
Sudah menjelang dini hari, Anisa baru saja mendirikan solat malam. Ia menengadahkan tangan meminta segala kebaikan untuk kehidupannya. Sebelum memasuki waktu subuh, Anisa menuju ranjangnya, kembali memeriksa selimut Alea. Mungkin saja sang putri membutuhkan sesuatu. Karena dari semalam dia terus mengigau. Mungkin tubuh gadis kecil itu terlalu lelah setelah seharian bermain dengan teman temannya.
Terdengar lagi suara igauan Alea, namun kali ini lebih seperti rintihan. Anisa bergegas mendekati putrinya setelah melipat mukena. Saat menyentuh dahi Alea, Anisa terkejut, suhu tubuh putrinya sangat panas. Alea demam.
"Lea demam" gumamnya lirih.
Anisa menuju ruang tengah, di mana ada kotak obat yang tergantung di dinding. Matanya mencari cari obat penurun panas yang biasa tersedia di kotak obat. Anisa panik sendiri saat persediaan obat untuk Lea sudah habis.
Anisa membashahi kain untuk mengompres Alea sementara waktu. Anisa berniat membangunkan ibu untuk menjaga Alea saat ia menunaikan solat subuh terlebih dahulu
"Bu, badan Alea panas. Nisa titip sebentar, ya. Nisa mau solat dulu"
" Kamu sudah beri obat penurun panas?" Bu Ratna pun terlihat ikut panik.
"Kebetulan habis, Bu"
"Ya sudah kamu solat dulu. Nanti gantian ibu"
Anisa pun bergegas menuaikan kewajibannya, setelah selesai, bergantian menjaga Alea yang semakin kencang igauannya hingga di suatu titik Alea mengejang karena tidak tahan dengan suhu tubuhnya yang begitu tinggi. Anisa yang sedang menjaga Lea pun semakin panik dan berteriak.
"Bu, ibu ..Alea kejang Bu" teriak Anisa tidak sadar. Ibu yang baru saja selesai solat langsung berlari.
"Nis, kita bawa Lea ke rumah sakit" ujar ibu
"Iya, Bu" Anisa segera meraih kunci mobil. Dan segera mengeluarkan mobil dari garasi kemudian masuk ke dalam dan membawa Alea masuk ke mobil di temani ibu.
Dengan perasaan yang tidak menentu, Anisa membawa Alea ke rumah sakit yang paling dekat dari rumahnya. Beruntung suana pagi masih lenggang. Jalanan tidak terlalu ramai. Hanya butuh lima belas menit saja perjalanan menuju rumah sakit. Begitu sampai, Anisa segera membawa Alea ke ruang UGD untuk mendapatkan tindakan.
Wajah Anisa terlihat pucat. Tidak terhitung lagi air mata yang menetes. Rasa kawatir di hatinya tak terbendung. Anisa tidak bisa tenang. Apa lagi saat jarum infus mulai di pasang di tubuh Lea, belum lagi suntikan obat yang harus masuk ke tubuh kecil Alea, Rasanya tidak tega.
Dokter masih mengobservasi keadaan Alea. Beruntung, kejangnya sudah reda dan suhu tubuh Lea berangsur turun karena efek obat. Setelah di pastikan stabil Alea di perbolehkan di bawa ke ruang perawatan.
Di ruang perawatan, Alea terbaring lemah. Wajah putihnya berubah kemerahan karena suhu tubuhnya tinggi. Anisa dan ibu masih setia menunggu Lea di samping brangkar.
Matahari menampakkan sinarnya. Saatnya kunjungan dokter keruang perawatan. Seorang dokter anak beserta beberapa suster masuk. Memeriksa Alea yang masih tertidur. Dari hasil pemeriksaan sementara, Alea hanya kelelahan dan terdapat radang di tenggorokan bagian atas. Tidak terlalu menghawatirkan.
Setelah kunjungan dokter, Anisa merasa sedikit lega. Ia pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli sarapan. Ia harus menjaga dirinya agar bisa tetap kuat di sisi Alea. Kejadian semalam hampir saja membuat jantungnya berhenti.
" Bu, sarapan dulu. Ini sudah Nisa belikan" Anisa menyodorkan kantung kresek berisi nasi bungkus.
"Kamu juga harus makan, Nis"
"Iya, tapi Nisa mau telepon mas Fatah dulu. Dia harus tau"
"Nis, sudah beberapa bulan ini dia tidak ada kabar. Apa dia masih ingat punya anak? Lagi pula, sepertinya Lea sudah lupa punya Ayah. Dia tidak lagi menanyakannya"
"Bu, mas Fatah ayahnya"
Ibu hanya diam ketika Anisa tetap mau menghubungi Fatah. Ibu sangat tidak ingin bertemu dengan mantan menantunya ini. Ibu masih tidak rela putrinya di hancurkan.
Setelah sarapan, ibu keluar dari ruangan rawat Lea. Wanita paruh baya itu tidak mau bertemu dengan Fatah.
Anisa membuka nasi bungkus yang masih tersisa satu. Kemudian mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Tadi sebelum makan, Alea sempat bangun. Anisa menyeka tubuh Alea dan memberinya sarapan pagi juga obat yang harus di minum pagi itu. Hanya dua sirup saja yang rasanya manis. Anisa menyuapkan nasi yang terakhir ke dalam mulutnya saat sebuah ketukan di pintu terdengar.
"Pak Radit ...." Anisa tidak mempercayai penglihatannya.
"Iya, ini aku" ucap Radit kalem sambil nyelonong masuk. "Bagaimana keadaan Lea?"
Radit tidak menghiraukan Anisa yang masih bingung. Ia meletakan parcel buah di atas meja.
"Putri papi, sakit ?" Radit mengelus rambut Lea pelan
__ADS_1
Lea membuka mata saat suara yang ia kenal terdengar. Gadis kecil itu tampak senang melihat keberadaan Radit.
"Papi"
" Iya, ini papi. Cepat sembuh, ya. Minum obatnya pintar, kan?" ucap Radit pada Lea.
"Ara?"
"Ara tidak ikut. Ara sekolah" Alea mengangguk lemah. Harusnya dia sekolah juga tapi tubuhnya sangat lemah.
Dari atas sofa, tempat Anisa duduk, ia hanya bisa memperhatikan interaksi Lea dan Radit yang begitu intim. Layaknya seorang ayah pada putrinya. Anisa menghela nafas dalam. Dia merasa kehilangan banyak waktu .dan banyak hal yang tidak dia ketahui. Tentang putrinya dan pak tetangga.
Radit duduk di samping Anisa yang sedang meremas bungkus nasi, bekas Anisa sarapan. Anisa membiarkan saja Radit duduk di situ, seolah dia tidak keberatan dengan posisi mereka yang begitu dekat.
"Kapan Alea mulai sakit?"
"Tadi malam" jawab Anisa. "Pak Radit tau dari mana, Lea sakit ?"
"Insting mungkin, karena kami sudah begitu dekat"
Anisa mendengus kesal. Jawaban Radit tidak membuatnya puas. Tentu saja itu hanya karangan Radit. Pasti ibu yang sudah memberi tau pak Radit. Anisa menatap tajam pada pria disampingnya .
"Pak Radit sebaiknya pergi kekantor, Alea sudah baik baik saja, Terima kasih, pak Radit sudah menjenguk Lea" Anisa setengah mengusir Radit.
"Saya masih ingin di sini sebentar lagi" Jawab Radit santai
"Nanti, pak Radit terlambat"
"Saya tidak akan terlambat"
Dengan santai Radit duduk sambil membuka ponselnya. Ia menghubungi Arman dari rumah sakit"
"Arman, tolong handle kantor. Aku sedang ada kepentingan" Di sebelah Radit, Anisa hanya mengerucutkan bibirnya sambil bergumam
Radit pura pura tidak mendengar gumaman Anisa. "Aku haus, Nisa. Tolong berikan aku minum" pinta Radit pada Anisa. Masih dengan wajah tanpa dosa
"Iya" Ada rasa jengkel di hati Anisa, Radit kembali pada mode semula, sok dan menyebalkan. Anisa bergeser di ujung sofa membuat jarak agar tidak terlalu dekat. Selain itu, pria ini seenak nya saja memberi perintah meski diperhalus dengan kata tolong.
Ani menyodorkan sebotol air mineral pada Radit. Dalam hati, Anisa berdoa. semoga pria menyebalkan ini cepat pergi. Dalam ingatan Anisa, Radit remaja dulu begitu menyenangkan, tidak sama dengan versi dewasanya, menyebalkan, Meski secara fisik menjadi lebih tampan tapi berbanding terbalik dengan kelakuannya .
"Kenapa kamu melihatku sepeti itu, jangan jangan kamu sudah mulai jatuh cinta padaku?" Radit tersenyum penuh arti.
"Pak, jangan suka ge er, deh. Saya sedang menunggu Lea. Kalo mau ngajak berantem, lain kali saja. Lihat sikon "
"Eits, siapa yang ngajak berantem, Nisa ?Kamu tanya sama mata kamu yang memperhatikan aku begitu intens. Sampai sampai membuat jantungku berdebar lebih kencang" Ucap Radit serius sambil meraih tangan Anisa kemudian ditempelkan ke dada Radit yang sebelah kiri.
Anisa tidak menyangka Radit akan melakukan ini. Anisa tidak sempat menepis dan membiarkan tangan Radit meraih tangannya. Ada beberapa saat mereka terdiam dan saling menatap. Bersamaan dengan pintu ruangan terbuka. Fatah datang.
"Ehmm" Fatah sengaja memberi kode kedatangannya agar kedua orang yang sedang terpaku, menyadari ada orang lain di ruangan ini. Anisa dan Radit sama sama terkejut. Mereka terbawa suasana hingga tidak sadar pintu ruangan sudah terbuka. Keduanya salah tingkah.
Fatah mengeraskan rahangnya. Terlihat kilatan api cemburu di mata nya. Wajahnya merah padam menyaksikan adegan romantis di depannya. Mungkin ini yang membuat Anisa tidak mau lagi rujuk dengannya. Fatah tidak menyangka secepat itu Anisa bisa berpaling. Fatah tidak terima, ego dan harga dirinya tercubit.
"Anak saya, sedang sakit, Bisa bisanya kalian bermesraan di sini. Pakai etika, dong. Apa kalian tidak mampu menyewa hotel, jadi rumah sakit pun jadi?" Tandas Fatah dengan kilatan amarah dari pancaran matanya.
Ucapan Fatah membuat Anisa hampir menitikkan air mata. Fatah lupa siapa dirinya. Dia pikir setiap orang sama bejatnya dengan dia. Sehingga dengan mudah menuduh Anisa yang tidak tidak.
"Maaf, sebenarnya kami memang sedang menunggu Lea. kami tidak sedang memadu kasih, perlu anda catat itu" Radit menjawab
"Mas Fatah kenalkan ini pak Radit " Anisa memperkenalkan Radit pada Fatah untuk menengahi perdebatan keduanya
Fatah memperhatikan Radit dengan seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dalam hatinya mengakui jika pria yang di depannya cukup berkelas. Not bad, Good enough. Hanya saja terlihat lebih dewasa darinya.
__ADS_1
" Pak Radit ini mas Fatah, dia ayah Alea "
Keduanya berjabatan tangan dengan tatapan yang salin mengintimidasi
Fatah menghampiri Alea yang sedang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya. Fatah mengecup kening Alea penuh kasih sayang. Alea sudah kembali tidur karena pengaruh obat yang tadi disuntikan oleh perawat melalui cairan infus.
Perasaan bersalah setiap melihat putrinya akhir akhir ini semakin menyiksa Fatah. Ia merasa sangat tidak pantas.
"ALea, Ayah datang sayang "
Sayup sayup Lea mendengar suara Ayahnya. Gadis itu seperti bermimpi. Matanya enggan untuk terbuka karena badannya masih lemah .
"Dasar pria bodoh, kamu membuang hal yang paling berharga hanya untuk kesenangan semu" Radit bergumam Ketika melihat Fatah
" Alea akan baik baik saja, mas. Jangan kawatir " ucap Anisa
"Aku harap seperti itu,Nisa. Kamu sudah meminta ijin pada sekolah ?" Fatah mencoba memberi perhatian.
" Sudah "
Radit masih duduk di sofa sambil bersedekap Melihat reuni mantan suami istri. Tak di pungkiri ada rasa cemburu yang begitu mendesak di dada Radit. Fatah menatap Anisa masih dengan pendar cinta yang membara. Radit tidak suka itu. Meski Radit tau, Fatah lebih berhak ada di sini karena putrinya Alea yang sedang sakit
Tidak bisa di pungkiri semakin lama berada di ruangan ini. Hati Radit semakin perih. Teryata perasaannya pada Anisa sudah begitu dalam. Radit berdiri, dia memutuskan untuk meninggalkan ruangan ini.
"Nis, , sebaiknya aku pergi" pamit Radit memotong pembicaraan Fatah dan Anisa.
Radit yang sudah melangkah pergi. Meninggalkan Anisa dan Fatah berdua di ruangan itu. Tiba tiba saja Anisa merasa takut, takut pada Fatah yang menatapnya penuh dengan kerinduan. Anisa tidak bisa seperti ini. Ia harus mencegah Radit pergi.
"Pak Radit ..." Anisa mengejar langkah Radit.
Radit menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan Anisa. Radit menoleh melihat Anisa yang sedang berjalan mendekatinya.
"Tunggu, pak Radit " Anisa sudah berada di samping Radit . Ia mengatur nafas sebentar.
"Pak Radit, bisa saya minta tolong?"
"Ada apa? "
"Jangan pergi sebelum ibu datang" ucap Anisa menunduk.
"Kenapa ?"
" Saya tidak nyaman berdua di ruangan itu dengan mantan suami" Ucap Anisa gugup. Anisa sudah pasrah andai Radit menertawakannya.
"Kamu mau aku menemanimu di sana? Kamu tidak salah, kan? " Tanya Radit meminta jawaban Anisa
" Iya " Wajah Anisa memerah. Dia merasa sangat malu. Tapi apa boleh buat. "Jangan salah paham, Saya takut mas Fatah berbuat sesuatu pada saya, karena akhir akhir ini, dia sering mengikuti saya dan memaksa saya untuk Rujuk"
"Baiklah, aku akan melindungi kamu"
Ada rasa bahagia yang terselip di hati Radit ketika Anisa meminta drinya untuk melindungi wanita itu dari Fatah. Setidaknya, Anisa memiliki rasa percaya pada dirinya.
Keduanya kembali masuk kedalam ruangan.
Fatah menampakan wajah tidak sukanya dengan keberadaan Radit yang kembali lagi.
"Sepertinya tadi pak Radit sudah ijin pulang?" Sindir Fatah sambil mengintimidasi Radit dengan sifat Arogannya. Tentu saja tidak berpengaruh sedikitpun pada Radit. Anisa sudah memintanya untuk melindungi. Kepercayaan Radit melampaui batas jadinya.
" Iya, tapi saya berubah pikiran. Sepertinya saya masih ingin menemani calon istri saya. Iya kan, sayang?" Ucap Radit sambil menarik Bahu Anisa agar lebih mendekat.
Ups ...Anisa kaget dengan totalitas Radit dalam berperan sebagai calon suami yang melindunginya dari Fatah .
__ADS_1
" Anisa, lihat Lea. Dia membutuh kan kita. Kamu jangan egois Anisa" Fatah merangsek akan meraih tangan Anisa. Anisa segera bergeser berlindung di belakang punggung Radit.
"Kamu, berhenti di tempatmu! Ini rumah sakit dan jangan buat kegaduhan. Kamu sudah tidak punya hak lagi pada Anisa. Biarkan dia menentukan pilihannya sendiri " Radit menghentikan Fatah dengan tegas.