. Sepanjang perjalanan Arman hanya bisa diam. Dia tidak berani untuk bertanya lebih jauh. Arman hanya menduga ada kejadian buruk yang menimpa pak Sam.


Sampai di rumah sakit Rahayu, Arman berjalan di samping radit yang justru langsung berlari menuju bagian informasi.


"Tangan pak Sam?"


"Oh orang yang di tusuk perutnya? Masih di UGD pak"


Kembali Radit setengah berlari menuju UGD. Arman yang tidak tau semakin bingung. Radit dan Arman sudah berada di depan ruang UGD tidak di perbolehkan masuk. Dua orang berseragam polisi mencegatnya. Kemudian menceritakan kronolagi kejadian yang di dapat dari pak Sam yang masih lemah.


Radit terhuyung, dan jatuh ke lantai setelah mendengar semua. Ia berakhir di ruang perawatan. Baru tiga bulan ia merasakan bahagia kembali bersama wanita yang di cintainya. Namun sebuah musibah memporak porandakan perasaannya.


Arman ikut bergetar mendapatkan kenyataan musibah yang menimpa Radit. Pria itu tetap setia di samping Radit yang tergolek lemah.


Arman mengetik pesan, menghubungi orang orang yang bisa membantu pelacakan keberadaan Anisa dan juga Lea.


"Arman..." suara Radit yang lemah terus memanggil.


"Saya di sini" ujar Arman sambil meletakkan ponselnya.


"Tuan Wijaya sedang dalam perjalanan kemari. Bos tenang saja"


"Cari Anisa dan Lea! selidiki mantan suami nya. Aku mencurigai dia" ujar Radit lirih


"Iya bos, kita akan kerahkan orang orang terbaik untuk menangkap mereka. Bos harus kuat'' Arman sangat tidak tega ketika menatap mata Radit yang sendu dan kuyu .


" Aku sudah baik baik saja aku mau pulang "


"Tunggu sampai infus ini habis. Bos tidak bisa pergi begitu saja"


"Radit..." Papa Wijaya memanggil Radit.


"Pa..."


"Tenang saja, papa sudah meminta bantuan teman teman papa yang ada di kepolisian. Kamu tunggu saja kabar dari papa"


"Anisa, pa"


"Papa tau, Anisa bukan hanya menantu untuk papa dan mama. Dia sudah seperti anak papa sendiri, papa memiliki tanggung jawab yang lebih, karena dia juga putri dari sahabat papa dulu"


Radit memejamkan matanya. Dia merasa begitu rapuh saat ini. Setelah cairan infus itu habis, Radit di perbolehkan pulang oleh dokter yang merawat.


Di dampingi papa Wijaya dan Arman, Radit menemui Bu Ratna dan mama Arini di rumahnya. Radit langsung bersimpuh di kaki mama Arini dan bu Ratna . Perasaan bersalah terus mengaduk ngaduk dadanya


" Maafkan saya Bu, Saya lengah menjaga Anisa. Harusnya saya tidak menuruti keinginannya untuk menghentikan pengawalan saat dia akan bepergian. Saya bersalah, hukum saja saya Bu ...."


"Radit, kita semua sedih dengan musibah ini. Ibu tidak menyalahkan kamu. Semua ini sudah jadi ketetapan yang maha kuasa. Ibu, kamu hanya makhuk Allah yang lemah. Semoga saja Lea dan Anisa cepat di temukan dalam keadaan sehat " suara Bu Ratna bergetar


"Bu..." Radit semakin terpukul, dia tidak kuasa melihat tatapan pasrah Bu Ratna.


Sejenak ruangan tengah rumah Radit terasa hening. Bu Ratna masih duduk terdiam dan dipeluk oleh mama Arini. Dua wanita itu saling menguatkan.


Ponsel tuan Wijaya berdering, Dia langsung mengangkatnya. Semua memperhatikan pembicaraan tuan Wijaya dengan orang kepercayaannya.


"Radit, orang suruhan papa sudah bisa melacak lokasi nomor ponsel Anisa. Letaknya ada di pinggiran kota dan mereka sudah bergerak ke lokasi tersebut "


"Alhamdulilah , Kita kesana pa" Radit langsung berdiri semangat.


"Ya, kita kesana. Mama temani Bu Ratna di rumah ! " Ucap tuan Wijaya tegas saat istri dan Bu Ratna juga seperti akan berdiri untuk ikut mereka pergi.


"Ia pa, hati hati di jalan" Mama Arini pun tidak bisa membantah. Dia sangat tau watak sang suami.


Tuan Wijaya dan Radit segera meluncur ke lokasi yang di berikan oleh orang suruhan mereka. Hanya menempuh waktu selama dua jam, mereka sudah sampai di lokasi sebuah jurang di pinggiran kota.


Alat alat bantu untuk mengevakuasi mobil yang terperosok ke jurang di datangkan. Tuan Wijaya mengerahkan segala kemampuannya untuk mencari Anisa dan Lea.


Radit berdiri sambil memperhatikan orang orang yang sudah sangat terlatih untuk melakukan evakuasi. Tidak dapat membohongi diri, Radit terlihat syok saat tau mobil yang di curigai membawa Anisa dan Lea masuk jurang yang begitu dalam.


" Anisa bertahanlah, demi aku. Aku mohon Anisa ...kamu berjanji akan ada di sisiku. Akan memberiku seorang bayi Anisaaaaa......." Radit berteriak tanpa bisa di cegah.

__ADS_1


__ADS_2